JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-7: BULUKUMBA

DSC_0598

Setelah menjajal Tator, kami seharusnya menuju Makassar. Setelah waktunya diperhitungkan, masih ada satu lagi lokasi yang bisa dikunjungi. Sebuah ide tercetus: Pinisi!

Kami ingin anak-anak tahu proses pembuatan kapal yang legendaris itu di Bulukumba. Let’s roll.

 

Enrekang kami tinggalkan bakda asar, dan tepat sebelum sunset, kami tiba di depan salah satu sisi pelabuhan di Pare-Pare. Sambil berlarian kami mengejar pantai yang penuh dengan meja kuliner. Beruntung sekali, bola jingga itu tenggelam di depan mata. Lengkap sudah hari ini: sunrise di atas awan, sunset di lautan.

Setelah salat magrib dan isya di Masjid Raya Pare-Pare, kami melanjutkan perjalanan setelah istirahat sebentar di @pisangmiripnugget. Tepat di samping gerai ada Balai Ainun Habibie—tempat dipajangnya berbagai penghargaan yang diperoleh presiden RI yang lahir di kota ini. Berhubung gedung sudah tutup, jadi cukup foto-foto narsis di depannya. Biar bisa ngaku pernah ke sana walau hanya menyentuh papan namanya.

 

Perjalananan kami lanjutkan, berharap bisa sampai di Pantai Tanjung Bira, Bulukumba sebelum subuh—another sunrise hunting, tapi tidak keburu. Beberapa kali istirahat benar-benar kami perlukan—terutama buat our dear driver—setelah perjalanan spektakuler di Toraja. Sesekali mobil diparkir di minimarket, di masjid, di warung kopi, di mana pun asal bisa berbaring sebentar.

 

Saat sarapan, tibalah kami di Tanjung Bira, Bulukumba.

Saya yang biasanya tidak suka basah saat ke pantai pun tergoda bermain ombak hingga menguyup.

Ombaknya besar tapi ramah, pasir putihnya lembut di kaki, airnya bening. Tak peduli panas yang mulai menyengat, anak-anak bermain di sana sampai harus dirayu-rayu untuk berhenti karena kami mau ke bengkel pembuatan kapal.

 

Sambil jalan, mulailah Bapak bercerita. Kemampuan orang Bulukumba membuat kapal diwariskan secara turun temurun dan mematuhi pakem tradisional, banyak di antaranya tidak pakai gambar desain-desainan. Bikin kapal seberat lebih dari 100 ton dan hanya mengandalkan feeling itu bikin #melongo3detik.

Walau teknologi sudah maju, bagian krusial dari proses pembuatannya masih berpegang pada tradisi. Gergaji mesin dan alat-alat listrik lain memang memang digunakan, tapi prosesi ritualnya tetap dijalankan. Outsourcers untuk jadi pekerja hingga pemantau kualitas kapal secara modern bisa berasal dari daerah lain, tapi biasanya, pemimpinnya tetap orang Bulukumba.

Kami akan mengunjungi bengkel mereka dan belajar banyak.

 

Begitu sampai, terlihatlah tiga kapal yang sedang dibuat. Saya dekati salah satunya. Seorang pekerja sedang menyelipkan tali di setiap bilah papan kayu besi di bagian lambung kapal. Agar tak ada air rembes ke dalam, katanya.

Kami berbincang sejenak, dan anak-anak sudah tidak sabar ingin naik dan melihat ke bagian atas.

 

Sebuah tangga darurat mengantarkan kami ke bagian geladak. Para pekerja menoleh kepada kami dan segera sibuk kembali. Saya kembali tanya-tanya, dan mereka menjawab semua pertanyaan lugu kami sambil sesekali tertawa.

Kasihan sekali orang kota, lihat kapal dibuat saja terpesona—mungkin begitu pikir mereka, haha.

 

Bagaimana tidak bikin penasaran.

Kapalnya besar, bilah kayunya tebal, pasaknya pun ukuran jumbo. Masing-masing bagian digosok dan dikaitkan dengan saksama, tangan-tangan legam bekerja di bawah semburan matahari.

Di berbagai ujung, punggung-punggung melengkung penuh khidmat, memastikan kapal ini mengantarkan penumpang dengan selamat.

Semua bekerja dalam diam, yang terdengar hanya gesekan suara ampelas bersahutan dengan ketukan palu.

Entah karena ada kami yang bikin canggung, atau memang seperti itu kebiasaan mereka. Saya jadi sungkan mengganggu lebih lama dan mengajak anak-anak segera turun. Anak-anak digital ini beruntung menyaksikan proses bersahaja namun luar biasa dari para pemangku tradisi bangsa bahari.

 

Tunggu.

Kenapa tiba-tiba tangganya jadi tinggi begini? Tadi ketika saya naik, rasanya tidak bergoyang seperti ini.

Dari atas, saya baru melihat bahwa anak tangganya terbuat dari kayu sisa, ada yang lebar ada yang benar-benar seadanya. Setiap injakan membuatnya berayun perlahan. Saya langsung menyesal, kenapa pakai ikut naik segala.

 

Anak-anak yang sudah di bawah menyemangati. Seruan mereka membuat saya membatalkan niat turun sambil duduk. Malu, atuh!

Sambil cari cara menghibur diri, saya mencoba turun satu anak tangga.

Lah! Di bawah saya, seorang pekerja malah menghidupkan gergaji mesin dan membuat tangga bergetar.

 

Saya membeku. Piye iki?

Bapak tertawa dan berkomentar menyebalkan seperti biasa. Saya mencoba mengamati lagi dinding kapal, tapi segera ketahuan bahwa saya hanya pura-pura.

Syukurlah, setelah sekian menit tersiksa, datanglah bantuan.

Sambil menahan malu, saya turun dituntun Bapak, diiringi sorak sorai anak-anak.

 

Bersambung ke bagian-8

JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-6: LOLAI, NEGERI DI ATAS AWAN

IMG_20170701_064005.jpgSebelum berangkat, Bapak kasih aba-aba. “Kita mau masuk daerah yang spesial. Tidak mudah cari makanan di sana, dan ada mayat yang bisa jalan sendiri.”

