KENA TUDING

Ubit saat 3 tahun

Ubit saat 3 tahun

Kupikir cerita ini biasa saja.

Aku hanya ingin ngobrol sama Ubit (11) dan terputus karena harus mengurus hal lain.

Eh, ternyata Ubit masih menunggu dan minta aku melanjutkan obrolan tadi. Upeng ikut tanya-tanya penasaran.

Baiklah, berarti ceritaku menarik dan layak dibagikan.

Kemarin aku antre di sebuah kantor.

Seorang nenek (sebenarnya masih muda untuk disebut nenek) duduk di sebelahku. Di bahunya tersandang tas perlengkapan bayi. Kue, botol susu, dan tisu basah menyembul dari setiap sisi.

Dia datang bersama balita lucu, mungkin 2-3 tahun. Matanya bulat, sepatu dan kaus kakinya biru tua.

Balita itu bergerak tanpa henti. Memanjat kursi, merangkak di kolong kursi, meraih apa pun dari atas meja informasi, merayap di lantai, dan membuka sepatu berulang kali.

Setelah mengangkatnya lagi dan lagi, sang nenek kehilangan kesabaran.

Dia dekati bocah itu, dengan gemas dicubitnya lengan sang cucu.

Tangis pun meledak.

Dengan kesal nenek itu duduk di sebelahku.

Walau tahu benar siapa yang baru saja menyakitinya, di antara tangisnya, balita itu tetap mengaduh, “Nenek … Nenek …”

Aku berharap sang nenek minta maaf dan membuatnya tenang dengan botol susu atau apa, gitu.

Eh, dengan sentakan ringan dia tegakkan cucu yang ada di pangkuannya, lantas dia hadapkan padaku.

Katanya, “Diam, nggak? Kalau nangis terus nanti disentil sama ibu ini!”

Lah!

Kok aku?

Nggak terima!

Ketemu baru sekali kok langsung dikasih peran penjahat di hadapan malaikat kecil.

“Hai … namanya siapa?” tanyaku ke si balita.

“Saya tidak akan nyentil dia, Bu. Buat apa?” ujarku ke sang nenek.

Tanpa menunggu jawaban beliau, kuajak ngobrol bocah lincah itu. Kugeser posisi duduk agar dia bisa meletakkan kepala di belakang punggungku.

“Lampu,” kataku perlahan.

“Lampu … lampu …” tirunya.

“Kursi,” aku terus berbisik.

Dia mengikuti setiap kata, dan perlahan matanya meredup. Jempol kanannya masuk mulut, dan mulailah dia mengisapnya.

Ooo, pantas sang nenek selalu sibuk mengusap jarinya dengan tisu basah.

“Capek, ya? Bobok … bobok …” kuusap punggungnya.

Sudah lama sekali aku tidak merayu anak kecil supaya mau tidur. Eh, ternyata suaraku masih cukup manjur. Entah karena bikin terlena, atau karena ada efek horornya huhaha.

Dia terkantuk-kantuk sampai sang nenek dipanggil dan bergegas ke meja layanan pelanggan. Gerakan mendadak itu membuatnya bangun. Begitu dilihatnya sang nenek tidak ada, balita itu melompat tangkas. Dia memanjat pangkuan neneknya, dan mulailah tangan kecil mengusik ini dan itu.

“Diem, atuh, lah. Kalau usil melulu, tar dimarahin ibu ini!”

Yak.

Kali ini petugas berparas molek jadi sasaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s