batupun turut jadi senjata di Palestina

batupun turut jadi senjata di Palestina

Jum’at 30 Januari 2009.

Siang tadi menjelang Jum’atan anak-anak Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin berkumpul di hall. Di sana ada sebuah panggung sederhana dan poster yang hanya beberapa lembar. Mereka berkumpul untuk menyatukan hati dengan derita Palestina. Acara ini merupakan puncak penggalangan dana yang awalnya digagas oleh anak-anak kelas tiga yang sudah berlangsung dua minggu. Mereka menyisihkan uang saku dan berniat menyumbangkannya ke Palestina, sekaligus menjadi panitia kegiatan mulia ini.

Setelah sambutan ketua panitia (Raihana, kls 3), acara dilanjutkan dengan tampilan seni dari kelas satu hingga kelas 6. Ada nasyid, drama Israel VS Palestina, puisi, musik, dan nyanyi bareng. Setelah itu, Fadhlan sang MC menutup acara dengan himbauan agar hadirin bersedia mengisi kotak infak yang diedarkan oleh panitia. Usai acara, kotak infaq mereka hitung dengan sukacita. Terkumpul Satu Juta Seratus Sepuluh Ribu Rupiah. Secuil bentuk kasih bagi Palestina.

Sepanjang acara (juga saat ini), mataku tak henti basah. Hatiku perih sekali. Derita perang jauh lebih kumaknai lewat aksi anak-anak ini, bahkan dibandingkan dengan kengerian yang disajikan media massa melalui reportasenya. Anak-anak Palestina yang melempari tank dan tentara Israel dengan batu seperti menjelma nyata di antara gumpalan kertas yang dilemparkan para pemain drama di panggung. Bahkan dengan tawa dan canda pemain dramanya, mereka sungguh masih bisa membuatku menangis.

Palestina. Bangsa bersahaja yang jadi perahu politik banyak pihak. Bagaimanapun perang hanya akan membawa derita. Sejumput informasi yang kuperoleh, aktifis perdamaian dari Israel juga tak kalah lantang menuding pemerintahnya sendiri. Hanya entah mengapa, gerakan mereka jarang diekspos. Mungkin pemerintah Israel hendak menciptakan kesan bahwa aksinya didukung penuh oleh seluruh warganya. Hmm…prasangka hanya akan menghasilkan prasangka berikutnya.

Di antara keriuhan tampilan seni anak-anak Gemilang, aku menangisi derita orang-orang yang menjadi korban perang. Ribuan nyawa hilang dari pihak Palestina, dan belasan hingga puluhan dari pihak Israel, mereka sama-sama terampas dari karunia kehidupan. Rasanya, jika ada nyawa yang terpaksa harus melayang, tak layak lagi aku memilah, mana kawan mana lawan. Sama-sama nyawa. Sama-sama kehilangan kehidupan.



2 Responses to “ANAK GEMILANG PEDULI PALESTINA”  

  1. 1 dika

    KANGEN SAMA GEMILANG!
    sekarang pasti makin bagus…
    kalo aku nggak pindah pasti ikut ya…

  2. 2 anna farida

    Dika, teman2 pasti juga pada kangen padamu. Have fun, ya, di sekolah yg baru :-)


Leave a Reply