Ketus atau Ramah?

Entah mengapa aku tiba-tiba ingat saat memboyong anak-anak liburan ke neneknya tempo hari. Di depanku duduk seorang Ibu bareng dua anaknya, balita dan anak perempuan berusia tujuh atau delapan tahunan. Nyaris sepanjang jalan menuju tempat transit pertama, jelas kudengar sang Ibu berkata-kata ketus ke anaknya. Setiap pertanyaan dan permintaan si anak dijawab dengan sergahan kasar.

Saat bis berhenti…

Ibu: “Heh! Mau ke mana?”

Anak: Pipis….

Ibu: Huuh…dari tadi bolak-balik pipis. Makanya jangan minum wae!

Anak: (Diam sambil beringsut ke arah kamar mandi, dan berpapasan dengan penumpang lain).

Ibu:  Eeeee…bilang punten atuh kalau nabrak orang! Kebiasaan, kamu mah!

Anak: (diam saja)

Penumpang lain: Nggak papa, kok, Bu…

Ibu: (dengan nada yang sangat sopan dan senyum manis) Maaf ya, Bu… anak saya kalau sudah mau pipis suka buru-buru…

Hmmm… mengapa kepada orang lain (orang asing) ibu itu cenderung ramah, sedangkan pada anaknya sendiri main kasar?

Kalau diingat-ingat aku juga sering berbuat begitu ke anak-anak. Aku sering berseru tak sabar agar mereka segera mandi, sering menyahut sapaan mereka dengan datar saat aku sibuk. Jelas aku tak akan melakukannya pada anak teman yang sedang main atau menginap di rumah. Jika terjadi perselisihan, aku cenderung ingin membela anak teman dengan dalih memuliakan tamu.

Saat suamiku sedang asyik baca berita bola, dia biasa menjawab pertanyaanku dengan “Hmmm” atau “ya” pendek tanpa menoleh.  Jelas dia tak mungkin melakukan hal yang sama kepada tamunya.

Anak-anak juga begitu. Kuamati mereka lebih ramah dan sabar saat berbincang dan bermain dengan teman-temannya atau kenalan baru, dibandingkan dengan saudaranya sendiri. Dengan saudara, terpancing sedikit saja bisa membuat perang mulut meletus berujung tangis. Terhadapku, anak-anak lebih mudah merengut atau merajuk saat tak puas.  Sedangkan dengan tetangga mereka lebih “manis”.

Mengapa, ya? Bukankah seharusnya ibu di bis itu lebih ramah pada anaknya sendiri? Bukankah tanggung jawabnya melimpahi anaknya dengan kasih sayang? Pun demikian aku. Mengapa, ya, saat ada acara menginap, rasanya aku lebih merasa wajib bersikap ramah pada anak orang lain daripada terhadap anakku sendiri.

Pada orang-orang terdekat, aku tak lagi perlu dan tak bisa jaim. That’s why.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s