Anakku Lebih Pede

Kira-kira sejak September 2006, anakku, Zaky (9 th), menjadi guru les bahasa Inggris. Setiap Sabtu siang, dia pasti segera mandi dan pakai baju resmi. Murid-muridnya adalah anak-anak kecil di blok kami dan blok sebelah, bahkan belakangan anak dari kompleks sebelah juga mulai ikutan. Yang lebih istimewa, dia bisa banget mengikat emosi anak-anak itu, sehingga sampai sekarang, murid-muridnya setia dan datang setiap sabtu siang ke teras rumah kami. Mulanya, ibu-ibu mereka berpikir aku yang mau ngajar. Mereka ga sangka kalau Zaky yang jadi gurunya.

Awalnya:Tiba-tiba dia ingin jadi guru les Inggris. Pamflet dia buat dan dia print sendiri, lalu ditempelkannya di papan pengumuman RT. Dia juga mendatangi rumah-rumah tetangga yang punya anak kecil dan menawarkan kursusnya. Gratis, katanya. Tentu saja ibu-ibu pada mau, wong mereka pikir aku yang ngajar. Aku sendiri penasaran, mengapa dia begitu antusias. Setelah kutanya, diapun buka kartu: Dia terilhami oleh novel anak yang dibacanya, kalau tidak salah judulnya “Bocah-bocah di Pagar” terbitan Penerbit Mizan Bandung. Di dalam kisah novel itu, ada seorang anak kecil yang main sekolah-sekolahan dan menjadi guru bagi anak-anak yang lebih kecil dari dia. Rupanya novel itu begitu berkesan bagi zaky, sampai menjadi inspirasinya untuk ikut menjadi guru. 

Saat tiba hari Sabtu pertama, dua jam sebelumnya, Zaky yang biasanya cerewet tiada henti mendadak diam saja. Mondar-mandir tak jelas sambil termangu-mangu. Kutanya, “Kakak sakit?”“Nggak koq”“Trus kenapa diem aja?”“Kak Zaky deg-degan nunggu ngajar…”Oooo ternyata Pak Guru terserang demam panggung.Walaupun begitu, semua kecemasannya itu menguap setelah tampil di hadapan murid-muridnya.

Hari pertama dilaluinya dengan sukses, walau agak geer dan grogi dikit-dikit. Aku sengaja rekam diam-diam dari kamar depan, biar ada dokumentasi keberanian dia berinisiatif.  

Sampai sekarang kursusnya masih jalan. Lebih sering di teras rumah kami, tapi tak jarang dibawanya anak-anak ke taman kompleks, trus jalan-jalan keliling blok, sambil teriak-teriak: “Look, that is the sun! The sun is in the sky!”  Anak-anak makin senang, bahkan menurut ibu salah satu dari mereka, anak-anak jadi semangat belajar bahasa Inggris berkat les di Zaky. Waduh, mau melayang rasanya aku…ikut bangga dong, aku kan ibunya…padahal, aku gak ikutan. Les itu murni proyeknya Zaky.

Keterlibatanku tak lebih dari bertanya apa yang mau diajarkannya, dan seringkali dijawab “ada ajah” oleh Zaky. Pak guru kecilku itu juga tak pernah memintaku terlibat, selain minta komentar atau nilai setiap akhir kursus: sudah pasti aku kasih banyak saran, tapi ya itu tadi…hanya saran klise yang mungkin tak diperlukannya.  

Bapaknya pernah bilang: Zaky ini jauh lebih punya peluang untuk bisa punya jaringan kursus Bahasa Inggris dibandingkan dengan ibunya. Memang sih, kalau mikir mendirikan kursus, aku sudah pusing duluan mikirin fasilitasnya, kurikulumnya, gurunya, muridnya: rumit dan njelimet. Zaky juga sudah menemukan jalannya sendiri untuk mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya. Pendeknya: Zaky lebih pede!!! 

