REMEH TEMEH: yang sering terlewatkan dalam suksesnya acara

Aku punya kebiasaan buruk saat ikutan acara yang melibatkan banyak orang, yaitu iseng mengamati hal-hal yang mungkin terabaikan.Lazimnya gempita sebuah seminar nasional, maka yang nampak di permukaan adalah kesuksesan acara, termasuk senyum manis petugas penjaga pintu masuk yang setia mengucapkan selamat datang kepada setiap peserta (Aku juga sempat kebagian jatah menyambut peserta sambil gendong anak 12 kilo. Hangat sekali rasanya menebar senyum pada orang-orang yang tak kukenal sekali pun. Pasti peserta juga nyaman disapa oleh seseorang di tempat yang asing.)

Ternyata, di balik sebuah acara besar, ada remeh temeh seperti: ibu-ibu mendorong dan menata ratusan kursi (Bapak-bapak sih tak perlu disebut, hehe…). Print out yang harus ditempel justru tertinggal. Ada yang bawa kue dan gorengan hangat. Ada yang belanja perabotan seminar kit, ada yang bertegur sapa dengan petugas pemasang partisi dan pengakut meja. Ada yang repot menyeret gulungan kabel. Dua lembar format registrasi tercecer entah kemana. Gunting yang bakal dipakai memotong selotip lenyap. Ada selembar brosur yang perlu dimasukkan ke seminar kit. Ada yang tiba-tiba jadi malaikat penolong dan mengulurkan double-tape padaku. Pasukan registrasi yang ramah walau tangan mereka repot sekali. Balita yang meraung-raung di ruang seminar karena kehilangan ibunya. Ada yang sukarela menerima tugas menempel penunjuk arah ruang seminar dan toilet. Ada yang sampai memanjat mobil agar bisa memasang tulisan “Daycare Gratis.” Petugas daycare yang sangat ramah dan manis pada anak-anak. Ada yang minta sarapan. Ada yang lupa makan. Ada yang lari-lari mencari sertifikat buat pembicara. Wajah lelah namun full senyum. Dua peserta yang santai membawa masuk masing-masing sepiring rujak saat seminar berlangsung. Peserta yang langsung menuju musala dan rebahan setelah registrasi. Ada istri pembicara yang jadi fotografer, ada istri moderator yang turut seminar sembari menggendong balita. Anak-anak yang berlarian di aspal panas tanpa alas kaki. Kue lapis yang begitu enak. Bapak-bapak yang pingin difoto. Seorang ibu yang sampai dua kali mengganti popok bayinya. Tiga gelas pecah. Bapak ibu guru makan di antara tumpukan kursi. Sampah yang menggunung di ruang seminar.

Belakangan aku juga tahu, bahwa malam sebelumnya, pasukan seminar kit, peralatan, dan snack juga keluyuran hingga larut, berangkat sebelum subuh, menata segala peranti yang bagi sebagian orang tampak remeh temeh namun sangat krusial bagi sebuah nilai profesionalisme.

Nah… karena semua itu remeh temeh… maka diabaikan sajakah?

ps: I’m so proud of you, buddies, thank you for being the part of my life.
ps lagi: foto-foto remehnya ntar kuunggah, deh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s