Yudaisme vs Zionisme di Tanah Suci

Makalah berikut akan terbit di JURNAL KEBUDAYAAN AL HUDA ICC JAKARTA. Tahun ini genap 60 tahun Palestina didera kezaliman. Palestina oh Palestina, dukamu adalah perihku…

Yakov Rabkin adalah Profesor di University of Montreal, tempat dia mengajar sejarah Yahudi kontemporer, sejarah Soviet dan sejarah sains sejak 1973. Bukunya yang terbaru adalah A Threat from Within: a Century of Jewish opposition to Zionism—Ancaman dari Dalam: Seabad oposisi Yahudi terhadap Zionisme (Zedbooks/Fernwood, 2006; aslinya diterbitkan di Prancis dengan judul Au nom de la Torah: une histoire de l’opposition juive au sionisme, PUL, 2004).

Abstrak:

Sebuah penilaian mengagumkan tentang oposisi Yahudi terhadap Zionisme di Tanah Suci dan sebuah pandangan tentang Timur Tengah “pasca-Israel.”

Dari semua gerakan kolektif yang mulai mengubah masyarakat di abad dua puluh, hanya Zionisme yang masih tertinggal sebagai jejak terakhir. Zionis maupun lawan-lawan mereka sama-sama setuju bahwa Zionisme dan Negara Israel yang lahir darinya di pertengahan abad ke-dua puluh ini merupakan pukulan terbesar dalam seluruh sejarah Yahudi. ………..

Membahas Yahudi di abad sembilan belasan mengisyaratkan sebuah konotasi normatif: penganut Yahudi adalah orang yang tingkah lakunya secara definitif harus mewakili beberapa prinsip tertentu yang berakar dari Yudaisme, yang menjadi kemufakatan (common denominator) bagi komunitas Yahudi. Mengutip Rabbi Amerika-Jerman, Simon Schwab (1908-1993):

… kaum Yahudi di setiap benua menjalani kehidupan mereka masing-masing, mengabdi pada budaya Suci mereka, terpisah dari sejarah politis dunia di sekeliling mereka, yang telah memberkati mereka dengan kepahitan cinta jika bukan kebencian tanpa batas… Dalam Yudaisme, hanya ada satu penafsiran tentang cita-cita, sejarah, dan masa depan Yahudi yang absah. Kesetiaan pada Hukum Tuhan adalah tujuan puncak setiap individu. Kesetiaan ini juga menjadi landasan eksistensi bangsa ini, persatuan kebangsaan Israel yang tetap bertahan di antara runtuhnya seluruh independensi politis Yahudi.

Sekulerisme yang menyapu seluruh Eropa telah menghasilkan perubahan radikal terhadap identitas Yahudi dan meletakkan landasan bagi Zionisme. Dari identitas yang normatif, keyahudian berubah menjadi identitas deskriptif, yang membuka dirinya untuk sebuah penafsiran separatis.

Revolusi Zionis

Zionisme tampil sebagai gerakan nasionalis separatis dengan empat tujuan utama: 1) Merubah identitas Yahudi internasional yang berpusat pada Taurat menjadi identitas nasional yang yang dicontohkan oleh bangsa-bangsa lain di Eropa; 2) Mengembangkan bahasa baru, sebuah bahasa nasional yang bersumber pada bahasa Ibrani dalam Injil dan ajaran agama Yahudi; 3) memindahkan kaum Yahudi dari negara-negara asal mereka ke Palestina; dan 4) menegakkan kontrol ekonomi dan politik atas Tanah Suci.

Shlomo Avineri, ilmuwan politik Israel dan mantan dirjen Kantor Luar Negeri Israel, menyatakan bahwa memandang Zionisme sebagai bagian dari ajaran Yahudi tentang “keterikatan dengan Tanah Bangsa Israel” adalah dangkal, dicocok-cocokkan, dan menyedihkan. Sebaliknya, yang seharusnya dibahas adalah revolusi kesadaran kaum Yahudi, dan sudah tentu bukan kesimpulan logis tentang kerinduan mereka yang telah berabad-abad pada Tanah Suci.

