MENEMANI ANAK BERANI AMBIL RISIKO.

IMG_20160326_170429

Pantai Palangpang dilihat dari Puncak Dharma, Ciletuh Geopark Sukabumi

Salam sehati, Bapak Ibu. Apa kabar? Long weekend yang padat, tetap kerja tetap kejar tenggat—eh, malah curhat #gimanasih.

Kita masuk ke kulwap-34. Ada tema bagus yang diajukan salah satu peserta, yaitu tentang taking risk. Hari ini saya mengutip Soren Kierkegaard di Instagram saya–@annafaridaku– During the first period of a human’s life, the greatest danger is not to take the risk.

Bahaya terbesar di awal kehidupan manusia adalah tidak berani ambil risiko. Kebayang, nggak, kalau anak-anak kita tumbuh sebagai generasi cari aman. Atau, jangan-jangan kita sebagai orang tua cenderung cemas ketika anak-anak melakukan sesuatu yang berisiko, hehe.

Btw hari ini anak sulung saya pamit latihan, pulang malam. Hari Minggu dia mau ikut kejurda judo antar perguruan tinggi di Karawang. Saya senang dia aktif berolahraga atau bela diri apa pun.

Aneh, hari ini saya merasa ada perasaan “serrr” gitu di hati. Saya bayangkan anak saya membanting dan dibanting orang lain. Badannya lumayan besar dan kuat, sih. Dia bisa menjinjing dua galon penuh air seperti menjinjing hape.

Tapi … siapa tahu lawannya jauh lebih besar. Siapa tahu dia salah teknik …

Naaah!

Siapa tahu … siapa tahu …

Ini risiko. Ada yang baik ada yang buruk.

Pada dasarnya, anak-anak adalah juara penantang risiko. Lambat laun, keberanian mereka terkikis oleh ketakutan orang tua—orang tua seperti saya ini salah satunya. Kian besar dia, kian besar juga kecemasan itu ditularkan kepada anak.

Saat anak ambil risiko dan ternyata salah, dia disalahkan. Saat tak bisa ambil inisiatif pun dianggap tidak peduli, tidak dewasa—piye, sih, Bu, Pak? Jadi maumu itu apppaaa?

Mengambil risiko bukan berarti selalu berani dalam arti serampangan. Tetap ada perhitungan, ada batasan, dan ada pertanggungjawaban.

Ini bisa dilatih sejak dini.

Mari kita belajar bersama, menemani anak-anak menjadi risk taker yang benar.

+ Bicarakan. Kita sudah belajar tentang komunikasi asertif. Yang tertinggal materi ini bisa minta ke Mahmud Admin. Hidupkan komunikasi yang terbuka tentang risiko-risiko yang pernah diambil orang tua, lengkap dengan hal-hal yang dipertimbangkan saat itu, dan bagaimana hasilnya. Dari cerita-cerita itu anak lambat laun belajar bahwa risiko memang bagian dari hidupnya, karena orang tua mereka tetap ada walau telah melewati berbagai risiko.

+ Pastikan bahwa anak-anak tahu betapa berharganya hidup. Libatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial, membantu orang lain atau makhluk lain. Saya tidak suka kucing, tapi pernah (terpaksa) pelihara kucing yang baru lahir. Anak-anak belajar banyak tentang hidup yang sangat rawan di masa bayi, risiko kematian sangat dekat. Fyi, kucing itu baik-baik saja hingga kini, diadopsi teman Ali setelah membuka mata dan pintar menyusu pakai pipet. Mama Anna yang mengajarinya. Saya tetap tidak suka kucing, saya suka sapi

+ Pastikan anak-anak tahu antara tindakan dan konsekuensinya. Berikan mereka peluang menjajal dunia nyata. Misalnya, saat Anda pergi dengannya dan tersesat—saya ini tukang nyasar—minta dia bertanya ke tukang parkir dan izinkan dia memandu jalan. Jika sampai di tujuan, ucapkan terima kasih. Jika nyasar tambah jauh, tertawalah bersama karena Anda punya teman

+ Bahas di rumah. Jangan ngomel di jalan karena kian kesasar. Enjoy the ride dan cari tempat yang dituju bersama-sama. Bahas di rumah mengapa Anda bisa kesasar, misalnya. Apa kira-kira cara yang terbaik agar tidak nyasar, minta anak berpendapat. Hal yang sama bisa diterapkan ketika memilih baju, atau memilih jodoh #halah!

