Tanya Jawab Spontan

ubit

Muhammad Ruzbi

Salah satu teman Facebook saya, fotografer andal, Savitry “Icha” Khairunnisa mengajak saya berbagi tanya jawab spontan dengan anak. Saya salin-rekat pertanyaan dari dinding FB Icha, dan ini dia hasil “wawancara” saya dan Ubit (12).

*********

WITHOUT prompting, ask your child these questions and write EXACTLY what they say.

What is something I say a lot?
Thanks and I love you

What makes me happy?
When I always say thank you

What makes me sad?
When I do something wrong

How tall am I?
Average

What’s my favorite thing to do?
Writing

What is my favorite food?
Everything that makes you loose your weight (Emak tutup muka sambil ngakak)

What is my favorite drink?
Tomato juice

If I could go anywhere, where would it be?
(He answer promptly but I don’t want to tell you, haha)

Do you think you could live without me?
Yes, I think (Emak patah hati, hiks)

How do you annoy me?
When I do something wrong

 What is my favorite movie?
I don’t really know

What is my favorite song?
I don’t really know

 What is my favourite TV show?
Do you even watch TV?

 What is my job?

Writer

 How old am I?
22 haha (Emak ngakak lagi)

What’s my favorite colour?
I don’t know. You wear almost all colours

 How much do you love me?
I love you very much

Copy, paste and change my answers and see what your child says!
You will be surprised how much your kids pay attention to you!

 

*********

Nah, mau coba juga?

Terima kasih, Icha 😉

 

 

 

 

Phantom of the Opera

phantom-w-face

foto: Burdekin Theatre

Qosima Luthfa alias Upeng (9) sedang terpesona oleh Phantom of the Opera. Mula-mula entah bagaimana dia suka lagunya. Seneng aja, katanya. Berbagai versi youtube pun dia setel.

Kemudian dia mulai berusaha menyanyikannya sambil sesekali berseru, “Sing my angel of music! Sing for me!”

Saya santai saja, tapi kakaknya, Ubit (12), protes.

“Serem, Bu, suaranya!”

Haha.

Nah, seharian ini Upeng terus mengejar saya dengan berbagai pertanyaan: kenapa Phatom pakai topeng, dia cacat sejak kecil atau pas sudah dewasa, dia seumur dengan Christine atau sudah tua, apakah Christine tahu siapa dia, sejak kapan Christine diajari nyanyi sama Phantom, gimana ngajarinnya … dan seterusnya.

Barusan setelah salat isya dia bilang, “Seharian ini Upeng tanya terus soal Phantom, ya Bu. Upeng juga heran kenapa suka. Penasaran, sih.”

Biasanya, ketika penasaran tentang sesuatu, saya ajak dia googling. Lagi pula, biasanya dia googling sendiri. Khusus film ini dia tanya-tanya melulu dan saya berusaha menjawabnya—padahal saya juga harus diam-diam googling karena film ini sudah lama dan saya lupa sebagian detailnya.

Belum niat nonton lagi, sih. Walaupun penuh lagu yang indah, film ini agak gloomy. Kesedihan dan kesepian Phantom benar-benar berhasil dibagikan pada penonton. Itu juga alasan saya masih menahan diri mengajak Upeng nonton bareng.

Mungkin besok saya masih harus berjaga-jaga melayani pertanyaan anak 9 tahun tentang kematian Phantom dan mengapa selama ini dia bersembunyi. Kalau dia lapar gimana? Kan gedung opera itu tidak selamanya dihuni. Apakah dia harus ke warung atau ke pasar? Pipisnya di mana? Apakah di atas atap ada kamar mandinya? Kenapa tidak ada orang lain yang berusaha menyelidikinya—ini pasti ditanyakan karena Upeng adalah pembaca Detektif Conan.

Jadi, malam ini saya tunda beberapa pekerjaan yang sudah mepet tenggatnya. Saya belajar tentang Phantom dulu agar besok tak perlu mengeluarkan jurus ngeles, eheheh.

Selama jadi ibu, hal yang paling menantang adalah menyiapkan diri untuk memberikan jawaban paling seru dan obrolan yang disukai anak-anak. Saya merasa jadi orang yang paling berprestasi ketika anak-anak manggut-manggut mendapatkan jawaban dari saya—walau tidak semua jawaban itu benar. Ya itu tadi, lebih banyak ngeles-nya. Saya merasa jadi komunikator terandal ketika anak-anak tak mau beranjak saat saya berbicara. Kadang mereka terus bertanya sambil membuntuti saya yang mondar-mandir di dalam rumah sambil mengerjakan ini itu.

