(KATANYA) BEST SELLER?

Sekolah yang Menyenangkan-2

“Sekolah yang Menyenangkan” terbit bertahun lalu, cetak ulang beberapa kali, dan masih bertahan di rak-rak toko buku hingga kini.

Buku itu saya tulis berdasarkan observasi berdurasi panjang, wawancara berderet-deret, studi dokumentasi yang bikin mata berair, dan studi literatur yang bikin saya malah belajar—tambah lama, deh, proses penulisannya. Fase editing pun lama, revisinya berkali-kali, dan tetap saja ada yang meleset hingga terbit—walau tidak ada pembaca yang protes 🙂

Hari ini saya baru sadar bahwa pada buku cetakan terakhir ada label “Best Seller”.

Tentu saya senang.

Kan gaya, bisa buat bahan eksis narsis.

Jenis kertasnya pun baru, bukunya lebih ringan walau tebalnya 300 halaman.

Setahu saya, hingga kini Indonesia belum punya standar yang jelas untuk menetapkan sebuah buku sebagai “best seller”. Ketika saya tanya penerbitnya, saya hanya dapat jawaban “Cetak terus, Bu. Laris sampai sekarang.”

Ah, ini kan baru cetakan keempat. Saya bisa menghitung, sih, berapa eksemplar sekali cetak. Tidak ada seujung kukunya jika dibandingkan dengan buku-buku “keren edun” yang bisa laku jutaan eksemplar dan cetak ulang berkali-kali.

Kesimpulan saya, buku “Sekolah yang Menyenangkan” termasuk buku dengan penjualan terbaik di Penerbit Nuansa Cendekia. Alhamdulillah segitu juga, kan. Royaltinya bisa buat beli tas baru—ini dusta besar. Teman-teman saya tahu, tas saya itu-itu melulu dan kebanyakan gratisan dari acara-acara pelatihan.

Lantas, apa sebenarnya makna “best seller” bagi saya?

Salah satu penerbit pernah menjewer saya, “Bu Anna ini tulisannya bagus, gaya bahasanya khas, tapi promosinya malas.”

Biasaaa, dipuji dulu baru dibanting.

Saya tak hendak menyangkal. Memang demikianlah adanya.

Bukan hanya urusan buku. Untuk kelas-kelas menulis yang saya mentori pun, saya harus diingatkan panitia untuk ikut promosi untuk menggenjot perolehan peserta. Biasanya saya promosi pada hari-hari akhir, saat kuota kelas sudah mau penuh—tutup muka. Ampuni saya.

Karena kemalasan saya promosi itulah, saya tidak berani kepedean bahwa buku-buku saya bakal laris. Soalnya barang bagus juga kalau tidak di-manage dengan baik kan tidak akan optimal. Ada, lho, buku saya yang diobral di sebuah pameran—bete juga, sih. Jadi saya duga larisnya buku Sekolah yang Menyenangkan adalah berkat tim marketing penerbit yang pantang menyerah. Last but not least, bukunya memang bagus, sih—another kepedean.

Nah, kalau yang ini jangan ditiru: Bagi saya, buku disebut best seller atau tidak, saya tetap bahagia sudah menuliskannya. Jadi yang saya lakukan adalah menulis, menerbitkannya, kemudian melupakannya, dan menulis buku yang lain lagi. Niki mboten sae, nggih. Asli jangan ditiru.

Mau bagaimana lagi. Saya punya banyak gagasan, lamunan, rumpian, ocehan, hingga igauan. Ada yang bagus, ada yang buruk. Ada yang membuat saya bangga, ada pula yang memikirkannya saja saya malu.

Somehow saya ingin tetap membagikannya pada orang lain, termasuk racauan buruk dan memalukan itu—tentu saya menyamarkannya dengan berbagai teknik ngeles yang yang saya pelajari selama ini. Apakah Anda bisa memastikan, kisah-kisah yang saya jadikan ilustrasi dalam berbagai buku itu kisah orang lain atau sebenarnya kisah saya?

