MENEMANI ANAK BERANI AMBIL RISIKO.

IMG_20160326_170429

Pantai Palangpang dilihat dari Puncak Dharma, Ciletuh Geopark Sukabumi

Salam sehati, Bapak Ibu. Apa kabar? Long weekend yang padat, tetap kerja tetap kejar tenggat—eh, malah curhat #gimanasih.

Kita masuk ke kulwap-34. Ada tema bagus yang diajukan salah satu peserta, yaitu tentang taking risk. Hari ini saya mengutip Soren Kierkegaard di Instagram saya–@annafaridaku– During the first period of a human’s life, the greatest danger is not to take the risk.

Bahaya terbesar di awal kehidupan manusia adalah tidak berani ambil risiko. Kebayang, nggak, kalau anak-anak kita tumbuh sebagai generasi cari aman. Atau, jangan-jangan kita sebagai orang tua cenderung cemas ketika anak-anak melakukan sesuatu yang berisiko, hehe.

Btw hari ini anak sulung saya pamit latihan, pulang malam. Hari Minggu dia mau ikut kejurda judo antar perguruan tinggi di Karawang. Saya senang dia aktif berolahraga atau bela diri apa pun.

Aneh, hari ini saya merasa ada perasaan “serrr” gitu di hati. Saya bayangkan anak saya membanting dan dibanting orang lain. Badannya lumayan besar dan kuat, sih. Dia bisa menjinjing dua galon penuh air seperti menjinjing hape.

Tapi … siapa tahu lawannya jauh lebih besar. Siapa tahu dia salah teknik …

Naaah!

Siapa tahu … siapa tahu …

Ini risiko. Ada yang baik ada yang buruk.

Pada dasarnya, anak-anak adalah juara penantang risiko. Lambat laun, keberanian mereka terkikis oleh ketakutan orang tua—orang tua seperti saya ini salah satunya. Kian besar dia, kian besar juga kecemasan itu ditularkan kepada anak.

Saat anak ambil risiko dan ternyata salah, dia disalahkan. Saat tak bisa ambil inisiatif pun dianggap tidak peduli, tidak dewasa—piye, sih, Bu, Pak? Jadi maumu itu apppaaa?

Mengambil risiko bukan berarti selalu berani dalam arti serampangan. Tetap ada perhitungan, ada batasan, dan ada pertanggungjawaban.

Ini bisa dilatih sejak dini.

Mari kita belajar bersama, menemani anak-anak menjadi risk taker yang benar.

+ Bicarakan. Kita sudah belajar tentang komunikasi asertif. Yang tertinggal materi ini bisa minta ke Mahmud Admin. Hidupkan komunikasi yang terbuka tentang risiko-risiko yang pernah diambil orang tua, lengkap dengan hal-hal yang dipertimbangkan saat itu, dan bagaimana hasilnya. Dari cerita-cerita itu anak lambat laun belajar bahwa risiko memang bagian dari hidupnya, karena orang tua mereka tetap ada walau telah melewati berbagai risiko.

+ Pastikan bahwa anak-anak tahu betapa berharganya hidup. Libatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial, membantu orang lain atau makhluk lain. Saya tidak suka kucing, tapi pernah (terpaksa) pelihara kucing yang baru lahir. Anak-anak belajar banyak tentang hidup yang sangat rawan di masa bayi, risiko kematian sangat dekat. Fyi, kucing itu baik-baik saja hingga kini, diadopsi teman Ali setelah membuka mata dan pintar menyusu pakai pipet. Mama Anna yang mengajarinya. Saya tetap tidak suka kucing, saya suka sapi

+ Pastikan anak-anak tahu antara tindakan dan konsekuensinya. Berikan mereka peluang menjajal dunia nyata. Misalnya, saat Anda pergi dengannya dan tersesat—saya ini tukang nyasar—minta dia bertanya ke tukang parkir dan izinkan dia memandu jalan. Jika sampai di tujuan, ucapkan terima kasih. Jika nyasar tambah jauh, tertawalah bersama karena Anda punya teman

+ Bahas di rumah. Jangan ngomel di jalan karena kian kesasar. Enjoy the ride dan cari tempat yang dituju bersama-sama. Bahas di rumah mengapa Anda bisa kesasar, misalnya. Apa kira-kira cara yang terbaik agar tidak nyasar, minta anak berpendapat. Hal yang sama bisa diterapkan ketika memilih baju, atau memilih jodoh #halah!

