LEBAY TANDA CINTA

Ali Muhammad Ali 2015Ngaku.

Sebagai ibu, kadang saya lebay.

Tak jarang anak-anak berkomentar “Nggak segitunya, kali, Bu”, atau “Bu, plis. Berlebihan itu, sih” sambil geleng-geleng ke arah saya.

Ali (14) sering nyeletuk, “Statusss … statusss …” begitu saya terlihat terkesan dengan ucapan atau tingkah anak-anak. Artinya, dia tahu bahwa saya akan segera mengudara di Facebook atau Twitter. Anda semua saksinya, betapa saya sering bercerita tentang mereka di media sosial.

Eh, tapi menurut ahli komunikasi favorit saya, lebay itu salah satu tanda cinta. Anda tak berhak mengaku mencintai seseorang hingga dituding lebay oleh orang lain.

Dapat pembenaran, dong, huehehe …

Dalam satu atau dua hal, kelebayan itu menurun (atau lebih tepatnya menular) pada anak-anak. Suka atau tidak suka mereka kena cipratannya, tentu dengan derajat kekentalan yang berbeda-beda.

Ali, misalnya. Hari ini dia lulus SMP. Bukan sekadar lulus, Ali meraih peringkat pertama di kelasnya dan tampil di panggung upacara adat untuk menerima penghargaan sebagai siswa berprestasi.

Nah, ibunya yang harus pulang duluan mulai cari cara untuk berpose bersama. Sayangnya, yang hendak ditebengi eksis adem-adem saja.

“Nanti saja, Bu. Atau tar di rumah, deh …”

Mana mungkin. Saya kan sudah mau buru-buru nebeng narsis.

Akhirnya, dengan memanfaatkan daya magis “tatapan keibuan”, Ali berhasil saya gusur ke barisan belakang.

Sambil pasrah dan angkat bahu, dia masih sempat berbisik, “Nanti saja, sih, Bu. Acara belum kelar …”

That’s very Ali. A sweet boy, laundry boy, gamer, Arabic learner, futsal and pingpong player, guitarist, and of course, my son #teuteup

Setelah berhasil foto bareng beberapa kali, saya pulang membawa pesan cinta darinya, “Piagam penghargaan ini buat Ibu. Hadiah uangnya tentu buat Ali …”

Selamat, Ali. Semoga langkahmu selalu dinaungi kebaikan dan rasa tenang.

Ibu mulai menyiapkan cadangan energi, nih, bakal punya anak SMA lagi.

Hehe …