Kehidupan Kedua, Belajar Second Life untuk Pendidikan
anna farida ♦ July 31, 2010 ♦ 6 Comments
Jika ada “mainan” yang sekarang sedang digemari oleh beberapa teman facebookers, maka ia adalah Second Life. Dengan jejaring sosial ini, aku bisa mengajak anak-anak jalan-jalan ke tempat menarik—bahkan yang nyaris mustahil dikunjungi di kehidupan nyata. Semua tempat tersaji dalam format 3 dimensi yang menurut beberapa situs merupakan replika dari tempat aslinya. Kami bisa menyelam di kedalaman laut, berjalan kaki menuju Abyss Observatory, menyaksikan dan menyentuh aneka fauna laut. Berbagai universitas besar di dunia bukan hanya mengijinkan “kampus” mereka dikunjungi, tapi juga menyediakan kelas gratis yang bisa dihadiri oleh avatar dari seluruh dunia.
Avatar? Ya. Kita bisa memilih figur 3 dimensi yang bisa menjadi simbol di Second Life (SL). Dialah yang berjalan untuk kita, menelusuri berbagai lokasi. Anak-anak senang sekali mendadani avatarku. Kami pernah memilih kostum konyol yang tak akan pernah kukenakan di Real Life (dunia nyata), dan terbahak bersama-sama.
Anak-anakku lebih mahir menelusuri berbagai lokasi, dan jauh lebih lihai mengendalikan keyboard daripada aku. Mereka sudah ke Dublin, kebun binatang, museum dinosaurus (dan menunggangi triceratop), Tembok China, Jepang, lokasi pembangunan stadium bola…dan berbagai tempat unik lain. Tadi siang, kami mengunjungi Ka’bah. Ali (9) menjadi imam shalatku di sana. Kami main petak umpet di antara pilar masjid Nabawi, thawaf, dan menyentuh Hajar Aswad. Lumayan, buat latihan haji yang sesungguhnya, amien.
Di semua perjalanan kami, selalu saja ada orang menyapa kami dalam berbagai bahasa, atau berbagai jenis bahasa Inggris J. Anak-anak menggunakan kesempatan chatting ini untuk praktek bahasa Inggris dan mengenal bahasa asing lain. Pernah mereka iseng, menjawab sapaan orang Spanyol dengan bahasa Sunda. HHmmmh…anak-anak….
Sebagaimana jejaring sosial yang lain, di SL juga banyak tempat-tempat yang kurang patut, dan avatar yang tidak pantas. Aku selalu mendampingi anak-anak jalan-jalan, dan meminta mereka untuk tetap menjaga sopan santun ketika bertemu dengan avatar lain. Mereka perlu tahu bahwa avatar itu mewakili manusia yang sesungguhnya.
Untuk menjaga agar SL tetap ada di jalur yang “aman,” aku juga bergabung dengan Second Life for Education–SLED Indonesia. Di grup ini, beberapa teman praktisi pendidikan bergabung dan saling bertukar informasi, jalan-jalan bersama, dan merencanakan kelas bersama. Karena sebagian besar dari kami adalah warga baru, maka teman-teman yang lebih dulu bergabung berperan sebagai mentor, yang dengan sabar menuntun kami, klik demi klik.
Sementara ini, jadwal pertemuan SLED Indonesia adalah Jum’at malam pukul 21.00 WIB. Mayoritas anggotanya yang baru beberapa orang adalah ibu-ibu yang memiliki balita. Jadi…jadwalnya disesuaikan dengan jam tidur sang buah hati. Nah…Gabung, yuk…
(Mas Google banyak menyediakan tutorial koq…)
ID SL ku adalah: annafarida Maggiore—maaf, aku teledor dengan huruf kapital di nama depanku…
Like this:
- Posted in: aku menulis




ibuu…
pingin gabung..tp komputerku harus di cleaning dulu..
terlalu banyak macem2nya…
tp aku dah registrasi lho..”carolina Evensong”
hehehe, gak jauh dari musik
sampai ketemu di dunia ol (againn???)
hehe
Yuuuk…
Bagaimana cara gabung dan bagai mana ikut dalam seconlif dan jalan jalan keliling dunia?
“Aku selalu mendampingi anak-anak jalan-jalan, dan meminta mereka untuk tetap menjaga sopan santun ketika bertemu dengan avatar lain”.
Bener banget Bu. Jaman sekarang ini, karena anonim dan ngga ketahuan identitasnya (bersembunyi di balik avatar dan nama palsu), orang2 yang ngga bijak suka ngomong sembarangan di internet. Butuh pendewasaan dlm berinternet saya pikir.
Salam kenal ya Bu.
thx for your info bu
salam kenal.. saya ingin melihat seberapa jauh impact second life terhadap dunia pendidikan.. sounds and looked interesting.. i wanna join
hehehe
Hi, Vani. Join and you’ll know why it’s cool. Read this: http://learnthenteach.wordpress.com/2010/10/22/belajar-second-life-untuk-pendidikan/