URUSAN PEREMPUAN?

zaky washing dishes
Urusan Perempuan?

Sore tadi keluargaku sedang berkumpul. Dapur berantakan. Mainan berceceran di seantero rumah. Ingin rasanya aku bangkit membereskan semuanya, agar sedap dipandang mata. Pemandangan semrawut seperti itu sudah biasa kunikmati sehari-hari. Kupikir, kalaupun dibereskan, nanti juga berantakan lagi. Tapi kemalasanku itu sering berbuah tak sedap. Pernah kakiku perih karena menginjak lego di lantai, dan harus luka menganga ketika lego yang sama kuinjak untuk kedua kalinya. Pernah juga ada tamu yang harus menahan haus sekian menit karena sama sekali tak ada gelas bersih di dapur. Tragis :-d

Kembali ke dapur kami. Tepat ketika aku sedang menatap bak cuci piring yang mulai penuh, Zaky, anak sulungku berlalu. Ringan dia melangkah sambil membawa piring bekas makannya, dan bersiap meletakkannya begitu saja. Kami pernah sepakat untuk mencuci perabot makan masing-masing (kecuali jika sedang tergesa-gesa). Sekali dua kali kesepakatan itu memang berlaku, tapi piring dan gelas kotor lebih sering bertumpuk, dan aku atau tantenya anak-anak yang membereskannya.

Nah… ketika Zaky hendak melenggang, kukatakan padanya, “Cuci piring, dong, Nak. Kan Cuma sedikit, tuh…“

“Wah, semuanya? Itu kan kerjaan perempuan?“ Enteng sekali jawabnya. “Pardon?“

Heran aku. Sejak dini anak-anakku sudah kuajak diskusi tentang perbedaan hakiki laki-laki dan perempuan. Jawaban spontannya itu sungguh tidak kuduga. Bagaimana mungkin anak sulungku yang sudah 11 tahun tega bicara seperti itu. Mau tak mau emosiku tersulut. Bapaknya hanya senyum-senyum menatapku. Hmmm … laki-laki!

Alhasil, aku mendaulat diri sebagai pembicara tunggal di seminar tentang gender di dapurku sendiri. Dengan wajah enggan, Zaky dan adiknya, Ali (8 th), menjawab pertanyaan menyimak ocehanku tentang apa yang disebut dengan “kerjaan perempuan.”

Tiba-tiba, mungkin untuk mempercepat durasi seminarku, Zaky angkat suara. ”Ya deh, Bu, sore ini Kak Zaky yang cuci piring. Besok-besok juga mau. Makasih ya, Bu, selama ini sudah mau cuci piring buat keluarga kita.“

Dan pangeran ganteng pun segera beraksi. Seperti biasa, jika dia cuci piring, aku jadi harus mengepel lantai. Entah teknik apa yang dipakainya, air selalu memercik hingga radius satu setengah meter di belakangnya. Bajunya sudah pasti basah kuyup. Itulah risikonya. Seminar sadar gender berarti beresnya piring kotor, tapi tambah cucian baju dan ngepel sore-sore.

Fyi: Ummi, Ibu mertuaku, punya 8 anak, semuanya laki-laki. Suamiku anak kelima. Konon, dulu Ummi tak pernah repot dengan urusan rumah tangga, bahkan memasak. Semua anak lelakinya itu punya tugas masing-masing. Suamiku paling sering kebagian cuci piring.

Bila kutanya, mengapa dia enggan cuci piring sesudah makan, jawabnya singkat, ”Bapak sudah kenyang cuci piring waktu kecil, hehe…”

Suamiku orang Bugis yang sangat kental dengan budaya patriakhi. Tampaknya perlu kutanya Ummi, apakah dia menyerahkan tugas rumah tangganya kepada semua anak lelakinya karena tak punya anak perempuan atau karena sadar gender, haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s