Kelompok Rahasia Paling Indonesia

Entah atas pertimbangan apa, kudapati diriku dimasukkan ke dalam sebuah grup rahasia di Facebook. Teman yang “menjerumuskanku” tak menjelaskan apa pun, aku juga tak bertanya apa pun.

Ada anggota grup rahasia itu di foto ini -- foto oleh Klub Oase

Ada anggota grup rahasia itu di foto ini — foto oleh Klub Oase

Begitu masuk, aku melihat beberapa orang yang sudah kukenal baik melalui dunia maya. Jadi aku nyaman-nyaman saja, dan langsung ikut nimbrung apa pun yang di-post di sana. Sesekali aku juga posting beberapa kejadian lucu, dan teman-temanku menanggapinya dengan gaya humor yang ajaib. Kami saling ledek dan saling bercanda. Kacau sekali!

Aku harus sering menahan tawa di depan komputer jika membaca utas dan berbagai komentarnya.

Kami bahkan menjuluki grup itu sebagai grup “sampah”.

Artinya, kami bebas berkomentar dan posting apa pun. Dua aturan tak tertulisnya adalah tetap lapang hati, dan merahasiakan informasi yang ada di dalam grup.

Semua anggota bisa menumpahkan kekesalan, kemarahan, rasa cemas, gembira, dan rasa penasaran dengan bebas. Status atau foto yang tak mungkin dipajang di dinding Facebook bisa dipamerkan di sana.

Komentar juga tidak harus sesuai dengan utas yang ditulis. Cerita tentang masakan gagal bisa berujung dengan komentar yang sahut menyahut tentang fotografi, film, pertengkaran dengan teman, jual beli keripik… apa pun! Hahaha….

Tandamata teman beretnis Tionghoa-doc foto rahasia

Tanda mata teman beretnis Tionghoa-doc foto rahasia

Salah satu utas “panas” yang pernah ditulis salah satu temanku adalah tentang sejarah Tionghoa. Dari posting-nya yang ilmiah—mengingat dia adalah salah satu “ahli” budaya Cina—muncul beragam komentar dari anggota lain yang saat itu hanya tiga puluhan orang.

Dari utas itu saja, aku bisa belajar banyak hal. Tentu di luar komentar ajaib selalu membuatku terkekeh.

Pertama, Indonesia ini sangat kaya dengan budaya luhur. Anggota grup ini terdiri dari berbagai etnis: Jawa, Padang, Palembang, Cina, Batak, Dayak, Sunda, Melayu, Betawi, Banten, Cina keturunan, ada yang bersuamikan orang Bugis—termasuk aku—Batak, warga negara asing, dan beberapa di antara kami melakukan pernikahan enkulturasi.

Di grup yang hanya berisi kaum ibu ini, kami bisa dengan bebas membahas kesukuan tanpa merasa diintimidasi atau mengintimidasi. Semangat primordialisme terjaga di koridornya. Kami saling memamerkan masakan khas daerah masing-masing, dan berbagi resep. Kami bercerita dengan leluasa tentang tradisi-tradisi yang kadang disalahpahami masyarakat umum. Aku sedikit banyak belajar tentang adat dan bahasa suku Padang dan Batak dari grup ini.

Kami juga wajib memajang foto pernikahan. Dari baju daerah masing-masing, mengalirlah aneka diskusi tentang pernikahan, pengasuhan anak, dan kesukuan. Lagi-lagi diskusi selalu seru, penuh canda dan tentu penuh ilmu.

kupu-kupu batik jepretan anggota grup mengundang diskusi seru

Kedua, perbedaan bisa memperkokoh keyakinan beragama. Anggota grup ini beragama Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Budha. Kami bisa dengan bebas membahas prasangka apa pun tentang agama lain di grup ini tanpa harus tersinggung. Saat seseorang melempar isu tentang Front Pembela Islam, misalnya, kami bisa membahasnya dengan dewasa. Aku juga pernah dibuat tercenung ketika ada yang bertanya, “Bagaimana jika ada anak kalian yang memutuskan untuk mengimani agama yang berbeda dengan kalian?”

Aku bebas mengajukan pertanyaan dan berkomentar seperti “Bagaimana di agama kalian? Resep ini mengandung babi, ya? Aku nggak makan ini… nggak makan itu… karena nggak boleh di agamaku”

oseng ikan asin dijamin halal, asli Indonesia–diculik dari foto grup rahasia

Balasan yang sangat cair dari teman-temanku adalah, “Coba sebutkan makanan apa saja yang nggak kamu makan, biar jelas kalau kami hendak mengundangmu makan siang.”

Ketiga, prasangka baik bisa mendatangkan rezeki. Grup yang kini beranggota empat puluh orang ini— sementara diputuskan untuk tidak menambah anggota—terdiri dari para ibu dari berbagai latar belakang ekonomi, sosial, hingga pendidikan.