Haish, bikin horor saja.

Ngaku dulu. Semula saya kira nama resminya adalah Toraja, sedangkan Tana (Tanah) adalah julukannya. Ternyata, Tana Toraja adalah nama kabupaten, dan tujuan kami kali ini adalah Kabupaten Toraja Utara. Jaraknya 300 km dari Sorowako, kami berangkat sore.

 

Saat makan malam, kami berharap bisa menemukan tempat yang bisa dipakai berbaring sebentar. Makin jauh, makin malam, tempat makan yang dicari tidak ketemu. Keputusannya jelas: kami harus makan sebelum masuk ke wilayah Toraja.

Terlihatlah sebuah warung kecil. Menunya hanya ayam goreng dan ayam bakar. Upeng terlihat lesu, karenanya saya ambil inisiatif memesan telur dadar yang tidak ada dalam menu. Anak-anak yang sudah pesan ayam pun ikut-ikutan.

Ledakan tawa terjadi ketika bayar, karena ternyata satu telur harganya 20 ribu.

Ali keheranan, “Di warteg sih 5.000 sudah sama nasi—ini pasti karena ibu pesan yang tidak ada di menu.”

“Iya, kali,” sahut saya. “Ayamnya dipaksa bertelur dulu sebelum digoreng, makanya mahal, ahahaha.”

Lumayan kesal tapi semua tertawa.

 

Perjalanan dilanjutkan.

Di antara banyak destinasi kelas dunia di kedua Toraja ini, tujuan kami adalah Lolai. Terpesona oleh cerita saudara, juga oleh hasil browsing, kami nekat menempuh jalan di terjal, licin, dan menanjak.

Dari pantauan Google, terlihat gambar jalan yang berbelok belok ruwet, rapat, tak jarang ringsek. Tanpa mobil off road, pilihannya adalah memanjat tanpa banyak mengerem. Karenanya, sebelum subuh, kami harus sampai puncak, saat jalan masih sepi.

 

Beberapa kali ban tertahan batu dan kami harus mundur untuk ambil jarak, lantas melompat ringan–lompatan yang menimbulkan efek serrr, gitu, di perut.

Di sebuah tikungan tinggi dan tajam, mobil mendadak meraung tak mau bergerak, ban terus berputar tapi tak beranjak.

Seperti sebelumnya, Bapak mundur sejenak, ancang-ancang, lalu mencoba jalan lagi. Tapi sama saja. Di titik yang penuh batu mobil bergeming.

Saya takut, mulai ingat Allah, dan mulai berdoa. Entah ke mana ingatan itu beberapa menit yang lalu. Di sinilah maknanya, Tuhan kasih kesulitan biar saya tahu diri dan segera ingat Dia.

 

Tiba-tiba ada yang berteriak dari belakang, “Dorong! Dorong!”

Dua penjaga yang kami temui di tikungan bagian bawah berlari mendatangi kami. Rupanya di belakang sudah ada beberapa mobil mengantre. Zaky si sulung melompat turun dan ikut aksi dorong.

Setelah beberapa kali menjajal, maju mundur, bebatuan licin itu kami lalui dengan sedikit hentakan. Puji bagi Allah pemilik siang dan malam.

 

Perjalanan masih sejam lagi, medannya tetap sulit, tapi lebih stabil hingga sampai Lolai, sebuah desa di posisi 1300 mdpl.

Hawa dingin menusuk begitu kami berjalan menuju lokasi. Banyak sekali tenda di sana, kabarnya sebagian yang berkemah adalah para atlet paralayang yang akan terbang melewati bebukitan Lolai.

Upeng dan Ubit kelelahan dan kurang bersemangat. Sampai subuh berlalu, mereka terus menempel di saya atau jongkok kedinginan. Hidung mereka mampet, dan sama sekali tidak tertarik dengan “awan” yang ditunggu banyak orang.

Ali yang paling antusias. Dia segera cari posisi paling aman untuk bikin video—posisi yang kudu diperjuangkan karena makin pagi pengunjung makin banyak.

 

Akhirnya fajar tiba, perlahan langit terbuka. Walau terlihat nyata, cahaya matahari tidak bisa menembus gumpalan kabut tebal yang bergerak menyerupai awan. Makin lama makin padat, pepohonan di bukit kian tak terlihat.

Sisi yang masih terbuka segera tersaput kabut dengan ketebalan yang berbeda, dengan sinar matahari yang berusaha menembus sela demi sela.

Sesekali gumpalan itu terbang mendekat, tapi segera hilang oleh panas tubuh manusia.

Jelas, pohon dan bukit yang lebih setia, tanpa pamrih dan dosa, adalah teman yang lebih dipilih awan-awan itu untuk berbincang.

Manusia sih cukup menyaksikan keindahannya.

 

Kami benar-benar seperti berdiri di antara awan. Pantas Lolai dijuluki Negeri di Atas Awan. Pantas juga orang-orang rela dikocok dan diguncang dalam perjalanan panjang.

 

Sesekali awan menghilang, matahari menggantikan. Tapi tak lama sesudahnya, bukit kembali menjadi lautan kapas, begitu bergantian. Sesekali juga udara lembap terhirup, lalu mencair dan meleleh dari lubang hidung. Kaki saya pegal, tapi mau pergi rasanya sayang.

Walau banyak suara orang, suasana syahdunya tetap meraja. Begitu melihat ke bawah, suara bising seperti lenyap tertelan sunyi.

Di antara kerumunan yang ingin berfoto bersama awan, saya bergumam sendiri, “Kayaknya ini perwujudan kiasan di atas langit masih ada langit.”

 

Setelah agak siang, kami pindah lokasi, masih di Lolai, tapi lebih sepi. Di sana ada jajaran tongkonan, rumah-rumah khas Toraja yang dijadikan penginapan. Otak irit saya langsung bekerja. Apa sebenarnya tujuan bangsa ini membuat rumah dengan menghamburkan begitu banyak bahan? Atap menjulang, seperti meraih langit, pasti diperlukan banyak kayu.

