Museum: Sebenarnya Buat Apa?

Museum Satriamandala

Museum Satriamandala

Peringatan: Tulisan ini mengandung omelan. Mohon maaf sebelumnya dan sesudahnya 😀

Libur Lebaran tahun ini, kami mengajak anak-anak keliling museum di Jakarta. Ceritanya, aku dan suami mengemban misi adiluhung, memperkenalkan cuilan sejarah kepada generasi muda.

Agar perjalanan sangkil dan mangkus, Zaky (17) mengumpulkan informasi jam kunjungan dan alamatnya. Rata-rata museum buka pagi hingga asar, banyak yang tutup hari Senin. Hasilnya, selama empat hari, kami mengunjungi 12 lokasi:

1. Museum Kesejarahan (Fatahillah)

2. Museum Wayang

3. Museum Seni Rupa dan Keramik

4. Museum Bank Indonesia

5. Museum Katedral

6. Masjid Istiqlal

7. Museum Layang-layang

8. Museum Satriamandala

9. Museum Nasional (Museum Gajah)

10. Stasiun (Kereta Api) Kota Tua

11. Museum Bank Mandiri

12. Museum Bahari

Detail informasi dan pengalaman seru di setiap museum akan kuceritakan terpisah. Nanti 12 nomor di atas bisa Anda klik. Nyicil, sabar.

Kembali ke tur museum nan gegap gempita.

Karena baru H+3 Lebaran, terbayanglah suasana jalan-jalan yang seru, akademis, tenang, nyaman, dan sepi.

Eh, ternyata tiga kata terakhir itu hanya mitos, haha.

Tujuan hari pertama adalah Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Fatahillah, dan Museum Bank Indonesia. Tiga museum pertama berdekatan, di kawasan Kota Tua.

Begitu turun dari mobil, kami disergap udara panas. Maklum, Jakarta, gitu.

Yang tidak bisa bikin maklum adalah pemandangan sesudahnya.

Lapangan luas di depan Museum Fatahillah (nama resminya Museum Kesejarahan) penuh pengunjung. Padat pol!

Aneka atraksi digelar: debus, panggung boneka, foto bersama tokoh kartun dan film, keliling lapangan dengan sepeda zaman dulu … semua berbaur dengan pedagang asongan dan pengunjung yang menggelar tikar piknik. Di bawah semburan matahari yang terik.

Berharap bisa menyelamatkan diri dari keramaian, kami menuju museum.

Haish! Tiga museum sama-sama padat, dan kami harus antre untuk dapat tiket masuk.

OOT dulu dikit—sebenarnya nggak OOT juga, sih, masih nyambung, kok.

Sehari sebelumnya aku dapat cerita tentang seorang pemandu wisata Suriah. Dengan bangga dia bertutur bahwa Suriah sebenarnya terdiri dari dua negara: yang terletak di muka bumi dan di perut bumi. Negara yang sedang terdera ini sungguh kaya dengan khasanah arkeologi. Karenanya, mengunjungi museum di Suriah seharusnya jadi menu wajib wisatawan.

Sayang, sang pemandu wisata berkali-kali gagal paham ketika memandu rombongan turis Indonesia. Umumnya mereka tak berminat ke museum. Yang lebih sering mereka tanyakan adalah “Di mana pasar yang murah?”

Balik ke topik semula.

Melihat sesaknya antrean, sepintas aku bangga. Ternyata nggak segitunya orang Indonesia cinta pasar dan belanja. Buktinya mereka bersedia menunggu, tuh, untuk masuk museum.

Dan kebanggaan itu memang hanya sepintas.

Begitu berhasil masuk museum, “artefak” yang juga banyak kusaksikan di dalam adalah tongsis. Kegiatan yang lebih heboh dilakukan pengunjung adalah foto-foto narsis.

Museum Bahari

Museum Bahari

Sesekali berfoto tentu seru. Aku juga suka, lho, pasang foto narsis di media sosial.

Tapi ini, ya ampun, di setiap pajangan berpose, masing-masing bergantian lalu foto rombongan. Ada bule lewat pun disambar untuk foto bareng. Entah pakai minta izin entah tidak.

Di dalam Museum Wayang yang ingar bingar, berkali-kali aku dan Ubit (11) harus berdiskusi di telinga masing-masing. Berkali-kali juga kami harus mengalah kepada yang pingin selfie dan rombonganfie dengan benda bersejarah yang sedang kami amati atau kami baca keterangannya.

Ealah!

Aku kesel, tapi hanya bisa ngebatin, “Medsos dan telepon pintar benar-benar menggeser fungsi museum.”

