Mandi Kembang?

Kenduri tahlil

Kenduri tahlil

Tulisan ini khusus kupersembahkan kepada seorang teman blogger. Terima kasih sudah memantik ide tulisan pagi tadi.

Beliau membahas asal muasal sejumlah ritual yang biasa dijumpai dalam adat—dalam hal ini adat Jawa Tengah. Tulisannya bisa dibaca di sini.

Sejauh yang kupahami, ritual yang bersumber dari budaya masa lampau berkaitan dengan penghormatan masyarakat pada alam. Simbolnya bisa macam-macam: sesajen, mandi bunga, arak-arakan, dan sejenisnya.

Menurutku, seperti itulah cara komunitas adat–dalam hal ini Jawa–berkomunikasi dengan alam. Kalau ditarik garis lebih jauh lagi, seperti itulah cara berkomunikasi dengan Tuhan–apa pun sebutannya.

Masyarakat menjalankannya tanpa banyak tanya, sekadar menjalankan kebiasaan. Jadi ketika ditanya pun mereka tidak tahu asal-usulnya. Sudah tradisi, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, jika ditinggalkan rasanya ada yang kurang.

Namun demikian, ada kalangan ahli yang tekun mempelajarinya, misalnya para antropolog—dari dalam maupun luar negeri. Jika ingin memperoleh jawaban ilmiah tentang ihwal adat istiadat dan internalisasinya dalam masyarakat, kita bisa bertanya kepada mereka, atau membaca buku-buku mereka. Salah satu buku yang pernah kubaca adalah Mengislamkan Tanah Jawa karya Widji Saksono, penerbit Mizan.

Sama halnya dengan ritual agama yang kita jalankan—dalam hal ini Islam. Ada yang sekadar ikut-ikutan salat, misalnya. Ada juga ulama dan urafa yang menelisik sampai jauh. Mengapa harus salat, mengapa gerakannya seperti itu, mengapa harus mengikuti rukun dan syarat sahnya. Mereka tidak berhenti pada kata: sudah ada dalilnya dalam Alquran dan hadis.

Mereka kejar lagi, Apakah benar hadisnya sahih, mana kitab hadisnya, apa benar perawinya jujur, apakah ustaz yang mengajarkannya juga jujur dan kompeten, dan sebagainya… teruuusss dikejar. Pada gilirannya mereka juga mengejar, tahu dari mana Alquran itu benar, tahu dari mana bahwa kita beribadah kepada Allah yang benar, mengapa Tuhan harus satu, mengapa ini mengapa itu… hasyah jadi ingat kuliah Tauhid yang pernah bikin mules.

Namun demikian, tidak semua orang bersedia melakukannya, dan kebanyakan hanya mengikuti apa yang diajarkan para ustaz.

Kembali ke asal muasal adat dan ritual tadi, aku mengira-ira (nggak pasti juga, sih—ini omongan tanpa riset) ada sebab yang sangat hakiki. Kebutuhan manusia untuk bertuhan adalah kebutuhan mendasar, kebutuhan yang fitri, sebuah kemestian makhluk. Selalu ada ceruk di hati manusia yang rindu berkomunikasi dengan sesuatu yang lebih superior darinya. Manusia di seluruh semesta memahami dan menamakannya dengan sebutan yang berbeda-beda. Sebagian bergerak ke arah agama yang datang kemudian, sebagian masih bertahan dengan keyakinan sebelumnya, sebagian memadukannya—kalau tidak salah ingat, istilahnya akulturasi.

Seiring zaman, materi yang diakulturasikan berbeda sesuai dengan budaya di komunitas yang bersangkutan. Ada yang masih memelihara tumpeng kumplit untuk selamatan, ada mengirim parcel berupa alat solek dan kue brownis coklat sebagai hantaran lamaran. Ada yang memilih lek-lekan, kumbokarnan, sebelum acara pernikahan, ada yang mengundang ibu-ibu pengajian.

Itu pilihan.

Lantas, di mana kita berdiri?

Mandi kembang dengan kostum minimalis sehari sebelum menikah, di hadapan kerabat yang tidak semuanya muhrim, tak akan kulakukan—lha iya, lagian masanya sudah lewat, haha… just kidding.

Tapi kalau kenduri dengan tumpeng bernampan-nampan, dikelilingi oleh warga dengan sukacita, kemudian dibagikan, rasanya kok menyenangkan. Pesanku: sesajen yang berupa bunga ya jangan nekat dimakan, hehe…

Artinya, ada adat yang memiliki dimensi ritual pribadi, ada pula adat yang komunal, yang menyatukan warga karena ikatannya dengan lingkungan, dengan alam. Ada yang memang tidak bisa kujalankan karena alasan ritual pribadi seperti mandi kembang tadi, ada juga yang kuterima sebagai bentuk apreasiasi pada orang yang lebih tua.

Banyak adat yang justru membuatku tersadar akan kebesaran Allah, jika aku mau melihat lebih dalam. Wallahu’alam.

Advertisements

6 thoughts on “Mandi Kembang?

  1. Mbak Anna YSH,

    Sebenarnya adat tradisi mandi / siraman air 7 kembang (bunga) itu murni dari Islam yang diangkat dari kisah 12 mata airnya nabi Musa, dimana didalamnya dikisahkan bahwa dari 12 mata air itu 8 mata air ada didunia dan 4 mata air lainnya ada disurga (hasil)

    Misalnya ada air sumber, air sungai, air hujan, air laut, air wudlu, air zam-zam, air buah (labu) dan yang ke delapan air larangan (nutfah), dimana air ke 8 ini akan didapat bilamana sudah menikah.
    Filosofi dari amsing-masing air ini sudah banyak dibahas, misal air hujan artinya dimanapun berada kita harus bisa membuat adem dan menyejukkan ummat, ibaratnya mengairi tanah yang tandus menjadi hijau kembali.

    Lalu air yang ke 9 ~ 12 itu merupakan hasil dari perkawinan, semisal air bening : menyejukkan, air susu : menyegarkan, air kasturi, air madu : menyehatkan serta air kasturi : mengharumkan tapi tidak memabukkan. Yang kesemuanya terangkum dalam syarat dan hukumnya perkawinan.

    • Mas Dimas,
      Senang sekali bisa dapat penjelasan yang tidak saya ketahui sebelumnya.
      Dapat pengetahuan baru, nih. Terima kasih bangeeet … 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s