Jika disandingkan dengan rumah minimalis zaman sekarang, tongkonan terasa mewah dan megah. Bukan hanya karena tinggi bangunannya, tapi juga karena sentuhan seninya, nilai spiritualnya.

 

Di sini pun kami  kembali melihat awan berarak, meski dari jarak yang lebih jauh. Upeng dan Ubit lebih segar karena udara lebih hangat, matahari mulai tinggi, dan pengunjung sudah sepi. Mereka baru bisa berlarian, menikmati suasana, dan berkali-kali berkomentar, “Seperti duduk di dalam pesawat, ya, bisa lihat awan.”

Ada video Upeng main wushu di sini, melompat-lompat di hadapan awan yang tak henti memamerkan pesona. Om dan Tante boleh mengklik link ini:  https://www.youtube.com/watch?v=fHMfRhQW20A

 

Jika bukan karena lapar, kami ingin berlama-lama di sana. Efek pop mie dan roti sudah hilang, dan kami harus segera turun cari makan.

Tak perlu diceritakan, sudah pasti menuruni Lolai sama menantangnya dengan memanjatnya, justru menurut saya lebih seram karena jadi bisa lihat jurang di sana sini di sisi jalan. Karenanya, begitu ban menginjak aspal, rasanya saya ingin menciumnya—eh, mencium aspal, maksudnya  hahaha.

Terus terang, memasuki desa-desa Toraja membuat saya agak merinding. Tradisi ma’nene yang ternama itu membuat saya penasaran tapi takut. Untung ini Juli. Upacara mengganti baju leluhur dilakukan bulan Agustus. Tapi, tetap saja penasaran lihat kuburannya—tapi lapar dan takut. Halah, kebanyakan gaya.

Jadi bertolaklah kami ke kota.

 

Lirik sana sini, cari masjid jarang sekali. Kalaupun ada, tak terawat. Masjid yang bersih itu penting, karena sekalian jadi tempat mandi dan istirahat. Yang juga penting, buat nge-charge hape! #istighfar

Lirik sana sini juga, cari warung yang meyakinkan juga susah.

Anak-anak dikagetkan oleh banyaknya warung bertuliskan “bakso babi” di sepanjang jalan.

“Welcome to Toraja,” kata saya. “Gereja lebih banyak dari masjid, daging babi di mana-mana. Anggap saja ini latihan buat kuliah di Eropa.”

 

Tidak ada yang mengaminkan, haha. Anak-anak sedang kena cultural shock dan mereka jadi tambah lapar.

Inilah pentingnya jalan ke luar lingkungan keseharian. Mereka perlu tahu bahwa ada dunia yang berbeda, masyarakat yang berbeda. Biar nggak kuper, nggak merasa diri paling bener.

Pesan tentang perbedaan ini ingin saya selipkan di antara kesenangan yang kami dapatkan: ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh. Suwer, itu bukan bahasa Toraja.

 

Bapak berencana sarapan sekalian makan siang di Enrekang, kabupaten yang bersisian dengan Tana Toraja. Waduh, bisa-bisa kami tiba di sana setelah asar, keburu pada tepar.

“Pak, di Google ada Ayam Bakar Wong Solo tapi sudah kelewat,” seru saya.

Sambil terus berkomentar tentang owner ayam bakar ini—dia senang dan saya no comment—Bapak putar arah.

Penuh harap kami mencari alamat yang tertera di peta, dan rahasia terbongkar!

Yang kami temukan adalah gerobak kecil bertuliskan merk yang ternama ituuu. Lebih bikin miris, gerobak itu kosong, berdebu. Mungkin ditinggal pemiliknya mudik ke Solo, haha.

 

Bapak geleng-geleng kepala sambil tertawa, “Hebaaat! Gerobak begini bisa go online! Ibuuu, Ibu. Kena tipu Google lagi, tuh!”

Saya membela diri, “Kan memang tulisannya …” daaan seterusnya.

 

Anak-anak sama sekali tidak berminat tertawa. Ubit bersandar, Upeng meringkuk, Ali melihat ke luar jendela, Zaky buru-buru ambil hape.

Setelah mencuri beberapa foto gerobak yang mengglobal itu, kami bergegas. Batal sudah rencana singgah di beberapa gedung dan gereja yang khas. Semua lapar, dan memang akhirnya kami sarapan, makan siang, sekaligus makan sore-sore di warung ikan bakar yang murah meriah di Enrekang. Alhamdulillah semua wajah kembali menyala.

Bersambung ke bagian-7

JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-5: SOROWAKO

WhatsApp Image 2017-06-30 at 8.53.49 AMSelama ini saya mendengar kata “Sorowako” hanya dari rumpian para ibu yang rindu piknik, atau lari sejenak dari cucian, atau istirahat dari antar-antar anak.

Desa ini berada di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

Alamnya yang masih segar, danaunya yang luas, sungguh menggoda untuk disambangi.

Jaraknya dari Palopo 240-an km dengan waktu tempuh 5 jam bermobil. Another wow for our dear chauffeur.

 

Saat kami singgah salat magrib, Upeng lebih banyak diam.

“Kaki Upeng perih,” keluhnya setelah saya tanya.

Tadi pagi di pantai, punggung kakinya tergores. Saya amati di dekat luka kecil itu ada bagian yang menghitam. Upeng mengaduh ketika bagian itu saya sentuh.

Serrr.

Punggung saya dingin. Jangan-jangan infeksi.

“Upeng nggak enak badan? Demam? Pusing?”

Buyar semua informasi tentang luka yang pernah saya tulis di buku. Rasa takut merayap, membuat perut saya mulas.

 

“Coba lihat kakinya, Peng,” bapaknya membujuk.

Tak lama sesudahnya, “Ibuuu, Ibu. Yang hitam ini sih kotor bekas sendal. Ya pasti sakit karena yang disentuh kan dekat luka.”

 

Hmmmh, sambil malu tapi lega, saya amankan luka yang penuh tipu daya itu dengan plester. Alhamdulillah.

 

Perjalanan panjang kami lanjutkan, mendekat ke Sorowako.

