Tontonan Bikin Ga Tenang: Mengikis Paranoia Anak dengan Empati

Inilah Zaky kami, andalan kami, kebanggaan kami

Kemarin sore kami sekeluarga lumayan santai. Rumah masih bersih, karena bibi baru saja pulang. Nyaris dapat dipastikan, 60 menit kemudian, isi rumah mulai berhamburan. Kami berkumpul di ruang serba guna (dapur, tempat nonton, tempat baca, tempat makan, tempat main….serba guna. Si sulung Zaky bersiap sholat, Ali latihan musik, 2 yang lain mulai membongkar ini itu. Aku ikutan nonton film dengan suamiku, setelah seminggu lebih menahan diri tidak ikut nonton, karena harus mengejar deadline. Filmnya menegangkan. Pembunuhan. Thrilling, tapi bukan sadis.

Tiba-tiba kusadari kamar Zaky sepi. Terlalu sepi. Kulongok ke dalam, dia sedang mengaji. Al Qur’an di tangannya, ditekurinya dengan khusyu. Aneh. Biasanya dia baru ngaji kalau kuingatkan. Itupun didahului dengan negosiasi dan dalih seperti: tadi di sekolah udah kan, Bu. Aku mau ngapalin surat pendek aja ah (karena bisa dikerjakannya sambil baca komik). Tapi tidak kali ini. Zaky benar-benar lain…..

Aku sempat komentar ke Bapaknya, tapi dia cuma senyum. Kamipun kembali larut dalam ketegangan film itu. Di hari-hari biasa setelah maghrib & dinner, TV wajib mati. Aturan lain berlaku kalau Bapak kebetulan pulang sore, biasanya pingin nonton berita atau mutar film. Anak-anak cuek saja, karena sudah punya jatah masing-masing. Kadang mereka cari-cari alasan supaya bisa ikutan nonton, atau ngintip-ngintip penasaran. That’s why we’re careful when children are still around.

Tiba-tiba Zaky memanggilku ke kamar. Ingin bicara, katanya. Kulihat wajahnya yang sembab, matanya merah menahan tangis. Hatiku berdesir. Ada apa ini?

Mulailah dia bicara.

Ini, Bu, Kak Zaky mau bicara tentang mental kak Zaky. Kak Zaky sudah berusaha berani, tapi tetap tidak bisa. Kak Zaky sudah sholat, berusaha khusyu. Kak Zaky ngaji, baca Ayat Kursi seperti yang Ibu suruh, baca semua surat pendek yang Kak Zaky hafal, tapi gagal terus. Gimana ini, Bu?

Apanya yang gagal? Kakak kenapa?

Itu, Kak Zaky ga bisa tenang. Selalu takut. Tidur takut, melek takut. Hati Kak Zaky selalu ga tenang.

Kak Zaky takut apa? (Aku trenyuh, dia bicara terbata-bata, tangisnya nyaris meledak)

Kak Zaky selalu takut kalau Bapak sama Ibu muter film serem atau horor.

Lho… Kan Bapak Ibu ga pernah nonton horor…

Iya…maksudnya yang sadis-sadis gitu..yang bunuh-bunuhan…

Emang Kak Zaky pernah ikut nonton, atau ga sengaja nonton?

Bukan itu…lihat gambar sampul CDnya aja Kak Zaky sudah ga tenang…Kak Zaky juga sudah berusaha untuk tidak ikut nonton, tapi rasa penasaran Kak Zaky selalu muncul… Dulu Kak Zaky sudah mulai tenang, bisa berani, tapi sekarang mulai ga tenang lagi. Kalau tidur di kamar, walau masih ada orang di luar, Kak Zaky tetep merasa sendiri. Tetep takut.

Ooo…gitu…Trus, sekarang Kak Zaky maunya gimana…Bapak Ibu pasti bantu.

