Durian, the BIGGEST Mistery

1 2 1 2 1 2

Tulisan ini kubuat di tanggal cantik.

Maksa sebenarnya. Tapi demi ikut seru-seruan, aku tulis dulu sebagian walau yakin nggak bisa selesai segera.  Masih capek, padahal cerita ini bakal panjang!

Saat hari menjelang sore.

Nyekar Nenek

Nyekar Nenek

Aku bersama suami dan putri bungsuku, Luthfa—Upeng, 5 th—meluncur dari Boyolali menuju Bandung, habis ikut tahlilan dua tahun meninggalnya ibuku.

Seperti biasa, Mbak dan Mbah Kakung memenuhi bagasi mobil dengan aneka hasil bumi dan oleh-oleh kampung. Sekarung pepaya dipetik sendiri oleh suamiku di ladang, sampai sekujur tubuhnya bentol digigiti nyamuk, haha…

Dua durian yang diyakini sudah matang pun tak ketinggalan diembat. Harumnya menggoda iman sepanjang perjalanan.

Ketika sampai di bilangan Kabupaten Batang, suamiku melihat penjual durian berjajar di sisi jalan.

Katanya, “Durian kita cuma dua. Nggak enak, ya, sama tetanggga kalau sampai mencium aromanya. Masak ngasih pepaya berbau durian…”

“Ah… bilang aja kurang, trus mau beli lagi…” sahutku.

Benar saja. Dia menepikan mobil.  

Pedagang yang semula tak peduli, langsung bangkit menuju jendela mobil. Durian yang sudah diikat dijajakan dengan penuh semangat, tapi suamiku berkata, “ Maaf, tidak.”

Sambil tancap gas dia berkata, “Jangan pernah beli durian yang sudah kuning. Nggak segar.”

Kenduri tahlil

Kenduri tahlil

Beberapa meter melaju, penjaja durian masih saja banyak, dan kami kembali menepi.

Sambutannya sama persis. Penjual yang semula tenang, kini datang menyerbu mobil.

Suamiku tertarik dengan seikat durian yang masih terlihat segar 4 biji.

“Delapan puluh ribu, Pak. Empat.”

Asal-asalan suamiku menawar, “Tiga puluh, ya…”

“Bapak keluar aja, deh,” pintaku.

Rasanya nggak sopan nawar dari dalam mobil. Lagi pula biar jelas milihnya.

Dan mulailah insiden itu terjadi.

Aku sedang santai bersadar di kursi, menunggu transaksi selesai.

Tiba-tiba kulihat suamiku berlari dari belakang mobil sambil tertawa aneh.  Kupikir dia mau masuk dan batal beli.

Ternyata dia kebablasan, lari sampai ke depan mobil. Di belakangnya, lebih dari tujuh pedagang mengejarnya, dan semua mengacung-acungkan  durian sambil menarik tangan dan bajunya. Dia terdorong ke kanan kiri depan belakang, sambil menyeringai ngeri takut tertancap kulit durian. —sumpah, aku mengetik sambil ngakak—

Melihat adegan itu aku ikut panik—bukan ingin menyelamatkan suamiku, tapi sibuk cari hape. Aku mau foto adegan seru itu hahaha…

durian
Sayang suamiku keburu lari lagi ke belakang sambil membuka pintu bagasi.

“Yang itu lima puluh, yang ini enam puluh, ya!” katanya.

Dua ikat durian mendarat di atas bantal dan selimut Upeng tanpa sempat ditata. Pintu bagasi segera ditutup karena pedagang yang lain berusaha memasukkan durian lagi, haha…

Waktu kami mulai melaju, masih ada yang mengejar sambil mengacungkan tiga durian, “Dua lima, Pak! Tiga!”

Hah… suamiku sudah tidak mau dengar dan langsung kabur.

Begitu terbebas dari kejaran bom berduri itu, tawa meledak tak tertahankan.

“Aduh! Seumur-umur baru kali ini Bapak terintimidasi sama pedagang! Seram sekali. Nggak jelas durian mana yang ditawar, mana yang jadi. Harga yang mereka tawarkan juga Bapak nggak dengar. Semua bersuara,  berisik sekali. Itu modus mereka kali, ya, biar laku. Haduuh… Tapi lumayan, tuh. Murah dapat tujuh durian seratus sepuluh ribu. Puas, kan? Eh.. hape Bapak mana?!”

