SEIZURE: lazim sih, tapi bikin panik

princess luthfa

princess luthfa

Sudah lama berlalu, tapi aku masih saja ngeri. Setidaknya, baru sekarang aku punya keberanian menuliskannya. Hari itu, kamis dini hari, 16 Oktober 2008, seisi rumah lelap. Sejak sehari sebelumnya, Luthfa, our beautiful little princess yang baru satu setengah tahun, panas & rewel. Sempat reda oleh obat penurun panas dan kompres, bahkan Rabu sorenya sudah main lagi, walau malam itu terlihat matanya masih kuyu. Kuraba kepala dan badannya juga sudah tidak panas lagi.

Dini harinya Luthfa kejang!

Kami berpacu, sambil menggumamkan doa apapun. Tindakan medis sebagai pertolongan pertama yang kami harap dari dokter di dekat tempat tinggal kami ditanggapi dingin. … Continue reading

FULL DAY SCHOOL BUKAN JAWABAN

 

FULL DAY SCHOOL BUKAN JAWABAN

“Aku mau yang seharian. Full day. Jadi kuantar pagi, sore kujemput. Kalau perlu pakai jemputan sekalian biar ga repot. Sampai di rumah kan dia pasti capek. Makan, nonton TV bentar, trus tidur deh. SPPnya memang selangit, tapi sebanding kan, dengan apa yang kita dapat.”

Begitu petikan obrolanku dengan seorang kawan, waktu putri bungsunya mau masuk SD.  Continue reading

Bu! Kita Jadi Artis!

artis !!!

artis!

Berawal dari keisenganku menjawab permintaan seorang wartawan Mom & Kiddie di milis, foto & secuil kisah keluargaku saat aku sakit nampang di tabloid. Ini edisi khusus hari ibu.

Suamiku kupesan untuk beli tabloid Mom & Kiddie edisi 11, 8 Des 08 sambil jemput Zaky latihan ensembel biola. Sampai di rumah, si sulung teriak heboh, ”Bu! Ibu! Kita jadi artis!

Berikut kisahnya: Continue reading

SHADOW DIVERS: Petualangan Mencekam Dua Penyelam Menyingkap Salah Satu Misteri Terakhir Perang Dunia II

photo by: bukabuku wordpress com

photo by: bukabuku wordpress com

Seminggu yang lalu aku dapat kiriman buku dari Q Press (Kelompok Penerbit Pustaka Hidayah) Bandung. Rupanya Shadow Diver karya Robert Kurson yang kuterjemahkan dua tahun yang lalu.

Bukunya lumayan tebal, 538 halaman. Sampulnya biru mentereng. Aku jadi ingat lagi saat menerjemahkan catatan ekspedisi dua penyelam Amerika (John Chatterton dan Richie Kohler) untuk menyingkap identitas sebuah U-Boat—kapal selam—misterius. Saat riset untuk menerjemahkan buku ini, aku terhubung dengan departemen kelautan (entah apa saat itu namanya, sayang situsnya sangat tidak menjawab keperluanku), berbagai organisasi penyelam dan wisata laut, hingga TNI AL. Untuk mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk ikan-ikan aneh di kedalaman laut di New Jersey dan Gibraltar, aku kontak dengan seorang guru besar perikanan di Semarang. Sayang, usai bertanya, usai pula korespondensiku.

Petualangan nekat dan mencekam membuat aku sering membaca sambil tegang hingga lupa bahwa aku harus menerjemahkan kalimat demi kalimatnya. Setelah separuh jalan, aku memutuskan menyingkir dari depan komputer dan sepenuhnya duduk membaca. Rasanya aku tak rela melepaskan jalinan kisahnya. Membaca sambil menerjemahkan kadang seperti nonton film thriller yang diselingi terlalu banyak iklan. Jadi luntur unsur suspense-nya. Dua hari kuselesaikan membaca dan dengan lega aku mulai menelusuri kembali kata demi kata.

Selain penyelaman ke reruntuhan kapal yang sangat berisiko, lengkap dengan gundukan tragedi para pelakunya, buku ini mengupas perjalanan psikologis yang berakar pada masa lalu John dan Richie.

Betapa masa lalu—bahkan kenangan masa kanak-kanak seseorang—bisa menjadi sumbu perjalanan hidupnya, walau masa itu telah berlalu puluhan tahun lamanya.

Richie begitu terobsesi dengan kenangannya saat dia berumur 9 tahun dan dibawa berlayar oleh ayahnya. Dalam pelayaran itu, mereka menemukan mayat terapung. Richie kecil saat itu berpikir, bagaimana mungkin ada orang yang mati dan terapung tak dikenal, sementara di suatu tempat, keluarganya mencari-cari dia. Kenangan itu dibawanya hingga dewasa, dan membuatnya tak bisa membiarkan kerangka tanpa nama tergeletak di reruntuhan kapal, di dasar laut yang dingin hitam pekat, tanpa ada keluarganya yang tahu keberadaanya. Satu pengalaman itu begitu kuat membentuk pribadinya—mungkin ayahnya yang saat itu mengajaknya berlayar tak pernah menyangkanya.

Aku jadi berpikir, kenangan masa kecil apa yang kini membuatku menjalani kehidupanku? Obsesi masa lalu yang mana yang kini menjadi simpul prinsip-prinsip hidupku? Masa kanak-kanak seperti apa yang akan kuberikan pada anak-anakku, hingga bisa menjadi sumbu yang kokoh dan baik bagi perjalanan masa depan mereka nanti?