Tiada

Tiada harta lebih berharga daripada akalTiada kesendirian lebih sepidaripada keangkuhan diriTiada kebijakan lebih baikdaripada hidup sederhana dan terencana Tiada kemulyaan lebih tinggidaripada ketaqwaanTiada kawan karib lebih baikdaripada keluhuran budiTiada harta warisan lebih besardaripada pendidikan Tiada petunjuk jalan lebih baikdaripada taufiq AllahTiada perdagangan lebih menguntungkan daripada amal shaleh

Tiada laba melebihi pahala Allah

 Tiada wara’ lebih baik daripada pengekangan diri terhadap segala syubhatTiada zuhud lebih baik daripada zuhud terhadap barang yang haramTiada amal lebih baik daripadamengerjakan sesuatu yang difardhukan Tiada ilmu lebih baik daripada hasil tafakkurTiada iman lebih baikdaripada rasa malu dan sabarTiada kehormatan diri lebih baikdaripada tawadlu Tiada kemuliaan lebih baik daripada ilmuTiada kekayaan lebih baikdaripada kemurahan hatiDan tiada dukungan lebih baikdaripada nasehat yang tulus                         (Dari Mutiara Nahjul Balaghah, Imam Ali Karamallaahuwajhah)

PAKU

Bacalah dengan teliti, ini sangat penting

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar.

Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pundan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.

Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata: ”Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar.”Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar.Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.

Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu. Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka.Jangan biarkan selisih paham merusak indahnya persahabatan. (Ku-copy paste dari email seorang kawan, ingin kutanya padanya, dari mana sumbernya.)

There are many….

There are many things I wanna share. My happiness, my love, my smile, my tears. Why should people feel all alone? When you feel lonely, why don’t you go outside and say hi to the first people you meet? When you feel sad, just think that many people have to breath through the oxygen tank. I owe you all my smile and happiness. So, thank you.

Kemarin Nonton Melly

 Tak sengaja, entah di acara apa, di RCTI ada Melly Goeslaw nyanyi sama Andhika, ABG temuan barunya. Tampil pede berat dengan tubuh suburnya. Aku jadi ingat, dulu dia juga pernah nyanyi di TV (di acara apa aku ga inget) pakai baju meraaaahh, menyala, seperti Leak dari Bali. Masih dengan tubuhnya yang tidak langsing. Di Detik.com juga ada berita-berita kecuekan dia menanggapi kritik yang dialamatkan kepadanya. BBB orbitannya dibilang ga bermutu juga ditanggapinya dengan santai, ‘EGP,’ katanya. Melly. dilihat dari tampangnya, ga molek seperti artis-artis sinetron pendatang baru, apalagi yang separo bule. Kalau Melly jalan-jalan ke mall, atau nongkrong di tempat-tempat gaul, dijamin ga akan pernah menarik minat agen pencari bakat model, aktris, bahkan penyanyi sekalipun (suara kan bisa diolah di studio biar layak dengar). Lain halnya di rimba raya permusikan Indonesia, nama Melly bisa dibilang jaminan mutu. Aku suka banget lagu-lagunya (dari yang serius sampai yang berlirik nakal). Kalau jadi juri atau komentator di reality show (atau variety show) lomba-lomba penyanyi yang kini menjamur, komentarnya juga asik. Entah kalau disuruh main sinetron atau film (pernah belum sih? Aku belum pernah denger). Dia juga eksis dengan dirinya sendiri. Bukan karena suaminya, bukan karena bapaknya. Melly ya Melly, dirinya sendiri.Aku yang setengah tahun habis melahirkan, sering kesal kalau ingat berat badanku yang enggan bergoyang turun dari 53 kg. Boleh dong, inget Melly, yang tampil di panggung penuh percaya diri. Mending berkarya deh, daripada melamun menyesali diri.

Buku-buku Terjemahanku

Berikut buku-buku yang kuterjemahkan. Tar lain waktu kuceritakan, apa saja isinya, dan apa saja pengalaman yang kuperoleh saat mengerjakannya.

Army of Roses (Barbara Victor), Penerbit Mizan, Bandung, 2005.

Tafsir Nurul Qur’an jilid 3 (Allamah Kamal Faqih Imani), Penerbit Al Huda, Jakarta, 2003.

Satu Agama atau Banyak Agama (Muhammad Legenhausen), Penerbit Lentera, Jakarta, 2002.

Keadilan Sosial (Hashemi Rafsanjani), Penerbit Nuansa Bandung, 2001.

Shadow Diver (Robert Kurson), Pustaka Hidayah, Bandung.

Hebron Journal (Arthur Gish), Mizan, Bandung, 2008

Juga sejumlah  artikel dalam jurnal kebudayaan Alhuda Jakarta

Segera terbit:

Sole Survivor, untuk Pustaka Hidayah, Bandung

Dreams in Islam, untuk Penerbit Mizan, Bandung.