Di sisi sebuah bukit, Ali tiba-tiba terbangun dan berseru, “Ini Ali yang salah lihat atau sedang mimpi? Ini malam, kan? Kok matahari terang sekali?”

 

Bapak menjelaskan, “Itu cahaya dari cairan panas, sisa limbah tambang nikel.”

Cahaya itu membara seperti sunset yang tidak pada tempatnya. Saya kemudian diam, Bapak diam, Ali kembali tidur.

 

Lelah malam itu tunai terobati karena Umi Lisa menjamu kami dengan traktiran all out. Penginapan, makan, piknik di danau dan city tour, sampai foto-foto eksis narsis, semua disediakan dari A-Z. Jadi jika Anda ingin ke sana dengan fasilitas yang sama, hubungi saya #eh.

 

Behind the scene: Di kamar, pasukan langsung sibuk cari charger. Para pemuja sinyal dan colokan pun memulai ritual. Haduh. Suatu hari akan saya post foto mereka yang bikin ngenes sekaligus ngakak. Tunggu saja.

Saya sih langsung tidur, biar keesokan harinya bersinar saat difoto, dong!

 

Pagi datang.

Kami dan rombongan keluarga Umi Lisa bertolak ke Danau Matano. Lepas dari pro dan kontra penambangan nikel yang dikabarkan merusak ekosistem sekitar, dan kabar bahwa danau luas sedalam 600 meter itu jadi tempat pembuangan limbah tambang, Matano itu cantik. Benar-benar cantik.

 

Sebuah perahu ditambatkan.

Ketika menginjak lantainya, goyangan lembut menyambut kaki. Upeng menggenggam tangan saya erat. Takut tenggelam, katanya.

Dia baru tertawa dan mulai berjalan ke sana kemari ketika perahu berjalan, karena posisinya justru stabil ketika melaju.

 

Kami berkeliling.

Danau membentang, airnya bersih kebiruan. Barisan bukit besar menghijau melingkar, membuat mata hanya melihat pemandangan yang menakjubkan.

Berkedip pun rasanya sayang.

Walau tahu bahwa terlempar ke danau bisa berarti hilang selamanya, bagian perahu yang jadi favorit adalah ujungnya.

Semua penumpang bergiliran duduk di sana, berkhayal menjadi raja dunia, atau berpose dengan gaya paling jaim sekaligus paling mainstream, ahaha—maksud saya tuh pose ala candid, memandang ke arah yang jauh, itu, lho.

Saya sudah pasti ikutan juga, lah.

 

Di ujung perahu itu pula saya duduk berlama-lama dengan Umi Lisa, berbincang tentang rahasia-rahasia. Setengah jam di sana ditemani percikan air dan imajinasi liar, saya rela banget diganjar pilek sesudahnya.

Selama ini saya banyak menghabiskan napas untuk menatap layar monitor, berkutat dengan urusan rumah, atau antar jemput anak. Saya lebih banyak beraktivitas di ruang terbatas, baik di rumah atau di jalan. Tahu sendiri, kan, macetnya jalanan di Bandung seperti apa.

 

Karenanya, sama sekali tidak lebay jika saya enggan melepaskan pandangan dari Danau Matano dan bukitnya.

Di salah satu sisi bukit ada gua di bawah air dan ceruk-ceruk kecil–air di sekitarnya dangkal. Kami parkir di sana dulu.

Maka berlompatanlah anak-anak dari perahu, berenang di antara sedikit ikan di sana. Mungkin ikan butini khas danau itu berlarian ke tempat persembunyian. Takut mendengar teriakan orang gunung dari Bandung.

 

Tak mau kalah, masih dengan celana panjangnya, suami saya menceburkan dirinya begitu saja.

Haish! Air danaunya kan dingin. Berenang tanpa pemanasan sebelumnya, bisa membuatnya kram.

Alhamduilllah, atas keberkahan “nenek moyangku orang pelaut”, saat naik kembali dia hanya mengeluh, “Basah, euy!”

Ya iya, lah, Darling.

 

Perjalanan cukup panjang dan menyegarkan. Kami sempat salat Jumat di desa seberang dan mengunjungi mata air yang menjadi sumber air Danau Matano.

Mata air itu tak begitu dalam, tapi debit airnya melimpah, disalurkan dengan pipa besar ke danau. Dari dasarnya muncul banyak titik gelembung air, bergerak tanpa henti, berpindah tempat bergantian.

Ada mitos ketika mata air surut, kehidupan di desa sekitar danau pun surut. Karenanya, kita bisa memanggil gelembung air dengan berseru, “Bura! Bura! Bura!”

Anak-anak menjajalnya, saya juga – sambil bisik-bisik, tentunya.

 

Kembali ke perahu, para penumpang makan (lagi dan lagi).

Hidangan khas Lebaran masih menemani kami. Buras, sokko tumbu, ayam, dan sup—supnya unik, segar, hangat, bersantan.

 

Setelah berperahu, kami dibawa Umi Lisa ke sisi lain Danau Matano.

Sisi ini mendangkal seperti pantai. Airnya bening, dasarnya berkerikil.

Bapak dan anak-anak bertanding memantul-mantulkan batu di permukaan air. Ibu duduk-duduk di rumput tebal, memandang ke danau, lagi-lagi dengan imajinasi liarnya.

Kunjungan ini terlalu singkat untuk dinikmati sehari.

Karenanya, sambil enggan, kami meninggalkan kesenangan itu untuk pulang.

 

Saat melewati perumahan perusahaan tambang, aroma Barat terendus dari nama-nama jalan dan bloknya. Rumah-rumah panggung ditata berdasarkan warna cat, desain, dan ukuran—sesuai dengan jabatan pemiliknya. Sebagian rumah terlihat kosong tak terpakai, tapi kebanyakan terawat rapi.

Pepohonan tertata di sepanjang jalan, ujung-ujung daunnya melengkung membentuk terowongan hijau panjang. Pas buat foto-foto—another halah.

Wilayah ini bak punya kedaulatan sendiri, tapi saya tidak ingin membahasnya di sini. Kita sedang piknik, ini!

 

Saat sore meredup, kami berpamitan dari kehangatan keluarga Sorowako.

