Mencari Hilal: Buntu

Wikipedia

Wikipedia

“Menemukan itu diawali dengan mencari”

Potongan kalimat dalam lagu itu bikin mikir sok serius, gitu. Kapan, ya, terakhir kali saya melakukan pencarian dengan sungguh-sungguh. Jangan-jangan banyak hal yang begitu saja saya terima sebagai kebenaran. Jangan-jangan saya membela “kebenaran” itu dengan segenap keyakinan, kemudian menyampaikannya kepada orang lain, tanpa mempertanyakannya.

Soundtrack sebuah film kan lazim diperdengarkan di bagian akhir. Usai nonton, saya biasa membaca setiap nama yang muncul di bagian credit tittle. Dalam hati saya ucapkan selamat pada setiap orang yang terlibat dalam prosesnya, termasuk tukang angkut dan katering. Bahkan nama pawang hujan pun tercantum, lho. Keren!

Berkat lagu di atas, pesan film “Mencari Hilal” yang baru saja saya tonton jadi lebih kuat. Mahmud (Deddy Utomo) adalah veteran aktivis dakwah yang juga pemilik kios di pasar. Prinsipnya untuk hidup berdasarkan tuntunan Islam sungguh mulia. Ada yang bilang, tak banyak yang bersedia disebut agamis di zaman ini. Kesannya tidak canggih tidak kekinian—termasuk saya, kali!

Eh, tapi ini pendapat sotoy, as usual.

Dengan cara yang cenderung lugas, Mahmud menyampaikan pilihan hidupnya itu kepada orang-orang di sekitarnya. Ada yang suka ada yang jengah setengah mati. Biasa, kan. Ada orang yang nyaman mendengar ceramah, ada juga yang gatel kuping dan langsung pingin kabur. Apalagi kalau metode dakwah yang dipakai adalah ala Mahmud, misalnya ketika dia jadi penumpang bus.

Dialognya tidak persis begini, tapi kira-kira begini #halah

Mahmud: “Nak, sudah asar, saatnya salat. Sudah dua masjid kelewat.”

Sopir bus: “Ya, Pak, saya tahu.” (sambil minum)

Mahmud: “Lho, tidak puasa?”

Sopir bus: “Saya kan nyetir, bawa penumpang banyak. Kalau lemes atau ngantuk bisa celaka.”

Mahmud: “Di neraka itu isinya orang-orang yang mengabaikan salat, mengabaikan puasa, dan pezina. Jangan-jangan Nak Sopir ini pernah berzina?”

—– dialog berlangsung panas dan akhirnya … ——

Sopir Bus: “Turun! Turun dari bus saya!”

#buntu_1

Bagi Mahmud, (yang dia yakini sebagai) kebenaran harus disampaikan dan dibela, apa pun risikonya, termasuk kehilangan kehangatan dari anak bungsunya, Heli (Oka Antara).

Dialog ayah anak yang terjadi antara Mahmud dan Heli bikin saya ingat si sulung, haha. Tak jarang kami terjebak dalam model dialog konyol yang berakhir buntu.

Heli: “Kita kesasar lagi. Sebenarnya kita ini mau ke mana, Pak?”

Mahmud: “Semua ada hikmahnya. Kita kesasar juga kehendak Allah.”

Heli: “Ya tapi kalau alamatnya jelas kan tidak perlu buang waktu.”

Mahmud: “Tidak ada istilah buang waktu jika semua diniatkan ibadah.”

#buntu_2

Banyak dialog #buntu lain yang bisa Anda simak dalam film ini. Satire tentang (pemahaman terhadap) agama dengan balutan kepentingan politik dan ekonomi juga disajikan. Beberapa adegan bikin nyengir karena memang demikianlah yang terjadi di sekitar saya. Berbuat baik demi menggaet perolehan suara dalam pileg, membubarkan ibadah penganut agama lain dengan kekerasan, hingga mengecam tradisi setempat dengan tudingan bidah.

Dengan paparan yang sederhana, film ini memberikan gambaran sepintas tentang keseharian kita. Tersampaikan juga kepedulian masyarakat awam tentang dana miliaran untuk sidang menentukan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal. Saya juga baru tahu ongkosnya semahal itu!

Dialog buntu antara Mahmud dan Heli memperlihatkan kesenjangan komunikasi antar generasi. Mahmud dengan nostalgia masa lalu, Heli sang aktivis lingkungan dengan pandangan “mendunia”–yang disindir kakaknya, “Jauh-jauh mau nyelamatin lingkungan di Nicaragua, wong ngurus bapaknya saja nggak bisa.”

Dua kebaikan yang tidak dikomunikasikan dengan baik. Dua generasi yang yakin dengan kebenarannya masing-masing, tak bersedia saling mencari.

Itu dia!

Bersedia mencari, tidak merasa benar sendiri.

Itu dua pesan yang saya peroleh setelah dapat undangan pemutaran perdana “Mencari Hilal” bersama teman-teman penulis, blogger, wartawan, dan kalangan keren lain. Wih, berasa jadi seleb, walau harus keliling cari jalan masuk ke lokasi. Sekali tukang nyasar tetap tukang nyasar :-p

Filmnya bagus, bisa dipahami dari berbagai sisi yang Anda sukai. Yang tidak saya pahami adalah seorang penonton yang sibuk dengan gawai berlayar lebar di depan saya. Mungkin beliau bikin review on the spot via FB, hehe. Tapi pantulan cahayanya kan menganggu. Negur langsung mana berani, sekarang ngomel di sini. Indonesia bangeeet #eh

Data film bisa Anda cari sendiri melalui peramban masing-masing. Tonton filmnya, temukan aroma Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi dalam setiap adegannya. Saya sih berharap segera dapat syair soundtrack-nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s