Konsultasi Life Skill Pada Anak

BERBAGI LIFESKILLS DENGAN ANAK

Salam Sehati, Bapak Ibu
Kita masuk ke materi-19. Angka cantik, angka remaja yang segar 😀
Tema kita kali adalah Berbagi Life Skills Dengan Anak
Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal istilah kecakapan (hidup). Secara umum, definisinya adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara positif sehingga kita bisa menghadapi kebutuhan dan tantangan hidup sehari-hari, yang biasa maupun yang di luar kebiasaan. Kecakapan ini diperoleh melalui pendidikan, pembiasaan, atau pengalaman langsung.
Eh, saya punya cerita menarik. Saya akan samarkan kasusnya, tapi jika kau membacanya di mana pun, mohon ikhlas, ya, hueheh.
Saya berkunjung ke rumah seorang teman. Anaknya yang berusia 12 tahunan keluar memanggil tukang roti. Uang yang dia minta dari ibunya tak ada kembalian. Dia bingung karena tukang roti juga nyebelin, nggak mau tahu.
“Kasih aku uang pas atau nggak usah beli rotiku,” katanya (ini jelas saya buat-buat)
Akhirnya saya buka dompet, itung-itung nraktir ponakan. Uang receh saya kan selalu banyak.
Sambil malu-malu anak itu melesat ke dalam rumah sambil berterima kasih setelah diingatkan ibunya.
Kami melanjutkan obrolan dan telepon berdering. Ternyata anak itu menelepon ibunya – dari kamarnya.
Ibunya minta izin masuk sebentar.
Bukan saya kalau nggak kepo, jadi saya tanya, “Ada apa?”
Jawaban teman saya itu bikin melongo, “Itu, minta dioleskan roti. Kalau dia yang ngoles katanya berantakan.”
Kami ngobrol sebentar, dan telepon berdering lagi.
Yak, anaknya memanggil lagi. Kali ini lapor kalau internet lelet – dan hanya lapor saja.
Dua tiga kali lagi anak itu menelepon untuk minta ibunya membukakan kemasan keripik dan dia tidak nemu gunting dan membetulkan antena televisi.
Beberapa saat kemudian …
Bukan! Anda salah tebak. Anak itu tidak menelepon.
Ibunya yang menelepon dan bertanya, “Gimana, Kak? Tivinya sudah bagus?”
Saya melongo lebih lama.

Ooo … ternyata ini biangnya.

Saya buru-buru bikin catatan di hape, bahwa saya akan menulis tentang hal ini suatu hari. Anda apes sekaligus beruntung punya teman penulis – ada saja ide yang dia curi dari Anda 😀
Anak-anak perlu diajak belajar hidup berkualitas – diajak, ya, bukan diajari. Diberi teladan, bukan disuruh, karena orang tuanya juga selalu dalam proses meningkatkan kualitas hidup.
Kisah sederhana di atas memberikan gambaran betapa anak 12 tahun bisa nangis-nangis jika ibunya atau orang dewasa lain tidak ada untuk membantunya.
Saya tidak berani membayangkan anak seperti ini naik angkot sendiri, kemudian angkotnya rusak, dan dia diturunkan sebelum tujuan. Jika dia tidak bisa menelepon ke orang tuanya, apa yang akan dia lakukan?
Atau, dia mendadak harus di rumah sendiri karena sebab tertentu, atau dia harus menginap di rumah saudara lain tanpa ayah dan ibu, dan atau-atau yang lain.
Kecakapan hidup yang sangat sederhana ini baru teruji ketika anak lepas dari orang tua – sebentar atau lama.
Kecakapan dasar seperti menjaga kesehatan, memasak, tetap waspada dalam segala keadaan, ramah tanpa jadi gampangan, hingga mengelola uang perlu dikenalkan sejak dini.
Oh iya, komunikasi asertif dan disiplin adalah salah duanya.
Jadi, mari kita berdiskusi, apakah pernah ada yang mengalami kejadian serupa?
Apakah anak Bapak Ibu pernah mengalami hal yang menantang kecakapan hidupnya?
Apa yang Bapak Ibu lakukan untuk menumbuhkan kecakapan hidup mereka?

Salam takzim,
Anna Farida

uchishofia

Image result for life skill overcomingbyfaith.org

Kulwap Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart ke 19 kali ini bertema Berbagi Life Skills Dengan Anak. Sebagai orangtua pastinya kita berharap anak menjadi sosok yang mandiri dan bertanggung jawab. Berbagai cara bisa dilakukan salah satunya dengan mengajarkan kecakapan hidup (life skill). Mengajari mereka merapikan mainannya sendiri salah satunya, meskipun ada asisten rumah tangga di rumah. Memberikan mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya (kesulitan) sekecil apapun. Kebingungan memakai baju mana depan mana belakang, biarkan saja ia asyik dengan kesulitan tersebut. Boleh saja menawarkan diri untuk membantu, bukan “Udah sini, Ibu/Ayah aja yang pakaikan baju!”.

Yuk, simak konsultasi peserta Kulwap Keluarga Sehati berikut ini:

Anna Farida: Salam, Bapak Ibu. Bandung cerah. Kali ini saya dulu yang manggung, yaaa,  Bu Elia nyusul 🍃🌿Tanya 1:
Anak saya dua perempuan semua kelas 1 dan 3.
Kalau enggak ada ortunya mereka mandiri, tapi kalau ada ortunya seringnya manja pinginnya dilayani seperti ambil…

View original post 1,881 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s