Salah satu kisah pernah terciduk oleh suami saya, “Bu, ini kok mirip pengalaman kita. Eh, tunggu, ini Ibu cerita tentang kita, ya? Nekat banget, sih, yang begitu diceritain.”

“Emang. Tapi tenang saja. Tidak ada yang tahu kecuali kita. Biar orang lain dapat pengalaman dan tidak melakukan kesalahan yang sama.”

Singkatnya, saya selalu tergoda untuk menulis apa saja. Bakal laris atau tidak, itu urusan nanti. Saya terus belajar meningkatkan kualitas tulisan biar disayang pembaca, dan belajar promosi biar disayang marketing penerbit. Lebih dari itu, saya bahagia jika bisa menulis buku yang baik.

Yuk, ah, belajar nulis lagi. Nulis apa pun yang laik dan baik, walau nanti hanya satu orang yang membaca, dan orang itu adalah Anda sendiri.

 

Salam takzim,

Anna Farida

www.annafarida.com

SETAN?

whatfix academy

Foto milik Whatfix Academy

Kemarin, saya dan teman-teman berdiskusi hangat tentang arti kata “ashiap”.

Sebuah link dibagikan, dan katanya kata itu artinya “setan”. Katanya.

Ada yang langsung beristigfar, ada yang minta agar berita itu dicek kebenarannya, ada yang bilang itu hoax, ada yang santai saja–termasuk santai dibilang hoax. #piyejal

Saat ada perbedaan pendapat seperti itu, saya biasa kembali ke kaidah umum.

Bahasa itu kesepakatan para penggunanya. Itu prinsip universal. Teman-teman yang gemar ngoprek bahasa asing atau bahasa daerah seharusnya mengerti benar.

Contoh:
Teman-teman yang paham bahasa Arab tentu tahu apa arti “syarif”–ini transliterasi Indonesia, atau mungkin ” shareef”, transliterasi ala Inggris. Artinya bagus, lah.

Lha, ternyata kata guru SMP saya begini, “Jangan namai anakmu Sarip. Itu artinya kentut.”

Ada teman saya yang memanggil anaknya dengan julukan tertentu, teman lain protes karena menurutnya artinya tanaman beracun.

So, words are sometimes just personal.

Yang personal itu bisa beranjak jadi komunal jika saling disepakati, atau bahkan kemudian menjelma sebagai lingua franca.

Nah, nah, sebelum jadi kesepakatan atau terbukti secara ilmiah–dibenarkan melalui rujukan sahih dan narasumber yang tepercaya–isu perbedaan makna kata-kata yang belakangan ini bermunculan sah saja dijadikan obrolan ringan.

Ringan artinya ya selow saja, bukan sebagai kebenaran yang teruji. Jadi tidak perlu juga menganggap orang yang menggunakan kata itu sebagai anu anu anu.

Btw, nanti ada nggak yang mengartikan kata “selow” sebagai anu anu anu dan menuding saya anu anu anu, ehehe.

Salam takzim,

Anna Farida

DIA TIDAK MENUNDUK

DIA TIDAK MENUNDUK
Sepuluh tahun lalu.
Saya: “Pak, ada belimbing wuluh?”
Penjual-1: “Tidak ada, Bu. Mau masak apa, Bu? Yang lain, atuh. Ini baru datang, seger juga dioseng …”
Penjual-2: “Wah, kosong, Bu. Buahnya sudah ada? Ini pepaya dari kampung. Maniiis sekali …”
Begitu terus sampai ke penjual ke sekian. Saya dapat senyum, perhatian, sapaan, dan berbagai tawaran menggiurkan. Niatnya mau beli belimbing wuluh dapat belanjaan bermacam-macam.
Beberapa hari yang lalu.
Saya: “Pak, ada ragi tempe?”
Penjual-1 menggeleng lantas menunduk.
Penjual-2 menjawab “Teu aya” lalu menunduk.
Penjual-3 menyahut “Enggak punya” lalu menunduk.
Penjual-4 berkata “Di tukang beras” lalu menunduk.
Penjual-5 bergumam “Tanya tukang rampe” lalu menunduk.
Penjual-1279 (biar dramatis) membalas “Adanya ragi tape” lalu menunduk.
Semua menjawab singkat, tanpa tersenyum, lantas segera menunduk.
Saya keluar pasar dengan gontai. Tak ada belanjaan lain di tangan.
Di dekat tukang duku ada yang menyapa saya. Lelaki tua kurus berjaket cokelat.
“Becak. Bu?”
“Saya bawa sepeda motor, Pak. Ini lagi cari ragi tempe Sudah keliling enggak nemu.”
“Oh, dulu pernah lihat yang jual ragi tempe di toko kedelai, Bu. Di sana dekat jembatan layang. Coba saja tanya, siapa tahu masih punya.”
“Oh, nuhun, Pak. Saya coba ke sana.”
Meluncurlah saya ke arah yang ditunjukkan, ragi tempe saya peroleh tanpa kesulitan.
Saya kembali ke tukang becak itu dan berterima kasih. Dia membalas ucapan saya dengan senyuman.
Dia tidak menunduk, tampaknya tidak punya hape.
Salam takzim,
Anna Farida