  • Ada dokter yang selalu murah hati memberikan sesi konsultasi dan nasihat medis. Pendapat mereka tentang kesehatan selalu kami tunggu.
  • Ada juga beberapa penjual makanan, yang sering memberikan potongan harga khusus untuk anggota grup—yang kirim makanan dan baju gratis juga ada, hehehe…
  • Banyak “ahli” yang siap berbagi ilmu kapan pun, lho… ahli masak, ahli desain, fotografi, kerajinan tangan, ahli anak berkebutuhan khusus, ahli bahasa… hingga seniman gambar dan musik. Semua ada!
  • Anggota grup ini berasal dari berbagai daerah, dan tinggal di berbagai wilayah—Ada juga yang tinggal di luar negeri. Ada barang murah di kotamu? Titip beliin dan kirim, dooong
  • Kami berbagi resep rahasia keberhasilan dan kegagalan di bidang masing-masing, untuk berbagi semangat.
  • Tak perlu sungkan untuk curhat tentang kegalauan yang sedang kami alami. Aku tak suka pamer status galau di dinding Facebook, tapi tetap punya kebutuhan untuk curhat dan nyampah. Jadilah grup ini pelampiasan yang sehat, hahaha…

Keempat, kebiasaan baik dan buruk itu bisa menular.

jus nenas pisang bayam wortel tomat

Aku tertulari kebiasaan minum jus sayur dan hidup lebih sehat. Sebelumnya, membayangkannya saja aku selalu berteriak hiiiy! Teman-temanku di grup itu menyemangatiku dengan berbagai cara konyol. Hasilnya, tiga bulan ini aku minum jus sayur tanpa bolong. Badanku terasa lebih sehat, dan aku kian produktif berkarya.

Suamiku berkomentar, “Hebat juga tuh, grup Ibu. Bisa kasih pengaruh baik.”

Ya. Bagiku, berjejaring di dunia maya membawa dampak fisik!  —Termasuk dapat kiriman kue-kue mocaf yang lezat, hehe—

Selain tertulari juga untuk memakai menspad, aku lebih sering iseng turun ke dapur. Aku mulai percaya diri menghadapi kegagalan di dapur dengan tawa. Setidaknya aku sadar tak suka memasak dan berani mengakuinya.

Teman-teman rahasiaku itu justru menjadikan aku parameter, “Kalau Anna bilang bikin nugget itu gampang, berarti memang gampang! Kalau sedang tak ada waktu masak, gunakan jurus telor ceplok Anna!”

Ehm… diam-diam aku bangga bisa jadi parameter mereka, hahaha…

paket ekstrim dari grup rahasia: rendang dan tunas cincau hidup!

paket ekstrim dari grup rahasia: rendang dan tunas cincau hidup!

Kelima, kelompok ini bisa jadi sangat “kejam!”

Salah satu anggota grup, sebut saja namanya Bu Wahid. Dia punya teman yang lama tinggal di luar negeri, sangat bangga dengan negara barunya, kemudian mengecam Indonesia. Dia berkomentar di status FB Bu Wahid dengan aneka keluhan hingga umpatan tentang keburukan Indonesia.

Ada anggota yang membaca komentarnya dan ngomel di grup rahasia.

Hanya dengan satu ajakan, kami berbondong-bondong ke status Bu Wahid dan mulai berkicau di sana. Komentar teman Bu Wahid yang sok luar negeri itu kami anggap tidak ada, dan sibuk saling sahut tentang keistimewaan masakan, adat istiadat, budaya, buah-buahan, hingga pola kekeluargaan yang kental di Indonesia.

Awalnya, sang pengeluh itu masih saja membela diri dan terus membeberkan kekurangan “mantan” negaranya.


Ah… tetap saja dia kami abaikan, dan makin riuh di kotak komentar, pamer kekayaan daerah masing-masing. Dalam sekejap, utas itu menjadi sangat ramai dan sangaaat Indonesia, hahaha…

Mungkin Indonesia bukan surga dunia, tapi tetap tanah air beta 🙂

Akhirnya, aku hendak berterima kasih kepada teman-teman mayaku, teman-teman rahasiaku. Beruntung sekali aku mengenal kalian, ibu-ibu hebat. Tulisan singkat ini hanya secuil dari segudang ilmu, pengalaman, dan kehangatan yang kuperoleh dari kalian.  Tetaplah membuat hidupku berisik!

–Aku minta izin pakai foto-foto kalian, ya.. buat ikut Lomba Blog Paling Indonesia yang diselenggarakan Komunitas Blogger Makassar Anging Mamiri dan Telkomsel. Doakan aku menaaang… Terima kasiiih—

Advertisements

17 thoughts on “Kelompok Rahasia Paling Indonesia

  1. this could be my favorite secret too… hehehe.. semoga lebih banyak hati yang terketuk, lebih banyak benak yang tercenung membaca tulisanmu.

    • Terima kasih apresiasinya, Imamul Hidate…
      Semua anggota kelompok ini kaya. Ada yang kaya wawasan, kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya hati… Aku malah nggak tahu pasti, siapa di antara kami yang kaya duit 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s