Dalam upayanya untuk “mengembalikan kaum Yahudi ke asalnya,” Zionisme menentang keberlangsungan sejarah yang diwujudkan dalam dikotomi ganjaran dan hukuman, pengasingan dan pengampunan. Kaum intelektual Zionis maupun para rabbi ortodoks yang menentang Zionisme sepakat bahwa paham ini merupakan sebuah pengingkaran terhadap ajaran Yahudi. Yosef Salmon, seorang ahli sejarah Zionisme Israel, menulis bahwa:

Ancaman Zionislah yang mendatangkan bahaya terbesar, karena berusaha merenggut komunitas tradisional dari hak asasinya sendiri, baik dalam Diaspora maupun Eretz Israel, yang menjadi target cita-cita mesianiknya. Zionisme menentang seluruh aspek Yudaisme tradisional: dalam konsep yang diajukannya tentang identitas Yahudi modern dan nasionalis; dalam sikapnya yang merendahkan komunitas Yahudi tradisional dibandingkan dengan gaya hidup baru yang dipromosikannya; dan sikapnya terhadap konsep agama tentang Diaspora dan penyelamatan jiwa. Ancaman Zionis menjangkau setiap aspek dalam masyarakat Yahudi. Ancaman itu tanpa henti dan kian luas. Karenanya, zionisme harus berhadapan dengan oposisi yang tak kenal kompromi.

Para Zionis bukan kaum Yahudi pertama yang menduduki Palestina. Kehadiran kaum Yahudi di Tanah Israel terus mengalir sejak dihancurkannya Temple (Kuil). Old Yishuv, juga sejumlah pemukiman Yahudi taat yang terkenal dalam sejarah, sudah ada di Yerusalem dan beberapa kota Palestina yang lain, ketika Zionis pertama tiba lebih dari seratus tahun yang lalu. Faktanya, penduduk lama Palestina, bangsa Arab dan Yahudi, sulit sekali diasosiasikan dengan apa yang disebut “tanah tanpa rakyat” yang didengungkan oleh para Zionis yang mengklaim diri sebagai “rakyat tanpa tanah.” Para Zionis tiba di sebuah wilayah yang selama berabad-abad telah dihuni oleh Muslim, Yahudi dan Kristen yang hidup berdampingan dalam damai. Tapi di mata ideologi Zionisme, Tanah itu kosong. Zionis bukan hanya mengabaikan bangsa Arab, tapi juga nyaris tak peduli pada kaum Yahudi yang taat. Mayoritas Yahudi Sephardic bergabung dengan tata ekonomi masyarakat Arab. Yahudi Ashkenazim yang sama salehnya juga telah menata kehidupan mereka dalam struktur masyarakat yang saling bantu dan penuh toleransi.

Zionis memandang kaum Yahudi yang saleh ini sebagai sisa-sisa masa lalu yang telah lama hilang, yang telah dikutuk untuk lenyap terseret pusaran arus kolonisasi Zionis. Walaupun demikian, para penganut Yahudi yang saleh ini menyerang para pendatang baru ini dengan ungkapan yang sangat dramatis: “Mereka tidak melangkah di jalan Taurat dan tak takut kepada Tuhan…dan tujuan mereka bukanlah mendekatkan keselamatan, tetapi menghalanginya, ya Tuhan, lindungi kami.” Maka dimulailah konflik antara Yudaisme dan Zionisme, konflik yang seabad lebih kemudian masih belum menemukan titik temu.

Kebanyakan penduduk Tanah Suci membenci kedatangan Zionis di akhir abad ke-sembilan belas itu. Sebenarnya, kaum Yahudi taat di Yerusalem adalah orang-orang pertama yang bereaksi terhadap pendatang baru itu, yang mereka pandang sebagai pemberontak yang menenang Taurat, yang berarti jahat sekaligus berbahaya. Mereka menyeru untuk “mengakhiri semua hubungan, bahkan memutuskan ikatan keluarga dengan siapapun yang menjadi anggota komunitas Yahudi yang dipimpin orang-orang Zionis baru itu.

