Keluarga Besar & Pengendalian Diri

sekeluarga-duduk-di-kursi.jpg 

Demi menghadiri pernikahan adik iparku, tak kurang dari 15 orang kerabat menginap di rumah kecil kami. Suasana riuh rendah oleh obrolan melepas rindu, canda tawa & berbagi cerita. Malam hari kami tidur berdesakan…termasuk bayiku. Bahkan anak ketigaku, yang biasanya rewel jika harus tidur dengan orang asing, ikut dalam keramaian itu dan begadang hingga larut.

Sebagian besar di antara berabatku itu belum pernah kukenal sebelumnya. Namun dari awal, aku memang menciptakan chemistry sok akrab hingga membuat kami nyaman berinteraksi. Di Tasikmalaya, rombongan kami tampil sebagai keluarga besar yang kompak…. 

Setelah pesta pernikahan usai, keramaian masih berlanjut. Kerabat yang berasal dari Makassar dan Papua itu ingin menikmati kota Bandung. Yenny, adik iparku yang lain yang masih belum punya anak, jadi sasaran untuk jadi guide sekaligus granny sitter. Banyak kisah lucu dan unik kudengar dari perjalanan mereka. Bayangkan, dia mengasuh tak kurang dari 4 nenek-nenek dan 3 tante-tante belanja barang-barang murah meriah di Pasar Baru.

Sementara itu, di rumah, aku bersiap dengan logistik yang berlipat dari hari-hari biasa. 5 kg beras yang biasanya baru habis setelah seminggu, habis dalam dua hari. Air mineral galon yang biasa kuganti seminggu dua kali, kini harus kupesan agar diganti setiap pagi. Kran air yang tak henti mengalir, televisi yang on pada jam tayang sinetron (anak-anakku pada ikutan nonton sambil sesekali melirik malu-malu kepadaku), dan kamar mandi yang selalu banyak peminatnya.

Aku jadi berpikir…mungkin beginilah suasana keluarga yang dihuni dua atau tiga keluarga. Bahkan di Cicadas (yang masih jantung kota Bandung) banyak rumah kecil yang disesaki hingga , bahkan sekedar untuk tidur, mereka harus menggelar tikar di teras.

DAN….Yang paling terasa olehku adalah: Pengendalian diri. Selama hampir sebulan Ummi (mertuaku) di rumah, disusul kemudian oleh kerabat yang datang untuk acara pernikahan, aku hampir tak pernah marah ke anak-anak. Aku jadi pintar menjaga suasana hatiku sendiri. Bukan sekedar karena Ummi sedang sakit, tapi karena suasana rumah memang membuatku selalu sibuk. Yang kumaksud sibuk adalah ngerumpi tiada henti dengan tamu-tamuku. Luthfa yang biasa menggantung di pundakku hampir setiap waktu, kini banyak yang mengasuh. Selama dua minggu aku tak pernah mengurus jemuran baju. Pakaian terjemur dan terangkat sendiri secara ajaib (hehehe….), cucian piring selalu beres, lantai juga selalu bersih.

Jadi, memang di satu sisi, kedatangan keluarga besar membuatku belajar banyak untuk mengendalikan diri. Mungkin aku sekedar jaim (jaga image, supaya tampil sebagai menantu yang baik hati dan sempurna….).

Walau begitu, bagi anak-anakku, apapun alasannya sama sekali tak penting. Bagi mereka, selama sebulan, Ibu menjelma jadi peri yang baik hati. Tak pernah marah, dan selalu sabar. Aku berdoa, semoga setelah di-training selama sebulan, aku tidak kemudian bagaikan kuda lepas dari kandang…. Kasihan anak-anak deh…

Tentang anak-anak:   

Seperti biasa, ketika ada tamu, anak-anak seperti punya kesempatan berulah. Semua peraturan yang telah mereka buat sendiri (tentang belajar, latihan musik, sholat, ngaji, main game, mandi, makan mie instan…) mendadak dirubah semau mereka. Alasan mereka persis dengan alasanku ketika meminta mereka tenang di hadapan tamu: Kan kita harus memuliakan tamu, Bu, jadi kak Akbar (sepupu mereka) kita ajak main Game…

Kesal memang, tatanan yang sudah berjalan jadi gonjang-ganjing. Anak-anak seperti tahu: Ibu tidak akan rewel kalau aku melanggar janji dan tidak disiplin. Ibu kan ingin menjaga rumah tetap tenang dan nyaman untuk para tamu. Ibu juga pasti ingin dilihat cool oleh para nenek (hehehehe….).

Yah…tak apa. Itung-itung memberi liburan panjang pada mereka. Aku & suami belum mampu membayar ongkos liburan panjang mereka ke Bali atau Disneyland …. Jadi, biarlah mereka ambil cuti panjang di rumah saja….

Kini rumah kembali sepi, kami kembali ke rutinitas semula. Sholat subuh harus kami lakukan setengah mati, karena suasana rumah yang sepi membuat kami tidur seperti bangkai. Aku merasa lebih merdeka, bisa bermalas-malasan atau begadang sesukaku….  

Entah perasaan anak-anak. Aku tak berani bertanya. Aku tak berani mendengar kekecewaan mereka karena “liburan panjang” telah usai. Kini saatnya berjuang, menjadi ibu yang baik karena memang itu sebuah kemestian. Bukan karena alasan selain itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s