JANGAN BESARKAN ANAK DENGAN FASILITAS?

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-143.

 

Kita akan lebih banyak berbagi pandangan.

 

Sebuah status FB dan beberapa komentar membuat saya berpikir (lagi).

Mungkin Bapak Ibu pernah baca pernyataan seperti ini:

 

Anak buruh bangunan jadi dokter, anak tukang parkir jadi pengusaha sukses, anak petani jadi gubernur. Saya sendiri beberapa kali jadi ghostwriter untuk tokoh-tokoh seperti ini.

 

Orang-orang besar itu sukses karena dibesarkan dalam kondisi miskin fasilitas. Kondisi ini memacu mereka untuk lebih kreatif dan punya daya juang ekstra, lebih dari rata-rata temannya.

 

Lantas ada yang berkomentar, ada juga yang agak sinis: kira-kira bagaimana nasib anak-anak yang dibesarkan dengan fasilitas? Apakah mereka nanti akan jadi tukang parkir?

 

Di dalam imajinas liar saya diskusi akan melebar ke arah ini: emangnya jadi tukang parkir itu tidak mulia? Kan itu pekerjaan halal. Apa masalahnya?

 

Trus ada yang nyamber: Memang halal. Semoga anak Anda jadi tukang parkir.

 

Dan terjadilah yang biasa terjadi di media sosial 😀

 

 

Kita kembali ke pertanyaan semula:

Jika kita ingin mendidik anak punya daya juang ekstra, apakah mereka harus dibatasi fasilitasnya? Ekstremnya, apakah mereka harus dimiskinkan?

 

Banyak pemikir besar menghasilkan karya cemerlang saat di penjara. Jadi … kita masuk penjara dulu sajakah?

 

Mari kita diskusi 😊

 

Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

 

Sudah punya bukunya? Sudah share ebook Bincang Pernikahan dan Bincang Pengasuhan? Please share.

 

Salam takzim,

Anna Farida

www.annafarida.com

Everything seems impossible until it’s done – Nelson Mandela

 

 

 

 

HOW TO SAY “I LOVE YOU”

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap yang ke-144, kita akan bahas lebih detail materi yang kita bahas beberapa minggu lalu tentang self esteem.

Btw, ternyata kita pernah bahas di kulwap-11 tentang self esteem—ketika tema ini diusulkan lagi, pertanda apakah itu? Ehehe 😀

 

Salah satu cara meningkatkan self esteem dalam pernikahan adalah saling menyatakan cinta pada pasangan.

Sebenarnya, kata para ahli percintaan—halah—cara yang terbaik untuk menyatakan cinta pada pasangan itu biasanya sederhana. Dalam tindakan sehari-hari, kita bisa menyatakan cinta dalam ucapan dan tindakan sehari-hari.

Sekarang sedang musim hujan dan kita bilang ke pasangan “ingat bawa payung” atau kita siapkan payung dan jas hujan di kendaraannya, itu tanda cinta.

Kadang, kita maknai perbuatan itu sebagai hal biasa. Padahal, jika kita tambahkan sedikit saja aspek “amor” di dalamnya, yang sederhana bisa jadi bermakna. Aspek yang saya maksud adalah bilang I love you, senyum, sentuh.