Oposisi Yahudi terhadap Zionisme

Semula banyak bangsa Arab bersikap ragu pada Zionis pendatang baru yang penuh semangat. Keraguan mereka menguntungkan Zionis. Sebaliknya, kaum Yahudi Palestina yang taat justru serta merta menolak pendatang baru itu, dan tak mau berusaha memahami tujuan-tujuan politis mereka. Sekularisme yang diusung Zionis membuat mereka langsung tak diterima di kalangan Yahudi di Tanah Suci. Ketika oposisi bangsa Arab lebih bersifat politis, penolakan kaum Yahudi tradisional terhadap Zionisme dan kemudian negara Israel mengakar sangat kuat dalam ajaran Yudaisme mereka, dan hanya sedikit dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan politis. Bangsa Arab memandang Zionis sebagai penyusup dan penjajah yang akan membahayakan kemapanan politik dan ekonomi mereka. Di sisi lain, kaum Haredim[1] justru lebih khawatir dengan bahaya hukuman Tuhan, karena perbuatan orang-orang yang mereka anggap sebagai pendosa itu bisa mendatangkan kehancuran bagi seluruh penduduk Tanah Israel.

Sejak disahkannya Deklarasi Balfour bulan November 1917, Zionis menikmati dukungan dari penguasa Inggris, yang lebih dari siap untuk membenarkan klaim mereka untuk bicara atas nama seluruh kaum Yahudi di Palestina. Namun rabbi-rabbi Palestina seperti Joseph Haim Sonnenfeld (1848-1932), tak mau menerima kendali dalam bentuk apapun yang diberlakukan Zionis. Dia mengeluarkan sejumlah pernyataan kepada penguasa Inggris, dan di level internasional kepada Liga Bangsa-Bangsa, sebagai upaya memperoleh pengakuan sebagai komunitas yang bebas. Dia berhasil menghalangi diterapkannya sebuah ketentuan oleh penguasa Inggris, ketentuan yang sedianya memberikan Zionis kendali penuh atas kehidupan beragama. Keberhasilan ini juga meneguhkan hubungan dengan kelompok-kelompok Eropa yang berpengaruh, berkat upaya Jacob De Haan (1881-1924) yang menjadi juru bicara handal kelompok anti-Zionis di tahun-tahun terakhir masa hidupnya.

De Haan berhasil menjalin hubungan tingkat tinggi di Barat, dan siap menggerakkannya untuk mencoba menangkal Zionis dan rencana-rencana mereka terhadap komunitas tradisional Palestina. Dia siap untuk meyakinkan semua koneksinya di London bahwa Haredim bukan ancaman bagi warga Arab setempat, justru De Haan selalu berhubungan baik dengan jajaran pimpinan mereka. Dia menegaskan bahwa kelompok Yahudi tradisional tidak punya ambisi mendirikan negara. Sikap ini menjadi pembeda yang menempatkan mereka di posisi menguntungkan dalam konteks perjuangan nasional Palestina yang kian kacau. Nuansa inilah yang sering menghindarkan para pengamat dari menyamaratakan Zionis dengan lawan mereka yang paling ulet itu, karena kedua belah pihak sama-sama mengaku Yahudi. Kerancuan antara Yahudi dan Zionis masih berlangsung hingga saat ini, dan sering dieksploitasi untuk berbagai kepentingan politik.

Banyak Haredim berbahasa Arab dan menjaga hubungan hangat dengan tentangga Arab mereka, sedangkan mayoritas rabbi Palestina—di Yerusalem dan tempat lain—tidak ada yang menguasai bahasa maupun konsep Barat apapun seperti konsep nation-state (negara untuk satu bangsa), yang menjadi konsep sentral Zionisme. Tak heran jika Zionis merasa lebih nyaman berurusan dengan bangsa Barat dibandingkan dengan rabbi-rabbi dengan kaftan hitam panjang mereka itu. Menjelang awal 1920an, memiliki juru bicara yang handal sudah menjadi prioritas mendesak. De Haan bisa melakoninya dengan brilian, namun kerasnya atmosfir yang diciptakan Zionis di lingkungan Yahudi tradisional di Old Yishuv jadi ancaman menakutkan yang membayangi segala aktivitasnya. Zionis sangat serius menangani ancaman Jacob De Haan: dia tengah menjual murah strategi Zionis untuk memposisikan diri sebagai satu-satunya perwakilan Yahudi di Palestina, dalam hubungan mereka dengan penguasa Inggris. Zionis takut De Haan akan berhasil membentuk organisasi Yahudi Palestina sebagai tandingan yang akan menentang ambisi nasionalis gerakan Zionis dan menjalin hubungan kerja sama dengan para pimpinan Arab. Kemungkinan seperti itu benar-benar membuat gentar kelompok Zionis, yang secara demografis masih minoritas di Palestina.

