Game yang baik?

Di rumah saya, Jumat adalah hari mulia. Menu istimewa tersaji di meja makan, buah dan kue enak tersedia. Hari Jumat juga hari ibadah. Diharapkan anggota keluarga lebih banyak baca wirid dan Alquran, lebih seru meramaikan majelis ilmu, dan lebih khusyuk baca buku.

Hari Jumat pun jadi hari menahan diri dari kesenangan duniawi.  Artinya, anak-anak dikondisikan untuk tidak menyentuh game dan film-film yang bersifat hiburan. Jika sedang di rumah, Bapak berhenti nonton streaming movie. Ibu tidak nonton konser-konser musik, apalagi konsernya Josh Groban dan Il Volo :-p

Kami menyebutnya jeda, pause.

Berhenti bersenang-senang sehari dalam seminggu seharusnya sip-sip saja.

Itu harapan.

Kenyataannya, di antara kegiatan hiburan—terutama hiburan digital—yang sehari-hari menemani anak-anak, mengajak mereka berhenti main game bisa jadi tantangan besar. Di saat yang sama, anak-anak tak kurang akal agar tetap bisa berdekatan dengan komputer walau di hari Jumat. Salah satu cara ngeles mereka adalah belajar. Anak bungsu saya punya situs game interaktif yang jadi tempat dia “belajar” di hari Jumat, eheheh.

Jumat lalu, saya dan Luthfa—Upeng (8) cari-cari game yang bisa dimainkan di hari Jumat. Saya ajak dia cari game buatan Indonesia dulu. Dukung produk sendiri, dong!

Eh, ternyata banyak juga pilihannya.

Di urutan pertama pencarian ada Petualangan Boci. Kata petualangan rupanya menarik perhatiannya. Baiklah, mari kita cek, apa isinya.

Begitu di-klik, warna hijau cerah langsung menyambut kami.

Upeng mendekat dan bertanya, “Apa itu, Bu?”

“Ibu juga belum tahu. Ayo kita lihat bareng.”

Saya buka bagian “about” dan senang menemukan game yang menyertakan keterangan tentang peran orang tua. Semangat untuk menciptakan aplikasi yang bisa mendekatkan anak dan orang tua patut diberi bintang. Menu yang ditawarkan juga menarik: belajar menulis, belajar membaca, belajar berhitung, mewarnai, hingga teka-teki.

Anak-anak bisa terpancing untuk bertanya dan orang tua jadi punya bahan untuk memberikan penjelasan lebih luas.

Jadi, ketika anak main game, sebaiknya ibunya jangan sibuk chatting di grup melulu #sayaitusih. Sesekali libatkan diri dengan mereka, walau Anda serumpun dengan saya: bukan gamer.

Eh, saya kasih resep sedikit. Saya menuliskannya di buku “Parenting with Heart”.

Ketika anak main game, jangan pernah coba-coba jadi saingan. Bagi mereka, game yang sedang dimainkan adalah segalanya. Jangan mengecam game-nya, karena Anda akan dikecam pemainnya ahaha. Arahkan saja ke hal yang lebih produktif, misalnya ajak ngobrol tentang isinya (sebenarnya saya mau nulis “konten” tapi sayang kata itu belum masuk KBBI), siapa perancangnya, sampai jenis musik apa yang digunakannya.

Biasanya, ketika diajak ngobrol tentang hal yang berkaitan dengan game kesukaannya, dia akan lebih fokus kepada Anda. Di saat itulah, Anda boleh memintanya mandi, karena memang sudah sore, heheh.

Nah, mulai ke mana-mana.

Kembali ke Upeng yang sedang cari teman belajar.

Ketika dia ngoprek menunya, saya ngoprek informasi yang lain. Maklum, emak-emak kepo 😀

Saya cek nama-nama yang berperan menghadirkan Si Boci alias Bunglon Cilik ini. Di antara jenis pekerjaan yang lain, mengapa mereka memilih menciptakan game untuk anak. Tentu kita juga tahu, persaingan dunia ­game bukan hanya ketat tapi juga … (nggak tega, ah, nulisnya).

Sama-sama bisa bikin game, memilih muatan pendidikan adalah pilihan hebat. Padahal kan bikin game bermuatan perjudian bisa mendatangkan duit lebih banyak. Game yang nyerempet pornografi dan kekerasan juga lebih laku. Itu kabar yang saya dapat dari teman-teman di Next Generation yang aktif memantau muatan game, khususnya yang dimainkan anak-anak Indonesia.

Karena itu, sambil membaca jajaran nama para pencipta Petualangan Boci, saya bergumam, “Terima kasih. Semoga kalian tetap memberikan karya terbaik untuk anak-anak Indonesia, karya yang penuh berkah melimpah.”

Semoga kian banyak kreator game yang bersedia melakukan gerakan pendidikan. Setidaknya, ibuk-ibuk seperti saya yang tidak paham game ini bisa tenang sedikit. Iya, sedikit juga sangat berarti.

Sudah, ah, nanti jadi panjang lagi.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Game yang baik?

  1. Mbak Anna, anakku juga begitu. Malah si sulung sudah berniat akan menjadi pembuat gamer. Jatuh bangun beneran menghadapi hal ini. Yg sy coba tiupkan ke hatinya adalah, apa yg kita lakukan kelak ditanyakan di akhirat. Jadi walau jd game desainer harus bermanfaat. Misalnya buat anak seneng belajar.
    Nah reality nya, pembuat game adl gamer dimasa kecil,spt saat ini. Krn blom bisa bikin coding sendiri. Inilah yg kami hadapai tiap hari. Dan terus mencari celah dan solusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s