+ Temani anak, libatkan diri. Ajak dia menjajal hal baru yang Anda sendiri belum pernah melakukannya. Saya, misalnya, zona nyaman saya adalah di rumah, di depan komputer, internet kencang. Anak-anak pun demikian. Beberapa saat yang lalu saya ajak mereka bertualang ke Ciletuh Geopark di Sukabumi. Kami naik bus umum, mencari-cari alamat—walaupun sangat mudah dan langsung ketemu hahaha—bertemu orang-orang baru, makan makanan yang bukan masakan Ibu, tidur di rumah penduduk desa (walau tetap nyaman), dan akhirnya menunggang mobil offroad yang bikin saya berteriak ribuan kali #lebayasalways menuju puncak gunung. Tapi di pantai … saya tetap menjauh dari air, takut basah #heuuu

+ Izinkan mereka belajar sakit atau kecewa. Mengambil risiko bisa menghasilkan luka lahir dan batin. Anak sulung saya yang mau tanding lusa ada kemungkinan cedera dan kecewa, tapi ada juga kemungkinan baik-baik saja dan menang, melaju ke kejurnas. Risiko yang dia hadapi sudah dia antisipasi dengan latihan sebelumnya, teori dan praktik teknik tanding, termasuk teknik jatuh dan menghindari cedera. Jika tetap saja cedera ya itu risiko tadi.

Ketika anak dilepas naik angkot sendiri, misalnya, pastikan mereka siap dengan pengetahuan yang memadai tentang rute, bertemu orang asing, atau tindakan saat darurat. Jadi, risiko tidak sama dengan nekat.

+ Simulasikan. Saya mungkin pernah cerita entah di tulisan yang mana. Saat anak saya masih kecil, password game dan komputer mereka adalah nomor hape saya. Mau tak mau mereka hafal jika terjadi sesuatu. Sesekali mereka saya ajak berandai-andai. Jika tiba-tiba terpisah dengan Ibu di pasar, apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu pulang sekolah dan rumah kosong, kamu nggak bawa hape, kamu mau ngapain? Ketika angkot mendadak ganti arah, apa tindakanmu?

+ Mendekatlah dengan anak. Kita ini manusia, cenderung melihat hal-hal yang ada di permukaan (kita? Saya saja kali, ya? Eheheh). Kadang orang tua tidak tahu apa yang dilakukan anak ketika kita tidak ada. Kedekatan itu anak membuat anak merasa nyaman ketika melihat risiko yang memang perlu dibahas dengan orang tua. Dia yakin bahwa dengan bertanya, misalnya apakah aku boleh menginap di rumah teman, dia akan dapat jawaban yang masuk akal—bukan omelan panjang.

Eh, saya minta maaf, setelah selesai menulis, ternyata saya kebanyakan curhat sehingga contoh kasusnya adalah anak-anak yang lebih besar. Padahal yang namanya risk taking pun bisa dilatihkan pada anak-anak yang lebih kecil.

Kita bisa melatih mereka dengan lebih banyak mengajak mereka di luar rumah, bertemu orang baru, melakukan hal baru, menjajal hal baru. Mungkin kita akan membahasnya lebih banyak dalam sesi tanya jawab, ya.

Happy risk taking with our kids!

Salam takzim,
Anna Farida

Tanya jawab dengan narasumber di blog Suci Shofia

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Ikuti kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan. Daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

BERDAMAI DENGAN MASA LALU

i-wanna-be-happySalam Sehati, Bapak Ibu. Kulwap ke-33 Angka bagus, nih.

Kangmas Paulo Coelho pernah berkata, “Make peace with your past so it won’t destroy your present.”

Saya jadi bertanya-tanya, apakah tanpa sadar, saya dihantui oleh hal yang pernah terjadi di masa lalu? Apakah saya selalu ingat orang yang pernah menyakiti saya? Apakah saya menyesali apa yang pernah saya putuskan?

Tentang hal buruk yang pernah saya alami, atau keputusan salah yang pernah saya ambil, tentu ada. Tak perlu kepo, kita semua mengalaminya, kan? Sotoy as always #tutupmuka

Saya sudah tak bisa mengubahnya, menyesalinya juga menghabiskan tenaga. Karenanya, saya belajar memaafkannya. Bukan berarti saya menganggap hal buruk atau kesalahan itu jadi benar. Yang buruk ya buruk, yang salah ya salah.

