Konsultasi Penggunaan Gadget bagi Anak

Haish judulnya propokatif, Generasi Tunduk.

Sebuah penelitian di Inggris menyebutkan bahwa 1 dari 7 orang tua membiarkan anak-anak bermain smartphone lebih dari 4 jam sehari. Entah mengapa saya menduga persentasenya bisa meningkat jika penelitian yang sama dilakukan di Indonesia. Nggak usah jauh-jauh, deh. SAYA sendiri, iya, saya, pegang hape dalam sehari bisa lebih dari 4 jam. Bagaimana dengan Bapak Ibu sekalian? #tutupmuka

Yakin, deh, umumnya orang tua sepakat bahwa teralu banyak mantengin gawai (gadget) itu tidak baik. Umumnya penelitian juga menyebutkan bahwa 1-2 jam sehari adalah angka terbanyak bagi anak menatap layar — errr sebenarnya termasuk kita juga eheheh.

Nothing wrong with the gadget. Gawainya nggak salah, kok. Hapenya baik-baik saja. Ini sudah zamannya, era digital sudah jadi bagian hidup kita. Anak-anak tidak akan bisa menjauh dari teknologi digital karena orang tuanya juga ogah pisah dengan hapenyaaaa ahahah. Kebutuhan primer kita kan sandang pangan casan 😎

Dalam buku “Parenting With Heart” ada kisah seorang anak yang hobi main game dor-doran dan orang tuanya santai saja. Katanya kan hanya game 😱

Padahal, apa yang paling sering kita lakukan akan membentuk watak. Sama-sama buang waktu, kenapa, sih, nggak milih game yang lebih baik.

Saya mengizinkan anak-anak main game—bisa dimusuhi saya jika tidak – syaratnya sederhana. Ada batas waktu dan isi game-nya. Ini yang utama.
Batasnya kami sepakati 1-2 jam, dan isinya adalah yang membangun, memelihara, bukan bunuh-bunuhan dan merusak. Nanti kita bahas lebih jauh dalam diskusi, pasti Bapak Ibu punya banyak pengalaman terkait game.

Hal yang kedua adalah terpaparnya anak dengan media sosial. Ketentuan umur legal 13 tahun terlalu mudah diabaikan. Sekarang ini anak-anak SD sudah aktif bermedia sosial. Kita lihat mereka lebih sering menunduk menatap hape daripada melihat manusia yang ada di dekat mereka. Semoga hal ini tidak terjadi setiap hari di rumah Bapak Ibu. Sesekali tentu biasa, kan Bapak Ibunya juga seperti itu #kabooor

Berikut ini hal sederhana yang bisa dilakukan untuk membuat penggunaan gawai jauh lebih positif:

+ Sepakati, gawai itu dipinjamkan kepada anak. Jadi ada hak ortu di sana. Ortu boleh setiap saat mengaksesnya, termasuk tahu passwordnya.
+ Untuk anak yang lebih kecil, jangan pernah gunakan gawai untuk menghiburnya saat rewel—plis, ini awal bencana, suwer.
+ Sepakati, tidak boleh bawa gadget ke tempat tidur. Buat alarm? Belikan jam weker.
+ Jadilah teladan. Ketika anak bicara, letakkan hape, lihat dia, pliiis.
+ Game boleh di komputer yang tempatnya tetap. Tidak ada game di hape – iniah yang saya terapkan pada anak-anak. Ketika pergi sama saya, misalnya ngaji atau ikut acara apa pun, mereka baca – ehehehe keren, kan? Ibunya dapat pujian padahal di rumah main game juga nonton juga. Efek dari game di satu tempat tertentu adalah bergantian dan tidak mudah dibawa-bawa—siapa yang mau gotong komputer ke mana-mana?
+ Lakukan off-screen day sesekali. Misalnya ketika sedang pergi bareng, semua hape masuk tas Mama (ini yang dilakukan Bu Elia).

Nah, trik di atas hanya berlaku jika orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Jika terbukti bahwa gadget membawa manfaat positif, misalnya untuk One Day One Juz, ikut kelompok diskusi yang terarah—seperti kulwap kita ini—ehm yang adminnya galak 😁, yang tidak membuat Ayah Ibu menunduk setiap waktu—gadget rasanya baik-baik saja, kok.

Nah, ada yang mau berbagi?

Ini tanya jawabnya, kuliah via Whatsapp parenting dan pernikahan
Keluarga Sehati pindah ke hari Senin, ya.
Bisa daftar ke Suci Shofia, pemilik http://www.uchishofia.wordpress.com
Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

uchishofia

gambar gadget ilustrasi: stocklogos.com

Pertanyaan-1

Bagaimana cara memberi tahu bahaya dari terlalu sering online terutama dengan lawan jenis? Saya khawatir anak gadis saya (10 tahun) dimanfaatkan atau terjadi sesuatu. Misalnya cinta monyet. Mumpung masih baru buka akun facebook-nya.

Jawaban Bu Elia Daryati

Online (ol) dengan lawan jenis.
Dalam kasus ini, ada 2 hal yang menjadi titik persoalan.
Usia 10 tahun adalah masa prepubertas, salah satu tugas perkembangan anak memiliki ketertarikan secara sosial untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Mereka memiliki sensasi lain, bukan sekedar berteman biasa, namun sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.
Ol dengan gadget, tanpa “niat” untuk berinteraksi dengan lawan jenis pun menimbulkan efek kecanduan.
Dengan melihat alasan diatas, maka dapat dikatakan bahwa perasaan untuk terpaku dengan gadget, apalagi anak baru memiliki akun facebook yang selama ini diimpikannya, bukanlah perkara yang mudah. Bagaikan anak sedang mendapat mainan baru, pasti euforia dan mulai dapat berselancar di dunia maya dengan asyik-asyiknya.
Apa yang…

View original post 3,782 more words

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s