Pengasuhan Permisif

parenting with heart

parenting with heart

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Kita masuk ke materi-14. Semoga kulwap ini memberikan manfaat bagi kita semua dalam mengelola keluarga.

Bahasan kita kali ini adalah “Permissive Parenting”.

Rumpi dulu:
Suatu siang saya mengunjungi seorang kawan. Setelah saling menanyakan kabar, masuklah kami pada topik yang sangat menarik.

Teman saya itu berkata, “Saya sebenarnya tidak suka dengan gaya pengasuhan ala Barat yang memberikan kebebasan pada anak. Yang sering saya lihat, di tempat-tempat umum, misalnya pengajian, anak-anak bebas lompat sana sini tanpa permisi, berlarian hingga mengganggu jamaah. Padahal sudah bukan balita lagi. Orang tuanya saya lihat hanya bilang ‘hati-hati’ atau memanggil mereka, ‘sini, sini’. Ya mana mau, lah, namanya juga anak-anak. Pernah juga ada yang bertamu bawa anak 8 tahunan, dan anaknya itu ngoprek segala pernik saya. Ibunya hanya komentar, ‘dia penasaran, belum pernah lihat barang seperti itu.’ Kan beda, Mbak, penasaran dan tidak sopan. Kalau di rumah orang kan harus menghargai, gitu. Ya itu tuh, hasil pendidikan sok Barat yang kebablasan.”

Setop dulu, ngadem dulu.

Gaya pengasuhan memang tidak bisa pakai teknik all size. Ada gaya yang cocok diterapkan pada satu keluarga tapi bikin berantakan jika diterapkan di keluarga lain. Saya pernah menyaksikan orang tua yang setahu saya tidak pernah melarang anak-anaknya melakukan apa pun ketika mereka masih kecil-kecil. Saya amati, sikap kanak-kanak mereka tetap hidup, tetap usil, kadang bandel juga .  Tapi secara umum, kesantunan mereka terpelihara. Mereka seperti punya alarm kapan bisa ribut dan kapan perlu anteng. Usut punya usut, orang tua tadi memang layak jadi teladan anak-anaknya. Jadi tanpa beliau banyak bicara, sejak kecil anak-anak paham mana yang baik dan tidak.

Nah!
Bagaimana dengan kita? Eh, kita? Saya aja, kali

Bisakah kita juga membiarkan saja anak-anak melakukan apa saja dan berharap mereka menemukan jalan kebaikan?

Di buku “Parenting with Heart”, ada bahasan tentang gaya pengasuhan yang diusung oleh Diana Baumrind. Salah satunya adalah permissive parenting. Secara sederhana, orang tua bergaya permisif memberikan kebebasan pada anak seluasnya dan lupa memberikan tuntunan.

Bisa jadi orang tua permisif itu merasa sangat penuh cinta, penuh dukungan, dan menjadikan anak sebagai pusat kehidupan mereka. Anak bahkan memiliki kontrol atas orang tua. Wujudnya bisa macam-macam sesuai usia, mulai dari yang sederhana: nangis sampai keinginannya terpenuhi, mengancam akan merusak barang, hingga mengancam kabur dari rumah.

Orang tua dengan gaya ini memilih tidak berkonflik dengan anak daripada bikin aturan bersama untuk disepakati. Ketika anak bikin aturan sendiri dan dilanggar, tidak ada konsekuensi. Saat aturan berhasil ditegakkan pun tidak ada apresiasi. Kadang, saat terjepit, orang tua bahkan menyogok anak agar taat pada aturannya sendiri.

Ada kecenderungan bahwa dengan membiarkan anak mengatur diri sendiri, mereka akan tumbuh mandiri. Eh, tapi tunggu dulu, yang jadi teladan dan rujukan anak-anak mengatur diri itu siapa

Benar, pengasuhan adalah proses mendampingi anak menuju dewasa, agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan keunikannya masing-masing. Yang perlu kita catat adalah, pendampingan memestikan tuntunan. Anak-anak tetap mengharapkan kita hadir, memberikan panduan dan jadi panutan, karena dengan itu mereka akan merasa dicintai.

Lalu bagaimana?