Ketiganya boleh dipilih salah satu atau dilakukan semua, tapi takar-takar, ya, porsinya. Tar malah batal kerja kan berabe juga ahahah.

Isyarat cinta yang kita peroleh dari pasangan akan membangun self esteem secara signifikan, dan pada gilirannya akan membuat kesehatan pernikahan terjaga.

Isyarat lain yang bisa dipilih dan dicoba sesuai dengan kekhasan pasutri. Ada yang ekspresif dan bisa bilang ai lop yu setiap saat, ada yang nunggu atap bocor dulu baru bisa bilang.

Sekarang kita dimudahkan oleh media chat dengan berbagai emoticon. Ungkapan cinta bisa diwakili olehnya. Sambil belajar ngomong juga, lho, yaaa. Walau menurut teori komunikasi ungkapan verbal itu porsinya sekian persen lebih sedikit daripada  ungkapan nonverbal dalam menyampaikan pesan, tapi yang sekian persen itu penting.

Intinya adalah, pastikan pasangan mendapatkan isyarat yang nyata bahwa dia dicintai—dari sini self esteem terjaga.

Pilihan lainnya bisa berupa aksi. Lakukan kegiatan bersama, seremeh apa pun. Pilih kegiatan yang bisa membuat Anda bekerja sama dengan pasangan, bukan saling cakar 😀 😀

Misalnya, yang satu senang bongkar-bongkar dan yang satu sangat hobi membereskannya—nah ini khayalan tingkat tinggi saya.

Lakukan hal yang sederhana saja, dalam waktu yang singkat saja. Bikin sambal berdua, misalnya. Waktunya singkat, mengerjakannya relatif mudah—masalah enak atau tidak itu urusan lain. It’s about being together.

Ungkapkan di hadapan anak-anak atau anggota keluarga yang lain.

Bilang sayang, “flirt”, saling goda, saling ekspresikan cinta di hadapan anggota keluarga itu penting untuk self esteem. Anak-anak yang menyaksikan ayah ibunya saling sayang juga akan mendapatkan rasa aman—dan ini penting bagi tumbuh kembang mereka.

Jika Anda punya hobi eksis narsis di media sosial (seperti siapa, yaaa?) sesekali mengungkapkan cinta pada pasangan pada dunia pun sah saja—sudah zamannya. Meski demikian, jika Anda memilih tidak menjadikan ungkapan cinta itu sebagai konsumsi publik, dan menjadikannya milik berdua dan keluarga, itu pun sah adanya.

Masing-masing pasangan kan punya gaya.

Last but not least, doakan dia.

Yang punya cinta itu kan yang Mahacinta. Dalam kondisi tertentu, kita harus berjuang (keras) meraihnya dan mempertahankannya. Saat upaya manusia tak jua sampai, mari minta kepada-Nya, Zat yang Mahakasih.

#ustazahmodeon #kabursajaah  😀

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

 

 

 

 

 

 

 

Rahasia Gelap Pernikahan

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-145, kita akan membahas rahasia gelap pernikahan.

 

Beberapa malam yang lalu saya dan suami saya nonton sebuah film di rumah. Saya sebenarnya tidak terlalu berminat karena filmnya film asing dan di-dub ke dalam bahasa Inggris. Menurut saya, film dubbing yang paling asyik itu hanya Doraemon 😀

 

Karena suami saya tertawa-tawa melulu, saya jadi ikutan nonton.

Tiga pasang suami istri dan seorang lelaki jomblo berkumpul untuk makan bareng di rumah salah satu di antara mereka. Sambil ngemil, mereka main game.

Semua hape dikumpulkan di atas meja. Jika ada hape yang berdering—ada telepon atau pesan—semua harus tahu apa isinya. Telepon diterima pakai speaker. Pesan dibacakan keras-keras oleh teman lain.

 

Sepakat. Toh semua merasa tidak punya rahasia dengan pasangan masing-masing.

 

Mula-mula semua lucu-lucuan. Ada yang salah sambung, ada yang ditelepon sales, atau apa pun itu.