Saya hanya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk move on #cieee

Apa yang saya lakukan?

+ Rasa tidak nyaman atau sakit itu memang ada, saya tidak menyangkalnya. Saya sedih, memang sedemikian adanya. Kata ahli komunikasi favorit saya, musibah itu tak terelakkan tapi terus merasa menderita itu pilihan.  I am in control. I am in control. Itu mantra saya.

+ Saya mengisi hidup saya dengan hal yang bermanfaat. Saya bergaul dengan tiga macam kelompok manusia: guru saya, teman saya, murid saya. Ketiganya menyumbang energi positif yang luar biasa.

+ Berdamai dan memaafkan diri sendiri itu bukan seperti bikin mi gelas. Kadang saya sudah memaafkan, tapi sekali waktu sulur-sulurnya menggoda saya lagi. Biasanya, rasa sedih atau rasa bersalah itu muncul dalam bentuk keluhan, omelan, atau kemarahan. Siapa korbannya?

Ya, Anda benar. Orang terdekat, terutama anak-anak. Memang perlu waktu, jadi saya beri diri saya waktu. Start – restart,  ingat?

+ Masa lalu saya tidak bisa diubah, tapi penafsiran saya bisa berubah. Mungkin saat itu saya masih muda—sekarang juga masih muda, sih—jadi saya mengambil keputusan yang saya sesali. Kini saatnya saya melihat sisi baiknya, setidaknya saya punya pengalaman, kan?

+ Saya belajar free writing kepada Pak Hernowo Hasyim, pakar baca tulis. Setelah sekian tahun menulis untuk orang lain, untuk Anda, para pembaca, saya belajar (kembali) menulis untuk diri sendiri. Saya tuliskan apa pun yang mengganggu perasaan saya, tanpa sensor. Saya pindahkan sampah itu dari dalam diri saya ke laptop. Hal pertama yang harus saya ingat adalah menghapusnya segera, eheheh. Ajaib, walau hanya beberapa sentimeter, hantu itu jadi berjarak dengan saya.

+ Beberapa hal saya bagikan kepada suami saya, orang-orang terdekat saya; beberapa hal saya tangani sendiri. Saya memilih masa kini untuk dijalani sepenuh hati, masa depan untuk diperjuangkan, kampung akhirat untuk pulang.

Masa lalu akan menjadi milik saya selamanya. Sebagaimana cangkir dan tatakan dalam peti plastik di bawah meja saya, mau dikeluarkan kapan ya terserah saya. Mau dihibahkan juga terserah saya—jadi Anda mau dapat hibah apa? Cangkir atau masalah? Buku atau masa lalu?😀

Pertanyaan:

Mengapa kata “masa lalu” lebih sering dikaitkan dengan hal yang buruk? Bukankah masa lalu itu lengkap dengan baik dan buruknya?

Mengapa yang buruk sering disebut-sebut dan jadi hantu, sedangkan yang baik diabaikan begitu saja?

Mengapa saya juga menulis tentang pengalaman buruk dan keputusan yang salah?

Hapus saja, gitu, dan bikin artikel baru? Tak sempat, lagi, Pak dan Bu. Ini sudah setengah satu, saatnya post materi kulwap, ahahah.

Mari berbagi pengalaman berdamai dan mensyukuri masa lalu, karena apa pun yang terjadi saat itu membentuk apa adanya dirimu.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Ikuti kulwap (kuliah via Whatsapp) tentang keluarga dan pernikahan Keluarga Sehati. Daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

 

Menemani Anak Saat Puber

parenting with heart

parenting with heart

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Mari kita belajar lagi, kita merumpi lagi, setelah kemarin menghabiskan waktu dua hari membahas film-film bagus. Kita masuk ke materi Kulwap-32, menemani anak menyiapkan masa pubertas. Materi lengkap ada di buku Parenting With Heart.

Berikut ini adalah pertanyaan yang lazim muncul terkait pubertas atau masa akil baligh:

+ Ibu enggak salat? Haid itu apa? Darah? Hiiiy

+ Ini apa? Kondom itu apa?

