Ketika Ruzbi nyaris tenggelam

ruzbigayakecil.jpg

Masih dalam rangka liburan di rumah neneknya anak-anak, hari ini,1 Januari 2008. Aku tengah asyik baca koran di beranda. Putri bungsuku terlelap di kamar setelah satu jam lebih menggantung di pundakku. Ruzbi asyik main di dekat kolam dengan Ali, kakaknya. Mereka pun segera luput dari perhatianku.

Tiba-tiba suara “Byur!!!” terdengar dan menyentakkan mataku dari berita yang kubaca. Sekilas kulihat Ruzbi menggelepar di dalam kolam yang penuh air kehijauan. Sambil salawat aku berlari memburunya, menjambak bajunya, dan mengangkatnya dari dalam kolam. Tak lama kemudian, baru Zaky, kakak sulungnya yang tadi asyik membaca bersamaku, tergopoh-gopoh datang dan berseru, “Ruzbi tenggelam! Kalimat yang tak ingin kudengar meluncur deras di antara teriakannya.

Segera kutuntun Ruzbi menjauh dari kolam, kubuka bajunya,dan kumandikan. Sambil kubalur minyak kayu putih, kubayangkan ketakutan yang baru saja dialaminya.

Kolam ikan itu memang tidak dalam. Paling 30-40 cm. Tapi kalau kuingat posisi jatuhnya yang telungkup dan kaki tangannya yang menggapai-gapai, sebelum dia sendiri berhasil membalikkan badannya dan kuseret keluar dari dalam air, aku sendiri ngeri. Sudah pasti dia kaget, tak menduga bakal tercebur sedemikian rupa. Belum lagi kalau kubayangkan rasa air lumut yang pasti sempat ditelannya. Ahhh…

Beres mandi, kugendong Ruzbi dan kududukkan dia di kursi. Wajahnya masih tegang. Dia masih terdiam, tapi tak menangis. Kuberi dia susu, sambil kualihkan perhatiannya pada film kartun yang biasa ditontonnya. Setelah bermain sebentar dengan kakak-kakaknya, dia pun tertidur di karpet. Pulas.

Saat salat, detail insiden tadi melintas di antara lamunan lain yang menghiasi bacaan shalatku. Baru saat itulah aku sadar bahwa hal terburuk bisa terjadi jika aku tak ada di dekatnya. Dia bisa saja benar-benar tenggelam. Bayangan demi bayangan gelap dan liar menerobos rukuk dan sujudku, mengaduk isi perutku. Aku takut, sekaligus menyesal, karena gegabah membiarkan Ruzbi yang baru 3,5 tahun bermain dekat kolam tak berpagar tanpa pengawasanku. Juga kuingat bahwa tadi kami serumah tertawa-tawa menghibur Ruzbi yang shock. Mungkin untuk menekan kepanikan kami. Tadi, tak sedikit pun kuingat untuk bersyukur, bahwa anakku selamat dari bahaya.

Usai shalat, aku segera bersujud syukur. Tak bisa kubayangkan, bahwa batas antara selamat dan celaka begitu tipis. Tak siap rasanya, jika anak harus celaka karena keteledoranku. Tempat bermain yang aman adalah hak anak-anak. Tapi lebih dari itu, tetap dijaga dan diawasi ketika bermain juga hak mereka, sebagai salah satu mata rantai perawatan anak.

Tanpa bermaksud menebar ketakutan dan sikap over-protektif terhadap anak-anak, berikut sejumlah saran untuk menjaga keselamatan anak ketika bermain (berasal dari catatan keteledoranku mengasuh anak-anak):

a. Untuk bayi yang sedang digendong

v Kalau terpaksa disambi memasak, letakkan bayi jauh-jauh saat menggoreng apa pun! Minyak panas bisa meletup dan menciprat ke arahnya.

v Bila digendong menyamping, tetap perhatikan tangan yang tidak terlihat (biasanya salah satu tangan bayi berada di belakang tubuh penggendongnya). Kadang tangan kecil yang tersembunyi itu menggapai dan memegang benda yang berbahaya. Saat kugendong Zaky kecil, tanpa kusadari tangan kanannya menggenggam pegangan termos nasi. Nasi panas tumpah berhamburan begitu aku melangkah.

v Usahakan mengganti posisi pahanya sesekali, agar tidak ruam (merah dan lecet) bekas kain gendongan, apalagi kalau bahan gendongannya dari bahan plastik

.b. Untuk bayi yang mulai merayap

v Semua bayiku adalah pemulung dan hobi memasukkan semua barang temuannya ke mulutnya, bahkan menelannya. Semua benda yang ditelannya itu baru kuketahui saat mereka BAB: cuilan plastik bungkus kue, kertas, tissue, biji jeruk, styrofoam, …mengerikan juga sih. Ruzbi pernah meraung-raung setelah mengunyah cabe merah dari rak bumbu. Alhamdulillah tidak sampai kena matanya.

