SURAT PERTAMA

nursebuddy.co

nursebuddy.co

Bandung, 18 Desember 2012

Widia,

Apa kabar?

Ini hari Selasa. Aku 88% yakin, kamu sedang setrika sambil nonton drama Korea. Yang 12% itu aku ragu, apakah sekarang kamu sedang nonton sambil nangis-nangis juga, haha.

Surat ini kutulis di kantor, saat istirahat siang yang panjang. Ada kepala divisi yang baru pulang umroh dan bikin syukuran di kantin. Tapi aku milih sembunyi di sini karena selera makanku sedang hilang sama sekali. Aroma hidangan prasmanan yang biasanya mengundang selera justru membuatku pusing. Orang lalu lalang membawa nampan kian membuatku pingin cepat pulang. Beneran, deh, mending makan telur ceplok buatanmu.

Widia,

Setiap hari aku berkubang dengan tulisan, berenang di antara artikel dan reportase. Aku biasa menghasilkan 300 kata setiap 15 menit tanpa salah ketik tanpa salah tata bahasa—kamu pernah menghitungnya dengan stop watch. Ingat, kan?

Tapi sekarang, aku bingung mau nulis apa, kagok mau mulai dari mana. Lebih tepatnya, sebenarnya aku malu sendiri. Kamu tahu, surat-suratan kan nggak kita banget.

Kemarin aku mencoba merekam suaraku, tapi hasilnya hancur memalukan, hehe …

Jadi, sudahlah. Kembali ke rencana semula: surat ini.

Widia,

Ingat pertemuan pertama kita?

Malam di Aula Barat, kamu sedang mempersiapkan sebuah seminar bahasa. Saat itu aku lewat tanpa sengaja. Baru belakangan aku sadar bahwa tak ada yang namanya peristiwa “tanpa sengaja”. Semua punya tujuan jelas, semua sudah diatur untuk kita, bahwa aku harus lewat sana. Bukan kebetulan jika aku melihatmu sedang berdiri penuh percaya diri bawah pijar lampu. Tanganmu melambai-lambai memberi instruksi pada anak buahmu yang sedang menata dekorasi. Persis konduktor yang sedang mengorkestrasi lagu. Detik itu aku terpaku, dan sesudahnya kamu tahu, aku tak pernah lagi melepaskanmu.

Widia,

Ingat masa perkenalan kita?

Aku hadir di seminar bahasamu itu. Setelah acara usai, ketika wartawan lain memburu sang pembicara, aku memburumu. Aku bertanya ini itu, dari konsep acara sampai hobimu. Haha, saat itu juga kamu curiga. Ini wartawan atau apa? Tanya-tanya hobi segala.

Sejak itu, aku selalu cari cara untuk menemuimu: mengundangmu ke berbagai acara diskusi, mendatangi tempatmu mengajar, termasuk mengirim pulsa agar kamu tak ada alasan habis pulsa untuk membalas SMS-ku, hehe. Selama dua bulan itu, aku tak berhasil mengajakmu keluar berdua, bahkan sekadar untuk makan siang. Aku harus puas berbincang denganmu di antara orang seliweran, atau menatapmu yang (pura-pura) sibuk membaca di perpustakaan. Ngaku, deh, kamu sering pura-pura baca, kan, waktu itu?

Widia, kamu ingat pernikahan kita?

Aku nekat bertamu ke rumahmu. Kamu kaget dan gugup, sampai lupa bertanya dari mana aku dapat alamatmu. Kunjungan singkat itu membawa misi tunggal, misi berani malu: melamarmu.

Ayahmu menatapmu heran, dan kamu hanya angkat bahu. Rupanya namaku tak pernah sekali pun kau sebut di rumahmu. Padahal, namamu sudah jadi wiridku saat aku menelepon ibuku di Palangkaraya. Sampai ponakanku yang masih balita saja tahu, siapa itu Widia.

Bukan masalah.

Kunjungan pertama itu berbuah kunjungan kedua, lengkap bersama keluarga. Pernikahan kita berjalan tanpa kendala, tanpa romantisme mainstream mendahuluinya, tanpa ucapan cinta, tanpa coklat tanpa bunga.

Karena itu, aku ingin membayarnya sekarang.