+ Yang bikin batal puasa itu hubungan suami istri. Maksudnya apa, sih?

+ Bayi keluar dari mana?

+ Iya aku tahu, sel telur dan sperma bertemu jadi calon bayi. Ketemuannya itu caranya gimana?

+ Seks bebas itu apa? Itu, aku baca di internet.

+ Mimpi basah itu kaya apa, sih? Ngompol?

+ … silakan tambahkan, pertanyaan apa yang biasa muncul, kita berbagi pengalaman dan wawasan.

Terkait pertanyaan apa pun, saya cenderung lugas menjawab.

Misalnya, sel telur di tubuh perempuan, sperma di tubuh laki-laki. Bertemunya bagaimana? Ini kutipan buku Parenting With Heart.

Untuk membuahi sel telur yang terletak jauh di dalam ovarium, penis masuk melalui vagina. Peristiwa ini disebut hubungan suami–istri, karena hanya boleh dilakukan oleh suami–istri.

Anak biasanya merespon, “Ih, ngeri! Kok gitu, sih?”

Dari sini kita bisa mengajaknya ngobrol bahwa ada sejumlah konsekuensi yang terjadi setelah hubungan itu. Karenanya, agama menetapkan aturan pernikahan lelaki–perempuan demi kebaikan manusia.

Saya memilih menjelaskannya secara lugas karena in formasi yang bertebaran di berbagai media lebih lugas bahkan lebih vulgar dan “liar” dari itu. Masing-masing keluarga punya kebijakan unik untuk menjelaskannya.

Pastikan saja anak-anak bisa bicara tentang pubertas dan seksualitas dari segi apa pun dengan orangtua, tanpa sungkan.

Anak perempuan harus sudah tahu tentang menstruasi sebelum mereka mengalaminya. Anak laki-laki harus paham tentang fase akil balig sesegera mungkin.

Pendekatan agama bisa digunakan untuk membuka diskusi, misalnya tentang mandi wajib. Dari sisi sains, sampaikan bahwa menstruasi dan aktifnya kelenjar sperma yang ditandai oleh “mimpi basah” itu adalah tanda bermulanya fungsi reproduksi dalam tubuh mereka. Jelaskan bahwa fungsi reproduksi adalah karunia  Allah untuk menjaga kelangsungan generasi umat manusia, dan kita adalah bagian dari rencana besar-Nya.

Saya secara lugas kasih tahu, cairan sperma itu kental, berbau khas. Saya pastikan anak-anak tahu dari SAYA.

Ajak mereka bersikap waspada untuk menjaga tubuh mereka tanpa harus menjadi paranoid. Jelaskan fakta tentang kejahatan seksual tanpa menakut-nakuti dan menimbulkan fobia. Untuk membahasnya dengan benar dan wajar, orangtua harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang benar tentang pendidikan seks.

Setelah itu, kita perlu belajar menyampaikan pengetahuan ini kepada anak-anak dengan gaya komunikasi yang cocok untuk mereka.

Ternyata, menjadi orangtua benar-benar membuat kita tak berhenti untuk terus belajar. Kita ikut berkembang bersama anak-anak, menjadi guru dan sekaligus teman mereka, hingga akhir perjalanan.

Semoga berkenan, boleh tidak sependapat, kita diskusi bersama.

Salam puber, eh, salam takzim

Anna Farida, www.annafarida.com

Untuk mengikuti kulwapnya, WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

Tanya jawab yang bikin pipi hangat tentang pubertas bisa diklik di blog Suci Shofia.

MENYAPIH DENGAN CINTA

Seri Housekeeping for Kids

Seri Housekeeping for Kids

Salam Sehati, Bapak Ibu. Ada usul materi yang juga unyu, bikin galau sebagian ibu, dan keterlibatan para bapak jadi perlu. Ini kulwap ke-30.

WEANING WITH LOVE

Bagi sebagian besar ibu yang menyusui, menyapih bisa jadi salah satu hal yang ditunggu sambil deg-degan. Bukan hanya memikirkan balita yang bakal rewel tapi juga payudara yang bakal sakit. Selain dua hal itu, saya juga berpikir tentang lepasnya ketergantungan anak ke saya, ehehe, takut ditinggalin anak—sekaligus senang juga, sih, sebenarnya. Pas, kan, galaunya😛

Kapan saat yang tepat?

