Catatan Rindu

Shadow Diver

Shadow Diver

Ketika beres-beres rak buku—yang nggak pernah beres—aku menemukan dua lembar kertas di dalam kamus tua. Keduanya terlipat, nyaris lengket, tintanya mulai berbaur antara dua sisi yang semua kutulisi.

Aku meringis membaca isinya: definisi dari aneka istilah kapal selam.

Ternyata, kertas itu peninggalan dari pekerjaan terjemahan Shadow Diver, tahun 2004. Saat itu akses internet di rumah masih belum semudah sekarang. Pilihanku hanya warnet atau Telkomnet Instan yang mahal dan lelet itu hehe…

Jadi, Googling di rumah sama sekali bukan pilihan yang sangkil dan mangkus—Aha! Akhirnya aku dapat kesempatan memakai dua kata itu.

Ke warnet aku juga merasa tidak nyaman.

Pilihanku tentu perpustakaan.

Segera kubaca cepat naskah terjemahanku sambil mencatat semua istilah yang tidak kutemukan di kamus. Dan mulailah aku membongkar ensiklopedi di perpustakaan daerah.

Aku melakukannya selama nyaris seminggu, sesekali sambil membawa anak-anak.

Sama sekali tidak ada rasa berat. Santai saja.

Delapan tahun kemudian….

Nggak kebayang aku melakukannya lagi.

Boro-boro berkunjung ke perpustakaan, buka kamus cetak pun hanya kulakukan  ketika koneksi internet mati mendadak. Kamus daring terasa lebih praktis karena mejaku tak perlu penuh dengan aneka kamus. Definisi kata apa pun bisa kutemukan tanpa harus beranjak dari meja. Perpustakaan daring dari berbagai kampus kelas dunia bermurah hati memberikan akses gratis dan praktis.

Jelas, dong, aku merasa sangat terbantu. I’m a Goog-Mom, remember?

Tapi…

Saat memandangi catatan yang berdesakan, memenuhi setiap sisinya

Di hatiku terselip rindu.

Merangkai PUZZLE MIMPI

Puzzle Mimpi

Puzzle Mimpi

“Apa kabar, Anna? Sedang nulis apa sekarang?”

“Haiii… Ini sedang nggarap memoar.”

“Apa itu?”

“Penggalan kisah hidup seseorang. Sejenis biografi, tapi nggak A-Z. Bagian tertentu saja.”

“Memoar siapa?”

“Seorang ibu muda…”

“Siapa, sih? Aku kenal, nggak?”

“Kemungkinan kenal. Tapi nanti, ya. Kalau bukunya sudah terbit. Hehe…”

“Kok ibu muda sudah bikin memoar? Boleh gitu?”

“Lho, bisa aja. Justru karena masih muda, masih gampang dicari orangnya buat diajak sharing. Kamu mau kubikinkan juga? Haha…”

“Ah, nggak! Mimpi kali aku bikin memoar. Aku kan bukan siapa-siapa… Kok kayak KD aja.”

“KD?”

“Krisdayanti, Mbakyu…”

“Ooo….”

Ada beberapa teman yang bertanya-tanya, buat apa aku menulis memoar. Ketika Air Mata Rahasia terbit, beberapa teman penasaran, Dewi itu siapa, sih?

Kini aku merampungkan sebuah memoar tentang Indari Mastuti, perempuan yang bahkan lebih muda dari aku. Mengapa harus dia? Kok sampai ditulis memoarnya.

Nah… nah…

Ini dia yang mau aku obrolkan, atau lebih tepatnya ku­curhatkan :-d

Bagiku, setiap orang mesti punya rekam jejak perjalanan hidupnya. Aku biasa menuliskan fragmen perjalanan hidupku di blog ini, dan blog khusus tentang petualangan belajar mengajar. Padahal, aku bukan bintang sinetron, bukan menteri, apalagi pahlawan… –Pardon? Pahlawan? Plis deh, ah, bisa-bisanya kata itu terlintas dalam kepalaku!

Aku menulis karena ingin mencatat serpihan peristiwa yang pernah kulewati. Tak semuanya penting bagi orang lain, tapi bagiku, yang kutulis pasti sesuatu yang penting. Dari tulisan-tulisanku, aku bisa melihat, apa saja prioritas hidupku dari tahun ke tahun. Apa saja pencapaian dan kegagalanku, termasuk bagaimana cara pandangku berkembang (atau bahkan menyusut?) setelah melewati berbagai peristiwa itu.

Ada beberapa orang yang mengaku terinspirasi oleh cara pandangku, dan aku berterima kasih kepada mereka. Tak banyak yang bersedia mengaku bahwa orang lain telah jadi inspirasinya. Banyak yang dengan percaya diri berkata, aku bisa karena diriku sendiri. Aku hebat karena usahaku sendiri—Lha aku juga sering membatin kesombongan seperti itu. Padahal, sadar atau tidak, aku dikelilingi oleh orang-orang hebat yang selalu ikut membangun diriku. Mereka adalah keluargaku, teman-temanku, termasuk orang-orang yang tak kukenal secara pribadi. Cara pandang mereka ikut menemani pencarianku.

Karena itulah aku menulis kisah hidup Indari. Selalu ada inspirasi yang bisa diperoleh dari siapa pun. Apalagi, Indari ini masih muda, aktif berkarya di bidang bisnis, mengasuh komunitas menulis, mendapatkan aneka penghargaan, dan… belum semua cita-citanya tercapai.

Kupikir, bagian terakhir ini pas banget. Kita banget! Anda boleh membatin, lu aja kalee, Anna, gue enggak hehe…

Tokoh buku ini bukan orang yang kontroversial. Dia ibu rumah tangga biasa yang suka bercanda, suka difoto, dan narsis di jejaring sosial. Indari juga bisa menangis ketika kecewa, bisa marah, bisa juga galau. Anda akan membacanya di buku ini.

Aku tidak sedang bercerita tentang putri Lakshmi Mittal atau Annisa Pohan. Aku bercerita tentang perempuan yang sangat biasa, namun berkat tekad kuatnya, kini sedikit demi sedikit mulai merangkai 101 mimpinya.

So, buku ini akan jadi teman kita mengenang masa yang pernah terlewati. Kisahnya menemani kita merangkai kepingan mimpi yang pernah dan masih kita miliki.

Berani bermimpi!