Gombali Aku

Saat buku Marriage with Heart hendak naik cetak, aku bikin voting di FB. Kupajang daftar isinya, kutanyakan bagian mana yang paling menarik. Yang dapat suara terbanyak akan kubagikan untuk icip-icip. Teman-temanku yang baik hati pun menyambutnya, ini dia pemenangnya.

Marriage with Heart“Gombali Aku”, halaman 170.

Sepasang suami istri, masing-masing berumur 75 tahun. Sejak lama, sang suami memanggil istrinya “Mung” dan tak seorang pun tahu apa artinya.

Suatu hari salah satu cicitnya yang sudah remaja bertanya, “Eyang, kok Eyang Putri dipanggil ‘Mung’? Kan namanya bukan itu.”

Sambil melirik mesra istrinya, kakek itu menyahut, “Mung artinya mungil. Dari dulu sampai sekarang dia masih mungil.”

Nenek keriput di sebelahnya tersipu.

Jangan mau kalah!

Semua orang suka digombali. Pastikan pasangan Anda dapat porsi yang memuaskan, sehingga tak perlu cari gombalan dari orang lain.

Perlu inspirasi?

Saya sudah kumpulkan beberapa rahasia. Pilih saja, mana yang bisa dilakukan di muka umum dan mana yang sebaiknya Anda berdua saja yang tahu. Di zaman eksis narsis di media sosial seperti saat ini, kadang kita lupa, mana kemesraan yang bisa disajikan di depan publik, mana yang sebaiknya hanya jadi milik berdua.

Bagaimanapun, punya rahasia berdua itu selalu perlu. Anda akan merasa spesial baginya, karena hanya Anda yang tahu. Kalau semua hal diumumkan kepada dunia, mana dong yang disebut istimewa dan hanya milik kita berdua?

Marriage with Heart-Gombali AkuNah, beri tanda centang untuk hal romantis yang pernah atau sering Anda lakukan di muka umum atau saat berdua saja. Isi kolom kosong dengan ide romantis lain.

Anda mungkin berkomentar, “Ah, lebay!” untuk beberapa hal dalam tabel ini. (Tabelnya ada dua halaman. Mau yang lengkap? Miliki bukunya #modus)

Lho, demi romantisme, lebay sedikit bukan masalah. Sedikit saja, kok. Takar-takar saja.

Sesekali lebay bagi suami istri itu wajib adanya. Jika tak pernah lebay, itu sih rekan kerja namanya.

Lagi pula, itu kan hanya contoh. Romantisme bahkan bisa tercipta hanya dengan satu kedipan mata.

—-

Informasi buku

Judul: Marriage with Heart: Hidup Bersama, Bahagia, Bermakna

Penulis: Elia Daryati dan Anna Farida

Penyunting: Ahmad Baiquni

Penerbit: Kaifa

Jumlah halaman: 203

Harga: Rp45.000,00

Tahun: 2015

Museum: Sebenarnya Buat Apa?

Museum Satriamandala

Museum Satriamandala

Peringatan: Tulisan ini mengandung omelan. Mohon maaf sebelumnya dan sesudahnya 😀

Libur Lebaran tahun ini, kami mengajak anak-anak keliling museum di Jakarta. Ceritanya, aku dan suami mengemban misi adiluhung, memperkenalkan cuilan sejarah kepada generasi muda.

Agar perjalanan sangkil dan mangkus, Zaky (17) mengumpulkan informasi jam kunjungan dan alamatnya. Rata-rata museum buka pagi hingga asar, banyak yang tutup hari Senin. Hasilnya, selama empat hari, kami mengunjungi 12 lokasi:

1. Museum Kesejarahan (Fatahillah)

2. Museum Wayang

3. Museum Seni Rupa dan Keramik

4. Museum Bank Indonesia

5. Museum Katedral

6. Masjid Istiqlal

7. Museum Layang-layang

8. Museum Satriamandala

9. Museum Nasional (Museum Gajah)

10. Stasiun (Kereta Api) Kota Tua

11. Museum Bank Mandiri

12. Museum Bahari

Detail informasi dan pengalaman seru di setiap museum akan kuceritakan terpisah. Nanti 12 nomor di atas bisa Anda klik. Nyicil, sabar.

Kembali ke tur museum nan gegap gempita.

Karena baru H+3 Lebaran, terbayanglah suasana jalan-jalan yang seru, akademis, tenang, nyaman, dan sepi.