Penafian: itu hanya terjadi ketika yang saya bahas adalah hal yang mereka inginkan, yang menyangkut kepentingan mereka.

Ketika yang saya obrolkan adalah kepentingan saya: jadilah anak yang baik, saleh, penurut, rajin bantu Ibu, mau beres-beres tanpa disuruh — wiii, beda banget reaksinya.

Bahasa tubuh mereka akan menjauh, ingin segera melarikan diri dari saya. Raut muka mereka datar, tanpa binar. Suara mereka pun cenderung perlahan, kosakata pun terbatas, “iya, maaf, oke …”

OOT: Tadi si sulung lapor tukang sampah belum datang dan aroma tak sedap mulai muncul. Dia berinisiatif akan membuang semua sampah kami ke TPS besok pagi. Antusiasme terasa sekali ketika keinginan muncul dari dirinya sendiri. Beda banget dengan kejadian … ah, lupakan, saya malu.

Balik ke Phantom yang misterius.

Saya sudah dapat beberapa informasi penting, dan siap menjadi narasumber besok pagi. Itu pun jika Upeng masih berminat membahasnya. Saya juga pernah semalaman mencari asal usul emoticon hati, mengapa dia jadi simbol cinta, gara-gara Ubit kecil bertanya.

Keesokan harinya ketika saya berapi-api memaparkan muasal simbol “lope-lope” ini, dia mengerutkan dahi sambil bertanya, “Emang kemarin Ubit tanya apa, gitu, Bu?”

Glek!

Jadi, mari berseru saja, “Sing my angel of music! Sing for me!”

😀

SURAT CINTA QOSIMA

img_20160913_075637Saya penulis buku parenting, sesekali jadi narasumber pelatihan keluarga, tapi bukan ibu yang selalu keren. Empat anak saya adalah saksi ahli sekaligus saksi korban saat saya jatuh bangun belajar jadi ibu. Delapan belas tahun sungguh belum apa-apa, tapi saya masih saja dapat hadiah demi hadiah yang bikin panas mata.

Sering saya dengar mereka saling berkata, “Ibu kita baik, ya“ atau “Ibu, you are my saviour“ atau “Please bilang nggak boleh, Bu. Biar Kakak nggak usah pergi malam-malam gini ke kampus“ 😀 atau “Susah, lho, Pak, dapat istri kayak Ibu“, padahal saya sering bikin mereka jengkel. Padahal keluhan saya pada mereka bisa bermeter-meter setiap harinya. Saya sering malu saat saya yang lepas kendali dan merekalah yang buru-buru minta maaf #tutupmuka

Jadi, sebenarnya anak-anak saya itulah, yang membuat saya jadi baik. Mereka segera melupakan kealpaan saya, kerewelan saya, ketidakhadiran saya; mereka segera menggantikan cela saya dengan cinta.

Saya belum jadi ibu yang ideal, tapi semoga anak-anak tahu bahwa saya ini pembelajar.

Anak-anak saya biasa menyelipkan pesan-pesan cinta. Saya lebih sering membalasnya dengan pelukan daripada pesan yang sama — ini harus diperbaiki. Gimana, sih, Bu Anna?

Pagi ini, ketika sebagian urusan rumah selesai, saya buka laptop.

Di dalamnya ada tiga lembar kertas, dua terlipat.

Adegan selanjutnya adalah air mata 🙂

 

Ini surat kesekian dari putri bungsu saya, Qosima Luthfa Anvari (9). Saya salin apa adanya, maafkan kesalahan tata bahasanya.

 

img_20160913_075821❤ For Mom ❤

Mom, Monday is the greatest (sorry if I spell it wrong) day ever. Because I’m not go to school. I think because Idul Adha. So if I wrong, tell me, ok? 🙂

❤ ❤ ❤ ❤

Mom, if you see about the M“, That “M“ is different, right? That because you are special to me 🙂

I love you more than anyone because you are my mom.

