Fun-tastic String Ensemble di Klabklassik Bandung

Fun-tastic String Ensemble di Klabklassik Bandung

Kemarin sore, Minggu 22 Februari 2009, di Klabklassik Bandung (Tobucil, Jl. Aceh 56 Bandung), Zaky (11) dan teman-temannya di Fun-Tastic String Ensemble (FSE) tampil. Kami datang dengan malu-malu karena sangat telat & harus beberapa kali ditelepon bak seorang artis ternama. Apa yang terjadi sebelum kami tiba di Tobucil? You don’t wanna know 🙂

Acara Musik Sore digelar di tempat yang nampaknya sebuah warung kopi, ditingkahi gerimis dan udara dingin. Konser FSE sebelumnya banyak (atau semua?) di panggung, yang terpisah jauh dengan penonton. Nah…konser kemarin memberi suasana berbeda. Dengan kesahajaan tempat dan suasana, anak-anak main di tengah kerumunan penonton). Jelas anak-anak punya peluang lebih untuk menakar seberapa mantap mental dan daya konsentrasi mereka. Harus baca partitur, main, memperhatikan conductor, mendengar komentar penonton….Apalagi Zaky yang datang telat, tentu perlu energi ekstra untuk menenangkan diri dan fokus.

Mereka main Duo the Concert, Ballet Melody, kemudian Alvin & the Chipmunks. Di antara penampil lain yang relatif lebih senior, bagiku FSE jadi punya daya tarik tersendiri (narsis, karena anakku ikutan main). Aku juga dengar komentar dari beberapa penonton di belakangku: Lumayan, Bagus, Anak mana sih? Sekolah musik ya? Aku sebenarnya mau jawab, tapi ketika kuperhatikan ada bapak-bapak guru Swara Harmony di depanku….jadi grogi aku hehe… Mungkin untuk konser selanjutnya, FSE perlu bawa papan nama kali yaa…apalagi kalau lagi manggung di luar kandang.

Sesudah ensemble, Eya Grimonia (biola) & Dewa (cello) main lagu njelimet (entah judulnya apa), yang seperti tak memberiku kesempatan bernafas. Amazing.

Kelar FSE, kami sekeluarga bertahan hingga satu penampil berikutnya, sebuah kelompok musik beranggotakan beberapa gitaris, satu violinis, satu cellist, dan vokalis cantik yang juga main xylophone warna warni. Aku dan anak-anak asik banget memperhatikan aksi mereka (terutama xylophone-nya…..unik).

Sebenarnya masih mau terus nonton…tapi supir kesayangan kami sudah harus pergi ke tempat lain.

Buat Zaky dan FSE, selamat yaa…Tetap semangat berlatih untuk aksi berikutnya.

Buat Klabklassik, sering-sering bikin acara yang melibatkan anak-anak yach… (Kapan mau menyelenggarakan workshop?)Terima kasih, anak-anak kami jadi bisa menambah pengalaman nih.

Fun-Tastic String Ensemble: Komunitas biola anak & remaja di Bandung

Zaky bareng FSE di acara Musik Sore Tobucil

Zaky bareng FSE di acara Musik Sore Tobucil

Fun-Tastic String Ensemble: Latihan biola bareng di Bandung. Dengan berkembangnya tren pendidikan musik (klasik) untuk anak di tanah air, rasanya perlu ada sebuah wadah yang menyatukan bakat-bakat belia ini dalam sebuah komunitas.

Mengapa komunitas? Tidakkah kursus saja cukup? Lazimnya kursus musik diselenggarakan secara privat. Dalam durasi setengah jam, murid belajar di dalam ruang tertutup dan segera pulang, karena sang guru langsung menyambut murid berikutnya. Interaksi antar murid sangat minim. Latihan bersama hanya dilakukan menjelang konser siswa, sesudah itu kembali ke ritme semula: berlatih terpisah.

Berlatih musik bersama sangat penting, khususnya bagi anak-anak. Selain main bareng, mereka bisa berbagi pengalaman dan saling menyemangati. Apalagi jika mereka berasal dari berbagai tingkat kemampuan dan usia, berbagai macam alat dan genre musik.

Sebagai langkah awal, sebuah sekolah musik bernama Swara Harmony mencetuskan terobosan unik dengan membentuk Fun-tastic String Ensemble. (Komunitas) ensemble alat musik gesek ini didirikan oleh Hasworo dan Carolina S. Yana pada tahun 2004. Anggotanya adalah pemain biola dan cello anak-anak usia 8-15 tahun, mulai dari yang baru belajar hingga yang sudah mahir (keanggotaan terbuka bagi siswa Swara Harmony maupun bukan).

Walaupun usia para personelnya relatif muda, FSE telah tampil dalam berbagai acara di Istana Plaza, Cihampelas walk, Bandung Supermall, Hyper Square Convention Centre, Auditorium CCF Bandung, dll. Beberapa anggota FSE telah lulus Ujian ABRSM dengan predikat distinction dan diundang dalam National High Scorer Concert.

