CLASSICAL GUITAR FIESTA 2008: Bawa Pasukan Anak-Anak

dua matahariku, dua musisi hatiku

dua matahariku, dua musisi hatiku

Akhirnya 30 Agustus 08. Sudah seminggu kucari info di milis-milis tentang acara ini. Lebih sebulan yang lalu guru gitarnya Ali (7) sempat membahasnya selepas konser kecil di Purwacaraka Music Box (itukah namanya? Aku lupa). Sesudahnya beliau tak pernah mengabariku soal CGF ini. Aku sempat tanya ke Ali, barangkali Pak Ricky pernah berbincang tentang acara yang bakal digelar di Gedung Majestic, Jl Braga no 1 Bandung.

“Nggak tuh, Bu” sahutnya.

Aku juga lupa tidak tanya ke Purwacaraka.

Kami berangkat berdelapan (5 di antaranya anak-anak). Heboh sekali mereka. Tak disangka, di pintu masuk gedung pertunjukan, kami bertemu Pak Ricky. Ternyata dia salah satu penampilnya, bersama-sama dengan Gentra Sora Rasa Sunda—yang tampil sangat Sunda, syahdu dan memikat malam itu. Sayang suara biolanya tak terdengar jelas, ujar Zaky (10), anak sulungku.

Konser tiga jam lebih itu menampilkan deretan gitaris klasik (masih muda-muda, bahkan belasan tahun), duo gitar & flute, rombongannya Pak Ricky, Jakarta Enam Senar, dan bintang tamu Jubing Kristianto.

Saat kami masuk, gitaris pertama sedang tampil. Berikutnya, kami menyimak lagu-lagu indah, yang tak satu pun kutahu judulnya. Walau menurutku kemasannya monoton bagi anak-anak, sesi pertama masih mampu membuat mereka duduk diam nyaris hingga lagu terakhir.

Sesudahnya mereka mulai gelisah: minta makan, capek, pegel, ngantuk, Ubit (4) bahkan sudah ancang-ancang menangis.

Saat lagu yang kukenal sebagai Turkish March dimainkan, Ali berbisik, “Bu, gitarnya rusak.”

Setelah kuperhatikan, ternyata senar gitar Andrade mikraj Rijkia—bagus sekali namanya—memang melambai-lambai di bagian atas.

“Iya, kalau Ali mau main sebagus itu, mungkin gitar Ali juga harus dibikin begitu,” bisikku sambil tertawa.

Nah, setelah istirahat dan beli kue, anak-anak kembali duduk—sempat juga mereka menyapa rombongan kawan lama yang ternyata juga hadir. Sementara itu di panggung, belasan pemain gitar bersiap. Penampilan mereka unik. Ali senang sekali dengan lagu Naik Delman yang mereka mainkan sambil mengetuk-ngetuk badan gitar (tuk tik tak tik tuk) ditimpali ringkikan kuda oleh dua pemainnya. Segar sekali. Aku sendiri baru melihat ansambel gitar yang memainkan lagu dengan cara seasyik itu.

Selanjutnya penampilan solo dan duet. Semuanya main cool … sempat kulirik nama-nama mereka di kegelapan dengan bantuan cahaya handphone. Anak-anak sempat berkomentar manis: weiss … pinter, ya … wah bisaan, ya… bahkan sesekali mereka duduk nangkring di sandaran kursi, karena terhalang kepala-kepala orang dewasa di depan mereka.

Waktu Mas Jubing tampil, Ali sibuk mengomentari gitarnya yang unik, aku sibuk memintanya tenang. Dia pun segera diam setelah berbisik, “Ibu … Ibu … Bohemian Rhapsody.”

Hujan Fantasy, Becak Fantasy, dan Burung Kutilang membawaku ke masa kanak-kanak. Aku pun ikut bersenandung bersama penonton yang kuyakin juga merasakan nostalgia yang sama, Trilili lili lili lili ….

Akhirnya pesta gitar pun usai. CD Jubing Kristianto kami beli sebagai oleh-oleh. Di mobil, tiga orang dewasa berebut berkomentar, sedangkan lima anak-anak pulas kelelahan.

Selamat pada seluruh tim CGF 2008, kami sungguh terhibur.

Terima kasih….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s