Paraklita V

layout

Paraklita V – foto milik SCM

Begitu masuk ke dalam ruangan yang cenderung gelap, Upeng (8) menarik tangan saya dan berbisik, “Ini bioskop?”

Dia lupa pernah masuk ruang yang sama di acara serupa tahun lalu.

Setelah duduk dan menyaksikan tata panggung, dia masih bertanya, “Kita mau nonton film?”

Saya menggeleng sambil nyengir.

Sebenarnya sejak pagi Upeng dan Ubit sudah tahu kami mau nonton Paraklita, pentas teater anak. Rupanya bagi Upeng, nonton berarti bioskop, atau film, atau Youtube, atau Ganool—haha, kata terakhir ini sering jadi bahan tertawaan di rumah. Mohon maaf kepada para penggemarnya #tutupmuka.

Saya beruntung karena rasa penasaran Upeng segera terjawab. Panggung dibuka, cerita segera dimulai. Ingatannya tergugah, dan lirikan saya menangkap bibirnya membentuk bulatan, menyuarakan kata “Ooo”.

Saya biarkan dia cari posisi nyaman. Kisah dibuka dengan kehidupan pesantren yang teduh di zaman penjajahan Belanda. Sifat usil lima santrinya berbuah rangkaian peristiwa, termasuk serbuan Belanda ke pesantren. Tergambar suasana kala itu, walau samar anak-anak jadi tahu beratnya perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu.

Eh, di antara ketegangan ada tokoh Pak Lurah yang bikin gemas. Bagi anak-anak sih lucu karena gerak-geriknya mengundang tawa, dan bajunya kedodoran. Tapi bagi penonton dewasa, Pak Lurah ini bikin ingat pada tokoh manipulatif yang sering muncul di televisi #eehhh

Upeng dan Ubit khusyuk nonton, hanya mengaduk isi tas saya cari kue dan minuman saat jeda. Ketika paduan suara anak dengan kostum warna warni mulai menyanyi, Upeng terpesona. Tampangnya berganti-ganti antara serius, tersenyum, terbata-bata ikut bernyanyi, dan menggoyangkan kaki. Saya gatal pingin memotretnya. Biasa … buat nebeng eksis di media sosial, huehehe. Tapi tidak jadi, kok. Tak santun mengganggu penonton cilik yang sedang khidmat.

Karena itu pula, di antara musik dan alur cerita yang mengalir apik dan jeda yang tidak terasa, saya membatin syukur. Untung, ada sekolah yang mau repot menggelar acara seperti ini.

Sekolah Cerdas Muthahhari memberikan Upeng dan Ubit sentuhan manusiawi, bukan sekadar sentuhan grafis di layar. Menyaksikan anak sebayanya tampil dengan percaya diri akan memberinya pengalaman yang positif, insya Allah—suwer, saya mencoba mencari anak yang malu-malu di panggung, tidak nemu!

Semua tampil lepas, ceria, dan total, termasuk dua anak yang didorong di atas kursi roda—yah, basah deh, mata. Saat lazimnya panggung jadi ajang tampilnya anak-anak “berbakat” saja, panggung Paraklita V menjadi milik semua anak. Masing-masing menampilkan apa yang disukai apa yang diminati: drama, gitar, jimbe, karinding, paduan suara, bela diri, tarian daerah … kumplit!

Semua punya peran menebar kebahagiaan, senapas dengan nama acaranya. Kata Pak Ketua Yayasan yang memberikan sambutan, Paraklita artinya dia yang membawa kebahagiaan, merujuk pada Sang Nabi yang disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu—basah lagi deh, mata.

Tema “Azimat Keberuntungan” yang dimainkan tahun ini meninggalkan pesan beragam: cinta orang tua, cinta tanah air, setia kawan, komitmen, keberanian, bahkan pengarusutamaan gender!

Masih banyak cerita, yang tersampaikan sebagian dan yang tak terucap. Kalau saya tuliskan semua bisa jadi buku, deh! Terima kasih atas pertunjukan yang menyuburkan jiwa. Terima kasih, terima kasih.

Salam takzim,

Anna Farida

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s