Tanya Jawab Keuangan Keluarga

Salam Sehati, Bapak Ibu,
Wah, masuk ke materi-20, tanpa terasa.
Kita akan membahas tentang keuangan keluarga.

Siapa yang sebelum menikah membahas perencanaan keluarga? Atau, siapa yang bahas rencana anggaran sambil bulan madu? 😀

Dalam keluarga, siapa yang seharusnya cari uang? Kalau istri punya penghasilan, bagaimana alokasinya? Digabungkan dengan pendapatan suami atau dipisah?

Kata istri, “Uangmu uangku, uangku uangku sendiri” ehehe.
Kata suami, “Mengapa aku jadi lelaki?” 😥#halah

Sebenarnya, setiap keluarga punya kebijakan keuangan yang unik. Masing-masing punya pilihan tentang penataan anggaran sesuai dengan keperluan. Ada yang suami istri yang memilih bekerja salah satu, ada yang memutuskan untuk bekerja dua-duanya. Ada yang anaknya banyak ada yang hanya satu. Ada yang berkomitmen untuk menanggung keluarga lain ada yang tidak.

Tentang perencanaan keuangan keluarga, yang penting dibahas bukan hanya jumlahnya.

Amount is matter but not that important – weits, kalimatnya bagus buat instagram 😀

Jumlah memang ngaruh, tapi bukan yang paling penting. Salah satu sifat uang adalah banyak tak pernah cukup, sedikit tak selalu kurang (kata AF, ini sih). 😀

Jadi, apa yang lebih penting?

+ Bahas pandangan Anda terhadap uang secara terbuka dengan pasangan. Tanpa membahas siapa yang punya penghasilan lebih banyak, ya. Rezeki itu dari Allah. Dia bisa alirkan lewat siapa suami, istri, anak. Kemestian manusia adalah bekerja dengan giat agar bermartabat dan bermanfaat, kan?

Banyak yang malu-malu, sungkan dianggap matre—apalagi baru nikah, kok sudah bahas duit? Justru, harus dibahas dulu sejak awal agar tahu sama tahu pandangan masing-masing tentang uang dan alokasinya. Misalnya, apakah Anda akan memutuskan hidup sesuai pendapatan (bisa mewah bisa sederhana) atau memang tetap hidup sederhana walau penghasilan melimpah? Bagaimana pandangan Anda tentang kredit: mau nyicil atau nabung dulu agar bisa beli tunai? Daaan sebagainya. Bahas prinsip-nya saja, tak perlu buru-buru bahas detailnya, nanti ribut haha. Tak juga harus selesai satu hari, bisa dibahas dan diselaraskan pelan-pelan. Yang penting ngomong, kecuali Anda berdua punya ilmu kebatinan level 9.

+Tetapkan tujuan. Apa yang ingin Anda dan pasangan raih. Misalnya, lima tahun lagi mau naik haji, keliling dunia, bikin rumah sakit gratis, amin … Miliki tujuan bersama agar masing-masing punya semangat mencari rezeki yang luas dan berkah, bukan hanya buat keluarga tapi juga sesama.

+ Catat anggaran keuangan masing-masing. Apa yang diperlukan suami, istri, anak, dan tanggungan lain. Lakukan secara terbuka dan penuh cinta. Jika Anda punya hobi gelap # halah (misalnya perlu anggaran khusus untuk fotografi) anggarkan sejak awal. Anggarkan juga dana darurat. Ingat, ini bukan masalah jumlahnya, tapi pengaturannya.

+ Catat pemasukan dan pengeluaran. Sekarang banyak aplikasi praktis yang bisa diunduh di telepon pintar. Dari catatan itu Anda akan tahu, mana yang lebih dominan: pengeluaran rutin atau pengeluaran lain-lain hahaha — Anda juga harus catat pemasukan, apalagi jika Anda bekerja tidak dengan gaji tetap. Catatan ini adalah bukti tanggung jawab Anda dan pasangan dan bermanfaat untuk melakukan koreksi jika ada yang tidak beres dengan pengaturan keuangan: adakah yang harus dipangkas, mana yang bisa ditambah, keperluan apa yang sering diabaikan …

+ Anggarkan selalu sedekah—bisa untuk orang lain bisa untuk saudara sendiri. Sedekah memberi semangat kepada Anda untuk berbagi, dan membuat Anda merasa kaya.

Lima saja, ya. Nanti layar hape-nya penuh.

Selebihnya, mari kita saling bertukar pengalaman, bagaimana perencanaan keuangan yang Anda lakukan bersama pasangan.