Umumnya setelah dua tahun. Minimal setahun, setelah bayi mulai terbiasa dengan makanan pendamping—itu yang saya baca-baca dari beberapa buku. Yang lebih penting sebenarnya bukan hanya ukuran waktunya, tapi kesiapan anak dan ibu.

Perhatikan apakan situasi memungkinkan? Hindari menyapih saat anak sedang sakit, misalnya. Atau ketika  ibu sedang mengalami hal besar seperti pindah rumah, ada masalah keluarga, atau kondisi lain yang membuat situasi akan makin runyam jika bayi disapih.

Lakukan bertahap dengan cara menjarangkan pemberian ASI dan menggantikannya dengan makanan atau minuman lain. Cara ini juga lebih nyaman bagi ibu karena payudara akan perlahan-lahan mengurangi produksi ASI—sehingga bengkak dan rasa nyeri bisa diminimalkan. Jika pun terjadi—aduh saya panas dingin, lho, saat itu—siapkan selalu kompres untuk mengurangi nyeri.

Yang sangat perlu diperhatikan dalam proses penyapihan adalah kondisi psikologis anak—pastikan dia diajak bicara, dialihkan perhatiannya, bukan dijauhkan dari ibu dan ASI secara frontal.

Pilihan mengolesi payudara dengan bahan yang pahit atau pedas saya sesali hingga kini. Saya baru belakangan tahu bahwa tindakan itu bisa membuat anak bingung—mengapa sesuatu yang sebelumnya sangat menyenangkan dan membuatnya sangat dekat dengan ibu, kini jadi pahit dan mengerikan?

Jadi kuncinya adalah perlahan-lahan, bertahap, dan anak tetap ditemani. Di sinilah peran ayah atau orang dewasa lain menjadi sangat penting. Pada masa ini mungkin ibu tidak enak badan sekaligus sedih melihat anak rewel. Suasana jadi tidak seru, anak kian gelisah. Masa ayah tak mau bantu?—minta dijitak itu sih.

So, suasana tenang dan tetap seru harus dihadirkan saat masa penyapihan. Inilah masa anak beralih ke makanan yang lebih variatif sesuai pertumbuhannya, dan anak bisa diajak bicara.

“Adik sudah lebih besar, perlu makanan lain. Sudah punya gigi, sudah pintar mengunyah. Kita makan sambil main, yaa.”

Jadi unsur fun tetap ada, walau ASI diambil perlahan-lahan dari dia.

Jangan gunakan kalimat negatif seperti “Ih sudah besar masih nenen. Malu, ih!”, karena baginya menyusu adalah kesenangan tertinggi.

Catatan: Alihkan ASI ke gelas, bukan dot. Kita sudah pernah bahas susahnya menyapih anak dari dot. Biasakan anak minum dengan gelas atau sendok selagi dia masih dapat ASI, jadi dia sudah terampil ketika disapih.

Gitu, ya?

Mari kita berbagi kenangan dan berbagi pengalaman.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Salam takzim,

Anna Farida

Tanya jawab penuh cinta tentang weaning with love alias menyapih dengan cinta bisa disimak di blog Suci Shofia. Untuk mengikuti kulwapnya, WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

 

Mana Prinsip Mana Recehan

IMG_20160326_124836

Salam sehati, Bapak Ibu.
Saya tulis materi kulwap ke-27 ini di ruang tunggu kereta yang sunyi

Dari beberapa usul yang masuk, ternyata materi mana receh mana prinsip masih jadi primadona. Mungkin ada kaitannya dengan kisah recehan saya sebelumnya, eheheh.

Kita tahu uang receh, kan?

Bobotnya berat, nilainya tak seberapa–kecuali uang receh tahun 1221, mungkin mahal😀

Dalam hidup bersama pasangan, kita melewati aneka peristiwa yang manis pahit asin gurih basi hambar salah resep atau yang menyenangkan.

Maunya sih senang senantiasa, tapi kan nggak seru jadinya.

Nah, pertanyaannya,  saat ada hal yang kurang menyenangkan dari pasangan,  bagaimana kita mengelolanya?