This is a song for you 🙂

 

I love you“, by ***** for my lovely mom

You are my mom

Who protected me

And taking care of me

When I was child and when I grow

You gave name full of love to me

You gave me meals and gave me other

You prayed for me to keep healthy

And you give friend for me

And thats why I love you – 2 X

I LOVE YOU

 

PS: Maaf, harusnya kemarin-kemarin ngasihnya 🙂

 

Ini surat yang kedua. Saya tidak tahu apa makna 11 September 2016.img_20160913_075923

 

Dear Mom,

Mom, you should know that the “things“ I give you that should be given yesterday or 11/9/2016 Sunday. That song I want sing for you buuuut …..

Anyway, just like in the song. Thank you so much because you are growing me from im child until i grow bigger. You give me meal and other. If I get sick you taking care of me, give  me some medicine, helping me to eat and other. Thank you so much mom. My lovely mom.

❤ ❤ ❤ ❤

Here the song again

Thank You Mom

Oh, my mom saving me from dangerous

I can’t do anything for her

What i can do just saying …

Thank You 2x

 

Mom giving me a present

And something surprising me

I don’t have any surprise for her

What i can do is just saying

Thank You 2x

——–

In the song

Ps:

Is okay my daughter

If you are okay

I’ll happy too

Because you are my daughter

———

From your litlle daughter.

 

Ada kalanya saya merasa tidak sukses jadi ibu sebagaimana yang saya ajarkan kepada ibu-ibu lain, seperti yang saya tuliskan di buku.

Walaupun begitu, selalu ada penguatan dari anak-anak.

Mereka saya besarkan dengan kemauan belajar dan permintaan maaf selalu.

Salam takzim,

Anna Farida

http://www.annafarida.com

 

 

 

MENEMANI ANAK BERANI AMBIL RISIKO.

IMG_20160326_170429

Pantai Palangpang dilihat dari Puncak Dharma, Ciletuh Geopark Sukabumi

Salam sehati, Bapak Ibu. Apa kabar? Long weekend yang padat, tetap kerja tetap kejar tenggat—eh, malah curhat #gimanasih.

Kita masuk ke kulwap-34. Ada tema bagus yang diajukan salah satu peserta, yaitu tentang taking risk. Hari ini saya mengutip Soren Kierkegaard di Instagram saya–@annafaridaku– During the first period of a human’s life, the greatest danger is not to take the risk.

Bahaya terbesar di awal kehidupan manusia adalah tidak berani ambil risiko. Kebayang, nggak, kalau anak-anak kita tumbuh sebagai generasi cari aman. Atau, jangan-jangan kita sebagai orang tua cenderung cemas ketika anak-anak melakukan sesuatu yang berisiko, hehe.

Btw hari ini anak sulung saya pamit latihan, pulang malam. Hari Minggu dia mau ikut kejurda judo antar perguruan tinggi di Karawang. Saya senang dia aktif berolahraga atau bela diri apa pun.

Aneh, hari ini saya merasa ada perasaan “serrr” gitu di hati. Saya bayangkan anak saya membanting dan dibanting orang lain. Badannya lumayan besar dan kuat, sih. Dia bisa menjinjing dua galon penuh air seperti menjinjing hape.

Tapi … siapa tahu lawannya jauh lebih besar. Siapa tahu dia salah teknik …

Naaah!

Siapa tahu … siapa tahu …

Ini risiko. Ada yang baik ada yang buruk.

Pada dasarnya, anak-anak adalah juara penantang risiko. Lambat laun, keberanian mereka terkikis oleh ketakutan orang tua—orang tua seperti saya ini salah satunya. Kian besar dia, kian besar juga kecemasan itu ditularkan kepada anak.

Saat anak ambil risiko dan ternyata salah, dia disalahkan. Saat tak bisa ambil inisiatif pun dianggap tidak peduli, tidak dewasa—piye, sih, Bu, Pak? Jadi maumu itu apppaaa?

Mengambil risiko bukan berarti selalu berani dalam arti serampangan. Tetap ada perhitungan, ada batasan, dan ada pertanggungjawaban.

Ini bisa dilatih sejak dini.

Mari kita belajar bersama, menemani anak-anak menjadi risk taker yang benar.

+ Bicarakan. Kita sudah belajar tentang komunikasi asertif. Yang tertinggal materi ini bisa minta ke Mahmud Admin. Hidupkan komunikasi yang terbuka tentang risiko-risiko yang pernah diambil orang tua, lengkap dengan hal-hal yang dipertimbangkan saat itu, dan bagaimana hasilnya. Dari cerita-cerita itu anak lambat laun belajar bahwa risiko memang bagian dari hidupnya, karena orang tua mereka tetap ada walau telah melewati berbagai risiko.