Aku kaget dan langsung periksa sana sini… ahh… ternyata ada.

“Duh, astaghfirullah…  Bapak sempat curiga mereka sambil mencopet. Dalam kondisi seperti tadi, kecopetan kaki pun nggak akan terasa, hahaha…”

Kami tertawa sampai capek.

Saat maghrib, kami berhenti di sebuah rest area.

Dengan  penuh semangat suamiku mengambil satu durian.  Tawa kami kembali meledak mengingat adegan tadi sore.

Durian yang dipilihnya masih segar, harumnya menyengat, tapi…aduh! Ternyata mentah!

Mulailah dia galau. Dibuangnya durian itu di antara tumpukan cangkang kelapa muda.

Dia membuka ikatan kedua.

Lebih kacau lagi, ternyata durian itu sudah basi, dan sudah pernah terbuka sebelumnya. Bekas belahannya diikat ulang oleh penjualnya dengan tali plastik, jadi sama sekali tidak terlihat.

Durian kedua kembali melayang ke sela-sela cangkang kelapa muda.

Tidak ada durian ketiga.

mau istirahat disuruh balapan

mau istirahat disuruh balapan

Kami menuju warung lesehan dan mengupas mangga gedong yang terhidang di meja sambil pesan makan.  Setelah kenyang,  kami kembali meluncur.

Tidak ada tawa. Suasana jadi menyebalkan.

“Sedih banget. Bukan semata-mata uangnya. Yang jual durian basi itu ibu-ibu yang sudah tua. Dia Bapak pilih karena terharu. Tapi kok…”

Kami jadi diskusi serius, mengapa pedagang itu menjual barang yang tidak bagus. Mungkin kami saja yang sedang apes, mungkin durian lain bagus, mungkin pedagangnya tidak sengaja, mungkin mereka terpaksa, mungkin… mungkin…

Yang jelas, suamiku terganggu sekali dengan durian basi yang diikat ulang dengan rapi. Aku jadi ikut gundah –masak mau galau lagi. Kata itu kan sudah kupakai di atas :-p

Selebihnya, tanpa komando, tema durian tidak dibahas lagi. Perjalanan masih sekian jam, dan suasana harus menyenangkan. Kami ngobrol ini itu, sambil sesekali menepis aroma durian yang kian menyengat. —behind the scene: sebenarnya aku lebih banyak tidur, seperti biasa hehehe…—

Kami tiba di rumah tengah malam, dan langsung membangunkan Tante Ina untuk bongkar bagasi. Dia menurunkan bawaan sambil terkantuk-kantuk.

“Beli durian banyak banget…”

Komentarnya ditanggapi sepintas lalu, dan semua langsung tewas di kasur.

Keesokan harinya…

Setelah dibuka satu demi satu, semua durian hasil beli tidak ada yang bisa dimakan. Ada yang mentah, ada yang setengah matang, ada yang busuk…

Satu durian yang dipetik dari ladang juga masih mentah. Hanya satu bisa kami nikmati dengan penuh syukur. Enaaaak sekali.

“Ini durian paling tulus dan paling jujur,” kata suamiku.

Ina hanya bisa geleng-geleng sambil memungut bagian yang setengah matang dan sudah harum untuk dibuat kolak. Kuah harum durian tapi isinya dominan pisang.

Pepaya dalam karung juga diolah jadi es bulbul, yang masih mengkal disimpan.

Jadilah belasan kantung es pepaya dan kolak pisang aroma durian.

Kami bagikan ke tetangga, oleh-oleh dari kampung yang tiada duanya.

Sambil menyeruput kolak panas, suamiku bergumam, “Ternyata, di dunia ini bukan hanya kematian dan jodoh yang rahasia. Durian juga misteri besar.”

Wah! Beliau kudu segera diusap-usap, nih, biar memori itu tak hadir lagi, huahaha…

Advertisements

2 thoughts on “Durian, the BIGGEST Mistery

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s