Seribu satu kali sehari akan kukatakan, “aku cinta padamu”, sampai kamu bosan mendengarnya. Tapi kamu sudah tak suka coklat, takut gendut, katamu. Kamu juga tak pernah suka bunga, malas ngurusnya. Tapi kamu selalu suka durian, kan? Kuputuskan untuk lebih sering bawa es duren gula merah untukmu.

Berkali-kali kali kamu bilang, “Jangan es duren melulu, dong, Mas. Jadi buyar dietku!”

Tapi toh kamu selalu menyantapnya dengan suka cita. Diet bisa diatur, katamu.

Widia,

Kamu ingat kehamilanmu yang pertama, kedua, dan ketiga?

Empat bulan setelah kita menikah, kamu hamil anak pertama. Tak seperti umumnya perempuan yang hamil muda, kamu melewatinya dengan santai saja. Kamu tetap giat bekerja, banyak makan, banyak bicara. Tidak ada ngidam yang aneh-aneh, tidak ada keluhan yang berarti. Aku bahkan sering lupa kalau kamu sedang hamil.

Tapi …

Bertahun kemudian aku baru sadar, aku tak pernah sekali pun mengantarmu ke dokter kandungan. Aku tak ingat berapa bulan usia calon bayi kita, dan kapan dia akan lahir. Aku baru paham bahwa kehamilan bisa sangat merepotkan ketika beberapa temanku sering izin tidak masuk kantor karena istrinya hamil. Berkat kebaikanmu, aku tak pernah merasa repot.

Entah karena kamu yang baik, atau karena aku yang kelewat cuek.

Maafkan aku.

Sampai anak ketiga, aku hanya datang ke bidan beberapa jam sebelum kamu mau melahirkan. Dan setelah itu, aku tak pernah tahu betapa repotnya kamu mengurus bayi kita, balita kita, anak kita … sampai sekarang pun aku tak merasa ikut repot. Aku tidak pernah kena ompol. Semua bayi selalu mendarat di pangkuanku dalam keadaan wangi. Semua berkat kebaikanmu.

Entah karena kamu yang baik, atau karena aku yang kelewat cuek.

Maafkan aku.

Belakangan aku tahu, bahwa anak-anak itu bisa sakit, bisa rewel, dan bisa jadi sangat menyebalkan. Aku tidak pernah tahu kerepotanmu. Anak-anak selalu baik ketika aku pulang kantor.

Widia,

Kamu ingat ketika aku kena PHK?

Aku tak ingat kamu pernah mengeluh kekurangan. Aku hanya sekali pernah melihatmu menangis diam-diam di dapur, sambil memandangi kulkas kosong. Setelah itu, aku jadi sering mengintai kamu, untuk memastikan apakah kamu menangis lagi hari itu.

Sungguh, tidak pernah kulihat kamu menangis lagi setelah itu. Entah karena kamu hanya menangis di kamar mandi, atau memang kamu hanya ingin memperlihatkan senyum untukku.

Aku baru tahu belasan tahun kemudian, saat kamu cerita sambil tertawa.

Kamu dan anak-anak pernah makan hanya dengan kecap. Kamu pernah ke warung dan hanya bisa beli beras sekilo, kamu pernah hanya pegang uang tiga ratus perak. Kamu pernah jalan kaki dua kilometer sambil menggendong Fani ke sekolahnya, sementara kamu hamil tua. Kamu lakukan itu demi menghemat ongkos ojek yang mendadak terasa sangat mahal. Hanya kamu dan Tuhan yang tahu, bagaimana kamu bisa waras menghadapi masa itu. Aku tidak pernah berani bertanya. Aku malu.

Widia, kamu ingat ketika aku kerja di luar kota?

Aku tahu, kamu pasti semakin repot, mengurus tiga anak sendirian, dengan gajiku yang pas-pasan. Tapi ketika kutelepon, suaramu selalu nyaring dan riang. Anak-anak terdengar sehat, semua seakan baik-baik saja.

Aku baru tahu baru belasan tahun kemudian, saat Fani bercerita tanpa sengaja. Mengenang apa yang pernah disaksikannya saat masih anak-anak.

Ternyata kamu sering menerima teleponku sambil menangis, sambil terkapar kelelahan. Entah bagaimana kamu bisa menciptakan efek renyah itu dari pita suaramu, sedangkan air mata banjir di pipimu. Kamu tidak cerita kalau Mia demam sudah tiga hari dan kamu hanya mengandalkan obat warung dan kompres. Kamu tidak cerita kalau payudaramu sedang mengelupas karena menyusui. Kamu tidak pernah cerita kalau ternyata kamu mengalaminya setiap kali menyusui. Dan itu berarti tiga bayi.