+ Pastikan bahwa anak-anak tahu betapa berharganya hidup. Libatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial, membantu orang lain atau makhluk lain. Saya tidak suka kucing, tapi pernah (terpaksa) pelihara kucing yang baru lahir. Anak-anak belajar banyak tentang hidup yang sangat rawan di masa bayi, risiko kematian sangat dekat. Fyi, kucing itu baik-baik saja hingga kini, diadopsi teman Ali setelah membuka mata dan pintar menyusu pakai pipet. Mama Anna yang mengajarinya. Saya tetap tidak suka kucing, saya suka sapi

+ Pastikan anak-anak tahu antara tindakan dan konsekuensinya. Berikan mereka peluang menjajal dunia nyata. Misalnya, saat Anda pergi dengannya dan tersesat—saya ini tukang nyasar—minta dia bertanya ke tukang parkir dan izinkan dia memandu jalan. Jika sampai di tujuan, ucapkan terima kasih. Jika nyasar tambah jauh, tertawalah bersama karena Anda punya teman

+ Bahas di rumah. Jangan ngomel di jalan karena kian kesasar. Enjoy the ride dan cari tempat yang dituju bersama-sama. Bahas di rumah mengapa Anda bisa kesasar, misalnya. Apa kira-kira cara yang terbaik agar tidak nyasar, minta anak berpendapat. Hal yang sama bisa diterapkan ketika memilih baju, atau memilih jodoh #halah!

+ Temani anak, libatkan diri. Ajak dia menjajal hal baru yang Anda sendiri belum pernah melakukannya. Saya, misalnya, zona nyaman saya adalah di rumah, di depan komputer, internet kencang. Anak-anak pun demikian. Beberapa saat yang lalu saya ajak mereka bertualang ke Ciletuh Geopark di Sukabumi. Kami naik bus umum, mencari-cari alamat—walaupun sangat mudah dan langsung ketemu hahaha—bertemu orang-orang baru, makan makanan yang bukan masakan Ibu, tidur di rumah penduduk desa (walau tetap nyaman), dan akhirnya menunggang mobil offroad yang bikin saya berteriak ribuan kali #lebayasalways menuju puncak gunung. Tapi di pantai … saya tetap menjauh dari air, takut basah #heuuu

+ Izinkan mereka belajar sakit atau kecewa. Mengambil risiko bisa menghasilkan luka lahir dan batin. Anak sulung saya yang mau tanding lusa ada kemungkinan cedera dan kecewa, tapi ada juga kemungkinan baik-baik saja dan menang, melaju ke kejurnas. Risiko yang dia hadapi sudah dia antisipasi dengan latihan sebelumnya, teori dan praktik teknik tanding, termasuk teknik jatuh dan menghindari cedera. Jika tetap saja cedera ya itu risiko tadi.

Ketika anak dilepas naik angkot sendiri, misalnya, pastikan mereka siap dengan pengetahuan yang memadai tentang rute, bertemu orang asing, atau tindakan saat darurat. Jadi, risiko tidak sama dengan nekat.

+ Simulasikan. Saya mungkin pernah cerita entah di tulisan yang mana. Saat anak saya masih kecil, password game dan komputer mereka adalah nomor hape saya. Mau tak mau mereka hafal jika terjadi sesuatu. Sesekali mereka saya ajak berandai-andai. Jika tiba-tiba terpisah dengan Ibu di pasar, apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu pulang sekolah dan rumah kosong, kamu nggak bawa hape, kamu mau ngapain? Ketika angkot mendadak ganti arah, apa tindakanmu?

+ Mendekatlah dengan anak. Kita ini manusia, cenderung melihat hal-hal yang ada di permukaan (kita? Saya saja kali, ya? Eheheh). Kadang orang tua tidak tahu apa yang dilakukan anak ketika kita tidak ada. Kedekatan itu anak membuat anak merasa nyaman ketika melihat risiko yang memang perlu dibahas dengan orang tua. Dia yakin bahwa dengan bertanya, misalnya apakah aku boleh menginap di rumah teman, dia akan dapat jawaban yang masuk akal—bukan omelan panjang.

Eh, saya minta maaf, setelah selesai menulis, ternyata saya kebanyakan curhat sehingga contoh kasusnya adalah anak-anak yang lebih besar. Padahal yang namanya risk taking pun bisa dilatihkan pada anak-anak yang lebih kecil.