Kami lambaikan tangan pada desa pemangku Danau Matano yang benar benar bikin lupa daratan. Salam.

Bersambung ke bagian-6.

JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-4: PALOPO

durian palopoJarak Bone – Palopo 400-an km, jarak tempuh hampir lima jam. Kami berkendara, beriringan dengan Daeng Abu sekeluarga yang akan kami kunjungi rumahnya.

Di perjalanan kami singgah di rumah kerabat dekat di Sengkang, ibu kota Kabupaten Wajo. Dia ternama dengan gelar Kota Sutra.

Saya cukup membatin namanya saja, tidak boleh ada acara “jalan sutra”, demi menjaga anggaran tetap pada posisi neraca yang benar—halah bilang saja mau ngirit, gitu 😀

 

Sebelum sampai rumah, Kakak membawa kami singgah makan kapurung. Tersajilah bola-bola sagu yang lembut, lumer seperti lem, disiram dengan aneka sayuran, jagung serut, udang, dan irisan daging ikan. Mangkuknya besar, kuahnya melimpah dan mengepul, harum sekali.

 

“Dik Anna bisa makan, kan? Tidak sah ke Palopo kalau tidak makan kapurung,” ujar Daeng Lili.

Kakak ipar saya itu tidak tahu saya biasa menelan jus daun binahong, jadi kapurung yang didominasi sayur sudah pasti enak.

Tekstur bola sagunya memang asing di lidah, tapi karena licin dan tawar, sedangkan sayurnya gurih pedas, perpaduan uniknya membuat lidah terus bekerja.

Keringat merayapi pelipis, hidung berair.

Beginilah makan yang benar!

 

Kapurung tertunaikan, kami menuju rumah. Baru masuk beranda, hidung saya mengendus aroma wangi. Tak salah lagi, inilah durian Palopo yang selalu kami obrolkan di grup keluarga.

“Mana yang katanya suka durian? Bisa habis satu kepala?” tantang Daeng Abu.

Tanpa ragu saya terima tantangannya, toh ukurannya hanya sebesar kepala saya.

Durian pun dibuka, warnanya putih kekuningan, aromanya sopan.

Saya mulai menjulurkan tangan.

 

Yuumm, dagingnya tebal dan pongge-nya (ini bahasa Jawa, sebutan khusus untuk biji durian) mengerut kecil-kecil. Mirip durian montong, hanya ukurannya lebih kecil, warna dagingnya lebih terang.

Suami saya tertawa, “Puas-puasin, tuh, makan durian. Di Bandung kita biasa rebutan, kan?”

 

Pongge demi pongge tergeletak, saya mendadak sadar.

Demi jaim alias jaga image dan melindungi harkat martabat suami, saya harus berhenti makan, haha. Nanti sore dilanjutkan.

 

Keesokan harinya kami main ke Pantai Labombo di dekat rumah. Setelah main air, dua remaja menikmati kantuk di bawah pohon, dua anak yang lebih kecil mengejar kepiting. Sambil takut-takut, mereka juga berusaha membuat kelomang berjalan tapi gagal sampai kami pulang.

Nasib baik, sedang ada acara reuni di sana, dan kami kebagian makan siang gratis. Menunya ikan bakar ukuran besar dan sambal mangga. Pedas dan masam mengentak lidah. Semua piring licin tiada sisa!

 

Berikutnya Ali yang dapat jackpot. Di rumah, Tante Lili membuatkannya es pisang ijo ukuran jumbo. Hasratnya untuk makan pisang ijo di wilayah Bugis terlaksana sudah.

 

Sambil menyeruput kuahnya yang gurih segar, sekalian menanti baju-baju yang dicuci kering, kami menyusun rencana berikutnya: Toraja atau Sorowako.

Atas rayuan Ali yang sedang pilek tapi ingin banget bertemu dengan teman SMA-nya, kami menetapkan pilihan dan berpamitan.

Durian yang masih tersisa tanpa malu-malu saya bawa. Terima kasih, keluarga Palopo. Sambutannya hangat sampai ke hati.

Kepada anak-anak yang tidak suka aromanya saya berkata, “Tidak mau bau duren? Turun saja naik bus. Haha.”

 

Tunggu.

Setelah tulisan ini saya baca dari awal, tampaknya judul yang lebih tepat adalah “Wisata Kuliner di Palopo” kali, yaaa

Bersambung ke bagian-4

JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-3: BONE

WhatsApp Image 2017-07-06 at 2.03.20 PM

Foto oleh Ali Anvari, pakai hape dari dalam mobil yang melaju 70 km/jam. 

Maros kami tinggalkan bakda isya. Artinya, perjalanan menuju Bone dengan jalanan berkelok yang membahana itu akan kami lalui malam-malam.

Kabar yang selama ini saya dengar terbukti benar. Menuju Bone, lebih dari 150 km dengan waktu tempuh 3.5 jam, rasanya tidak ada jalan lurus. Semua belok kanan, belok kiri, menanjak, menurun, melingkar. Jaga jarak di setiap tikungan juga harus penuh perhitungan karena kendaraan dari arah depan kadang tidak terlihat. Banting setir sama sekali bukan pilihan, karena kanan bukit batu kiri jurang, atau sebaliknya—kiri bukit batu kanan jurang.

 

Digoyang berulang membuat Si Bungsu Upeng mabuk dan harus dihibur-hibur sampai tertidur—behind the scene: saya juga ikut tidur #tutupmuka. Mobil terus melaju, tak mungkin istirahat lama-lama karena keluarga di Bone sudah menunggu sejak sore.

Benar, saja. Di mulut gang kampung, om dan beberapa sepupu sudah menunggu. Upeng langsung meluncur mencari Tante Ina yang pernah mengasuhnya sejak bayi hingga enam tahun. Ali jadi sasaran towel dan cubit para nenek, karena saat ke Bone sebelumnya, dia baru 4 tahun.