Eh, ternyata tiga kata terakhir itu hanya mitos, haha.

Tujuan hari pertama adalah Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Fatahillah, dan Museum Bank Indonesia. Tiga museum pertama berdekatan, di kawasan Kota Tua.

Begitu turun dari mobil, kami disergap udara panas. Maklum, Jakarta, gitu.

Yang tidak bisa bikin maklum adalah pemandangan sesudahnya.

Lapangan luas di depan Museum Fatahillah (nama resminya Museum Kesejarahan) penuh pengunjung. Padat pol!

Aneka atraksi digelar: debus, panggung boneka, foto bersama tokoh kartun dan film, keliling lapangan dengan sepeda zaman dulu … semua berbaur dengan pedagang asongan dan pengunjung yang menggelar tikar piknik. Di bawah semburan matahari yang terik.

Berharap bisa menyelamatkan diri dari keramaian, kami menuju museum.

Haish! Tiga museum sama-sama padat, dan kami harus antre untuk dapat tiket masuk.

OOT dulu dikit—sebenarnya nggak OOT juga, sih, masih nyambung, kok.

Sehari sebelumnya aku dapat cerita tentang seorang pemandu wisata Suriah. Dengan bangga dia bertutur bahwa Suriah sebenarnya terdiri dari dua negara: yang terletak di muka bumi dan di perut bumi. Negara yang sedang terdera ini sungguh kaya dengan khasanah arkeologi. Karenanya, mengunjungi museum di Suriah seharusnya jadi menu wajib wisatawan.

Sayang, sang pemandu wisata berkali-kali gagal paham ketika memandu rombongan turis Indonesia. Umumnya mereka tak berminat ke museum. Yang lebih sering mereka tanyakan adalah “Di mana pasar yang murah?”

Balik ke topik semula.

Melihat sesaknya antrean, sepintas aku bangga. Ternyata nggak segitunya orang Indonesia cinta pasar dan belanja. Buktinya mereka bersedia menunggu, tuh, untuk masuk museum.

Dan kebanggaan itu memang hanya sepintas.

Begitu berhasil masuk museum, “artefak” yang juga banyak kusaksikan di dalam adalah tongsis. Kegiatan yang lebih heboh dilakukan pengunjung adalah foto-foto narsis.

Museum Bahari

Museum Bahari

Sesekali berfoto tentu seru. Aku juga suka, lho, pasang foto narsis di media sosial.

Tapi ini, ya ampun, di setiap pajangan berpose, masing-masing bergantian lalu foto rombongan. Ada bule lewat pun disambar untuk foto bareng. Entah pakai minta izin entah tidak.

Di dalam Museum Wayang yang ingar bingar, berkali-kali aku dan Ubit (11) harus berdiskusi di telinga masing-masing. Berkali-kali juga kami harus mengalah kepada yang pingin selfie dan rombonganfie dengan benda bersejarah yang sedang kami amati atau kami baca keterangannya.

Ealah!

Aku kesel, tapi hanya bisa ngebatin, “Medsos dan telepon pintar benar-benar menggeser fungsi museum.”

Setelah menahan diri di Museum keramik, di Museum Fatahillah suara batinku meletup juga. Terjadilah ledakan kecil di sana. Bawaan aura mesiu, kali, haha. Kan aku dan anak-anak sedang mengelilingi sebuah meriam kuno.

Di depan meriam dengan jelas tertulis “Mohon Tidak Menyentuh Pajangan”.

Eh, tanpa peduli para pengunjung bukan hanya menyentuh, tapi juga menaiki meriam kuno dan pajangan lain.

Demi apa?

Demi berfoto. Bete banget!

Mau narsis di mana saja bebas, lah. Tapi mbok ya lihat-lihat benda apa yang dinaiki. Ada juga pengunjung yang melintasi tali pembatas untuk duduk penuh gaya di sebuah kursi tua, juga demi berpose.

Melanggar tali pembatas kok bangga. Haduh!

Coba kalau tali pembatasnya dialiri listrik. Beda, kali, efeknya huehehe.

Melihat polah para pengunjung yang bikin gemas, aku kepancing juga, deh.

Seolah memberi wejangan pada anak-anak, aku berorasi di tengah kerumunan.