Kita bisa melatih mereka dengan lebih banyak mengajak mereka di luar rumah, bertemu orang baru, melakukan hal baru, menjajal hal baru. Mungkin kita akan membahasnya lebih banyak dalam sesi tanya jawab, ya.

Happy risk taking with our kids!

Salam takzim,
Anna Farida

Tanya jawab dengan narasumber di blog Suci Shofia

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Ikuti kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan. Daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

BERDAMAI DENGAN MASA LALU

i-wanna-be-happySalam Sehati, Bapak Ibu. Kulwap ke-33 Angka bagus, nih.

Kangmas Paulo Coelho pernah berkata, “Make peace with your past so it won’t destroy your present.”

Saya jadi bertanya-tanya, apakah tanpa sadar, saya dihantui oleh hal yang pernah terjadi di masa lalu? Apakah saya selalu ingat orang yang pernah menyakiti saya? Apakah saya menyesali apa yang pernah saya putuskan?

Tentang hal buruk yang pernah saya alami, atau keputusan salah yang pernah saya ambil, tentu ada. Tak perlu kepo, kita semua mengalaminya, kan? Sotoy as always #tutupmuka

Saya sudah tak bisa mengubahnya, menyesalinya juga menghabiskan tenaga. Karenanya, saya belajar memaafkannya. Bukan berarti saya menganggap hal buruk atau kesalahan itu jadi benar. Yang buruk ya buruk, yang salah ya salah.

Saya hanya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk move on #cieee

Apa yang saya lakukan?

+ Rasa tidak nyaman atau sakit itu memang ada, saya tidak menyangkalnya. Saya sedih, memang sedemikian adanya. Kata ahli komunikasi favorit saya, musibah itu tak terelakkan tapi terus merasa menderita itu pilihan.  I am in control. I am in control. Itu mantra saya.

+ Saya mengisi hidup saya dengan hal yang bermanfaat. Saya bergaul dengan tiga macam kelompok manusia: guru saya, teman saya, murid saya. Ketiganya menyumbang energi positif yang luar biasa.

+ Berdamai dan memaafkan diri sendiri itu bukan seperti bikin mi gelas. Kadang saya sudah memaafkan, tapi sekali waktu sulur-sulurnya menggoda saya lagi. Biasanya, rasa sedih atau rasa bersalah itu muncul dalam bentuk keluhan, omelan, atau kemarahan. Siapa korbannya?

Ya, Anda benar. Orang terdekat, terutama anak-anak. Memang perlu waktu, jadi saya beri diri saya waktu. Start – restart,  ingat?

+ Masa lalu saya tidak bisa diubah, tapi penafsiran saya bisa berubah. Mungkin saat itu saya masih muda—sekarang juga masih muda, sih—jadi saya mengambil keputusan yang saya sesali. Kini saatnya saya melihat sisi baiknya, setidaknya saya punya pengalaman, kan?

+ Saya belajar free writing kepada Pak Hernowo Hasyim, pakar baca tulis. Setelah sekian tahun menulis untuk orang lain, untuk Anda, para pembaca, saya belajar (kembali) menulis untuk diri sendiri. Saya tuliskan apa pun yang mengganggu perasaan saya, tanpa sensor. Saya pindahkan sampah itu dari dalam diri saya ke laptop. Hal pertama yang harus saya ingat adalah menghapusnya segera, eheheh. Ajaib, walau hanya beberapa sentimeter, hantu itu jadi berjarak dengan saya.

+ Beberapa hal saya bagikan kepada suami saya, orang-orang terdekat saya; beberapa hal saya tangani sendiri. Saya memilih masa kini untuk dijalani sepenuh hati, masa depan untuk diperjuangkan, kampung akhirat untuk pulang.

Masa lalu akan menjadi milik saya selamanya. Sebagaimana cangkir dan tatakan dalam peti plastik di bawah meja saya, mau dikeluarkan kapan ya terserah saya. Mau dihibahkan juga terserah saya—jadi Anda mau dapat hibah apa? Cangkir atau masalah? Buku atau masa lalu? 😀

Pertanyaan:

Mengapa kata “masa lalu” lebih sering dikaitkan dengan hal yang buruk? Bukankah masa lalu itu lengkap dengan baik dan buruknya?