 

Kami naik rumah panggung yang hangat. Di beranda rumah kayu itu sepupu dan keponakan laki-laki berkumpul menyalami kami. Begitu masuk, belasan kerabat perempuan: dari nenek sampai bayi menyerbu kami dengan berbagai pertanyaan. Sesekali lengan saya yang besar mereka usap-usap. Anak-anak kecil menatap kami sambil bisik-bisik, senyum dan sapaan saya mereka balas sambil malu-malu.

Setelah pertanyaan mereda, kami makan. Ayam lengkuas khas Bugis, balado ikan yang segar, tersaji dengan buras dan sokko tumbu—buras itu lontong beras, sokko tumbu lontong ketan. Aduh, gurih dan lembut. Bubarlah semua diet nonkarbo saya ahaha.

 

Keesokan harinya kami beramai-ramai berziarah ke makam Babba, ayah mertua saya. Di kampung saya di Boyolali, bunga yang ditaburkan di atas makam biasanya mawar dengan sedikit kenanga dan melati. Di Bone, bunga ziarahnya berupa irisan daun pandan dan sedikit bunga lain—mungkin bunga soka.

Para om menjelaskan kepada anak-anak, siapa saja yang dimakamkan di sana dan terbukti bahwa 90% lebih penduduk kampung ini masih bersaudara. Kami lebih banyak diam di sana, merapal doa.

Di antara senggolan dan candaan, anak-anak belajar tentang silsilah keluarga, dan menyapa kematian yang bisa datang kapan pun.

 

Selanjutnya keliling.

Beberapa kerabat yang tinggal di desa lain kami kunjungi beramai-ramai, dua mobil dan banyak sepeda motor.

Matahari sudah tinggi, udara gerah sekali. Welcome to the real Bone. Bahkan penduduk asli yang lahir dan tumbuh di sini pun kepanasan, bayi-bayi berkaus singlet bertebaran 😀

Karenanya, hidangan lebaran yang paling kami nantikan adalah es sirop dingin!

Saya sudah berpesan ke anak-anak sejak awal saat sarapan, “Jangan makan banyak. Kita akan keliling dan pasti dikasih makan.”

 

Proved!

Di rumah pertama hingga ketiga, es sirop disambut penuh antusias. Tawaran makan disambut dengan gembira. Saya sudah ancang-ancang, tahan diri … tahan diri … masih ada sekian rumah lagi. Tak santun menolak makan dengan alasan sudah kenyang. Ini kan hari Lebaran.

Di rumah keempat, kami sudah saling berbagi gelas dan piring. Mana sanggup makan dan minum sendirian. Di rumah kedelapan, kami tertawa begitu es sirop dihidangkan. Bukan hanya perut, punggung dan lutut pun rasanya ikut penuh.

 

Yang juga unik bagi anak-anak, hampir sepanjang hari yang terdengar  adalah bahasa Bugis. Intonasinya turun naik seperti musik.

“Begini juga kayaknya kalau kita pergi ke Turki. Bahasa Inggris kalian tidak laku,” seloroh saya.

OOT: Nama negara itu di ujung lidah karena buku yang sedang saya baca adalah Finding Rumi, kisah perjalanan Najmar, peneliti perempuan, ke Turki.

 

Kami pulang silaturahmi dalam keadaan kekenyangan. Di antara makanan baru yang saya cicipi, yang jadi juara tetap barongko—pisang dilumatkan, dibubuhi gula, santan, dan telur, dibungkus daun pisang dan dikukus. Saat dihidangkan dingin, awww … hilanglah semua gerah.

Sebelum benar-benar pulang, saya ajak anak-anak singgah ke kuburan China di dekat rumah. Mereka bandingkan nisannya dengan nisan Bugis, cara penulisan nama-namanya, dan kisah-kisah yang mengiringinya. Kuburan ini sudah lama menjadi bagian hidup penduduk di sana.

“Saat masih kecil, Bapak dan teman-teman selalu dapat buah dan kue-kue saat ada acara pemakaman. Sebagian dikasih oleh keluarga yang sedang berkabung, sebagian lagi dapat dari mencuri dari sesaji.”

What!

Saat kecil, saya juga beberapa kali mencuri pisang dari sesaji wiwit saat Mbah Kakung mengawali tanam padi. Rupanya kami memang berjodoh haha.

 

Perjalanan di Bone kami tutup dengan membakar kalori, jalan-jalan malam ke Lapangan Merdeka. Alun-alun dengan air mancur aneka warna ini jadi tempat hiburan murah meriah bagi warga. Di Bandung, mana mau anak-anak foto-foto di Lapangan Gasibu. Di sini, kami foto melulu ahaha. Suasananya riuh, kegembiraan anak-anak kecil berlarian bermain ketapel berlampu membuat udara berkelap-kelip.

 

Tibalah saat berangkat menuju destinasi berikutnya: Palopo.

Dilepas dengan pelukan dan mata berkaca-kaca, kami berpamitan. Dalam perjalanan saya menyaksikan rumah-rumah panggung khas Bugis berderet. Ada juga yang atapnya bersusun tiga, khusus untuk rumah bangsawan.  Bagian atas dihuni keluarga, bagian bawahnya biasanya buat jemuran, kandang binatang, atau garasi dan gudang.

Di sebuah wilayah, Ali mengambil gambar kampung yang terendam air. Banjir datang setiap kali air sungai meluap, tapi penduduk tetap tenang dengan desain rumah panggung yang aman. Sampan-sampan kecil terikat di tiang rumah, karena luapan air adalah bagian dari keseharian.

“Mungkin tidak, ya, Bandung Selatan mengadopsi desain rumah ini untuk wilayah yang berlangganan banjir?” tanya saya ke suami dan anak-anak.

 

Terima kasih, Bone yang penuh kehangatan kasih dan inspirasi.

Bersambung.

 

JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-2: MAROS

ali bantimurungKami mendarat di Makassar saat matahari mulai naik.

Begitu turun pesawat dan melihat jam dinding di bandara, gadis kecil saya bergumam, “Ternyata benar, ya, beda satu jam dengan jam tangan Upeng.”

Perbedaan zona waktu yang sebelumnya hanya jadi bahan cerita dia buktikan sendiri. Dia periksa semua hape, dia cocokkan waktunya dan kecewa.

“Kok sudah sama?”