“Ini benda bersejarah, barang kuno, penting banget. Disimpan di sini agar kita ingat apa jasanya. Coba baca keterangannya. Apa namanya, digunakan dalam peristiwa apa. Jadi, biar barangnya awet, taati aturan museum. Ada benda yang boleh disentuh ada yang tidak. Meriam ini tidak untuk dipegang-pegang. Coba lihat, jelas kan, tulisannya. Atau … yang dilarang kan menyentuhnya. Naikin sih nggak dilarang kali, ya?”

Orang-orang yang di dekat kami ikut tertawa. Tangan-tangan yang terjulur mulai mundur.

Ada beberapa wajah masam dan tatapan kesal tertuju padaku.

EGP.

Sambil menyusuri anak tangga, Ali (14) berkomentar, “Barusan Ibu agresif banget, sih.”

Huhah!

Walau sebenarnya omelanku lebih disebabkan oleh faktor “K” alias kelepasan, rasanya perlu ada yang bersedia bicara, walau risikonya tidak selalu menyenangkan. Setidaknya aku ingin anak-anakku tahu bagaimana memperlakukan museum dan isinya. Masing-masing tempat kan punya aturan.

Berkat ketabahan anak-anak di hari pertama, tur tiga hari berikutnya lebih nyaman. Mereka khidmat di Museum Katedral dan Masjid Istiqlal, berlarian riang mengitari pesawat tempur di halaman Museum Satriamandala, menjajal beberapa senjata model di sana, dan bertanya ini itu di Museum Bahari yang sepi dan sangat luas.

Lega.

Akhirnya kami dapat juga suasana museum yang tenang, teratur, menyenangkan. Museum Gajah pun ramai, alhamdulillah pengunjungnya jauh lebih tertib. Koleksinya yang tersebar di empat lantai bahkan tak bisa kami amati satu per satu. Kali ini betis yang mau meletus! Haha.

Nanti akan kuceritakan juga bagaimana pengelolaan masing-masing museum ini. Sejauh ini favorit anak-anak adalah Museum Layang-layang. Mereka antusias juga di Museum Wayang. Aku sih suka semua, tapi paling betah Museum Bank Indonesia dan lantai ke-4 Museum Gajah. Adem dan beraroma emas!

Bapak tentu memilih Museum Bahari dan tak henti bercerita tentang “nenek moyangku orang pelaut” dan misi Pinisi yang melegenda.

Kita beruntung punya banyak museum, tempat kita bisa berdialog dengan masa lampau, berbincang dengan kekayaan Indonesia. Tempat ini meneguhkan bukti bahwa kita ini bangsa besar, bukan hanya konsumen telepon pintar #halah mulai ngomel lagi.

Oh, ya. Kami juga menyempatkan diri menjajal KRL (Kereta Rel Listrik) alias komuter, Transjakarta, dan Kopaja. Sebenarnya pingin naik bajaj, tapi batal karena kendala teknis dalam membagi pasukan. Sesekali kami jalan kaki juga, menyusuri jalanan Jakarta di siang bolong, foto-foto, bagai turis dari manaaa, gitu.

Sekian untuk hari ini, bersambung dengan kisah dua belas lokasi misi tur museum. Janji, tidak pakai ngomel. Kaitkan jari di balik punggung, hehe.

Mencari Hilal: Buntu

Wikipedia

Wikipedia

“Menemukan itu diawali dengan mencari”

Potongan kalimat dalam lagu itu bikin mikir sok serius, gitu. Kapan, ya, terakhir kali saya melakukan pencarian dengan sungguh-sungguh. Jangan-jangan banyak hal yang begitu saja saya terima sebagai kebenaran. Jangan-jangan saya membela “kebenaran” itu dengan segenap keyakinan, kemudian menyampaikannya kepada orang lain, tanpa mempertanyakannya.

Soundtrack sebuah film kan lazim diperdengarkan di bagian akhir. Usai nonton, saya biasa membaca setiap nama yang muncul di bagian credit tittle. Dalam hati saya ucapkan selamat pada setiap orang yang terlibat dalam prosesnya, termasuk tukang angkut dan katering. Bahkan nama pawang hujan pun tercantum, lho. Keren!

Berkat lagu di atas, pesan film “Mencari Hilal” yang baru saja saya tonton jadi lebih kuat. Mahmud (Deddy Utomo) adalah veteran aktivis dakwah yang juga pemilik kios di pasar. Prinsipnya untuk hidup berdasarkan tuntunan Islam sungguh mulia. Ada yang bilang, tak banyak yang bersedia disebut agamis di zaman ini. Kesannya tidak canggih tidak kekinian—termasuk saya, kali!

