Punya Bayi Baru

kucing-2 Merawat Kucing Baru LahirGenap sehari semalam aku punya bayi baru.

Kemarin, saat siang sedang panas, aku mendengar suara “Buk!” dari teras.

Ternyata pot tanaman cincau terguling, tanahnya berhamburan. Ada kucing lari dari sana, dan dia segera jadi tertuduh.

For your information, aku tak suka kucing. Alasannya banyak, dari yang paling lumrah hingga yang paling pribadi. Beberapa temanku tahu bahwa my favourite pet is cow.

Eh … ternyata di balik pot ada bayi kucing merayap-rayap. Masih keciiil … matanya belum terbuka. Ketika kuangkat, pusarnya sudah kering tapi belum putus sempurna.

Waduh, berarti tadi itu induknya, dan ternyata dia masih ada di dekat Tempat Kejadian Perkara.

Sambil takut-takut, bareng Zaky, kudekatkan si bayi kepada induknya.

Dia hanya mengendus anaknya dan menjauh. Kudekatkan lagi, diendus lagi, dan ditinggalkan lagi.

Bagaimana ini? Sementara si bayi mengeong tanpa henti.

Kuputuskan untuk menghubungi Harlia Hasjim, temanku yang berprofesi sebagai pawang sekaligus kolektor (foto) kucing. Serem aja kalau bayi itu sampai mati di rumahku.

Harley segera memberikan saran SOS yang terpaksa kupatuhi dengan saksama.

Cara darurat merawat bayi kucing:

  1. Siapkan kardus bekas, beri alas kertas koran. Kain boleh, tapi kertas lebih aman. Kain bisa dingin ketika basah, dan kertas bisa langsung dibuang ketika kotor.
  2. Beli susu bayi 0-6 bulan, kali ini aku berterima kasih kepada sufor. Bikin susu sedikit-sedikit, berikan dengan pipet atau dot kucing (bisa diperoleh di petshop). Aku pakai pipet saja yang mudah dibeli di apotek. Minumkan perlahan dari arah samping mulutnya.
  3. Agar tangannya tidak menggapai-gapai ingin memeluk Anda, bungkus si bayi dengan kain.
  4. Kasih susu 2-3 jam sekali. Jika kenyang, dia akan lebih banyak tidur.
  5. Ketika malam, hangatkan dia dengan lampu belajar. Jadi seperti inkubator gitu, deh. Ubit bilang “Kasih minyak kayu putih juga, Bu.”

Setelah berjuang dan berdoa, susu berhasil diminumkan. Beberapa kali tumpah berantakan, tentu. Begitu sore menjelang, aku mulai sibuk menyiapkan peraduan sang bayi. Anak-anak senang dapat kegiatan baru sekaligus heran.

“Kok Ibu mendadak care gini. Bukannya nggak suka kucing?” tanya Ali.

“Tetap nggak suka, tapi kan kasihan lihat bayi nggak punya emak. Tar kalau sudah bisa cari makan sendiri pasti Ibu lepaskan.”

“Kita pelihara saja, Bu!” seru si bungsu.

Never, Dear. Never.”

Semalaman berkali-kali anak-anak menengok adik baru mereka. Dia tidur di teras, tak kuizinkan masuk rumah. Percayalah, boksnya hangat sekali.

Lega, dia berhasil melewati malam.

Aku sungguh berharap ibunya datang menjemputnya. Semoga dia memperoleh hidayah keibuan yang nyata. Halah banget.

Aku tidak akan memeliharanya dalam waktu lama.

Jadi, jika Anda berminat mengadopsinya, kutunggu dengan bahagia.

Kukasih bonus susu formula.

Pemutakhiran berita gembira:

Bayi bungsu sudah diadopsi teman Ali yang punya tiga kucing. Sudah melek, makin lincah, kian kuat. Anak-anak melepas adik mereka dengan gaya masing-masing. Genap seminggu dia bersama kami, semoga bahagia dengan keluarga yang baru, ya, Pus. Kami sempat menamainya Romadon, ternyata perempuan 😀

Kini, ketika kulihat sisi rak sepatu yang kosong, kurasa ada rumpang dalam hatiku #AnotherHalah

IMG_20150705_172742

Saat masih merem

IMG_20150711_141917

Sudah buka mata dan memandangi ibunya :-p

IMG-20150712-WA0006

Say good bye. Kirim-kirim WA, ya, Sis :-p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s