Berseteru
anna farida ♦ October 29, 2011 ♦ 2 Comments
Kemarin, sepulang mengantar Zaky (13) dari pentas bersama Funtastic String Ensemble di Grand Hotel Hyatt, kami melihat perkelahian. Entah kapan terakhir kali aku melihat orang berkelahi.
Di depan Pasar Baru Bandung yang ramai, dua tukang becak tiba-tiba saling hantam.
Aku gugup sekali, karena sepeda motorku sedang meluncur ke arah mereka. Tanpa sadar, aku melaju, tancap gas tanpa kendali. Aku harus cepat menjauh. Sempat kulihat orang-orang di sekitar keduanya berteriak dan melerai, tapi aku tak ingin tahu.
Jauh di dasar hatiku, aku takut setengah mati. Perkelahian itu bisa saja meliar, dan kami bisa kena getahnya. Bisa saja tukang becak itu berlari ke arah kami, atau melemparkan sesuatu dan mengenai kami.
Baru hari ini aku merasa sangat malu.
Betapa aku tak sedikitpun berpikir, mengapa dua tukang becak itu berkelahi. Berebut penumpang atau sekedar salah paham? Saat itu, yang terpikir olehku hanya lari menyelamatkan diri. Pengecut, atau egois? Atau keduanya?
Belum lama ini dua teman dekatku berseteru. Keduanya sama-sama mengadu kepadaku. Bagaimana sikapku? Menjaga posisiku sendiri agar aman di depan keduanya.
Aku malu. Pengecut, atau egois? Atau keduanya?
Like this:
- Posted in: aku menulis
buibu anna, menurut saya c bukan ketiganya juga. saya kalo diposisi ibu liat orang kelahi juga ngeri. apalagi bawa anak. bukannya, ‘jangan melakukan sesuatu yang dirimu tak punya kemampuan di bidang itu’. jadi kalo blom sakti kebal hantaman atau minimal bisa menangkis pukulan ya jangan coba2(hehehehe…). kalau soal teman dekat yang berseteru pengalaman saya si yang penting jangan berat sebelah. kalo gak bisa bantu ya diem aja. hehehehe… diem kan emas bunda. aduuuhhh…. saya terlalu menggurui ya… mahap2. kebiasaan ne
iya nih, mbak Rike… serem banget lihatnya. Pokoknya yang terpikir saat itu adalah tancap gas!
Trims dukungannya ya, jadi terhibur niiiih…