Bapak sama Ibu kalau nonton film serem nanti aja pas Kak Zaky bener-bener dah tidur.

Gitu yaa…Ya sudah, nanti ibu bicara sama Bapak yaa…Atau, mending Kak Zaky bicara langsung aja sama Bapak. Bapak pasti ngerti.

Si sulungpun mendatangi Bapaknya dan bicara. Diawali dengan ucapan:

Ini ini Pak, Kak Zaky mau tanya: Apa alasannya Bapak suka nonton film serem. Film sadis gitu. Bunuh-bunuhan.

Yaa…kan dunia ini bukan hanya ada orang baik, ada juga yang jahat…nah…Bapak mau tahu untuk nambah pengalaman aja, dari film. Lagian kan ga semua yang di film itu nyata, banyak yang dibuat-buat…jadi buat hiburan aja…Bapak juga suka film lucu, kungfu, jadi film serem ya buat selingan. Dst dsb….

Tapi Ka Zaky ga tenang. …

Dan negosiasi berlanjut. Akhirnya Zaky berhasil. Kami matikan film, Zaky mulai menstabilkan diri.

Kagum aku padanya, berani mengungkapkan ketakutan, berani meminta tolong. Tidak gengsi. Aku kalah telak. Aku juga takut lihat fim serem. Aku tak suka horor, tak suka film sadis. Tapi aku lebih sering tetap duduk, sambil pura-pura tenang menatap layar, padahal kacamataku kubuat sedikit melorot (aku minus 6, jadi layarpun jadi buram…) Atau, aku sering berpaling sambil tanya-tanya ke suamiku: Pak, diapain dia…gimana, Pak…? Udah busuk ya, mayatnya?…Dan suamiku lebih sering menggoda aku dengan mendramatisir adegan film yang tak ingin kutonton: Wah…dicincang, hiii….masa digorok begitu… (padahal tidak sama sekali).

Back to Zaky.

Sekitar setengah jam kemudian, dia mulai bertingkah heboh seperti biasa. Sudah normal. Bapaknya tanya, Sudah tenang Kak? Sudah, jawabnya. Kemudian dia tidur. Ali tidur. Dua yang kecil bakal begadang seperti biasa.

Tentang Zaky, Aku dan Bapaknya sepakat untuk membantunya, menjaga perasaanya. Dulu kami pernah over dalam “memberi semangat & melatih” dia untuk tidak takut ini itu. Akibatnya dia malah tambah paranoid. Tapi begitu dia didukung dan dimengerti, ditemani dan dihargai—lengkap dengan ketakutannya itu, secara tidak dia sadari keberaniannya justru muncul. Dia jadi berani tidur sendiri, ke warung malam-malam sendiri, di dalam ruangan tertutup sendirian, mulai berhenti ngompol & menahan BAB (sebelumnya dia sering smell bad karena takut ke kamar mandi). Kami tak ingin semua kembali buyar, hanya karena sumber ketakutannya yang baru (film serem) itu tidak kami mengerti.

We love you, Zaky….

Advertisements

2 thoughts on “Tontonan Bikin Ga Tenang: Mengikis Paranoia Anak dengan Empati

  1. Subhannallah, Ini anak memang bener2 titipan ALLAH yang sebaik2 nya…betapa sensitif hatinya yang tidak sanggup melihat bunuh2an biar pun di film sekalipun…Di dunia ini Syaithon mencoba utk mengganggu kita dan anak2 kita lewat film, dll, yang sangat mempengaruhi otak mereka dan kita if not at present time, in the future…alhamdullilah ini adalah satu karunia NYA bahwa Zaky menolak natturally to those kind of influences…
    Mudah2an tetap selalu sebersih itu hati Zaky tersayang…amien.

    • amien…terima kasih. Semoga kami dibimbing Allah SWT untuk selalu mendampinginya. Semoga kami menjadi orangtua yang layak menjadi kawan dan teladan baginya..:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s