Setelah menahan diri di Museum keramik, di Museum Fatahillah suara batinku meletup juga. Terjadilah ledakan kecil di sana. Bawaan aura mesiu, kali, haha. Kan aku dan anak-anak sedang mengelilingi sebuah meriam kuno.

Di depan meriam dengan jelas tertulis “Mohon Tidak Menyentuh Pajangan”.

Eh, tanpa peduli para pengunjung bukan hanya menyentuh, tapi juga menaiki meriam kuno dan pajangan lain.

Demi apa?

Demi berfoto. Bete banget!

Mau narsis di mana saja bebas, lah. Tapi mbok ya lihat-lihat benda apa yang dinaiki. Ada juga pengunjung yang melintasi tali pembatas untuk duduk penuh gaya di sebuah kursi tua, juga demi berpose.

Melanggar tali pembatas kok bangga. Haduh!

Coba kalau tali pembatasnya dialiri listrik. Beda, kali, efeknya huehehe.

Melihat polah para pengunjung yang bikin gemas, aku kepancing juga, deh.

Seolah memberi wejangan pada anak-anak, aku berorasi di tengah kerumunan.

“Ini benda bersejarah, barang kuno, penting banget. Disimpan di sini agar kita ingat apa jasanya. Coba baca keterangannya. Apa namanya, digunakan dalam peristiwa apa. Jadi, biar barangnya awet, taati aturan museum. Ada benda yang boleh disentuh ada yang tidak. Meriam ini tidak untuk dipegang-pegang. Coba lihat, jelas kan, tulisannya. Atau … yang dilarang kan menyentuhnya. Naikin sih nggak dilarang kali, ya?”

Orang-orang yang di dekat kami ikut tertawa. Tangan-tangan yang terjulur mulai mundur.

Ada beberapa wajah masam dan tatapan kesal tertuju padaku.

EGP.

Sambil menyusuri anak tangga, Ali (14) berkomentar, “Barusan Ibu agresif banget, sih.”

Huhah!

Walau sebenarnya omelanku lebih disebabkan oleh faktor “K” alias kelepasan, rasanya perlu ada yang bersedia bicara, walau risikonya tidak selalu menyenangkan. Setidaknya aku ingin anak-anakku tahu bagaimana memperlakukan museum dan isinya. Masing-masing tempat kan punya aturan.

Berkat ketabahan anak-anak di hari pertama, tur tiga hari berikutnya lebih nyaman. Mereka khidmat di Museum Katedral dan Masjid Istiqlal, berlarian riang mengitari pesawat tempur di halaman Museum Satriamandala, menjajal beberapa senjata model di sana, dan bertanya ini itu di Museum Bahari yang sepi dan sangat luas.

Lega.

Akhirnya kami dapat juga suasana museum yang tenang, teratur, menyenangkan. Museum Gajah pun ramai, alhamdulillah pengunjungnya jauh lebih tertib. Koleksinya yang tersebar di empat lantai bahkan tak bisa kami amati satu per satu. Kali ini betis yang mau meletus! Haha.

Nanti akan kuceritakan juga bagaimana pengelolaan masing-masing museum ini. Sejauh ini favorit anak-anak adalah Museum Layang-layang. Mereka antusias juga di Museum Wayang. Aku sih suka semua, tapi paling betah Museum Bank Indonesia dan lantai ke-4 Museum Gajah. Adem dan beraroma emas!

Bapak tentu memilih Museum Bahari dan tak henti bercerita tentang “nenek moyangku orang pelaut” dan misi Pinisi yang melegenda.

Kita beruntung punya banyak museum, tempat kita bisa berdialog dengan masa lampau, berbincang dengan kekayaan Indonesia. Tempat ini meneguhkan bukti bahwa kita ini bangsa besar, bukan hanya konsumen telepon pintar #halah mulai ngomel lagi.

Oh, ya. Kami juga menyempatkan diri menjajal KRL (Kereta Rel Listrik) alias komuter, Transjakarta, dan Kopaja. Sebenarnya pingin naik bajaj, tapi batal karena kendala teknis dalam membagi pasukan. Sesekali kami jalan kaki juga, menyusuri jalanan Jakarta di siang bolong, foto-foto, bagai turis dari manaaa, gitu.

Sekian untuk hari ini, bersambung dengan kisah dua belas lokasi misi tur museum. Janji, tidak pakai ngomel. Kaitkan jari di balik punggung, hehe.

Advertisements

2 thoughts on “Museum: Sebenarnya Buat Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s