Tahu Gejrot dan Perselingkuhan

Kemarin, 17 Januari 2012, aku di luar rumah seharian. Berangkat nebeng suami, yang ternyata hendak sekalian membawa sepeda motor ke bengkel. Wadduh! Kok pakai motor? Sudah berkali-kali aku membatin janji, tak mau lagi dia bonceng jarak jauh. Seperti naik roller coaster!

Tapi janji tinggal janji, dan meluncurlah kami ke “kota.”

Sejam kemudian, aku bertemu dengan Ammy, yang sudah setia menanti di depan Pusat Kebudayaan Prancis atau CCF. Jadi, PKP itu bahasa Prancisnya CCF hehe…

Tak ingin buang waktu, kami segera parkir di CCF dan mulai membahas beberapa naskah calon buku yang sedang kami garap bareng.

Diskusi berlangsung seru, diselingi rumpian yang semoga tak terekam oleh kamera CCF. Bahaya! Setelah urusan pekerjaan beres, kami memutuskan untuk makan di sebuah pujasera. Menu yang kami pesan sama: Es durian dan tahu gejrot.

Aroma dan citarasa tahu gejrot membuatku tergoda untuk membahas topik yang juga menyengat: perselingkuhan. Berkali-kali diskusi online dan offline, baru kali ini kami membahasnya. Diawali gosip-gosip recehan yang tak tentu keabsahannya tentang teman-teman dan kerabat masing-masing, kami mulai melihat diri sendiri. Bekerja di rumah bukan berarti aman dari godaan. Jika tak waspada, ada saja jalan untuk tergelincir. Apalagi, pergaulan di dunia maya seperti pintu menganga.

Suasana jadi serius dan aneh, hahaha… untung ada es durian pekat dan nikmat, alhasil ada alasan untuk diam mengunyah. Sejumlah kisah cinta tak patut kami jadikan referensi, dan sambil mengusir canggung, kami saling menasihati. Usia sudah tak muda, kerepotan mengurus anak sudah mulai reda—buat Ammy, ya. Buatku belum!—banyak jadi alasan ibu-ibu cari kegiatan asal-asalan dan lupa jaga sikap. Don’t even think to do it!

Akhirnya, tahu gejrot lenyap, es durian pun tinggal bijinya. Ammy pulang, dan aku tetap harus menanti tebengan hingga maghrib tiba. Aku juga masih sempat melihat dua pasangan yang mengumbar kemesraan berlebihan di tempat umum. Pasangan pertama kutemukan di sebuah pujasera lain—Ya! Aku makan lagi menjelang sore! Tingkah mereka membuat para pramusaji rikuh saat mengantarkan pesanan. Aku yang sudah lebih dulu duduk di depan mereka enggan pindah, karena hanya mejaku yang ada colokan listrik untuk netbook. Jadilah aku tetap di sana dan menonton aksi mereka. Terbawa tema perselingkuhan yang baru saja kubahas dengan Ammy, kuusir prasangka dengan berkali-kali berpikir, semoga mereka itu pengantin baru, walau tampaknya mereka lebih tua dariku.

Pasangan kedua kutemukan di sebuah pusat perdagangan elektronik, tempat suamiku bekerja. Seorang mahasiswi berkerudung dan berjaket almamater biru tua tampak menangis di bahu seorang lelaki muda, sambil sesekali mencubitnya. Adegan itu berlangsung di depan sebuah gerai telepon genggam, diiringi ledekan teman-temannya. Sesekali si mahasiswi merajuk kesal ke teman-temannya itu, tapi dia tetap melanjutkan aksinya. Entah mereka sedang syuting sinetron apa…

Sayang aku tak bawa kamera, jadi tak bisa mengganggu mereka dengan kilatan cahaya blitz, seperti yang pernah kulakukan di sebuah pameran buku sebulan yang lalu hehe…

Hmm… setelah seharian di luar, aku pulang. Lagi-lagi menunggang roller coaster  seram, dan nyaris menutup mata sepanjang jalan.

Advertisements

2 thoughts on “Tahu Gejrot dan Perselingkuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s