Maafkan aku, Widia. Kupikir semua selalu baik-baik saja. Berkat kebaikanmu, aku hanya melihat yang baik-baik saja.

Widia,

Kini anak-anak sudah mulai mandiri.

Karena punya waktu lebih banyak untuk diri sendiri, kamu jadi uring-uringan manja saat ubanmu kian banyak. Kamu jadi sering berkaca sambil menghitung lipatan di sudut mata. Kamu tak pernah alpa menimbang badan setiap pagi, dan langsung ribut ketika jarumnya bergeser ke kanan sedikit saja. Kamu juga jadi rajin minum jamu, air perasan jerus nipis, sampai jus sayur yang baunya bikin aku ngilu. Berbagai cara kamu lakukan untuk merayuku agar ikut minum ramuan horor itu. Tak pernah berhasil, tentu.

Sementara es duren yang kubawa selalu sukses mengugurkan pantanganmu, hehe …

Widia,

Biar saja ubanmu tumbuh melebat.

Dia adalah saksi pelindung isi kepalamu yang mulia itu. Mungkin, akar rambutmu telah sampai di batas lelahnya, mendinginkan tempurung kepalamu yang sering memanas karena ulahku. Mungkin dulu kamu tak mampu beli vitamin rambut dan memilih membelikan anak-anak madu. Ah, ke mana aku saat itu? Mengapa aku sampai tak tahu?

Biar saja ubanmu tumbuh melebat.

Aku akan tetap tergoda oleh wangi rambutmu, hitam atau putih, sama saja bagiku.

Kelak jika aku lupa semuanya, aku sungguh berharap tetap mengenali aroma rambutmu.

Widia,

Jangan resah karena lipatan di sudut matamu.

Kedua mata itu adalah pelaku senyum tulus yang selalu hadir di hadapanku.

Semua orang mampu tersenyum dengan bibirnya, tapi hanya 20% yang selalu tersenyum dengan matanya. Kamu salah satu di antara yang seperlima itu.

Walau sesungguhnya, aku juga tidak tahu, berapa ribu kali mata itu basah karenaku. Karena menantiku, karena marah padaku, karena ulah anak-anak kita, karena perjuangan hidup kita, atau karena keinginanmu yang selalu saja tertunda, lagi dan lagi.

Kelak jika aku lupa semuanya, aku sungguh berharap tetap mengenali senyum di kedua sudut mata itu.

Widia,

Berhentilah gundah karena postur langsingmu tak jua kembali. Jangan tendang timbangan ke bawah ranjang setiap kali angkanya membuatmu kecewa. Bukan apa-apa. Kamu juga yang akan kesulitan mengambilnya besok pagi.

Keindahan tubuhmu mungkin memudar karena tiga kali melahirkan, belasan tahun kerja keras dan hidup sederhana, bonus kelakuanku yang pasti membuat makanmu kian berselera. Tapi tahukah kamu, Sayangku, perutmu itu bukan hanya nyaman untuk menumbuhkan bayi-bayi kita, tapi juga empuk untuk kami bersandar melepas penat. Ingatkah kamu, saat malam menjelang, selalu ada empat manusia yang berebut perutmu. Semua ingin sekadar menyentuhnya sebelum tidur. Jadi tak perlu resah dengan bonus lemak yang tersisa di sana. Asal tetap ceria, bahagia, sehat, dan setia dengan jus-jus seram itu, kamu tetap seksi. Percayalah, hanya aku yang tahu, betapa mendekapmu selalu menjadi kegiatan favoritku.

Widia,

Kemarin hasil pemeriksaan rutin sudah keluar. Aku sengaja tak mengajakmu ke rumah sakit, karena tak mau melihat alis tipismu bertaut cemas. Sudah dua tahun ini kamu selalu resah menyaksikanku mulai lupa ini dan itu. Sudah dua tahun ini kamu bersikeras selalu mengantarku ke kantor, sejak aku beberapa kali terlambat pulang karena kesasar. Aku juga tahu, kamu diam-diam menghadap atasanku agar aku tetap diberi tugas menulis walau bukan reportase langsung. Aku tahu kamu selalu membuat anak-anak kian dekat denganku, meminta mereka lebih sering pulang awal, mewajibkan mereka sering meneleponku.