Mengapa yang buruk sering disebut-sebut dan jadi hantu, sedangkan yang baik diabaikan begitu saja?

Mengapa saya juga menulis tentang pengalaman buruk dan keputusan yang salah?

Hapus saja, gitu, dan bikin artikel baru? Tak sempat, lagi, Pak dan Bu. Ini sudah setengah satu, saatnya post materi kulwap, ahahah.

Mari berbagi pengalaman berdamai dan mensyukuri masa lalu, karena apa pun yang terjadi saat itu membentuk apa adanya dirimu.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Ikuti kulwap (kuliah via Whatsapp) tentang keluarga dan pernikahan Keluarga Sehati. Daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

 

Menemani Anak Saat Puber

parenting with heart

parenting with heart

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Mari kita belajar lagi, kita merumpi lagi, setelah kemarin menghabiskan waktu dua hari membahas film-film bagus. Kita masuk ke materi Kulwap-32, menemani anak menyiapkan masa pubertas. Materi lengkap ada di buku Parenting With Heart.

Berikut ini adalah pertanyaan yang lazim muncul terkait pubertas atau masa akil baligh:

+ Ibu enggak salat? Haid itu apa? Darah? Hiiiy

+ Ini apa? Kondom itu apa?

+ Yang bikin batal puasa itu hubungan suami istri. Maksudnya apa, sih?

+ Bayi keluar dari mana?

+ Iya aku tahu, sel telur dan sperma bertemu jadi calon bayi. Ketemuannya itu caranya gimana?

+ Seks bebas itu apa? Itu, aku baca di internet.

+ Mimpi basah itu kaya apa, sih? Ngompol?

+ … silakan tambahkan, pertanyaan apa yang biasa muncul, kita berbagi pengalaman dan wawasan.

Terkait pertanyaan apa pun, saya cenderung lugas menjawab.

Misalnya, sel telur di tubuh perempuan, sperma di tubuh laki-laki. Bertemunya bagaimana? Ini kutipan buku Parenting With Heart.

Untuk membuahi sel telur yang terletak jauh di dalam ovarium, penis masuk melalui vagina. Peristiwa ini disebut hubungan suami–istri, karena hanya boleh dilakukan oleh suami–istri.

Anak biasanya merespon, “Ih, ngeri! Kok gitu, sih?”

Dari sini kita bisa mengajaknya ngobrol bahwa ada sejumlah konsekuensi yang terjadi setelah hubungan itu. Karenanya, agama menetapkan aturan pernikahan lelaki–perempuan demi kebaikan manusia.

Saya memilih menjelaskannya secara lugas karena in formasi yang bertebaran di berbagai media lebih lugas bahkan lebih vulgar dan “liar” dari itu. Masing-masing keluarga punya kebijakan unik untuk menjelaskannya.

Pastikan saja anak-anak bisa bicara tentang pubertas dan seksualitas dari segi apa pun dengan orangtua, tanpa sungkan.

Anak perempuan harus sudah tahu tentang menstruasi sebelum mereka mengalaminya. Anak laki-laki harus paham tentang fase akil balig sesegera mungkin.

Pendekatan agama bisa digunakan untuk membuka diskusi, misalnya tentang mandi wajib. Dari sisi sains, sampaikan bahwa menstruasi dan aktifnya kelenjar sperma yang ditandai oleh “mimpi basah” itu adalah tanda bermulanya fungsi reproduksi dalam tubuh mereka. Jelaskan bahwa fungsi reproduksi adalah karunia  Allah untuk menjaga kelangsungan generasi umat manusia, dan kita adalah bagian dari rencana besar-Nya.

Saya secara lugas kasih tahu, cairan sperma itu kental, berbau khas. Saya pastikan anak-anak tahu dari SAYA.

Ajak mereka bersikap waspada untuk menjaga tubuh mereka tanpa harus menjadi paranoid. Jelaskan fakta tentang kejahatan seksual tanpa menakut-nakuti dan menimbulkan fobia. Untuk membahasnya dengan benar dan wajar, orangtua harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang benar tentang pendidikan seks.

Setelah itu, kita perlu belajar menyampaikan pengetahuan ini kepada anak-anak dengan gaya komunikasi yang cocok untuk mereka.

Ternyata, menjadi orangtua benar-benar membuat kita tak berhenti untuk terus belajar. Kita ikut berkembang bersama anak-anak, menjadi guru dan sekaligus teman mereka, hingga akhir perjalanan.