Ketegangan mulai terjadi ketika salah satu suami (sebut saja A) ingat. Ini kan hari apa ya saya lupa, dan jam sekian akan ada kiriman foto nakal di salah satu grupnya, dan dia dikenal sebagai suami yang taat.

Kebetulan hapenya sama dengan si teman yang jomblo. A punya ide untuk tukar hape saja supaya tidak ketahuan istrinya. Si jomblo menolak tapi A memohon-mohon.

Deal! Mereka tukar hape.

 

Dan benar saja. Pada jam yang sudah ditentukan, bermunculanlah gambar-gambar syuuur di hape A tadi. Whuaaa, semua menggoda si jomblo dan bilang nggak sangka.

Fyuuuh … selameeet.

 

Berikutnya SMS. Ternyata untuk si jomblo. Tapi karena hapenya ditukar, semua menyangka itu buat A. Ketika dibacakan keras-keras, isinya bilang aku rindu kamu.

Istri A kaget, tapi A bilang itu SMS nyasar. OK, sementara aman.

 

Eeeh, ada lagi pesan masuk, kali ini pesannya makin nakal.

Hape direbut istrinya, ternyata namanya ada di contact – mana mungkin pesan nyasar kalau nama pengirimnya tersimpan – Jenny atau apa saya lupa 😀

So, Anda tahu bahwa sebenarnya SMS itu buat si jomblo.  Adegan pertengkarannya tambah panas ketika lama-lama identitas Jenny ini terkuak, tapi saya tidak akan cerita di sini eheheh. Kepanjangan.

 

Telepon berikutnya dari toko perhiasan ke tuan rumah. Speaker on, semua mendengar, maka berlangsunglah percakapan ini:

Halo … apakah dia suka kalungnya?

Iya. Istri saya suka. Nanti saja ya, teleponnya. Sedang banyak tamu.

Eeeh … tunggu. Apakah dia juga suka giwangnya?

—- suami diam —- istri memandangnya —

Giwang yang mana? Kamu beli giwang buat siapa? Kamu hadiahkan ke siapa?

Dan heboh lah semua. Saya juga tidak akan cerita siapa penerima giwang itu. Tak disangka!

 

Telepon berikutnya berdering.

Sales yang dari tadi menelepon ternyata menelepon lagi. Salah satu di antara mereka berniat menggoda si sales, jadi telepon diangkat.

Ternyataaa … yang ditulis di kontak sebagai sales itu sebenarnya pacar salah satu di antara mereka. Si pacar sedang panik minta segera ketemuan karena merasa “telat”.

 

Dhueng! Istrinya mengamuk.

Pasangan yang semula menyangka diri mereka saling aman ternyata justru paling parah. Heboh lagi, bertengkar lagi.

 

Tambah seru, ketika hape istrinya A bunyi. Ternyata dari teman chat rahasianya. Dan isi chatnya mesra semua. Si A marah besar! Istrinya bilang itu hanya chat di dunia maya, hanya fantasi. Tapi suaminya tetap marah. Namanya saja orang “taat”, kaaan?

 

Dan semakin malam, rahasia mereka di balik hape masing-masing jadi makin terkuak. Semua punya rahasia yang saling tidak disangka.

Pasangan yang tampak mesra ternyata menyimpan rahasia masing-masing. Jomblo yang selama ini disangka cuek saja ternyata punya rahasia besar juga.

 

Mereka semua teman dekat, tapi semua hanya saling kenal di permukaan. Masing-masing punya rahasia gelap.

 

Filmnya simpel, lokasi yang dipakai sepanjang film nyaris semua di ruang makan, dan setiap telepon berdering, saya ikut deg-degan menunggu, rahasia apa lagi yang bakal terungkap, ahaha.

 

Ending-nya kurang greget, tapi pesannya kena banget buat saya dan suami yang sama-sama doyan kelayapan di media online.

 

Dia bilang, “Hayooo, kita tukar hape sehari. Kita lihat siapa yang bakal kontak. Berani?”

Ahaha. Mana saya mau.