  1. Tetapkan batasan, bahas dengan anak mengapa harus ada. Misalnya, anak balita seharusnya duduk tenang di kursi ketika di restoran. Dia tidak boleh berlarian karena berbahaya sekaligus tidak sopan. Anak 10 tahun seharusnya belum boleh nonton film tertentu, atau pulang ke rumah sebelum azan magrib. Batasan ini tidak bermaksud jahat, kan? Anak-anak justru memerlukannya agar merasa aman dan dicintai. Tentu kita tahu bagaimana cara yang baik untuk membahasnya dan menerapkannya. Sudah belajar materi komunikasi asertif, kan?
  2. Lihat keperluannya. Jika anak ingin berlarian ketika pertemuan keluarga sedang khusyuk, misalnya saat akad nikah atau sedang tahlilan, mungkin mereka memang sedang jenuh. Alihkan perhatiannya, penuhi keperluannya: beri dia kegiatan lain. Silakan berbagi pengalaman. Saya sih cukup memastikan anak-anak bawa buku—kadang bawa makanan kadang tidak. Setelah baca biasanya mereka tidur. Problem solved. Anak-anak saya yang lebih besar sudah pasti main hape :-p
  3. Bantu mereka. Kadang anak tidak bisa membahasakan perasaan dan lebih suka beraksi—misalnya memukul atau melempar sesuatu. Tugas pemandu tetap mengingatkan batasan dengan cara asertif, “Eit, seingat Ibu aturannya tidak pakai mukul, tidak pakai lempar barang. Lagi kesel banget, ya? Ibu bisa bantu apa?”
  4. Ummm … tar kepanjangan. Sudah dulu saja, nanti kita perdalam dengan tanya jawab bersama Bu Elia Daryati dan saya, eheheh.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Miliki bukunya segera.

Anda bisa mendaftarkan diri ikut kuliah via Whatsapp, gratis, hanya sejam dalam seminggu.  Japri 089650416212 (Suci Shofia) via WA.

Tanya jawab heboh tentang topik ini bisa Anda simak di blog Admin Kulwap Keluarga Sehati. Klik di sini.

Aku Cemburu

 

marriageSalam Sehati, Bapak Ibu. Apa kabar? Materi ke-13, nih!

Bandung mulai dingin, anak-anak beringus, ibunya pingin berselimut terus #malahcurhat.

Ada beberapa pertanyaan yang masuk tentang cemburu. Ada dengan terus terang lantang berkata “saya cemburu” ada pula yang malu-malu mengaku.

Nah, tak ada salahnya kita definisikan bersama, apa itu cemburu, mana yang sehat mana yang tidak.

Sebelumnya, jawab dalam hati, pernahkah kita merasa terancam (entah sedikit, sepintas, atau sangat) ketika pasangan terlihat berbincang ceria dengan lawan jenis—apalagi kalau lawan jenisnya itu terlihat ceria juga? Walaupun Anda percaya tidak ada apa-apa, dan pasangan Anda pun menyatakan biasa-biasa saja, tetap saja ada alarm bunyi, nguing … nguing … Emang nyamuk?

Rasa cemburu bisa sehat bisa tidak. Cemburu yang sehat bisa jadi sarana menjaga kekuatan komitmen pernikahan.

Dalam pernikahan, menghargai perasaan pasangan adalah wajib. Memang, komunikasi yang baik, terbuka, dan jujur akan jadi modal utama untuk mengarahkan cemburu ini menjadi hal yang baik. Cemburu yang baik juga bisa menjadi peringatan awal bagi pasangan agar tidak mengalami hal yang lebih buruk.

Jadi, perhatikan naluri pasangan Anda. Istri, misalnya. Dengarkan komentar suami. Mereka tahu seperti apa lelaki yang kagum pada perempuan. Jadi ketika dia memberi isyarat bahwa sebaiknya Anda tak perlu terlalu ramah pada seseorang, sebaiknya nurut, deh.

Begitu pula dengan para suami. Ketika istri berkomentar bahwa Nona itu terlalu berani mendekatkan diri pada Anda, sebaiknya dengarkan juga. Dia juga tahu bagaimana tingkah perempuan yang kagum pada seseorang. Peringatan seperti itu penting diperhatikan, jadi Anda tak lantas menyalahkan pasangan bahwa dia cemburu buta. Cek cek dulu, benar tidak kedekatan Anda dengan lawan jenis memang perlu dikomentari ehehe.

Cemburu yang buruk jauh berbeda. Isinya adalah membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain dan merasa tidak layak, tidak penting, tidak sebanding, tidak pede, pokoknya merasa kesaingan dan merasa kalah duluan gitu, deh.

Dua orang yang menikah kan masing-masing bawa masa lalu. Kadang masa lalu itu tidak menyenangkan, misalnya pernah diabaikan orang tua, pernah menghadapi perceraian orang tua, pernah putus cinta berkali-kali, pernah bercerai, bahkan pernah ditipu (calon) pasangan, misalnya. Biasanya, pengalaman buruk itu ikut berperan ketika rasa cemburu muncul. Misalnya, jangan-jangan perempuan itu seperti WIL yang membuat rumah tangga orang tuaku berantakan. Atau …kok sikap istriku ke bapak itu beda. Jadi ingat mantan yang dulu juga terlalu ramah dan ninggalin aku #hadeuh. Jadi, perilaku cemburu ini ada bumbu tidak sehatnya duluan.

