Zaky, kebanggaan kami

Tulisan ini sama sekali bukan jurnal psikologi ilmiah. Aku sekedar ingin berbagi cerita. Siapa tahu bermanfaat.

Ketika berumur 3 tahun, anakku, Zaky, diajak jalan-jalan oleh salah satu pamannya ke sebuah mall. Saat itu mall sedang sepi, sehingga lift relatif sering kosong. Dengan niat sekedar menggoda kemenakannya yang lucu, ketika keduanya berdua saja di dalam lift, sang paman mendadak meloncat keluar. Zaky panik dan ikut lari keluar saat pintu lift nyaris tertutup. Saat itu pula si paman yang usil melompat ke dalam lift, Zaky kembali tergopoh-gopoh masuk. Belum puas menggoda, si paman kembali melompat keluar. Kali ini Zaky melompat sambil histeris dan menangis tanpa ampun.

Sejak itu, hingga kini usianya 10 tahun, Zaky fobia lift. Banyak kejadian yang membuatnya harus kehilangan harga diri karena diejek & dimarahi karena takut pakai lift. Demi memuaskan keingingan orangtuanya, dia bahkan pernah memutuskan menghentikan ketakutannya, dan gemetar pucat pasi di dalam lift bersamaku. Berbagai penjelasan dan bujukan, bahkan iming-iming hadiah tak bisa menghentikan rasa takutnya.

Malangnya, semakin kami (aku dan suami) mencoba “melatihnya” untuk yakin bahwa lift tidak akan menjebaknya sendirian, tanpa kami sadari fobia Zaky kian meluas: Dia jadi takut sendirian (di manapun: di rumah, di kamar tidur, di kamar mandi…). Dia juga jadi takut gelap. Dia jadi sering menahan pipis dan BAB. Ketika mulai usia sekolah, dia seperti minder dengan “kelemahannya” dan cenderung ingin menutupinya dengan beberapa perilaku negatif. Dia tumbuh reaktif.

Pendeknya,

Semakin dia tertekan, semakin menjadi-jadilah fobianya, semakin reaktiflah dia. Berikutnya tak perlu kutulis panjang lebar. Kini usia Zaky 10 tahun dan sudah mahir browsing. Khawatir dia suatu saat menemukan tulisan ini dan menganggapku hendak menyebarkan “aibnya” (Bukan Zaky sayang, Ibu bukan mempertontonkan kelemahanmu. Sebaliknya, Ibumu sedang membongkar kenaifannya sendiri.)

Entah kapan tepatnya,

Aku dan suami memutuskan berhenti. Awalnya karena capek dan bosan. Lama-lama justru tumbuhlah kesadaran. Kami anggap fobia zaky sebagai bagian dari dirinya. Kami tak pernah lagi membahasnya. Jika terpaksa pakai lift, kami akan bersikap sewajar mungkin. Kugenggam tangannya yang masih saja dingin, dan kuusap punggungnya. Kami berhenti mencecarnya dengan kata-kata yang merendahkan harga dirinya. Kutekankan padanya bahwa setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan (bahwa dia punya banyak kelebihan: jago main biola, jago bahasa Inggris, ganteng….)

Kami mengalah tidak menonton film-film thriller saat dia masih bangun. Aku berusaha sibuk di depan komputer atau mondar-mandir mengurus ini itu saat dia hendak tidur sendiri di kamarnya. Aku ingin dia tahu bahwa aku peduli padanya, peduli pada ketakutannya.

Kini Zaky membaik.

Perlahan namun pasti, seiring bertambahnya usia, dia mulai bisa belajar mengendalikan diri. Sesekali dia masih diam-diam meringkuk di lantai beralaskan selimut di dekat kasurku, bahkan terang-terangan ingin tidur rame-rame. Beberapa hari yang lalu, ketika jalan-jalan, masih kudengar seruan leganya ketika kami memilih eskalator karena lift banyak yang antri.

Pertemanannya juga mulai membaik karena sikap reaktifnya kian reda. Sikapnya di sekolah masih naik turun. Keinginannya (karena tuntutan ortunya) untuk jaga image tak jarang membuatnya bersikap “negatif.” Leganya, sekolahnya kooperatif, guru-gurunya juga mau paham kondisinya yang unik. Suatu ketika bahkan wali kelasnya memberikan lencana penghargaan “sudah jarang membentak-bentak,” banyak temannya yang memberinya penghargaan sejenis seperti: Zaky, teman terbaik; sudah jarang marah-marah; mau berteman dengan siapa saja.

Kami menerima dia apa adanya. We love you, Zaky…..



2 Responses to “awalnya FOBIA RUANG TERTUTUP”  

  1. 1 DeenDeen

    Asuh kasian banget Zaky sayang, itu paman nya super nyebelin, obviously not a child friendly guy, kasian banget yang jadi anak nya….

    • 2 anna farida

      Iya, memang kasihan Zaky. Alhamdulillah, dia tidak pernah dendam ke pamannya. Kini mereka berteman baik koq…:-)


Leave a Reply