Dengan iuran bulanan sebesar Rp. 100.000,- (Seratus Ribu Rupiah), anak-anak dan remaja bisa ikut berlatih. FSE rutin berlatih di Swara Harmony, Paskal Hyper Square B 26 Bandung, setiap hari Jumat pukul 18.30-20.00 WIB. Untuk informasi, hubungi Kak Anna di 022-86060626. Namanya sama denganku. Bedanya, dia bisa main biola, aku bisa nentengnya hehe…

Simak video konsernya di youtube FSE. Kunjungi Facebook Swara Harmony dan Fun-Tastic String Ensemble

the Moore Formula atau Zaky Formula?

Sudah nyaris dua tahun ini, Zaky (11) mengajar bahasa Inggris ke anak-anak di gang kami. Kini muridnya bahkan sudah meluas ke blok lain.  Sekitar 10-15 anak datang setiap Sabtu Minggu untuk les inggris sejam (begitu kata mereka) sesudahnya main bareng.

Awalnya, dia baca sebuah novel terbitan Mizan, Bocah-Bocah di Pagar. Kemudian, atas inisiatif sendiri,  Zaky bikin pamflet & ditempel di pengumuman RT. Dengan gaya bahasa yang polos, dia mengajak anak-anak  sebayanya dan yang lebih kecil untuk les Gratis. Hingga kini muridnya bertahan. Aku pernah mengadakan Lomba Berani Berbahasa Inggris untuk murid-muridnya. Anak-anak yang awalnya hanya cekikikan kalau disuruh ngomong Inggris, kini jadi berani bicara. Bagiku, itu lebih dari cukup.

Zaky tak pernah meminta pendapatku (padahal aku sering gatel pingin nimbrung). Walaupun begitu, dia tak pernah segan dan gengsi untuk kabur sejenak dari “kelasnya” untuk bertanya padaku jika ada hal yang dia ragukan (misalnya ada kosa kata yang dia tidak tahu). Sebagian bahan ajarnya sempat kuarsipkan diam-diam, dan kebanyakan lenyap keburu dihapusnya sendiri.

Aku tak pernah belajar dan mengajarkan pada Zaky Moore Formula (Metode homeschooling dengan memadukan study, work, & service community). Ternyata dia telah menemukan formulanya sendiri.

tulisan terkait:

Pintu Ilmu, Taman Bacaan Anak di Gang Kami

Anakku Lebih Pede

ANAK GEMILANG PEDULI PALESTINA

batupun turut jadi senjata di Palestina

batu pun turut jadi senjata di “Palestina”

Jum’at 30 Januari 2009.

Siang tadi menjelang Jum’atan anak-anak Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin berkumpul di hall. Di sana ada sebuah panggung sederhana dan poster yang hanya beberapa lembar. Mereka berkumpul untuk menyatukan hati dengan derita Palestina. Acara ini merupakan puncak penggalangan dana yang awalnya digagas oleh anak-anak kelas tiga yang sudah berlangsung dua minggu. Mereka menyisihkan uang saku dan berniat menyumbangkannya ke Palestina, sekaligus menjadi panitia kegiatan mulia ini.

Setelah sambutan ketua panitia (Raihana, kls 3), acara dilanjutkan dengan tampilan seni dari kelas satu hingga kelas 6. Ada nasyid, drama Israel VS Palestina, puisi, musik, dan nyanyi bareng. Setelah itu, Fadhlan sang MC menutup acara dengan himbauan agar hadirin bersedia mengisi kotak infak yang diedarkan oleh panitia. Usai acara, kotak infaq mereka hitung dengan sukacita. Terkumpul Satu Juta Seratus Sepuluh Ribu Rupiah. Secuil bentuk kasih bagi Palestina.

Sepanjang acara (juga saat ini), mataku tak henti basah. Hatiku perih sekali. Derita perang jauh lebih kumaknai lewat aksi anak-anak ini, bahkan dibandingkan dengan kengerian yang disajikan media massa melalui reportasenya. Anak-anak Palestina yang melempari tank dan tentara Israel dengan batu seperti menjelma nyata di antara gumpalan kertas yang dilemparkan para pemain drama di panggung. Bahkan dengan tawa dan canda pemain dramanya, mereka sungguh masih bisa membuatku menangis.

Palestina. Bangsa bersahaja yang jadi perahu politik banyak pihak. Bagaimanapun perang hanya akan membawa derita. Sejumput informasi yang kuperoleh, aktifis perdamaian dari Israel juga tak kalah lantang menuding pemerintahnya sendiri. Hanya entah mengapa, gerakan mereka jarang diekspos. Mungkin pemerintah Israel hendak menciptakan kesan bahwa aksinya didukung penuh oleh seluruh warganya. Hmm…prasangka hanya akan menghasilkan prasangka berikutnya.

Di antara keriuhan tampilan seni anak-anak Gemilang, aku menangisi derita orang-orang yang menjadi korban perang. Nyawa hilang dari pihak Palestina, juga pihak Israel, mereka sama-sama terampas dari karunia kehidupan. Rasanya, jika ada nyawa yang terpaksa harus melayang, tak layak lagi aku memilah, mana kawan mana lawan. Sama-sama nyawa. Sama-sama kehilangan kehidupan.