SEIZURE: lazim sih, tapi bikin panik

princess luthfa

princess luthfa

Sudah lama berlalu, tapi aku masih saja ngeri. Setidaknya, baru sekarang aku punya keberanian menuliskannya. Hari itu, kamis dini hari, 16 Oktober 2008, seisi rumah lelap. Sejak sehari sebelumnya, Luthfa, our beautiful little princess yang baru satu setengah tahun, panas & rewel. Sempat reda oleh obat penurun panas dan kompres, bahkan Rabu sorenya sudah main lagi, walau malam itu terlihat matanya masih kuyu. Kuraba kepala dan badannya juga sudah tidak panas lagi.

Dini harinya Luthfa kejang!

Kami berpacu, sambil menggumamkan doa apapun. Tindakan medis sebagai pertolongan pertama yang kami harap dari dokter di dekat tempat tinggal kami ditanggapi dingin. … Mungkin bagi dokter itu, anak kejang bukan hal yang aneh, sama sekali tidak perlu dicemaskan. Kami disodori resep, disodori pilihan: beli obat saja, atau ke rumah sakit. Suamiku nyaris emosi, aku juga bingung. Kami sedang panik dan perlu keputusan dokter, bukan pilihan.

Akhirnya Luthfa kami bawa ke Rumah Sakit. Di perjalanan dia kembali kejang. Jari tanganku sakit sekali menahan gigitannya. Kali itu pertahananku jebol. Aku takut. Aku panik. Imajinasi liar mulai menyergapku. Aku takut kehilangan putriku. Hingga kini, suara tangis dan permohonanku pada Allah masih nyaring di telingaku. Terdengar juga suara suamiku yang berkali berkata ”Tak ada yang lepas dari kehendak Allah,” juga seruan doanya di antara klakson yang tak henti berbunyi. Semua seperti adegan drama yang sedang kutonton sendiri.

Sesampai di UGD, Luthfa yang masih kejang segera ditangani. Dokter memutuskan untuk melakukan observasi sehari. Artinya dia harus dirawat. Setelah tes darah dan pemeriksaan, Tuan Putri kami boleh pulang.

Sepulang dari Rumah Sakit, aku browsing cari info tentang kejang. Banyak sekali info kudapat. Kejang demam memang hal lumrah bagi anak 6 bulan hingga 2 tahun. Lumrah bagi dunia kesehatan bukan selalu lumrah bagiku. Dokter bisa saja dengan tenang menghadapi kepanikanku, bahkan santai membuka gembok pagar yang tak seberapa tinggi, yang nyaris dilompati suamiku. Mestinya, selain sigap dan tenang menghadapi status fisiologis pasiennya, dokter juga harus empatik menghadapi kondisi psikologis keluarga pasien.

OOT:

Aku punya kesan sangat manis dengan Drg. Nuskah Sudjana. Dia dokter ahli bedah mulut di Bandung. Pasiennya selalu banyak. Penampilannya perlente. Ruang kerjanya ungu cerah—warna pilihan istrinya, katanya. Aku, suamiku, dan anak sulungku beruntung sempat konsultasi ke sana. Di setiap kunjungan, dia sabar sekali menerangkan kondisi kami. Digambarnya setiap kasus gigi dengan coretannya sendiri, lantas dijelaskan dengan sederhana dan mudah kami mengerti. Gaya bicaranya tenang dan menenangkan. Ketika suatu saat putraku (5 th) mengalami kecelakaan dan patahan giginya menancap di sumsum gigi, Dokter Nuskah sabar sekali merayunya. Sama sekali tidak ada kesan tergesa-gesa dan ingin cepat memanggil pasien berikutnya. Begitupun ketika untuk kali berikutnya, gigi putraku harus dicabut dan bawel sekali di ruang prakteknya, sang dokter dengan santai berkata: Ya Sudah, kamu keluar dulu, kumpulkan keberanian, nanti kalau sudah berani masuk lagi yaa…”

So sweet…

Advertisements

2 thoughts on “SEIZURE: lazim sih, tapi bikin panik

  1. Mbak, drg Nuskah itu prakteknya di mana ya?
    Lagi cari dokter bedah mulut juga nih.
    Sang geraham bungsu berulah, tapi masih maju-mundur ngeri ke dokter gigi 😦

    • Mb Liana, terakhir Dr Nuskah praktek di Apotik Bona Farma Jl. Setiabudhi Bandung. Kami sudah lama tidak ke sana. Salam ya, kl ketemu beliau 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s