Nah, rasa cemburu yang tidak sehat ini biasanya berujung pada kontrol yang berlebihan pada pasangan. Senyum dikit nggak boleh, pakai baju agak rapi ditanya melulu … hape pasangan di-kepoin melulu #eh

Nah, pasangan yang dicurigai melulu dicemburui melulu bisa jadi sesak napas, dong.

Ujung-ujungnya cari hiburan, aaah — hayooo, jangan pada berimajinasi liar, ya. Maksudnya pergi jalan-jalan sama anak-anak, kok 😀

Cemburu yang buruk melibatkan rasa tidak percaya dan tuduhan tak berdasar pada pasangan. Perilaku ini bikin pasangan menjauh, kan. Ada kian merasa tidak berharga hingga frustrasi, mau bermesraan juga canggung—kan sedang cemburu dan sedang tidak pede. Akibatnya, hubungan merenggang.

Jadi perhatikan.

Jika cemburu bikin hubungan tambah hangat, berarti cemburunya sehat. Jika Anda kian merasa bersemangat untuk memupuk cinta (pakai pupuk organik biar sehat ahahah), artinya cemburu berjalan pada relnya.

Sebaliknya, ketika cemburu berdampak merusak komunikasi, merusak rasa percaya diri, dan bikin uring-uringan tak pasti … lebih baik segera perbaiki posisi.

Kata Bu Elia Daryati, cinta sejati itu memerdekakan, bukan melulu memiliki. Cinta membuat kita bisa melakukan yang terbaik bagi pasangan. Aww so sweet.

Nah, bagaimana menjaga percik cemburu agar tetap sehat?

Jika pasangan Anda cemburu:

  • Segera evaluasi diri. Siapa tahu dia membunyikan alarm yang benar.
  • Hentikan hal yang tidak disukai pasangan (misalnya diskusi dengan teman yang dicemburui itu) untuk menunjukkan bahwa Anda mendahulukan kepentingan pernikahan. Setelah masalahnya clear, baru deh diskusi lagi #eh (nunggu peserta kulwap protes) ahaha
  • Tunjukkan cinta yang lebih bahkan lebay pada pasangan. Ingat, lebay kan tanda cinta #uhuk
  • Setelah tiga hal di atas dilakukan baru deh bicara baik-baik bahwa sebenarnya Anda tidak ada apa-apa, bahwa Anda tahu batasnya, daaan sebagainya. Kebanyakan pada langsung lompat ke poin ini, nih. Langsung ngajak diskusi. Lha wong sedang cemburu, kok, diajak diskusi. Ya tambah manyun

Sekarang bagaimana jika Anda yang cemburu?

  • Cemburu adalah masalah Anda dan pasangan, atau bahkan masalah Anda sendiri, karena pasangan sih tenang-tenang saja #duh. Jadi ceritakan masalah Anda pada teman-teman yang bisa dipercaya saja. Tak perlu jadi status di media sosial.
  • Jujurlah pada diri sendiri, tanyakan sebenarnya yang menyebabkan cemburu itu apanya? Jujur, ya. Perilaku pasangan yang memang perlu diberi kartu kuning, atau Anda merasa terancam dengan kedekatannya dengan orang lain? Atau … Anda yakin tidak sedang cari perhatian pasangan, kan? Caper itu wajib, lho. Tapi cemburu buat caper … rasanya saya kurang sreg. Ini saya, lhoo.
  • Sampaikan kepada pasangan bahwa Anda cemburu. Sampaikan secara terbuka, tak perlu sindir sana sindir sini. Pasangan Anda perlu tahu mana yang Anda suka dan tidak. Eits, tapi ingat, lakukan dulu dua poin di atas
  • Berdoalah, mohonlah perlindungan untuk pernikahan yang sedang dibina. Gelombang pasti ada, pastikan Anda lihai menari bersamanya – hayyaaah.

Mulai ke mana-mana, mari kita sudahi saja.

Materi ini saya sarikan dari petuah Dr. Gary and Barb Rosberg di sebuah artikel tentang pernikahan. Tentu pandangan pribadi saya ikut nyelip sekalian nebeng rumpi, gitu 😀

Kulwap ini disponsori oleh buku :Marriage With Heart” dan “Parenting With Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Miliki bukunya segera.

Resume tanya jawab yang bikin nyengir hangat tentang cemburu ada di blog admin kuliah via Whatsapp Keluarga Sehati. Sudah ikut jadi anggota kulwapnya? Gratis, lho.