Berseteru

Kemarin, sepulang mengantar Zaky (13) dari pentas bersama Funtastic String Ensemble di Grand Hotel Hyatt, kami melihat perkelahian. Entah kapan terakhir kali aku melihat orang berkelahi.

Di depan Pasar Baru Bandung yang ramai, dua tukang becak tiba-tiba saling hantam.

Aku gugup sekali, karena sepeda motorku sedang meluncur ke arah mereka. Tanpa sadar, aku melaju, tancap gas tanpa kendali. Aku harus cepat menjauh. Sempat kulihat orang-orang di sekitar keduanya berteriak dan melerai, tapi aku tak ingin tahu.

Jauh di dasar hatiku, aku takut setengah mati. Perkelahian itu bisa saja meliar, dan kami bisa kena getahnya. Bisa saja tukang becak itu berlari ke arah kami, atau melemparkan sesuatu dan mengenai kami.

Baru hari ini aku merasa sangat malu.

Betapa aku tak sedikitpun berpikir, mengapa dua tukang becak itu berkelahi. Berebut penumpang atau sekadar salah paham? Saat itu, yang terpikir olehku hanya lari menyelamatkan diri. Pengecut, atau egois? Atau keduanya?

Belum lama ini dua teman dekatku berseteru. Keduanya sama-sama mengadu kepadaku. Bagaimana sikapku? Menjaga posisiku sendiri agar aman di depan keduanya.

Aku malu. Pengecut, atau egois? Atau keduanya?

Air Mata Rahasia

Air Mata Rahasia

Buku ini dipersembahkan untuk
Semua perempuan yang tangguh
yang pernah meneteskan air mata,
tanpa siapapun tahu,
kecuali dirinya dan Tuhannya
Semoga mereka diganjar surga

Di muka bumi ini, tanpa banyak orang yang tahu, banyak perempuan tangguh, yang tulus menjadi andalan keluarga. Banyak perempuan kuat, yang kokoh menjadi pendamping suami. Banyak perempuan baik, yang berkarya demi masyarakat. Banyak juga perempuan yang melantunkan doa tanpa seorangpun mendengar…
….
Lega sekali rasanya, mereka bisa menyambut kelahiran anak pertama dengan lebih tenang, karena biaya sudah di tangan. Menguap sudah ketakutan yang pernah mencengkeram hatinya, karena doa-doa mereka di kala itu kini terjawab. Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur, dia menyaksikan hamba-Nya yang gigih berusaha dan bersabar. Saat itu air mata Dewi diam-diam mengalir diam-diam. Tak ada yang tahu betapa selama ini dia dicekam rasa was-was, tanpa ada harapan kecuali permohonannya kepada Allah yang Maha Kasih.

Dan, sekali lagi air mata itu hanyalah permulaan untuk sesuatu yang lebih besar. Dalam beberapa tahun ke depan, lebih banyak lagi doa demi doa melayang, mengetuk pintu langit. Lebih banyak kepahitan yang harus mereka telan, lebih banyak lagi rasa perih yang harus ditahan. Dan yang pasti, lebih banyak lagi air mata yang tumpah diam-diam. Kapan dan dalam peristiwa apa saja dia mengalir, tak ada keluarga dan teman yang tahu, karena Dewi memang tak pernah ingin mereka tahu. “Air mata rahasiaku itu, cukuplah aku dan Allah yang tahu.”
…………

Melalui buku ini, Dewi Yuniati Asih berbagi kisah dengan anda, saat mendampingi suami di saat krisis kemudian bangkit bersama menuai sukses sebagai pengusaha.

Menuliskan buku ini membuatku belajar untuk menjadi “perempuan” yang yakin dengan kemampuan diri, di manapun, dalam kondisi apapun.