Misalnya, pasangan kita hobi menyimpan sepatu di depan pintu, sedangkan kita ingin sepatu selalu rapi di rak. Pasangan kita selalu lupa mematikan lampu saat keluar kamar, padahal tarif listrik naik melulu.
Pasangan kita suka nasi lembek, kita tidak. Dia suka tidur menghadap tembok, Anda bete mendapatinya seperti itu

Kita pernah belajar materi komunikasi asertif,  tapi khusus untuk beberapa hal, it just does not work. Pokoke nggak bisa, tetap saja simpan sepatu di depan pintu.

Bagi Anda itu sangat penting karena terkait kerapian, bagi dia ah biasa saja. Toh besok dipakai lagi.

Anda menganggap dia tak peduli, meremehkan hal yang Anda anggap penting. Dia cuek saja, sesekali malah menganggap Anda rewel.

“Bagimu mungkin sepele, bagiku ini penting. Kamu kok nggak bisa ngertiin aku, sih? Kamu memang nggak pernah mau peduli. Minggu lalu juga kamu telat jemput, sampai aku kehujanan. Ingat, nggak, waktu Alif baru dua tahun dan demam tinggi. Kamu cuek saja. Selalu saja nggak peduli” :-(((

Nah nah … urusan sepatu jadi ke mana-mana.

Mending kalau tanggapannya positif,  dan dia langsung lari ke depan dan membereskan sepatunya.

Bagaimana kalau dia jawab begini,  “Aku telat jemput kan karena kerja. Emang aku kerja buat siapa?”

Hasyah, dramatis gagal

Sekarang kita definisikan secara obyektif.
Secara sederhana, sesuatu dianggap penting jika dia terkait dengan agama dan kesehatan.
Saya membatasi diri pada dua hal itu. Jadi selama bukan dosa dan tidak membahayakan kesehatan, saya anggap itu hal yang bisa dibawa kompromi,  bisa dianggap recehan.
Nanti kita akan diskusikan kasus kasusnya dalam kulwap.

Sepatu di depan pintu secara obyektif bukan dosa, tidak bikin pilek😛
Memang bikin bete, tapi bisa saya abaikan. Jika sempat saya bereskan, jika tidak ya saya abaikan. Tentang lupa mematikan lampu, ketika lewat ruang itu ya saya matikan. Not a big deal.

Saya tidak mau mengumpulkan receh di dalam karung dan memanggulnya ke mana-mana. Rasa berat akan membuat omongan saya ketus, wajah saya kusut. Yang jadi sasaran kekesalan saya bukan hanya pasangan tapi juga anak-anak.

Saya tidak mau rugi dua tiga empat kali.
Saya ngomel, sepatu tetap di depan pintu, saya kesal sampai tak doyan makan (dusta!), dan suasana komunikasi saya dengan pasangan jadi runyam.

Yang selalu saya latih adalah berpikir obyektif.
Matikan lampu ya matikan saja, nggak perlu baper dan ingat masa-masa nyebelin lainnya.

Siapa tahu,  sebenarnya pasangan saya pun menyisihkan banyak recehan yang dia peroleh karena ulah saya🙂 #tutupmuka

Mari berbagi cerita.

Salam takzim,

Anna Farida
Ternyata materi recehan ini mengundang tanya jawab panjang🙂 Simak di blog Suci Shofia. Untuk mengikuti kulwapnya, WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

Ketika Remaja Jatuh Cinta

staccato1“Jatuh cinta, berjuta rasanya …”

Yang tahu lagu itu ketahuan umur😀

Salam Sehati, Bapak Ibu semua.  Apa kabar? Semoga semua selalu dalam kebaikan.

Mahmud Admin Suci Shofia mencatat atrean tema parenting yang cukup panjang. Terima kasih sudah bersedia mengusulkan tema kulwap. Insya Allah akan kita bahas satu demi satu.

Hari ini kulwap ke-26, kita akan membahas tema jatuh cinta pada anak dan remaja. Dalam kulwap terdahulu kita pernah bahas, tapi tidak secara spesifik.

Nah, balik ke lagu yang bikin ketahuan umur tadi, ayo kita ingat-ingat, kapan pertama kali kita merasa jatuh cinta. Tidak usah ditulis di ruang kulwap, tapi boleh senyum-senyum bareng saya—daripada senyum sendirian😀

Kata Zora Hurston, cinta itu membuat jiwa kita merangkak keluar dari tempat persembunyian—cinta dalam makna apa pun. Artinya, cinta menghadirkan hal-hal yang mungkin tidak kita ketahui sebelumnya—kan sebelumnya sembunyi.