v Ali kena gejala radang paru-paru di usia 7 bulan karena kubiarkan merayap terlalu sering di lantai yang dingin. Belakangan saat Ruzbi juga mulai merayap, temanku menghadiahkan rompi pengalas dada dan perut. Dulu orang Jawa menyebutnya “oto.” Istilah itu sudah jarang kudengar, bahkan di desaku. Modelnya seperti rompi pengendara sepeda motor, hanya bahannya dari kain beberapa lapis. Dengan tali yang diikatkan di leher dan pinggang, perut dan dada Ruzbi tidak kedinginan ketika diam-diam merayap dari karpet ke lantai.

v Luthfa si bungsu mulai merayap, dan rompi bekas Ruzbi sudah tak tentu rimbanya. Aku telat bikin rompi. Akibatnya: perutnya luka (cukup parah untuk bayi 6-7 bulan), mungkin tergores benda kecil dan keras yang dilewatinya ketika merayap. Menyesal? Jangan tanya. Apalagi setelah kutemukan rompi yang kumaksud itu sudah banyak dijual di toko. Maaf, Luthfa.

v Anak-anakku tak ada yang kenal boks bayi. Semua bayi tidur lesehan di kasur di lantai. Alasannya sederhana: bisa sekalian jadi tempat main sekeluarga. Aku juga bisa menyusuinya sambil tiduran. Kalau di simpan di boks, kami tak bebas memeluknya. Risikonya, saat bangun dan kutinggalkan walau sebentar, beberapa kali mereka tersungkur dari kasur. Walaupun tebal kasur ke lantai hanya 10 cm, kepala tetap bisa benjol.

v Amankan kabel yang terjuntai ke lantai. Putriku hobi ngemut ujung charger handphone yang masih tertancap. Walau didesain aman, waspada akan lebih baik.

c. Untuk balita yang mulai belajar berjalan

v Pastikan sepatu atau sendal yang dipakainya ringan, nyaman, dan tidak licin. Aku pernah dapat hadiah sepatu dari luar negeri, katanya mahal. Pas kupakaikan ke kaki Ali, ternyata terlalu berat. Pas terpaksa kena pipis, bukanya ribet, pas harus dicuci, keringnya lama. Intinya, perhatikan kenyamanan kaki kecilnya, bukan tampang sepatunya, apalagi merknya 🙂

v Anak-anakku mengkombinasikan pelajaran berjalan dengan memanjat. Pastikan benda-benda yang mungkin dipanjatnya tetap aman. Zaky pernah nyaris tertimpa rak piring yang dipanjatnya.

v Mulai perkenalkan istilah “bahaya” untuk benda-benda seperti gunting, pisau, kabel, dsb. dengan nada bicara tetap stabil, agar anak mengenal konsep hati-hati tanpa jadi fobia.

d. Usia 3 tahun

v Ingat Ruzbi ! Main air adalah hobi universal anak-anak. So, pastikan mereka selalu aman saat bersenang-senang

.v Amankan pisau cukur (Ali pernah menganggapnya pesawat terbang dan…You don’t wanna know)

v Ruzbi sudah mahir bermain pedang-pedangan dengan benda apa pun (pensil, penggaris, hanger, bahkan obeng). Saat beraksi, aku berusaha menjauhkan adiknya dari risiko terkena sambaran pedangnya.

e. Usia 7 – 9 tahun

v Aku tak pernah bosan mengingatkan agar Ali berhati-hati jika bermain tali dengan adik & kakaknya, agar tidak tercekik. Tetanggaku pernah mengalaminya sampai salah satu anaknya pingsan.

v Ali dan Zaky sudah mulai belajar mengiris bahan masakan, menyalakan kompor gas dan mematikannya, merebus air maupun menggoreng telur dadar kesukaan mereka. Aku selalu mendampingi mereka saat berkarya di dapur, dan berpesan agar bekerja di dapur hanya saat ada orang dewasa yang mendampinginya.

v Waspadalah: kalau anak-anak bercanda sampai tertawa terbahak-bahak heboh banget, segera minta mereka berhenti. Biasanya tawa mereka akan berubah tangis hehehe…

Itulah, sebagian pelajaran berharga yang pernah kualami. Hingga kini, masih banyak kecerobohan yang kulakukan ketika mengasuh anak-anakku. Setidaknya, tulisanku ini bisa mewakili segunung permintaan maafku kepada mereka.
Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Ruzbi nyaris tenggelam

  1. syukurlah… tidak terjadi apa-apa dg si kecil
    saya juga pernah trauma melihat si kecil tersedak lehernya menelan apa gitu waktu itu..

    bagaimana pun.., apa yang terjadi pada anak yg masih kecil.. kita lah yang patut dimintai tanggung jawab 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s