Atas perintah para pejabat teras Zionis, De Haan dibunuh tahun 1924 ketika dia keluar dari sebuah sinagog di Yerusalem. Inilah aksi terorisme pertama yang dilakukan Zionis di Palestina. Peristiwa ini menggoyahkan mata rantai penting dalam jalinan komunikasi yang hendak dibangun oleh komunitas Haredim dengan dunia luar.

Kebanyakan lawan Zionisme adalah Yahudi Ashkenazi. Selain itu, kelompok Sephardim juga melancarkan kritik-kritik keras terhadap Zionism. Hakham Salomon Eliezer Alfandari, “sabba ha-kadosh, Si Kakek Suci” (1826-1930) adalah perwujudan dari oposisi kaum Sephardic. Figur Sephardic yang lain, Hakham Jacob Meir (1856-1939), kepala komunitas Sephardic Palestina, menyuarakan serangannya terhadap Zionisme di tahun 1928, dalam peristiwa kerangkatan Herbert Plumer (1857-1932), Komisi Tinggi Inggris, dari Yerusalem. Ketika pembawa acara memperkenalkan Meir bersama-sama dengan perwakilan komunitas Yahudi lain yang terkait dengan aparat Zionis, rabbi itu protes keras dan menyatakan bahwa dia tidak kenal dan tidak termasuk dalam kelompok itu. Semua Yahudi yang taat harus memisahkan diri dari kelompok itu, tegasnya. Bersama-sama Sonnenfeld, dia menulis sepucuk surat kepada Plumer berisi kecaman terhadap Zionisme dan menghimbau agar penguasa Inggris membebaskan kelompok Haredim dari kendali Zionis. Beberapa waktu kemudian, Liga Bangsa-Bangsa mengeluarkan sebuah ketentuan yang mendukung mereka, sehingga kalangan Haredim di Yerusalem tetap terlepas dari infrastruktur Zionis yang kian kuat pengaruhnya.

Antara Kerjasama dan Terasing

Isolasi mereka (“Hak pengasingan” begitu istilahnya saat itu) secara formal berakhir bersamaan dengan deklarasi Negara Israel tahun 1948. Walaupun begitu, kelompok anti Zionis melipatgandakan upaya mereka untuk memperoleh setidaknya status yang sama dari Persatuan Bangsa-Bangsa, lembaga pengganti Liga Bangsa-Bangsa. Dalam pernyataan mereka, mereka menegaskan tak pernah menandatangani deklarasi kemerdekaan Israel. Menolak mengakui Negara Israel akan membuat kelompok Anti Zionis kehilangan semua hak politik atau sosial mereka. Tetap bersikeras terpisah dari “entitas Zionis”—begitu julukan yang mereka berikan, sekaligus terlepas dari permusuhan terhadap Zionisme yang dilancarkan bangsa Arab, berarti siap menerima pengasingan total.

Kebijakan untuk memisahkan diri ini berpengaruh dalam segala aspek yang mengharuskan kontak dengan Zionis. Sejak meninggalnya Rabbi Sonnenfeld, sebuah kelompok yang lebih kecil memisahkan diri untuk mengikuti paham yang lebih keras, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan. Rabbi Amram Blau (1894-1974) tampil sebagai pimpinan kelompok baru ini, yang dikenal dengan nama Neturei Karta. Tahun 1953 Rabbi Yoel Teitelbaum (1887-1979), penulis risalah yang sangat fundamental mengenai anti-Zionisme Va-Yoel Moshe, memimpin kelompok Haredim. Jadi, terbentuklah aliansi anti Zionis yang luas, yang sangat menentang segala bentuk kerja sama dengan negara Israel.

Namun demikian, kelompok anti Zionis yang lain bersikap pragmatis dalam taraf tertentu, dan membenarkan keterlibatan dalam politik secara terbatas. Konsep seperti ini bisa ditelusuri pada sikap Rabbi Avraham Yeshayahu Karelitz (1878-1953), pimpinan rabbi terkemuka yang terkenal dengan nama Hazon Ish. Dia mengijinkan kaum Yahudi turut serta dalam sistem politik Israel namun menolak keabsahannya: “Jika ada seorang penjahat mencegatku di hutan dan mengancamku dengan senjata, dan aku mulai berbincang dengan dia hingga dia tak jadi mencabut nyawaku, apakah itu berarti aku mengakui bahwa dia benar? Tidak; bagiku dia tetap penjahat.” Saksi-saksi menceritakan bahwa Hazon Ish yang terhormat pernah bertemu dengan Perdana Menteri Ben Gurion, yang pada saat itu berusaha menyatukan Haredim dengan negara (Israel) yang baru saja berdiri. Sang rabbi tidak menjabat tangannya, tidak pula menatap matanya. Jelas bahwa dia mematuhi perintah Talmud yang melarang pengikutnya menatap wajah orang jahat.