Tapi Widia,

Aku juga tahu, waktunya akan datang.

Mau meledak rasanya kepalaku membayangkan aku bakal lupa siapa kamu, siapa Fani, Mia, dan Tia. Tiga putri yang lahir dari kasih sayangmu. Tiga putri yang sering kuabaikan karena aku sibuk dengan jam kerja yang tak tentu.

Belakangan aku sadar, sebenarnya “alzheimer” sudah kupelihara sejak belasan tahun yang lalu. Ketika aku mulai sering meninggalkanmu tanpa ragu, ketika aku mulai luput menghadiri ulang tahun putri-putriku, termasuk lupa mengunjungi makam ayahmu. Aku lalai menyediakan waktu untuk kalian semua, dan lebih sibuk dengan diriku. Kuabaikan permintaanmu untuk meluangkan waktu bagi kalian, kubiarkan rumah kita hidup tanpaku.

Kujawab setiap cerita dan pesan panjangmu dengan kata “OK” saja. Selalu kubalas kiriman foto-fotomu dan anak-anak dengan tanda jempol belaka. Tapi hebatnya kamu, tak bosan menghadirkan aku di tengah anak-anak, tak pernah berhenti mendesakkan diri di antara kesibukanku itu.

Ah, seandainya …

Seandainya …

Sekarang, ketika alzheimer yang sesungguhnya mendatangiku, masihkah berguna sesalku itu?

Jika bukan karena kamu yang selalu menyiramkan semangat, aku pasti sudah depresi.

Mustahil menerima kenyataan bahwa aku akan lupa semuanya, dan akhirnya mati tanpa kenal siapa-siapa, termasuk diriku sendiri.

Yang membuatku bertahan dan masih bisa tertawa hingga kini hanya kata-katamu, “Mas mungkin akan lupa kami semua. Tapi kami tak akan lupa Mas. Tenang, saja. Nanti aku akan mengajakmu kenalan, lagi dan lagi.”

Sesak dadaku mendengarnya, tapi aku harus siap menerimanya. Aku tak ingin membuatmu kehilangan tawa, karena melihatku menderita. Tawa ringanmu selalu menguapkan ketakutanku sekali waktu. Semua karena kebaikanmu, semua karena kebaikanmu.

Karena itulah surat ini harus ada, Widia.

Mulai hari ini, aku akan terus menulis surat untukmu, menulis namamu berulang-ulang, sampai aku benar-benar lupa melakukannya, sampai aku benar-benar lupa mengeja namamu, sampai aku tak kenal lagi mana itu huruf “a”.

Aku ingin memerah ingatanku habis-habisan, dan menuliskan apa yang pernah kita nikmati bersama. Dalam setiap suratku, aku akan menuliskan cintaku, menyatakan terima kasihku, menyampaikan permohonan maafku. Dalam setiap suratku akan kusertakan pelukan rinduku untuk tiga putriku. Jadi bersiaplah, kamu akan kebanjiran surat setiap hari dariku.

Dan kelak ketika aku lupa, ingatkan aku selalu, bahwa aku mencintaimu.

Prasetya Wiguna

***

Widia menerima kembali surat itu dari tangan Pras.

Lelaki itu menggeleng sedih sambil berbisik, “Aku yakin. Prasetya Wiguna sangat bahagia saat ingatnya dan saat lupanya. Masih ada surat yang lain, Mbak? Saya boleh baca?”

Widia tersenyum, “Tidak ada. Ini surat pertama, dan dia tak pernah ingat lagi untuk menulis surat yang berikutnya.”

Perempuan itu memalingkan muka, memandang dedaunan tanpa tujuan, demi menyembunyikan air mata. Dia sudah mahir melakukannya sejak bertahun yang lalu.

Ketika dia kembali menatap Pras, yang ada hanya senyuman di kedua sudut matanya.

***

Catatan: cerpen ini memenangkan juara harapan lomba menulis tentang alzheimer yang diselenggarakan oleh Ontrack Media, 2015. Ini versi asli sebelum saya pangkas karena melewati batas jumlah kata yang ditentukan panitia 😀

IMG_20150418_190005 (1)

Advertisements

4 thoughts on “SURAT PERTAMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s