 

Kepada suami saya menjawab, “Supaya kita aman-aman saja, tolong Bapak jangan pernah buka hape Ibu.”

Just kidding 😀 😀

 

Dalam buku “Marriage with Heart” ada bahasan khusus tentang hal ini dan pertanyaan yang paling saya sukai adalah, “Apakah Anda biasa menghapus chat tertentu karena takut ketahuan pasangan Anda?” 😀

 

So, itu film yang saya tonton akhir pekan lalu. Judulnya “Nothing to Hide”.

 

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

 

 

Apa Adanya atau Ada Apanya?

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini adalah kulwap ke-147. Kita akan membahas tema menerima pasangan apa adanya, eh, atau ada apanya? 😀

 

Kita pernah membahas dalam materi sebelumnya bahwa salah satu ancaman dalam pernikahan adalah berharap bahwa pasangan kita akan berubah demi membahagiakan kita. Yang tadinya malas jadi rajin, yang tadinya ngorok jadi tidak ngorok, yang tadinya wangi jadi tidak wangi #yanginidusta

 

Alasannya biasanya ini: Jika dia memang cinta aku, dia akan berusaha berubah demi aku, kan, ya?

Ternyata tidak.

Ada yang bilang bahwa berharap pasangan berubah itu seperti berharap ayam menggonggong (aduh, perumpamaannya enggak banget). Ternyata, salah satu perekat pernikahan adalah kesediaan menerima pasangan apa adanya.

 

Bagaimana caranya?

Saya sarikan beberapa nasihat dari buku dan artikel yang pernah saya baca. Seingatnya, ya. Buru-buru ini.

 

+ Hati-hati dengan ekspektasi yang tidak pas. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan pasangan, cek dulu. Pasangan kita yang memang kudu berubah atau ekspektasi kita yang perlu disesuaikan? Tanya pada diri kita, mengapa sih dia harus berubah dan menjalani hidupnya demi memenuhi harapan kita?

 

+   Berpikir positif. Kabarnya bagi sebagian orang, berpikir negatif itu lebih mudah karena tidak perlu usaha selain menyalahkan pihak lain. Padahal, ada yang bisa dilakukan: berpikir positif, melihat kebaikan pasangan, dan melengkapi kekurangannya dengan kebaikan yang kita miliki. Dia tampaknya kurang punya minat berbenah, jadi saya akan menggenjot minat berbenah saya. Dia tampaknya kurang punya minat berbenah, saya juga tidak suka berbenah. Lantas mengapa dia yang harus berubah? Ehehe. Dia kurang punya minta berbenah, dan saya santai saja, karena dia punya minat yang besar dalam mengajak saya jalan-jalan, misalnya.  Artinya, tidak punya minat berbenah tidak lantas membuatnya jadi orang jahat, kan? Nyebelin sih iya, ahahaha. Just kidding.

 

+ Lebih ramah pada diri sendiri. Kadang penilaian kita pada orang lain adalah hasil dari kekecewaan kita pada diri sendiri. Jika kita bisa berdamai untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, ingin segalanya serba sesuai dengan keinginan kita, pandangan dan tuntutan kita pada orang lain pun biasanya akan lebih ramah.

 

+ Fokus pada hari ini. Berkat tahun baru yang saya rayakan bareng keluarga, saya dapat quotes bagus dari Nhat Hanh yang dinyanyikan: Happiness is here and now, I’ve dropped my worries. Nowhere to go nothing to do, and no need a hurry.

Kebahagiaan akan manis jika kita nikmati hari ini. Tidak mengungkit yang lalu dan tidak cemas akan masa yang akan datang. Tak perlu tergesa-gesa, nikmati saja yang ada sekarang.

Dalam satu dan lain hal, saya sepakat. Kebersamaan kita dengan pasangan dan keluarga sudah melewati banyak hal baik dan buruk, dan masih akan mengalami perjuangan yang tidak bisa sepenuhnya diperkirakan. Rasa cemas akan masa lalu dan masa depan ini kadang membuat kita lupa menikmati masa sekarang. Here and now.

 

Sudah, ya.

Jadi pingin nangis siang-siang ahahah.

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)