Eh, tapi ini pendapat sotoy, as usual.

Dengan cara yang cenderung lugas, Mahmud menyampaikan pilihan hidupnya itu kepada orang-orang di sekitarnya. Ada yang suka ada yang jengah setengah mati. Biasa, kan. Ada orang yang nyaman mendengar ceramah, ada juga yang gatel kuping dan langsung pingin kabur. Apalagi kalau metode dakwah yang dipakai adalah ala Mahmud, misalnya ketika dia jadi penumpang bus.

Dialognya tidak persis begini, tapi kira-kira begini #halah

Mahmud: “Nak, sudah asar, saatnya salat. Sudah dua masjid kelewat.”

Sopir bus: “Ya, Pak, saya tahu.” (sambil minum)

Mahmud: “Lho, tidak puasa?”

Sopir bus: “Saya kan nyetir, bawa penumpang banyak. Kalau lemes atau ngantuk bisa celaka.”

Mahmud: “Di neraka itu isinya orang-orang yang mengabaikan salat, mengabaikan puasa, dan pezina. Jangan-jangan Nak Sopir ini pernah berzina?”

—– dialog berlangsung panas dan akhirnya … ——

Sopir Bus: “Turun! Turun dari bus saya!”

#buntu_1

Bagi Mahmud, (yang dia yakini sebagai) kebenaran harus disampaikan dan dibela, apa pun risikonya, termasuk kehilangan kehangatan dari anak bungsunya, Heli (Oka Antara).

Dialog ayah anak yang terjadi antara Mahmud dan Heli bikin saya ingat si sulung, haha. Tak jarang kami terjebak dalam model dialog konyol yang berakhir buntu.

Heli: “Kita kesasar lagi. Sebenarnya kita ini mau ke mana, Pak?”

Mahmud: “Semua ada hikmahnya. Kita kesasar juga kehendak Allah.”

Heli: “Ya tapi kalau alamatnya jelas kan tidak perlu buang waktu.”

Mahmud: “Tidak ada istilah buang waktu jika semua diniatkan ibadah.”

#buntu_2

Banyak dialog #buntu lain yang bisa Anda simak dalam film ini. Satire tentang (pemahaman terhadap) agama dengan balutan kepentingan politik dan ekonomi juga disajikan. Beberapa adegan bikin nyengir karena memang demikianlah yang terjadi di sekitar saya. Berbuat baik demi menggaet perolehan suara dalam pileg, membubarkan ibadah penganut agama lain dengan kekerasan, hingga mengecam tradisi setempat dengan tudingan bidah.

Dengan paparan yang sederhana, film ini memberikan gambaran sepintas tentang keseharian kita. Tersampaikan juga kepedulian masyarakat awam tentang dana miliaran untuk sidang menentukan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal. Saya juga baru tahu ongkosnya semahal itu!

Dialog buntu antara Mahmud dan Heli memperlihatkan kesenjangan komunikasi antar generasi. Mahmud dengan nostalgia masa lalu, Heli sang aktivis lingkungan dengan pandangan “mendunia”–yang disindir kakaknya, “Jauh-jauh mau nyelamatin lingkungan di Nicaragua, wong ngurus bapaknya saja nggak bisa.”

Dua kebaikan yang tidak dikomunikasikan dengan baik. Dua generasi yang yakin dengan kebenarannya masing-masing, tak bersedia saling mencari.

Itu dia!

Bersedia mencari, tidak merasa benar sendiri.

Itu dua pesan yang saya peroleh setelah dapat undangan pemutaran perdana “Mencari Hilal” bersama teman-teman penulis, blogger, wartawan, dan kalangan keren lain. Wih, berasa jadi seleb, walau harus keliling cari jalan masuk ke lokasi. Sekali tukang nyasar tetap tukang nyasar :-p

Filmnya bagus, bisa dipahami dari berbagai sisi yang Anda sukai. Yang tidak saya pahami adalah seorang penonton yang sibuk dengan gawai berlayar lebar di depan saya. Mungkin beliau bikin review on the spot via FB, hehe. Tapi pantulan cahayanya kan menganggu. Negur langsung mana berani, sekarang ngomel di sini. Indonesia bangeeet #eh

Data film bisa Anda cari sendiri melalui peramban masing-masing. Tonton filmnya, temukan aroma Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi dalam setiap adegannya. Saya sih berharap segera dapat syair soundtrack-nya.