+ Temani anak, libatkan diri. Ajak dia menjajal hal baru yang Anda sendiri belum pernah melakukannya. Saya, misalnya, zona nyaman saya adalah di rumah, di depan komputer, internet kencang. Anak-anak pun demikian. Beberapa saat yang lalu saya ajak mereka bertualang ke Ciletuh Geopark di Sukabumi. Kami naik bus umum, mencari-cari alamat—walaupun sangat mudah dan langsung ketemu hahaha—bertemu orang-orang baru, makan makanan yang bukan masakan Ibu, tidur di rumah penduduk desa (walau tetap nyaman), dan akhirnya menunggang mobil offroad yang bikin saya berteriak ribuan kali #lebayasalways menuju puncak gunung. Tapi di pantai … saya tetap menjauh dari air, takut basah #heuuu

+ Izinkan mereka belajar sakit atau kecewa. Mengambil risiko bisa menghasilkan luka lahir dan batin. Anak sulung saya yang mau tanding lusa ada kemungkinan cedera dan kecewa, tapi ada juga kemungkinan baik-baik saja dan menang, melaju ke kejurnas. Risiko yang dia hadapi sudah dia antisipasi dengan latihan sebelumnya, teori dan praktik teknik tanding, termasuk teknik jatuh dan menghindari cedera. Jika tetap saja cedera ya itu risiko tadi.

Ketika anak dilepas naik angkot sendiri, misalnya, pastikan mereka siap dengan pengetahuan yang memadai tentang rute, bertemu orang asing, atau tindakan saat darurat. Jadi, risiko tidak sama dengan nekat.

+ Simulasikan. Saya mungkin pernah cerita entah di tulisan yang mana. Saat anak saya masih kecil, password game dan komputer mereka adalah nomor hape saya. Mau tak mau mereka hafal jika terjadi sesuatu. Sesekali mereka saya ajak berandai-andai. Jika tiba-tiba terpisah dengan Ibu di pasar, apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu pulang sekolah dan rumah kosong, kamu nggak bawa hape, kamu mau ngapain? Ketika angkot mendadak ganti arah, apa tindakanmu?

+ Mendekatlah dengan anak. Kita ini manusia, cenderung melihat hal-hal yang ada di permukaan (kita? Saya saja kali, ya? Eheheh). Kadang orang tua tidak tahu apa yang dilakukan anak ketika kita tidak ada. Kedekatan itu anak membuat anak merasa nyaman ketika melihat risiko yang memang perlu dibahas dengan orang tua. Dia yakin bahwa dengan bertanya, misalnya apakah aku boleh menginap di rumah teman, dia akan dapat jawaban yang masuk akal—bukan omelan panjang.

Eh, saya minta maaf, setelah selesai menulis, ternyata saya kebanyakan curhat sehingga contoh kasusnya adalah anak-anak yang lebih besar. Padahal yang namanya risk taking pun bisa dilatihkan pada anak-anak yang lebih kecil.

Kita bisa melatih mereka dengan lebih banyak mengajak mereka di luar rumah, bertemu orang baru, melakukan hal baru, menjajal hal baru. Mungkin kita akan membahasnya lebih banyak dalam sesi tanya jawab, ya.

Happy risk taking with our kids!

Salam takzim,
Anna Farida

Tanya jawab dengan narasumber di blog Suci Shofia

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Ikuti kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan. Daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s