Semoga berkenan, boleh tidak sependapat, kita diskusi bersama.

Salam puber, eh, salam takzim

Anna Farida, www.annafarida.com

Untuk mengikuti kulwapnya, WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

Tanya jawab yang bikin pipi hangat tentang pubertas bisa diklik di blog Suci Shofia.

MENYAPIH DENGAN CINTA

Seri Housekeeping for Kids

Seri Housekeeping for Kids

Salam Sehati, Bapak Ibu. Ada usul materi yang juga unyu, bikin galau sebagian ibu, dan keterlibatan para bapak jadi perlu. Ini kulwap ke-30.

WEANING WITH LOVE

Bagi sebagian besar ibu yang menyusui, menyapih bisa jadi salah satu hal yang ditunggu sambil deg-degan. Bukan hanya memikirkan balita yang bakal rewel tapi juga payudara yang bakal sakit. Selain dua hal itu, saya juga berpikir tentang lepasnya ketergantungan anak ke saya, ehehe, takut ditinggalin anak—sekaligus senang juga, sih, sebenarnya. Pas, kan, galaunya 😛

Kapan saat yang tepat?

Umumnya setelah dua tahun. Minimal setahun, setelah bayi mulai terbiasa dengan makanan pendamping—itu yang saya baca-baca dari beberapa buku. Yang lebih penting sebenarnya bukan hanya ukuran waktunya, tapi kesiapan anak dan ibu.

Perhatikan apakan situasi memungkinkan? Hindari menyapih saat anak sedang sakit, misalnya. Atau ketika  ibu sedang mengalami hal besar seperti pindah rumah, ada masalah keluarga, atau kondisi lain yang membuat situasi akan makin runyam jika bayi disapih.

Lakukan bertahap dengan cara menjarangkan pemberian ASI dan menggantikannya dengan makanan atau minuman lain. Cara ini juga lebih nyaman bagi ibu karena payudara akan perlahan-lahan mengurangi produksi ASI—sehingga bengkak dan rasa nyeri bisa diminimalkan. Jika pun terjadi—aduh saya panas dingin, lho, saat itu—siapkan selalu kompres untuk mengurangi nyeri.

Yang sangat perlu diperhatikan dalam proses penyapihan adalah kondisi psikologis anak—pastikan dia diajak bicara, dialihkan perhatiannya, bukan dijauhkan dari ibu dan ASI secara frontal.

Pilihan mengolesi payudara dengan bahan yang pahit atau pedas saya sesali hingga kini. Saya baru belakangan tahu bahwa tindakan itu bisa membuat anak bingung—mengapa sesuatu yang sebelumnya sangat menyenangkan dan membuatnya sangat dekat dengan ibu, kini jadi pahit dan mengerikan?

Jadi kuncinya adalah perlahan-lahan, bertahap, dan anak tetap ditemani. Di sinilah peran ayah atau orang dewasa lain menjadi sangat penting. Pada masa ini mungkin ibu tidak enak badan sekaligus sedih melihat anak rewel. Suasana jadi tidak seru, anak kian gelisah. Masa ayah tak mau bantu?—minta dijitak itu sih.

So, suasana tenang dan tetap seru harus dihadirkan saat masa penyapihan. Inilah masa anak beralih ke makanan yang lebih variatif sesuai pertumbuhannya, dan anak bisa diajak bicara.

“Adik sudah lebih besar, perlu makanan lain. Sudah punya gigi, sudah pintar mengunyah. Kita makan sambil main, yaa.”

Jadi unsur fun tetap ada, walau ASI diambil perlahan-lahan dari dia.

Jangan gunakan kalimat negatif seperti “Ih sudah besar masih nenen. Malu, ih!”, karena baginya menyusu adalah kesenangan tertinggi.

Catatan: Alihkan ASI ke gelas, bukan dot. Kita sudah pernah bahas susahnya menyapih anak dari dot. Biasakan anak minum dengan gelas atau sendok selagi dia masih dapat ASI, jadi dia sudah terampil ketika disapih.

Gitu, ya?

Mari kita berbagi kenangan dan berbagi pengalaman.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Salam takzim,

Anna Farida

Tanya jawab penuh cinta tentang weaning with love alias menyapih dengan cinta bisa disimak di blog Suci Shofia. Untuk mengikuti kulwapnya, WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.