Punya Bayi Baru

kucing-2 Merawat Kucing Baru LahirGenap sehari semalam aku punya bayi baru.

Kemarin, saat siang sedang panas, aku mendengar suara “Buk!” dari teras.

Ternyata pot tanaman cincau terguling, tanahnya berhamburan. Ada kucing lari dari sana, dan dia segera jadi tertuduh.

For your information, aku tak suka kucing. Alasannya banyak, dari yang paling lumrah hingga yang paling pribadi. Beberapa temanku tahu bahwa my favourite pet is cow.

Eh … ternyata di balik pot ada bayi kucing merayap-rayap. Masih keciiil … matanya belum terbuka. Ketika kuangkat, pusarnya sudah kering tapi belum putus sempurna.

Waduh, berarti tadi itu induknya, dan ternyata dia masih ada di dekat Tempat Kejadian Perkara.

Sambil takut-takut, bareng Zaky, kudekatkan si bayi kepada induknya.

Dia hanya mengendus anaknya dan menjauh. Kudekatkan lagi, diendus lagi, dan ditinggalkan lagi.

Bagaimana ini? Sementara si bayi mengeong tanpa henti.

Kuputuskan untuk menghubungi Harlia Hasjim, temanku yang berprofesi sebagai pawang sekaligus kolektor (foto) kucing. Serem aja kalau bayi itu sampai mati di rumahku.

Harley segera memberikan saran SOS yang terpaksa kupatuhi dengan saksama.

Cara darurat merawat bayi kucing:

  1. Siapkan kardus bekas, beri alas kertas koran. Kain boleh, tapi kertas lebih aman. Kain bisa dingin ketika basah, dan kertas bisa langsung dibuang ketika kotor.
  2. Beli susu bayi 0-6 bulan, kali ini aku berterima kasih kepada sufor. Bikin susu sedikit-sedikit, berikan dengan pipet atau dot kucing (bisa diperoleh di petshop). Aku pakai pipet saja yang mudah dibeli di apotek. Minumkan perlahan dari arah samping mulutnya.
  3. Agar tangannya tidak menggapai-gapai ingin memeluk Anda, bungkus si bayi dengan kain.
  4. Kasih susu 2-3 jam sekali. Jika kenyang, dia akan lebih banyak tidur.
  5. Ketika malam, hangatkan dia dengan lampu belajar. Jadi seperti inkubator gitu, deh. Ubit bilang “Kasih minyak kayu putih juga, Bu.”

Setelah berjuang dan berdoa, susu berhasil diminumkan. Beberapa kali tumpah berantakan, tentu. Begitu sore menjelang, aku mulai sibuk menyiapkan peraduan sang bayi. Anak-anak senang dapat kegiatan baru sekaligus heran.

“Kok Ibu mendadak care gini. Bukannya nggak suka kucing?” tanya Ali.

“Tetap nggak suka, tapi kan kasihan lihat bayi nggak punya emak. Tar kalau sudah bisa cari makan sendiri pasti Ibu lepaskan.”

“Kita pelihara saja, Bu!” seru si bungsu.

Never, Dear. Never.”

Semalaman berkali-kali anak-anak menengok adik baru mereka. Dia tidur di teras, tak kuizinkan masuk rumah. Percayalah, boksnya hangat sekali.

Lega, dia berhasil melewati malam.

Aku sungguh berharap ibunya datang menjemputnya. Semoga dia memperoleh hidayah keibuan yang nyata. Halah banget.

Aku tidak akan memeliharanya dalam waktu lama.

Jadi, jika Anda berminat mengadopsinya, kutunggu dengan bahagia.

Kukasih bonus susu formula.

Pemutakhiran berita gembira:

Bayi bungsu sudah diadopsi teman Ali yang punya tiga kucing. Sudah melek, makin lincah, kian kuat. Anak-anak melepas adik mereka dengan gaya masing-masing. Genap seminggu dia bersama kami, semoga bahagia dengan keluarga yang baru, ya, Pus. Kami sempat menamainya Romadon, ternyata perempuan 😀

Kini, ketika kulihat sisi rak sepatu yang kosong, kurasa ada rumpang dalam hatiku #AnotherHalah

IMG_20150705_172742

Saat masih merem

IMG_20150711_141917

Sudah buka mata dan memandangi ibunya :-p

IMG-20150712-WA0006

Say good bye. Kirim-kirim WA, ya, Sis :-p