“Kan telepon pintar, Peng. Jadi otomatis berubah,” sahut kakaknya.

Rupanya kali ini otomatisasi membuat gadis kecil saya tidak berkenan. Tidak seru, masa hanya jam tangannya yang beda.

 

Kabar baiknya, kami dapat pinjaman mobil dari teman lama. Dia pemilik kapal penangkap ikan dan kami akan mengambil mobil itu ke rumahnya pakai taksi. Tadinya mau pakai bus, tapi harganya nyaris sama, jadi taksi saja.

Sopirnya sudah tua, dan sepanjang jalan dia menceramahi kami tentang pentingnya merayakan Idulfitri sesuai dengan ketentuan pemerintah. Di lingkungannya ada perbedaan penetapan hari dan dia tidak suka. Suami saya yang ada di sebelahnya hanya bilang “iyye, iyye” tanpa bisa menyela.

Kami semua diam dan patuh, seperti sedang dimarahi oleh guru ngaji, haha.

Untung, kecepatannya berbicara berbanding lurus dengan ketangkasannya mengemudi. Caranya berbelok di jalan tol yang menikung membuat saya beberapa kali saling pandang dengan anak-anak. Top, dah!

 

Kami dapat pinjaman mobil yang besar, leluasa untuk enam orang. Terima kasih banget, Om Ari! Semoga kapalnya selalu dapat tangkapan yang banyak dan berkah.

Karena mobil harus dicuci dulu, kami putar-putar kota sejenak. Sebuah bangunan tinggi, kebiruan, dengan tulisan “Fajar” segera menarik perhatian saya. Itu gedung pertama yang saya potret dan saya tayangkan di media sosial.

Komentar anak-anak menyadarkan saya bahwa kita cenderung lebih cepat melihat sesuatu yang dekat dengan keseharian kita.

Jika saya dokter, mungkin gedung rumah sakit yang cepat tertangkap oleh penglihatan. Jika saya hobi nge-mall, mungkin pusat perbelanjaanlah yang lebih tampak. Bukan kebetulan juga, ternyata, beberapa hari ke depan, saya akan masuk gedung kebiruan itu dan bertemu banyak perempuan hebat. Nantikan ceritanya.

Kembali ke acara cuci mobil.

Setelah lama mencari sambil pasrah karena ini Lebaran hari kedua, kami nemu juga tempat pencucian mobil di sisi jalan. Antrean yang panjang membuat kami ciut, tapi tak ada pilihan. Syukurlah ada warung di dekat situ, jadi kami bisa makan dan numpang duduk hingga tuntas prosesi pencucian (atau penyucian, hayo? #IngatEBI #IngatEYD).

Acara ini jadi penting dibahas karena beberapa menit pertama di belakang setir, Bapak diam saja.

Sebagai orang yang sangat mengenalnya, saya tahu harus tanya apa, “Berapa barusan, Pak?”

“200 ribu.”

Hah! Pantesss, dia dongkol. Kena tekuk rupanya. Pelanggan lain kesal juga, katanya. Tapi sudah, lah ya. Perjalanan masih panjang, dan kami perlu suasana gembira. Tugas saya adalah segera mengalihkan pembicaraan, apalagi kami harus menghadang macet menuju Maros.

Syukurlah bukit-bukit kapur yang menjulang di kanan kiri jalan membuat kami jadi punya topik diskusi yang seru, sesekali ditingkahi omelan Bapak tentang pabrik semen yang tak henti mengeruk dan merusak kawasan karst di sana.

 

Obrolan tentang eksploitasi bukit kapur berlanjut di rumah tante dan om yang kami singgahi, tapi tampaknya anak-anak lebih peduli pada buras dan semur daging bebek yang gurih. Fyi, buras adalah lontong nasi yang sangat lezat karena diolah dengan santan, salah satu makanan khas Sulawesi Selatan. Full kalori, pokoknya!

IMG_20170626_172726Dengan perut kenyang kami melaju ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, lokasi penangkaran kupu-kupu yang terkenal itu. Sayang cuaca mendung dan hujan rintik mengikuti kami, jadi kupu-kupu yang kami sambangi lebih memilih bersembunyi di balik dedaunan.

 

Tak apa. Kami memutuskan untuk menjajal wahana baru, Helena Sky Bridge. Dengan susah payah kami (lebih tepatnya saya, hehe) memanjat menara setinggi 20-an meter. Sama sekali tidak ramah untuk bobot saya yang tidak ringan, duh!

Menara kembar ini dihubungkan oleh jembatan gantung, membentang 50-an meter di atas lokasi penangkaran. Lebar jembatannya kurang dari satu meter dan segera bergoyang jika diinjak.

Glek!

Tenang, sambil melintas, kami semua diikat oleh tali pengaman yang kokoh. Ada rasa takut, tapi berhubung di bawah jembatan adalah hutan tebal, dan di sekeliling saya ada bukit menghijau, pesonanya sungguh menenangkan.

Jadi kami melangkah perlahan, sambil mencengkeram tali pengaman, sambil foto-foto. Teuteup!

Belum lagi Ali, si remaja, berjalan mendahului saya dan beberapa kali minta difoto dari belakang. Dia tidak tahu betapa emaknya harus baca-baca doa menguatkan hati saat melepaskan pegangan demi menghasilkan gambar yang dia kehendaki #huhah.

Akhirnya semua berhasil melintasi Jembatan Helena, hanya si bungsu Upeng yang terlihat cemas, tapi segera lega begitu sampai ujung.

 

Setelah turun menara dengan perjuangan yang lebih menantang—kesulitan ini buat saya saja karena anak-anak segera meluncur tanpa kendala—kami menyusuri hutan kecil dengan bebatuan yang nyaman diinjak. Tekstur batuan yang bergelombang membuat langkah kokoh, walau medannya naik turun bergantian. Hujan pun tak membuatnya licin, kecuali saya salah injak bagian tanah yang berlumut—fokus, fokus. Banyak orang, malu kalau jatuh 😀

Ada dinding kapur dengan ceruk yang tak begitu besar, tapi anak-anak bisa mengamati stalaktit, stalagmit, dan lumut yang unik.

