Kehidupan Kedua, Belajar Second Life untuk Pendidikan

Ali menjadi imam shalatku di depan Ka'bah

Ali menjadi imam shalatku di depan Ka'bah

Jika ada “mainan” yang sekarang sedang digemari oleh beberapa teman facebookers, maka ia adalah Second Life. Dengan jejaring sosial ini, aku bisa mengajak anak-anak jalan-jalan ke tempat menarik—bahkan yang nyaris mustahil dikunjungi di kehidupan nyata. Semua tempat tersaji dalam format 3 dimensi yang menurut beberapa situs merupakan replika dari tempat aslinya. Kami bisa menyelam di kedalaman laut, berjalan kaki menuju Abyss Observatory, menyaksikan dan menyentuh aneka fauna laut. Berbagai universitas besar di dunia bukan hanya mengijinkan “kampus” mereka dikunjungi, tapi juga menyediakan kelas gratis yang bisa dihadiri oleh avatar dari seluruh dunia.

Avatar? Ya. Kita bisa memilih figur 3 dimensi yang bisa menjadi simbol di Second Life (SL). Dialah yang berjalan untuk kita, menelusuri berbagai lokasi. Anak-anak senang sekali mendadani avatarku. Kami pernah memilih kostum konyol yang tak akan pernah kukenakan di Real Life (dunia nyata), dan terbahak bersama-sama.

berkunjung ke Dinosaur museum Vienna

berkunjung ke Dinosaur museum Vienna

Anak-anakku lebih mahir menelusuri berbagai lokasi, dan jauh lebih lihai mengendalikan keyboard daripada aku. Mereka sudah ke Dublin, kebun binatang, museum dinosaurus (dan menunggangi triceratop), Tembok China, Jepang, lokasi pembangunan stadium bola…dan berbagai tempat unik lain. Tadi siang, kami mengunjungi Ka’bah. Ali (9) menjadi imam shalatku di sana. Kami main petak umpet di antara pilar masjid Nabawi, thawaf, dan menyentuh Hajar Aswad.  Lumayan, buat latihan haji yang sesungguhnya, amien.

Di semua perjalanan kami, selalu saja ada orang menyapa kami dalam berbagai bahasa, atau berbagai jenis bahasa Inggris J. Anak-anak menggunakan kesempatan chatting ini untuk praktek bahasa Inggris dan mengenal bahasa asing lain. Pernah mereka iseng, menjawab sapaan orang Spanyol dengan bahasa Sunda. HHmmmh…anak-anak….

Sebagaimana jejaring sosial yang lain, di SL juga banyak tempat-tempat yang kurang patut, dan avatar yang tidak pantas. Aku selalu mendampingi anak-anak jalan-jalan, dan meminta mereka untuk tetap menjaga sopan santun ketika bertemu dengan avatar lain. Mereka perlu tahu bahwa avatar itu mewakili manusia yang sesungguhnya.

Ali menunggang triceratop

Ali menunggang triceratop

Untuk menjaga agar SL tetap ada di jalur yang “aman,” aku juga bergabung dengan Second Life for Education–SLED Indonesia. Di grup ini, beberapa teman praktisi pendidikan bergabung dan saling bertukar informasi, jalan-jalan bersama, dan merencanakan kelas bersama. Karena sebagian besar dari kami adalah warga baru, maka teman-teman yang lebih dulu bergabung berperan sebagai mentor, yang dengan sabar menuntun kami, klik demi klik.

SLED Indonesia bertemu di Abyss Observatory--dok. Mira Julia)

SLED Indonesia bertemu di Abyss Observatory--dok. Mira Julia)

Sementara ini, jadwal pertemuan SLED Indonesia adalah Jum’at malam pukul 21.00 WIB. Mayoritas anggotanya yang baru beberapa orang adalah ibu-ibu yang memiliki balita. Jadi…jadwalnya disesuaikan dengan jam tidur sang buah hati. Nah…Gabung, yuk…

(Mas Google banyak menyediakan tutorial koq…)

ID SL ku adalah: annafarida Maggiore—maaf, aku teledor dengan huruf kapital di nama depanku…

Advertisements

6 thoughts on “Kehidupan Kedua, Belajar Second Life untuk Pendidikan

  1. ibuu…

    pingin gabung..tp komputerku harus di cleaning dulu..
    terlalu banyak macem2nya…

    tp aku dah registrasi lho..”carolina Evensong”
    hehehe, gak jauh dari musik

    sampai ketemu di dunia ol (againn???)
    hehe

  2. “Aku selalu mendampingi anak-anak jalan-jalan, dan meminta mereka untuk tetap menjaga sopan santun ketika bertemu dengan avatar lain”.

    Bener banget Bu. Jaman sekarang ini, karena anonim dan ngga ketahuan identitasnya (bersembunyi di balik avatar dan nama palsu), orang2 yang ngga bijak suka ngomong sembarangan di internet. Butuh pendewasaan dlm berinternet saya pikir.

    Salam kenal ya Bu.

  3. thx for your info bu 🙂
    salam kenal.. saya ingin melihat seberapa jauh impact second life terhadap dunia pendidikan.. sounds and looked interesting.. i wanna join 🙂

    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s