Puding Coklat Gagal

Inilah penghias puding itu...

Inilah penghias puding itu…

Sore tadi sungguh hiruk pikuk. Anak-anak terus berlarian di dalam rumah dan menciptakan keributan: diawali dengan berkejaran dan saling teriak, kemudian “menata ulang” tiga tempat tidur, dan menghamburkan ember mainan demi mencari bidak catur yang mereka yakini terselip di sana.

Telingaku mulai berdenging. Trik berhitung 1 hingga 10 sambil mengatur napas jadi tak mempan. Aku mulai cari cara untuk mengalihkan keributan itu keluar rumah. Berhasil. Empat anak berlarian di depan rumah, hingga magrib nyaris terlewat. Biarkan saja dulu. Kan baru setengah jam aku agak tenang di depan layar monitor, dan bagiku itu sangat berarti. Lengkingan riang mereka kian tak terkendali, ditambah suara gedebuk-gedebuk yang mengagetkan. Aku santai saja, hingga adik sepupuku masuk dan melapor, “Itu tetangga pada keluar rumah dan tanya, ‘barusan suara apa?’ Anak-anak main lempar tangkap piring plastik.”

Waduh, kalau sudah mengundang reaksi tetangga, aku mesti memanggil mereka masuk. Untung energi berisik mereka sudah tersalurkan. Setelah cuci kaki, keempatnya masuk ke kamar Si Sulung dan main catur dengan papan scrabble.

Aku memutuskan untuk mengembalikan energi mereka dengan membuat puding coklat. Dua liter susu murni, dipadu coklat bubuk Van Houten, gula pasir, dan agar-agar…. Jadilah cairan calon puding yang coklat pekat mempesona. Dengan hati-hati, kutata dua wadah besar di meja makan. “Tunggu sampai uap panasnya hilang, baru didinginkan di freezer biar cepat mengeras,” batinku.

Sekira setengah jam sesudahnya, Bapaknya anak-anak pulang. Kami semua mulai riuh dengan berbagai cerita. Ali main gitar, Ubit baca komik Monika, dan aku membantu Zaky googling, mencari lukisan postmodernisme untuk tugas sekolah. Si Bungsu Luthfa mondar-mandir, entah sibuk apa.

Setelah tugas Zaky selesai, aku beranjak menuju meja makan, berharap puding sudah bisa dimasukkan freezer. Ternyata, pemandangan yang kujumpai sungguh mengenaskan. Tanpa kuketahui sejak kapan tepatnya, nyaris seluruh permukaan lapisan yang mulai mengental, kini berhiaskan serpihan kayu hasil serutan pensil. Dengan gugup, kupungut serutan pensil di meja, dan menjumpai wadah penampung hasil serutannya kosong, lengket penuh bekas puding. Innalillahi…

Aku berseru sedih…”Luthfa Sayang, Cantik….tega banget siih…”
Sang tersangka santai saja, melenggang ke kamar dan membongkar wadah mainan yang lain lagi.

Anak-anak berteriak kecewa. Ali langsung masuk kamar, dan berbaring lesu tanpa komentar. Aku berkicau tak tentu. Katarsis. Aku berusaha melepaskan kekecewaan dengan segera membereskan meja yang ternyata juga lengket di sana sini.

“Saring saja…” hibur suamiku.
“Serpihan kayunya bisa disaring, tapi bubuk karbonnya kan sudah larut…bisa beracun…” ujarku pasrah. “Besok saja bikin lagi.”

Akhirnya, dengan sekuat tenaga, dengan hati mencelos, kusiramkan calon puding lezat itu ke kebun samping. Kini dia menunaikan tugasnya yang lain, yaitu menjadi pasokan makan malam istimewa bagi semut-semut di kebun yang gelap itu.

Alhamdulillah. Sungguh hari yang lengkap. Dari tawa riang hingga seruan kecewa…aku masih belajar mensyukurinya, karena mereka ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s