“Lumutnya panjang-panjang seperti rumput sintetis,” kata mereka.

 

Hijaunya pohon dan semak benar-benar memanjakan mata, aroma lembapnya menyegarkan. Kebersihan taman pun lumayan terjaga, tak banyak sampah plastik walau tempat sampah terletak pada titik-titik yang berjauhan.

Kami terus berjalan dan berpikir mendung masih menemani.

Ternyata, begitu keluar dari kerimbunan, matahari bersinar cukup terang. Suasana gelap tadi tercipta tak lain karena kami berada di bawah naungan pepohonan tebal. Rasa hangat ikut menjalari hati saya, manusia kota yang baru masuk hutan setelah sekian lama. Norak gitu, deh. Biarin.

Terima kasih, Bantimurung.

Bersambung.

JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-1: PERSIAPAN

the AnvarianDua bulan sebelum libur Lebaran 2017, kami menyusun rencana. Dua tahun yang lalu kami berkelana empat hari, mengunjungi dua belas museum di Jakarta.

Tahun ini, diputuskan bahwa The Anvarian akan ke Bone, tanah leluhur Bapak, kemudian keliling Sulawesi Selatan. Konsepnya backpacking, satu orang bawa satu ransel. Kami sepakat bawa tiga set baju luar dan enam pakaian dalam.

Destinasi utama ditentukan, tujuan lain diputuskan nanti secara spontan di jalan. Kami akan ke rumah Tante di Maros, kampung Bapak di Bone, rumah Kakak di Palopo. Ada rencana bertemu beberapa teman dan kerabat, juga mengunjungi Tana Toraja. Tapi itu bagaimana nanti, menggelinding saja mengikuti saja arah angin.

 

Persiapan pertama adalah mencari tiket murah buat kami berenam. Nyengir sedikit, sih. Sekian ratus ribu dikalikan 6 kali 2 jadinya gede juga. Tapi karena sudah niat, ya klik saja sambil merem. Mumpung anak-anak masih mudah dibawa jalan bareng—sebentar lagi yang mahasiswa dan remaja bakal punya acara liburan sendiri. Si bungsu pun tampaknya sudah kuat diajak bersusah-susah sejenak di jalan. Waktunya pas!

Alhamdulillah, dengan bantuan Traveloka, kami dapat tiket yang masuk akal dari Sriwijaya Air untuk berangkat ke Makassar, dan Garuda Indonesia buat pulang ke Bandung.

Booked!

Anggaran konsumsi dan akomodasi pun diperhitungkan. Ada rencana menginap di rumah keluarga, di rumah teman, tidur di perjalanan, dan rehat di penginapan. Otak emak-emak saya segera berpikir untuk cari cara irit: bawa bekal logistik sebanyaknya!

Suami saya tertawa, “Kita ini mau pulang kampung. Banyak saudara banyak teman. Ibu masih khawatir bakal kelaparan?”

Baiklah.

 

Persiapan kedua adalah mental. Seminggu sebelum berangkat, kami berkumpul. Bapak menjelaskan rencana perjalanan, “Kita akan ke Bone, kemudian keliling. Tidak ada jaminan kita bakal dijemput, atau dapat pinjaman mobil. Intinya, kita harus siap naik transportasi umum ke mana-mana selama seminggu. Jadi, isi ransel seringkas mungkin. Yang paling penting, selama di perjalanan, semua wajib saling dukung. Cari informasi tentang daerah yang akan kita kunjungi, browsing dulu. Pintar-pintar bawa diri, walau ke kampung sendiri, situasi yang akan kita datangi akan berbeda dengan Bandung.”

Anak-anak mengangguk, “Sip!”

 

Persiapan ketiga adalah kesehatan. Anak-anak saya cenderung rumahan, jarang pergi-pergi. Terpapar udara luar dan berpindah-pindah tempat akan membuat tubuh mereka harus menyesuaikan diri, apalagi buat Upeng yang picky eater. Jadi, saya siapkan kondisi mereka dengan asupan vitamin dan suplemen ekstra. Kebiasaan standar di rumah seperti cukup minum terbukti jadi istimewa, karena sepanjang jalan, mereka makan segala macam menu baru. Saya bawa obat-obatan juga buat jaga-jaga.

Errr … saya ini kan bukan traveller. Tempat yang paling nyaman buat saya adalah rumah dengan wifi kencang. Berbagai acara keluar yang saya jajal adalah demi memberi pengalaman bagi anak-anak, dan ternyata pada gilirannya saya pun dapat pengalaman.

Jadi, sebenarnya yang harus menyiapkan mental secara ekstra adalah saya. Walau tetap bawa tab, selama sembilan hari saya tidak akan pegang naskah, tapi kan online dan eksis kudu jalan terus #cantbehelped.

Karenanya, saya pastikan kuota internet di hape full, dan dua power bank dalam kondisi penuh.

Eh … ternyata, nanti di perjalanan, persiapan online saya itu bubar jalan, haha.

 

Tiba-tiba Hari-H tiba.

Pagi kami ikut salat Idulfitri sambil berpamitan pada teman dan tetangga, sore berangkat. Kami pastikan semua kabel listrik diamankan, katup tabung gas dilepas, keran air ditutup, barang-barang disimpan, dan kunci ganda dipasang. Namanya juga manusia yang masih cinta dunia—masih terikat pada benda-benda #tutupmuka.

Grabcar mengantar kami ke pool Primajasa di Batununggal, dan melajulah bus terakhir ke Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta.

Kami menunggu semalaman, karena pesawat berangkat subuh.

Bandara masih sepi, maka mulailah anak-anak merasakan tidur di bangku-bangku panjang yang keras. Percayalah, Nak. Hidup ini lebih keras #halah.

charger woshipper anvarianSelain tidur, kegiatan mereka adalah berkeliling lihat-lihat dan merubung sudut yang disediakan untuk nge-charge ­hape. Generasi online, duh, para pemuja colokan 😀

Beberapa jam kemudian kami terbang, menjemput petualangan sembilan hari ke depan. Bismillah.

Bersambung.