aku BELAJAR BIKIN BULETIN

edisi ke 11, des 08

edisi ke 11, des 08

Aku ikut-ikutan nimbrung di organisasi orangtua tempat kedua anakku sekolah. Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin, sebuah SD alternatif di kabupaten Bandung. Program yang diluncurkan oleh Formasi (begitu nama organisasi ortu tadi) beraneka ragam. Aku jadi koordinator buletin pendidikan bernama inFormasi Kita yang terbit tiap bulan. Dengan terbata-bata aku belajar MS publisher, hingga akhirnya berhasil menerbitkan 9 edisi (edisi perdana terbit Des 07, edisi terbaru Insya Allah beredar awal Desember 2008)

Edisi Desember 2007 – Maret 2008 terbit 4 halaman, mulai edisi April jadi 8 halaman. Materi dan berita berasal dari ortu, anggota redaksi yang lain & hasil googling. Sementara layout masih kukerjakan sendiri, Isi sebagian rubrik & Distribusi oleh Bu Dwi Fairiyani. Pihak sekolah juga andil. Bu Sri Ramadhani selalu kasih info intern sekolah untuk dimuat di setiap edisinya. Seneng juga, aku bisa belajar banyak. Setidaknya, aku terpacu terus untuk banyak baca, banyak tanya & banyak nulis juga.

Mau baca & kasih masukan?

— Awalnya terbit  empat halaman:  desember januari 08 februari maret

— Mulai terbit  8 halaman: april mei juni2 juli-agustus september

—  edisi Oktober libur (ikutan mudik dulu…….)

—   november

edisi terbaru adalah edisi ke -11, tepat satu tahun inFormasi Kita menemani SIGM (ehm…)

— desember-08

selamat baca 🙂 semoga berkenan

SAAT AKU SAKIT: Zaky jadi malaikatku

Dua minggu terakhir ini, keluargaku rontok. Aku, suamiku, dan anak-anak sakit. Bahkan ibuku yang tengah berkunjung ikut-ikutan kena terjang. Semua kena flu berat. Demam, batuk, pilek, lemas …

Dari kami bertujuh, hanya si sulung yang luput. Mungkin karena dia banyak aktivitas di luar rumah, atau karena makannya sedang banyak-banyaknya, atau memang dia sedang diutus Tuhan untuk mengasuh kami sekeluarga. Dia membantuku ini itu, mulai dari mengurus jemuran, masak mi instan, masak nasi, ganti popok bayi, sampai menyuapi Ruzbi. Melihatnya setia mengurusi keperluan kami, aku jadi ingat saat dia berulah dan aku memberondong dia dengan segala omelan, bahkan teriakan tak pantas.

Zaky, putra sulungku itu, kini menjelma jadi malaikat penolong, yang membantuku dengan tulus, tanpa dendam.

Berawal dari Ali, putra kedua kami. Suhu tubuhnya mendadak tinggi. Badannya yang langsing (untuk tidak menyebutnya kurus) itu menggigil tak tentu. Makan tak mau, bernapas pun terengah-engah. Bibirnya kaku, kering, dan pucat seperti kertas. Dia yang biasanya begitu doyan susu mendadak emoh. Tidurnya gelisah. Bagiku, malam terasa begitu panjang. Kuberi dia obat panas, kukompres kepalanya yang selalu lengket oleh keringat.

Kutunggu hingga esok hari. Dia membaik. Tapi belum lagi sore, dia kembali gelisah, suhu badannya kembali naik. Aku cemas dia kena thypus. Kami putuskan untuk membawanya ke rumah sakit untuk ke dokter dan tes darah. Setelah antre begitu lama, hasilnya negatif. Ali “hanya” kena flu. Cukup diantisipasi dengan obat batuk, obat pilek, dan antibiotik. Aku lega, semua lega. Dengan rayuan dan intimidasi, dia juga mulai mau makan, mau banyak minum air putih, mau banyak istirahat.

Namun, dua hari kemudian, adiknya, Ruzbi, mulai pilek dan panas. Matanya yang bundar terlihat ngantuk melulu. Ada bercak kemerahan di sudut mata kirinya. Wah, aku takut dia kena flu mata. Untung salep mata selalu tersedia di rumah. Obat flu juga ikut kukerahkan, jangan sampai flu berat seperti Ali. Siang malam rewel terus. Sedih sekali lihat dia yang biasa menghibur kami dengan polahnya yang lucu, kini melendot terus minta diperhatikan. Sedikit kesalahan saja akan membuatnya meraung.

Lengkaplah deritaku ketika kulihat hidung putri bungsuku mulai berair. Kepalaku juga sudah mulai berdenyut setiap bergerak. Tuan putri cantik yang biasanya antusias ketika melihat bapaknya berlalu, kini menempel terus di dadaku. Tak mau dia digendong siapa pun kecuali aku. Malam juga begitu. Dua bayi mengapitku, Ruzbi dan adiknya. Keduanya sama-sama ingin dipeluk. Sementara kakiku sendiri mulai menggigil meriang. Aku sakit. Bahaya. Kalau aku juga sakit, siapa yang bakal mengurus mereka semua? Masih terbayang perihnya perasaanku ketika Luthfa baru empat bulan dan kutinggal opname di rumah sakit. Sedih sekali.

Dua hari berselang, bapaknya anak-anak ikut sakit. Bagaimana ini? Aku harus sehat. Jelas, jika aku tak punya anak-anak yang juga sedang sakit, pasti aku sudah meringkuk menggigil di kasur. Alhamdulillah, sakitnya anak-anakku membuatku kuat. Sambil meringis dan berusaha mengatur napas, aku tetap bisa mengurus mereka. Menyuapi, mandi, cebok, ganti baju, berhadapan dengan muntah, ingus, rengekan, minum putih, mau sama ibu…Semua kulakukan sambil menggendong bayi yang tak henti menyusu. Semua.

Kini anak-anak sudah sehat. Bapaknya juga mulai bangkit walau masih harus banyak istirahat. Aku sendiri sudah melewati dua siklus flu. Sekarang aku mulai flu lagi, sebelum sempat pulih sehari pun. Tenggorokan juga masih gatal luar biasa. Toh semua terasa lebih enteng dengan anak-anak yang sehat. Melihat tingkah mereka, senyum dan canda mereka, hidung yang tersumbat seakan lancar. Melihat mereka berulah dan bertengkar, melihat mereka malas mandi dan beres-beres, juga membuatku kembali hidup. What a beautiful life!