Bersahabat dengan Pasangan

 

Marriage With Heart

Marriage With Heart

Salam sehati, Bapak Ibu

Ini materi kulwap ke-24. Mari kira merumpi tentang pernikahan yang seru.

Ngaku.

Ketika dapat masukan dari Mahmud Admin Suci Shofia bahwa tema kita adalah menjadi sahabat dari pasangan, saya bilang”hayah!”

Sepintas saya berpikir, kan sudah jadi pasangan. Tentu jauh lebih dekat, dong, dari sekadar jadi sahabat. Lahir batin luar dalam, gitu!

Eh, tapi begitu saya berpikir ulang, ada juga pasangan yang ternyata tidak bisa jadi sahabat. Ada juga pasangan yang tidak saling kenal. Ada juga pasangan yang bisa jadi BFF tentu.

Ada rutinitas pengasuhan anak, keperluan rumah tangga, tagihan, keinginan mencari nafkah yang memadai, hingga tekanan pekerjaan membuat pasutri mengabaikan pentingnya menjaga pertemanan—artinya menciptakan hubungan yang lebih santai.  Nah, mari kita cek sedikit saja, bagaimana caranya agar pasangan kita pun bisa jadi teman.

  1. Luangkan waktu untuk berdua saja secara teratur. Kerahkan daya upaya dan taktik strategis untuk mendapatkannya, belain mati-matian—#halahbanget!
  2. Cari tahu tentang kesenangan pasangan. Siapa tahu dia punya hobi baru. Saya tidak suka sepak bola. Saya tidak habis pikir, mengapa satu bola diperebutkan 22 orang hanya untuk ditendang setelah didapatkan. Sayangnya, suami saya suka bola. Demi dia, saya berusaha tahu info bola walau seadanya—dan ketika saya nyeletuk tentang bola biasanya saya salah sebut :-(((

Eh, tapi ketika saya berhasil bilang bahwa baru saya klub anu mencetak gol dan langsung kena balas, suami saya kagum banget. Katanya, “Kok Ibu tahu?”

  1. Cari kegiatan yang sama-sama disukai. Kebetulan, saya dan suami sama-sama sufi alias suka film. Malam Minggu biasa kami isi dengan duduk di depan komputer dan nonton filmstreaming. Nggak modal banget
  2. Jika harus ada konflik, manfaatkan untuk saling terbuka sebagai pribadi, tanpa selalu mengaitkan permasalahan dengan anak, misalnya. Aku capek, aku boleh istirahat sejam, ya. Nanti kita bicara lagi—bukan aku capek. Anak-anak kuurus sendiri, cucian sama aku juga, masak juga—bayangkan jika Anda berbicara pada teman. Ucapan Anda akan lebih sederhana.

Benar, tampaknya sangat mudah. Namun setelah bertahun-tahun menikah, kadang kita kehilangan kemampuan untuk berteman dengan pasangan—sebagaimana dulu, ketika kita tidak terlalu menuntut dia untuk ini dan itu. Sebagaimana dulu, ketika kita bisa dengan mudah memaafkan kekurangannya, karena dia “hanya teman” 🙂

Salam takzim,
Anna Farida

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida

Baca juga tanya jawab dan diskusinya di blog Suci Shofia.

Untuk mengikuti kulwapnya, daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s