Ketika Remaja Jatuh Cinta

staccato1“Jatuh cinta, berjuta rasanya …”

Yang tahu lagu itu ketahuan umur 😀

Salam Sehati, Bapak Ibu semua.  Apa kabar? Semoga semua selalu dalam kebaikan.

Mahmud Admin Suci Shofia mencatat atrean tema parenting yang cukup panjang. Terima kasih sudah bersedia mengusulkan tema kulwap. Insya Allah akan kita bahas satu demi satu.

Hari ini kulwap ke-26, kita akan membahas tema jatuh cinta pada anak dan remaja. Dalam kulwap terdahulu kita pernah bahas, tapi tidak secara spesifik.

Nah, balik ke lagu yang bikin ketahuan umur tadi, ayo kita ingat-ingat, kapan pertama kali kita merasa jatuh cinta. Tidak usah ditulis di ruang kulwap, tapi boleh senyum-senyum bareng saya—daripada senyum sendirian 😀

Kata Zora Hurston, cinta itu membuat jiwa kita merangkak keluar dari tempat persembunyian—cinta dalam makna apa pun. Artinya, cinta menghadirkan hal-hal yang mungkin tidak kita ketahui sebelumnya—kan sebelumnya sembunyi.

Masih senyum-senyum?

Sudah dulu, cukup. Eheheh.

Ketika anak “jatuh cinta”, apa yang harus dilakukan orag tua? Saya kasih tanda kutip karena kita punya definisi yang macam-macam tentang cinta. Uhuk!

Sebagian orang tua akan deg-degan ketika anaknya mulai menunjukkan gejala jatuh cinta. Ada yang cemas karena melihat anaknya dirasa terlalu dini untuk jatuh cinta, tapi banyak juga yang resah melihat anaknya kok adem-adem saja, padahal usianya sudah remaja.

Anak naksir seseorang galau, anak nggak minat sama naksir-naksiran galau juga.

Jadi maumu itu apppaa? #geleng_geleng

Izinkan saya berbagi trik dari bacaan dan pengalaman pribadi, nanti Bapak Ibu bisa perkaya dengan diskusi.

Pertama, kita akan membatasi umur pada 9 – 15 tahun (abege, gitu). Ini masa yang disebut Bu Elia sebagai masa yang paling “bageur” 😀

Ketika mereka memperlihatkan gejala jatuh cinta, ini yang bisa kita lakukan:

  • Perkuat keyakinan anak bahwa jatuh cinta itu indah, sejuta rasanya tadi. Ketika kehidupan cinta Anda sedang bermasalah sekalipun, tetap sampaikan kepada anak bahwa jatuh cinta itu menyenangkan.
  • Tunjukkan sikap bahwa Anda menganggap perasaannya itu penting. Jangan disepelekan. Mungkin bagi kita menggelikan, anak kelas 5 SD kok jatuh cinta. Bagi mereka itu segalanya.
  • Contohkan dan diskusikan bagaimana cara yang benar untuk menjalani proses ini. Tentu, pola komunikasi yang biasanya diterapkan antara anak dan orang tua jadi penting. Jika anak selalu merasa aman dan nyaman kepada orang tua, mereka akan terbuka. Ini fase penting. Kita semua ingin anak terbuka, khususnya tentang cinta pertamanya, atau keduanya, atau ketiganya #eh
  • Tanyakan padanya, “Kamu suka dia karena apanya?” Jika ternyata mereka sudah “jadian”, jangan buru-buru teriak “Masih kecil sudah pacaran! Mau jadi apa?”— wih, drama banget.

Kalem, Pak, Bu.

Bisa saja ngasih tahu, padahal saya juga kan sama was-wasnya ahaha.

Tanya saja begini, “Apa pengaruhnya buat kamu jadian sama dia?”

Dari sini orang tua bisa mulai mengajak anak diskusi tentang prinsip yang diyakini masing-masing keluarga tentang jatuh cinta, atau sederhananya “pacaran”.

Intinya, begitu tahu anak jatuh cinta, mari bersikap tenang. Biar saja hati deg-degan, tampang tetap ceria, senyum mengembang #ambilcermin.

Semoga kita diberi kepercayaan oleh anak untuk jadi orang pertama yang mendengar ceritanya.

Tanpa membahas kasus yang khusus, umumnya anak-anak hanya merasa kagum atau tertarik sepintas pada orang yang menarik hatinya. Dekatkan diri dengannya, ajak diskusi tentang baik buruknya—minta dia berpendapat, dengarkan sepenuh hati.

Yang kadang bikin resah adalah ketika remaja yang mengalaminya. Saat hormon pertumbuhan bergerak cepat, masa akil baligh mulai kuat, dia pun ada pada posisi yang perlu ditemani.

Di masa ini hasrat seksual mulai nyata, dan pada remaja tertentu dorongannya lebih kuat daripada perasaan naksir-naksir biasa.

Yakin, deh. Ini yang paling bikin parno, setidaknya buat saya.

Ajak anak diskusi tentang kemungkinan baik dan buruk yang bisa terjadi. Sampaikan kasus dari media, minta mereka berpendapat. Ajak mereka menemukan cara untuk menjaga diri, misalnya dengan tidak pergi berduaan. Ingat, ya, ajak mereka menemukannya. Bukan dikasih tahu saja.  Lebih segar dikasih cabai rawit atau ulekan bawang merah, bawang putih dan asam—tahu gejrot eta mah!

Kalau saya, sambil bercanda, setiap ada waktu sela, sesering mungkin, saya akan bilang, “Pede itu bagus, tapi kepedean bisa serem, lho. Pede naik sepeda kan keren, tapi kepedean trus naiknya membelakangi setang bisa celaka. Banyak juga yang kepedean bilang ‘Ah, nggak apa-apa. Kan cuma boncengan, cuma nonton bareng. Yang penting kan tahu batas’.

Naaah, ini nih, mulai ada gejala kepedean. Kalau saya menyebutnya sok soleh, sok yakin tidak bakal kena goda setan.’”

Dari situ diskusi bisa merembet ke mana-mana. Dari situ modal awal kita bermula. Dari situ kita bisa sampaikan prinsip keluarga tentang hubungan yang baik antara laki-laki dan perempuan.

Salam takzim,

Anna Farida

Baca tanya jawab seru tentang cinta remaja di blog Suci Shofia

Mau daftar kulwapnya? Gratis, WA ke Mahmud Admin Suci Shofia, 0896 5041 6212

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s