JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-1: PERSIAPAN

the AnvarianDua bulan sebelum libur Lebaran 2017, kami menyusun rencana. Dua tahun yang lalu kami berkelana empat hari, mengunjungi dua belas museum di Jakarta.

Tahun ini, diputuskan bahwa The Anvarian akan ke Bone, tanah leluhur Bapak, kemudian keliling Sulawesi Selatan. Konsepnya backpacking, satu orang bawa satu ransel. Kami sepakat bawa tiga set baju luar dan enam pakaian dalam.

Destinasi utama ditentukan, tujuan lain diputuskan nanti secara spontan di jalan. Kami akan ke rumah Tante di Maros, kampung Bapak di Bone, rumah Kakak di Palopo. Ada rencana bertemu beberapa teman dan kerabat, juga mengunjungi Tana Toraja. Tapi itu bagaimana nanti, menggelinding saja mengikuti saja arah angin.

 

Persiapan pertama adalah mencari tiket murah buat kami berenam. Nyengir sedikit, sih. Sekian ratus ribu dikalikan 6 kali 2 jadinya gede juga. Tapi karena sudah niat, ya klik saja sambil merem. Mumpung anak-anak masih mudah dibawa jalan bareng—sebentar lagi yang mahasiswa dan remaja bakal punya acara liburan sendiri. Si bungsu pun tampaknya sudah kuat diajak bersusah-susah sejenak di jalan. Waktunya pas!

Alhamdulillah, dengan bantuan Traveloka, kami dapat tiket yang masuk akal dari Sriwijaya Air untuk berangkat ke Makassar, dan Garuda Indonesia buat pulang ke Bandung.

Booked!

Anggaran konsumsi dan akomodasi pun diperhitungkan. Ada rencana menginap di rumah keluarga, di rumah teman, tidur di perjalanan, dan rehat di penginapan. Otak emak-emak saya segera berpikir untuk cari cara irit: bawa bekal logistik sebanyaknya!

Suami saya tertawa, “Kita ini mau pulang kampung. Banyak saudara banyak teman. Ibu masih khawatir bakal kelaparan?”

Baiklah.

 

Persiapan kedua adalah mental. Seminggu sebelum berangkat, kami berkumpul. Bapak menjelaskan rencana perjalanan, “Kita akan ke Bone, kemudian keliling. Tidak ada jaminan kita bakal dijemput, atau dapat pinjaman mobil. Intinya, kita harus siap naik transportasi umum ke mana-mana selama seminggu. Jadi, isi ransel seringkas mungkin. Yang paling penting, selama di perjalanan, semua wajib saling dukung. Cari informasi tentang daerah yang akan kita kunjungi, browsing dulu. Pintar-pintar bawa diri, walau ke kampung sendiri, situasi yang akan kita datangi akan berbeda dengan Bandung.”

Anak-anak mengangguk, “Sip!”

 

Persiapan ketiga adalah kesehatan. Anak-anak saya cenderung rumahan, jarang pergi-pergi. Terpapar udara luar dan berpindah-pindah tempat akan membuat tubuh mereka harus menyesuaikan diri, apalagi buat Upeng yang picky eater. Jadi, saya siapkan kondisi mereka dengan asupan vitamin dan suplemen ekstra. Kebiasaan standar di rumah seperti cukup minum terbukti jadi istimewa, karena sepanjang jalan, mereka makan segala macam menu baru. Saya bawa obat-obatan juga buat jaga-jaga.

Errr … saya ini kan bukan traveller. Tempat yang paling nyaman buat saya adalah rumah dengan wifi kencang. Berbagai acara keluar yang saya jajal adalah demi memberi pengalaman bagi anak-anak, dan ternyata pada gilirannya saya pun dapat pengalaman.

Jadi, sebenarnya yang harus menyiapkan mental secara ekstra adalah saya. Walau tetap bawa tab, selama sembilan hari saya tidak akan pegang naskah, tapi kan online dan eksis kudu jalan terus #cantbehelped.

Karenanya, saya pastikan kuota internet di hape full, dan dua power bank dalam kondisi penuh.

Eh … ternyata, nanti di perjalanan, persiapan online saya itu bubar jalan, haha.

 

Tiba-tiba Hari-H tiba.

Pagi kami ikut salat Idulfitri sambil berpamitan pada teman dan tetangga, sore berangkat. Kami pastikan semua kabel listrik diamankan, katup tabung gas dilepas, keran air ditutup, barang-barang disimpan, dan kunci ganda dipasang. Namanya juga manusia yang masih cinta dunia—masih terikat pada benda-benda #tutupmuka.

Grabcar mengantar kami ke pool Primajasa di Batununggal, dan melajulah bus terakhir ke Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta.

Kami menunggu semalaman, karena pesawat berangkat subuh.

Bandara masih sepi, maka mulailah anak-anak merasakan tidur di bangku-bangku panjang yang keras. Percayalah, Nak. Hidup ini lebih keras #halah.

charger woshipper anvarianSelain tidur, kegiatan mereka adalah berkeliling lihat-lihat dan merubung sudut yang disediakan untuk nge-charge ­hape. Generasi online, duh, para pemuja colokan 😀

Beberapa jam kemudian kami terbang, menjemput petualangan sembilan hari ke depan. Bismillah.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s