Masih senyum-senyum?

Sudah dulu, cukup. Eheheh.

Ketika anak “jatuh cinta”, apa yang harus dilakukan orag tua? Saya kasih tanda kutip karena kita punya definisi yang macam-macam tentang cinta. Uhuk!

Sebagian orang tua akan deg-degan ketika anaknya mulai menunjukkan gejala jatuh cinta. Ada yang cemas karena melihat anaknya dirasa terlalu dini untuk jatuh cinta, tapi banyak juga yang resah melihat anaknya kok adem-adem saja, padahal usianya sudah remaja.

Anak naksir seseorang galau, anak nggak minat sama naksir-naksiran galau juga.

Jadi maumu itu apppaa? #geleng_geleng

Izinkan saya berbagi trik dari bacaan dan pengalaman pribadi, nanti Bapak Ibu bisa perkaya dengan diskusi.

Pertama, kita akan membatasi umur pada 9 – 15 tahun (abege, gitu). Ini masa yang disebut Bu Elia sebagai masa yang paling “bageur”😀

Ketika mereka memperlihatkan gejala jatuh cinta, ini yang bisa kita lakukan:

  • Perkuat keyakinan anak bahwa jatuh cinta itu indah, sejuta rasanya tadi. Ketika kehidupan cinta Anda sedang bermasalah sekalipun, tetap sampaikan kepada anak bahwa jatuh cinta itu menyenangkan.
  • Tunjukkan sikap bahwa Anda menganggap perasaannya itu penting. Jangan disepelekan. Mungkin bagi kita menggelikan, anak kelas 5 SD kok jatuh cinta. Bagi mereka itu segalanya.
  • Contohkan dan diskusikan bagaimana cara yang benar untuk menjalani proses ini. Tentu, pola komunikasi yang biasanya diterapkan antara anak dan orang tua jadi penting. Jika anak selalu merasa aman dan nyaman kepada orang tua, mereka akan terbuka. Ini fase penting. Kita semua ingin anak terbuka, khususnya tentang cinta pertamanya, atau keduanya, atau ketiganya #eh
  • Tanyakan padanya, “Kamu suka dia karena apanya?” Jika ternyata mereka sudah “jadian”, jangan buru-buru teriak “Masih kecil sudah pacaran! Mau jadi apa?”— wih, drama banget.

Kalem, Pak, Bu.

Bisa saja ngasih tahu, padahal saya juga kan sama was-wasnya ahaha.

Tanya saja begini, “Apa pengaruhnya buat kamu jadian sama dia?”

Dari sini orang tua bisa mulai mengajak anak diskusi tentang prinsip yang diyakini masing-masing keluarga tentang jatuh cinta, atau sederhananya “pacaran”.

Intinya, begitu tahu anak jatuh cinta, mari bersikap tenang. Biar saja hati deg-degan, tampang tetap ceria, senyum mengembang #ambilcermin.

Semoga kita diberi kepercayaan oleh anak untuk jadi orang pertama yang mendengar ceritanya.

Tanpa membahas kasus yang khusus, umumnya anak-anak hanya merasa kagum atau tertarik sepintas pada orang yang menarik hatinya. Dekatkan diri dengannya, ajak diskusi tentang baik buruknya—minta dia berpendapat, dengarkan sepenuh hati.

Yang kadang bikin resah adalah ketika remaja yang mengalaminya. Saat hormon pertumbuhan bergerak cepat, masa akil baligh mulai kuat, dia pun ada pada posisi yang perlu ditemani.

Di masa ini hasrat seksual mulai nyata, dan pada remaja tertentu dorongannya lebih kuat daripada perasaan naksir-naksir biasa.

Yakin, deh. Ini yang paling bikin parno, setidaknya buat saya.

Ajak anak diskusi tentang kemungkinan baik dan buruk yang bisa terjadi. Sampaikan kasus dari media, minta mereka berpendapat. Ajak mereka menemukan cara untuk menjaga diri, misalnya dengan tidak pergi berduaan. Ingat, ya, ajak mereka menemukannya. Bukan dikasih tahu saja.  Lebih segar dikasih cabai rawit atau ulekan bawang merah, bawang putih dan asam—tahu gejrot eta mah!