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

uchishofia

Image result for keuangan suryanara.org

[13:59, 1/23/2016] Anna Farida: Salam Sehati semuaaaa
Mana suaranyaaa 😀
[13:59, 1/23/2016] Anna Farida:

Tanya 1:

Saya biasa mengatur pengeluaran dan pemasukan dengan suami. Saya sendiri alhamdulillah merasa cukup dengan pemberiannya selama ini. Namun kadang ada campur tangan dari mertua (orangtua suami), yang berpendapat bahwa seharusnya kami sudah memiliki ini, itu, dan ana (eh … bukan ding 😁)
Nah … Bagaimana sebaiknya kami menyikapi hal itu? Saya sih inginnya ya rumah tangga kami biar kami yang urusi. Toh kami tidak pernah mengeluh dan meminta-minta pada orangtua (yang memang berada).
Kami tahu orang tua kami sayang pada kami. Namun, cara mereka kurang sreg di hati.
Saya sudah meminta pada suami untuk bicara baik-baik. Intinya biarkan kami mengurusi rumah tangga kami sendiri. Akan tetapi suami enggan melakukannya. Kalau saya sebagai menantu menyampaikan hal tersebut pada mertua, apakah etis?
Saya sudah memikirkan kalimat (asertif, yg sudah dipelajari) untuk disampaikan pada mertua. Tapi saya masih menahannya…

View original post 881 more words

Advertisements

3 thoughts on “Tanya Jawab Keuangan Keluarga

  1. haihai…boleh urun rembug kah? tentang keuangan keluarga ya?
    Awal menikah smp 2 thn, saya full-time mommy. Kami tinggal di rumah milik ortu, tapi mulai nyicil rumah sendiri. Yaa…takut tiba2 rumah dijual kaan. Nah, krn nyicil rumah smp 20 thn, saya atur belanja rumah tangga dng 1/3 gaji. Menunya tiap hari dari tahu ke tahu. Kalo beli daging, daging cincang 1/4 kg, dibagi empat lagi. Sip kaaan.
    Anak umur 2 thn, saya mulai lirik2 nyari kerja. Yg cocok, ngajar, spy bisa atur waktu dng keluarga. Lalu hamil anak ke-2, lalu diterima jd PNS sebagai dosen.
    Saya mengelola uang gaji dari suami. Suami yaa ngasih gaji hampir seluruhnya sih. Paling dia ngambil untuk uang saku ato beli bensin.
    Saya punya amplop2 untuk keperluan sebulan, dapur, pembantu, rekening, SPP, dan lain-lain.
    Saya tuh selain pandai, juga rajin menabung…halah…😁. Kalo suami tugas ke LN, makannya indomie, SPJ nya dlm dollar dikasih ke saya. Ditabung dong, bikin deposito dollar.
    Pernah krisis moneter kaan, 1 $ semula 2500 rupiah, jadi 15000 rupiah. Deposito saya cairkan, patungan beli rumah deh. Bukan apa2, banknya mau tutup sih. Yaa terpaksa dicairkan.
    Di usia pernikahan ke 19, suami dirumahkan.
    Anak2 SMA dan kuliah. Untungnya, uang SPP walaupun tagihan per semester, saya tetap ada pos bulanan. Aman.
    Saya jadi tulang punggung keluarga… hehe…lebay dikit.
    Suami ngajar koq smp ke Jakarta.
    Yaa satu2 mulai ada jalan. Anak2 lulus sekolah. Menikahkan. Nah…ini dia.
    Sepuluh tahun penghasilan tetap hanya dari satu pihak, mikir juga untuk pengeluaran yg besar dan tak terduga, macam menikahkan.
    Jadi…ya mohon maaf kalau ga semua teman diundang. Ga ada dananya laah kalau sampai ratusan juta seperti orang2. Ada sih rumah, yg dulu dicicil sudah lunas itu. Tapi…gimana yaa…mosok jual rumah untuk menikahkan. Itu adalah tabungan masa depan kami.
    Kami tuh boleh dibilang penabung konvensional. Deposito, nyicil rumah, nyicil emas di pegadaian. Pernah ikut beli investasi seperti A*a M**diri, uang pesangong suami dititip semua disitu, eh…ternyata itu asuransi ya. Dalam 4 tahun tinggal 3/4 nya. Suami smp darahtinggi. Yawda ditarik saja, deposito lagi saja.
    Sekarang yaa praktis kami hanya mengurus diri kami saja berdua. InsyaAllah tetap beramal dong. Jalan-jalan berdua deh.

  2. eh…nambah dikit. Kami tidak punya rekening bersama. Kalau ada keperluan besar yaa ditanggung bersama saja. Misalnya nyicil mobil. Bayarnya sih pakai rekening saya, karena autodebet.
    Suami transfer setengahnya ke saya.
    Gitu sih. Aneh kah? Jadi uangmu uangmu. Uangku uangku. Kalo gaji suami ke istri u keperluan rumahtangga yaa tetap dong.
    Sekian tambahannya. Maaf kepanjangan…😘

    • Terima kasih banget, Mbak Hani. Wah, pernah juga ya, suami kena darting karena asuransi 😀
      Cara mengatur keuangan keluarganya terbukti manjur, kan. Aman hingga kini sudah bercucu. Top! Kudu diteladani.

      Saya juga tak punya rekening bersama. Semua penghasilan suami masuk ke rekening saya.
      Artinya, uangmu uangku, uangku ya uangku 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s