Tiga putraku (10, 7, & 4 tahun) semua telat toilet training. Dengan berbagai alasan, aku teledor melakukannya. Hingga usia tiga tahun, mereka semua tetap pakai popok. Kalau di rumah, aku pakaikan satu set celana yang terdiri dari : celana luar, celana dalam, dan kain popok (dumpel).  Aku pilih pakai popok kain agar tetap ketahuan kalau basah, jadi cepat kuganti, di sisi lain, pipisnya tidak merembes keluar celana. Aku tak tega kalau mereka selalu memakai diapers atau popok plastik. Bayangkan, betapa banyaknya cucianku dalam sehari.


Awalnya dengan anak pertama, aku pernah berniat membiasakan toilet training, tapi kurang sabar. Si sulung selalu “demo” kalau dibangunkan malam, dan tak pernah mau pipis di kamar mandi. Anehnya, walau sudah nongkrong lama di kloset, tetap tak mau pipis. Baru pipis setelah popoknya dipakai lagi.


Beranjak besar, dia tak mau lagi pakai popok, tapi ngompol di malam hari jalan terus (siang sudah tidak).  Sampai usia  TK, dia tidur pakai perlak (alas plastik), bahkan terampil mengurus ompolnya sendiri, me-lap perlaknya, menyimpan ompolnya di laundry box, ganti celana, dan tidur lagi. Pernah semalam sampai tiga kali….Aku mulai kewalahan & cemas.
Dia jadi ga pede kalau nginep di rumah orang, juga kalau ada orang lain menginap di rumah kami. Malu, katanya.

Nah…sejak itulah dia mulai mau bangun malam untuk pipis. Terlambat memang, tapi aku tetap bersyukur. Btw, dia pernah kubawa ke dokter untuk periksa kandung kemihnya & baik2 saja. Dokter cuma kasih saran agar mengurangi minum setelah jam enam sore & menggantinya dengan lebih banyak minum di siang hari. Jadi memang murni karena sejak awal, ortunya malas !!!

Aku tak ingat tepatnya, kapan dia mulai berhenti total mengompol. Yang jelas, hingga umur 8 tahunan, dia masih ngompol satu dua kali dalam seminggu. Sekarang si sulung, Zaky, sudah jadi perjaka kecil yang ganteng, 10 tahun. Sudah tak ngompol lagi, tentunya.

Anak kedua sebenarnya jauh lebih mudah. Seharusnya, dengan pengalaman buruk gagal melatih kakaknya toilet training, aku lebih awas. Ternyata tidak. Anak kedua tetap pakai popok hingga tiga tahun. Hingga tibalah suatu hari. Saat kami hendak pergi. Seperti biasa, aku hendak memakaikan popok ke Ali, anak keduaku itu. Tiba-tiba dia memutuskan tak mau pakai popok. Kutanya: nanti kalau pipis mau bilang ke Ibu? Ya, jawabnya. Walau cemas, kupaksakan diri percaya padanya. Kupikir, ini untuk kesempatan pertama. Kalau ternyata gagal, dia tidak akan berani lagi menolak popok. Ternyata dia berhasil. Sejak saat itu dia tak pernah lagi ngompol, siang atau malam. Tanpa melibatkan aku sedikitpun.

Anak ketiga sama saja. Hingga usianya 3 tahun dan adiknya lahir, dia masih pakai popok. Bayangkan, dua pemakai popok di rumahku. Cucian menggunung tiap hari. Tiga lembar perangkat celana sekali pakai, dan begitu basah, ketiganya harus diganti. Kini dia sudah empat tahun. Popok sudah lepas, tapi celananya masih sering basah dan bau pesing. Setiap disuruh ke kamar mandi nyaris selalu mau, kadang bahkan dengan kesadaran sendiri, biasanya karena dia sudah tak nyaman karena terlanjur basah. Itu masih berlangsung hingga kini. Pergi masih pakai diapers, walau sebenarnya tak pernah sampai basah. Aku, Ibunya, yang tak pede. Dia sih cuek aja. Mau dikasih popok nurut, ga pake popok juga cuek. Pesing juga cuek.

Nah…si bungsu dah setahun. Masih juga pakai popok. Ngompol setiap saat, kecuali malam, hanya beberapa kali. Nampaknya aku tipe ibu yang tak mau repot, tak mau belajar. Aku masih saja bisa santai.

Aku memang tak mengalami perjuangan melatih anak pipis teratur sejak dini. Aku tak perlu repot-repot bangun untuk konflik dengan si kecil yang demo tak mau pipis di kloset, atau pipis di WC umum saat bepergian. Tapi cucian menggunung, selalu ganti baju dan pakai sendal jika akan sholat, dan repot dengan ompol harus kutelan sendiri. Aku tak berani mengeluh, karena itu semua hasil kemalasanku sendiri. Aku harus menunggu anak-anak besar untuk terbebas dari ompol.

So….

Pilih sendiri, repot dulu kemudian santai….atau santai dulu kemudian repot….



4 Responses to “Toilet Training Telat”  

  1. Makasih Ya Bu sharing nya

  2. Anak pertamaku minum asi sampai 2 th, semenjak kecil kalau terbangun di malam hari selalu saya ‘catur’ (bhs jawa), jd nggak pipis di celana. Tp kadang2 juga kebobolan :) Alhamdulillah berhasil toilet trainingnya. Anak kedua, minum asi hanya sampai satu, setelah berganti ke botol pipisnya jadi banyak. Semalam bisa ngompol berkali-kali. Semua nggak pernah saya kasih diapers hanya perlak dan kain saja kalau bobok. Tetapi semenjak saya tinggal di tempat yang ada musim dinginnya (kalau sering ngompol berarti cucian semakin banyak padahal menjemurnya perlu waktu), akhirnya kuputuskan pakai diapers di malam hari saja. Kalau dia bangun udah aman nggak pernah ngompol. Sekarang usianya 2 th 10 bulan, kadang2 masih ngompol di malam hari. Alhamdulillah beberapa hari ini sudah tidak ngompol, begitu dia terjaga dari tidurnya langsung saya larikan ke kamar mandi. Emang repot sih, karena ibunya juga masih ngantuk :) . Tapi ya itu, lebih baik repot dulu kemudian santai :)

    • sip mbak wanti…sungguh teladan yang layak ditiru. Salam sayang buat si kecil, putri bungsuku sekarang 2 th 2 bulan… dan masih ngompol :-(


Leave a Reply