Kalau saya, sambil bercanda, setiap ada waktu sela, sesering mungkin, saya akan bilang, “Pede itu bagus, tapi kepedean bisa serem, lho. Pede naik sepeda kan keren, tapi kepedean trus naiknya membelakangi setang bisa celaka. Banyak juga yang kepedean bilang ‘Ah, nggak apa-apa. Kan cuma boncengan, cuma nonton bareng. Yang penting kan tahu batas’.

Naaah, ini nih, mulai ada gejala kepedean. Kalau saya menyebutnya sok soleh, sok yakin tidak bakal kena goda setan.’”

Dari situ diskusi bisa merembet ke mana-mana. Dari situ modal awal kita bermula. Dari situ kita bisa sampaikan prinsip keluarga tentang hubungan yang baik antara laki-laki dan perempuan.

Salam takzim,

Anna Farida

Baca tanya jawab seru tentang cinta remaja di blog Suci Shofia

Mau daftar kulwapnya? Gratis, WA ke Mahmud Admin Suci Shofia, 0896 5041 6212

Bersahabat dengan Pasangan

 

Marriage With Heart

Marriage With Heart

Salam sehati, Bapak Ibu

Ini materi kulwap ke-24. Mari kira merumpi tentang pernikahan yang seru.

Ngaku.

Ketika dapat masukan dari Mahmud Admin Suci Shofia bahwa tema kita adalah menjadi sahabat dari pasangan, saya bilang”hayah!”

Sepintas saya berpikir, kan sudah jadi pasangan. Tentu jauh lebih dekat, dong, dari sekadar jadi sahabat. Lahir batin luar dalam, gitu!

Eh, tapi begitu saya berpikir ulang, ada juga pasangan yang ternyata tidak bisa jadi sahabat. Ada juga pasangan yang tidak saling kenal. Ada juga pasangan yang bisa jadi BFF tentu.

Ada rutinitas pengasuhan anak, keperluan rumah tangga, tagihan, keinginan mencari nafkah yang memadai, hingga tekanan pekerjaan membuat pasutri mengabaikan pentingnya menjaga pertemanan—artinya menciptakan hubungan yang lebih santai.  Nah, mari kita cek sedikit saja, bagaimana caranya agar pasangan kita pun bisa jadi teman.

  1. Luangkan waktu untuk berdua saja secara teratur. Kerahkan daya upaya dan taktik strategis untuk mendapatkannya, belain mati-matian—#halahbanget!
  2. Cari tahu tentang kesenangan pasangan. Siapa tahu dia punya hobi baru. Saya tidak suka sepak bola. Saya tidak habis pikir, mengapa satu bola diperebutkan 22 orang hanya untuk ditendang setelah didapatkan. Sayangnya, suami saya suka bola. Demi dia, saya berusaha tahu info bola walau seadanya—dan ketika saya nyeletuk tentang bola biasanya saya salah sebut :-(((

Eh, tapi ketika saya berhasil bilang bahwa baru saya klub anu mencetak gol dan langsung kena balas, suami saya kagum banget. Katanya, “Kok Ibu tahu?”

  1. Cari kegiatan yang sama-sama disukai. Kebetulan, saya dan suami sama-sama sufi alias suka film. Malam Minggu biasa kami isi dengan duduk di depan komputer dan nonton filmstreaming. Nggak modal banget
  2. Jika harus ada konflik, manfaatkan untuk saling terbuka sebagai pribadi, tanpa selalu mengaitkan permasalahan dengan anak, misalnya. Aku capek, aku boleh istirahat sejam, ya. Nanti kita bicara lagi—bukan aku capek. Anak-anak kuurus sendiri, cucian sama aku juga, masak juga—bayangkan jika Anda berbicara pada teman. Ucapan Anda akan lebih sederhana.

Benar, tampaknya sangat mudah. Namun setelah bertahun-tahun menikah, kadang kita kehilangan kemampuan untuk berteman dengan pasangan—sebagaimana dulu, ketika kita tidak terlalu menuntut dia untuk ini dan itu. Sebagaimana dulu, ketika kita bisa dengan mudah memaafkan kekurangannya, karena dia “hanya teman”🙂

Salam takzim,
Anna Farida

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida

Baca juga tanya jawab dan diskusinya di blog Suci Shofia.

Untuk mengikuti kulwapnya, daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.