Haredim menolak semua simbol negara Israel. Jadi sejumlah rabbi, termasuk pimpinan Sephardic di masa itu, Ovadia Yosef, melarang pengibaran bendera Israel di sinagog, karena Israel bukan perwujudan nilai-nilai Yahudi, dan tak bisa disangkut-pautkan dengan rumah ibadah Yahudi. Hazon Ish bahkan bersikap lebih keras. Dia melarang kaumnya memasuki sinagog yang dihiasi bendera Israel, bahkan ketika tak ada sinagog lain di wilayah itu. Orang Yahudi yang meragukan Hazon Ish menambahkan bahwa larangan yang dimaksud hanyalah saat Sabbath tahun itu, ketika setiap Yahudi—lelaki dan perempuan—diwajibkan menghadiri kebaktian dan mendengarkan ayat-ayat Injil yang menyebutkan tentang kaum Amalek. Alih-alih perintah wajib itu, Hazon Ish bersikukuh bahwa memasuki sinagog seperti itu tetap terlarang.

Banyak kalangan Yahudi taat, walau tidak secara aktif menentang Zionisme, menjauhkan diri agar tidak disangkutpautkan dengan negara Israel. Lebih dari itu, keraguan tentang masa depan negara Zionis tetap menyebar luas, bahkan di kalangan yang tidak termasuk lingkaran tradisional yang anti-Zionis. Rabbi Moshe Sober yang baru-baru ini meninggal, salah satu penerjemah Talmud ke bahasa Inggris, mengungkapkan keraguannya sebagai berikut:

Di tahun 1948, ada seorang pemikir religius yang terkemuka, Rabbi Teitelbaum dari Satmar. Dia memperingatkan para pimpinan Yahudi bahwa berdasarkan pemahamannya terhadap kehendak Tuhan, mendirikan negara Israel akan menjadi sebuah kesalahan besar dalam jangka panjang. Pendapatnya ini ditolak mentah-mentah oleh sekelompok Yahudi yang sedang terpesona oleh bendera-bendera yang melambai dan tentara yang baris berbaris, juga tanah-tanah kosong yang kian luas. Walaupun begitu, dalam tradisi Jeremiah dan ramalan-ramalan bencana tak populer lainnya, bisa jadi dia adalah nabi sejati. Kita tak tahu pasti.

Berbagai Visi tentang Masa Depan

Ada lawan-lawan Zionisme yang telah mulai menyiapkan sebuah pemikiran “pasca-Israel.” Ini menjelaskan hubungan mereka dengan bangsa Palestina yang terus berlangsung. Hubungan ini lebih sering bersifat simbolik daripada substantif; misalnya ditunjuknya Neturei Karta Rabbi Moshe Hirsch sebagai nominasi Menteri Urusan Yahudi di Otoritas Palestina. Walaupun demikian, sepucuk surat yang ditulis dengan kop Otoritas Palestina dan ditandatangani Yasser Arafat menunjukkan bahwa upaya kelompok anti Zionis itu membuahkan hasil. Setelah berterimakasih kepada kelompok Haredim yang turut berdemonstrasi menentang negara Israel dan menunjukkan perhatian mereka terhadap rakyat Palestina selama Intifadah, Arafat menyimpulkan:

Kalimat-kalimat ini tak bisa menggambarkan betapa bernilainya hubungan jangka panjang dan kuat antara bangsa Yahudi dan Arab, yang sudah berlangsung ratusan tahun. Tak mudah pula membuat seluruh dunia bisa menyaksikan perbedaan nyata antara nilai-nilai indah dan abadi yang terkandung dalam Yudaisme dengan nilai-nilai yang terwujud dalam kerasnya Zionisme. Berbagai demonstrasi dan pernyataan sikap semacam ini sangat penting bagi rakyat Palestina dan Bangsa Arab di seluruh dunia, agar bisa melihat perbedaan penting ini. Dengan demikian, semua orang mengerti bahwa segala tindakan yang dilakukan negara Israel tidak mewakili apapun yang terdapat dalam tradisi, keyakinan, dan hukum-hukum Yudaisme. Sangat penting untuk ditekankan bahwa tidak ada konflik antara Yahudi dan Arab.

Bagi Haredim yang anti Zionis dan tetap bersikap fleksibel terhadap politik, berbagai tawaran yang mereka berikan ke rakyat Palestina, juga kegigihan mereka meminta jalan tengah dan kompromi, membuahkan kecaman dari kelompok Zionis yang merendahkan “tradisi kaum lemah ini,” yang lebih mengutamakan nilai keberanian dan kebanggaan mereka. Yang harus dicermati, nilai-nilai Zionisme seperti itu bukan hanya bertentangan langsung dengan nilai-nilai tradisi Yahudi, tapi juga merupakan bahaya bagi seluruh masyarakat Yahudi.

Mereka mengingatkan kita bahwa Yahudi merupakan kaum yang sangat sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan seluruh umat manusia. Tak bijak jika memancing konfrontasi, sebagaimana politisi-politisi Israel dan para pimpinan Yahudi yang setia kepada mereka saat ini. Menurut kelompok anti-Zionis, sudah saatnya melepaskan ilusi megalomania dan supremasi, untuk kemudian menemukan kembali benang emas yang telah membimbing bangsa Yahudi selama bergenerasi. Benang emas ini memintal jalan melalui seluruh rangkaian warisan spiritual bangsa Yahudi, yang terangkum dalam ungkapan klasik Yahudi: “Siapakah pahlawan yang terhebat? Dialah orang yang merubah musuh menjadi kawan.” Kebanyakan kelompok anti-Zionis berharap bisa merubah perpecahan dan kebencian yang dikobarkan selama beratus tahun ini menjadi kerjasama dan persahabatan. Mereka berdoa agar negara Zionis runtuh tanpa kekerasan dan pertumpahan darah, sebagaimana Uni Soviet di tahun 1991.

Beberapa pengaturan sementara yang dilakukan penduduk anti-Zionis dan Yahudi non-Zionis dengan komunitas (pro) Israel dan eksistensi negara ini nyaris tak bisa merubah prinsip teologi mereka. Kita lihat saja, apakah suatu hari nanti, perpecahan antara mereka yang berpegang teguh pada Yudaisme dan yang meyakini paham nasionalisme Yahudi bisa diperbaiki. Atau, seperti sebelumnya agama Kristen, Zionisme akan berkembang jadi sebuah identitas mandiri, yang sana sekali terlepas dari Yudaisme.

Kritik Yudaisme terhadap Zionisme memperlihatkan keyakinan-keyakinan teologis yang berakar kuat. Yang dipertaruhkan adalah interpretasi teologis secara menyeluruh terhadap sejarah Yahudi, kesadaran, dan makna keyahudian itu sendiri. Itulah sebabnya, oposisi terhadap Zionisme atas nama Taurat nampaknya akan berlanjut selama aktivitas Zionis masih berlangsung di Tanah Suci. Bahkan jika banyak Haredim yang sudah turut mengakui kebenaran eleme-elemen cara pandang Zionis, klaim yang dikeluarkan Zionis tentang mereka tetap emotif dan insidental: mayoritas pimpinan Yudaik telah menolak Zionisme dalam bentuk apapun. Kuatnya anti-Zionisme ini membuat banyak kaum Yahudi yang turut sepakat dengan kontradiksi antara agama Yahudi yang mereka anut dan percaya, dengan ideologi Zionis yang pada kenyataannya mengendalikan mereka.

Untuk keterangan lebih rinci mengenai fenomena oposisi Yahudi terhadap Zionisme dan referensi kutipan-kutipan di atas, lihat buku terbaru penulis: Yakov M Rabkin, A Threat from Within: A Century of Jewish Opposition to Zionism, Fernwood/Zed Books, 2006. Buku ini juga tersedia dalam bahasa Arab.


[1] Haredim, bahasa Ibrani untuk “ketaatan yang ketat” adalah julukan yang lazim bagi semua kelompok Yahudi tardisional, biasanya bisa dibedakan melalui pakaian hitam putih mereka. Mereka sering disebut-sebut sebagai “ultra Ortodoks” oleh media.

Advertisements

One thought on “Yudaisme vs Zionisme di Tanah Suci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s