JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-5: SOROWAKO

WhatsApp Image 2017-06-30 at 8.53.49 AMSelama ini saya mendengar kata “Sorowako” hanya dari rumpian para ibu yang rindu piknik, atau lari sejenak dari cucian, atau istirahat dari antar-antar anak.

Desa ini berada di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

Alamnya yang masih segar, danaunya yang luas, sungguh menggoda untuk disambangi.

Jaraknya dari Palopo 240-an km dengan waktu tempuh 5 jam bermobil. Another wow for our dear chauffeur.

 

Saat kami singgah salat magrib, Upeng lebih banyak diam.

“Kaki Upeng perih,” keluhnya setelah saya tanya.

Tadi pagi di pantai, punggung kakinya tergores. Saya amati di dekat luka kecil itu ada bagian yang menghitam. Upeng mengaduh ketika bagian itu saya sentuh.

Serrr.

Punggung saya dingin. Jangan-jangan infeksi.

“Upeng nggak enak badan? Demam? Pusing?”

Buyar semua informasi tentang luka yang pernah saya tulis di buku. Rasa takut merayap, membuat perut saya mulas.

 

“Coba lihat kakinya, Peng,” bapaknya membujuk.

Tak lama sesudahnya, “Ibuuu, Ibu. Yang hitam ini sih kotor bekas sendal. Ya pasti sakit karena yang disentuh kan dekat luka.”

 

Hmmmh, sambil malu tapi lega, saya amankan luka yang penuh tipu daya itu dengan plester. Alhamdulillah.

 

Perjalanan panjang kami lanjutkan, mendekat ke Sorowako.

Di sisi sebuah bukit, Ali tiba-tiba terbangun dan berseru, “Ini Ali yang salah lihat atau sedang mimpi? Ini malam, kan? Kok matahari terang sekali?”

 

Bapak menjelaskan, “Itu cahaya dari cairan panas, sisa limbah tambang nikel.”

Cahaya itu membara seperti sunset yang tidak pada tempatnya. Saya kemudian diam, Bapak diam, Ali kembali tidur.

 

Lelah malam itu tunai terobati karena Umi Lisa menjamu kami dengan traktiran all out. Penginapan, makan, piknik di danau dan city tour, sampai foto-foto eksis narsis, semua disediakan dari A-Z. Jadi jika Anda ingin ke sana dengan fasilitas yang sama, hubungi saya #eh.

 

Behind the scene: Di kamar, pasukan langsung sibuk cari charger. Para pemuja sinyal dan colokan pun memulai ritual. Haduh. Suatu hari akan saya post foto mereka yang bikin ngenes sekaligus ngakak. Tunggu saja.

Saya sih langsung tidur, biar keesokan harinya bersinar saat difoto, dong!

 

Pagi datang.

Kami dan rombongan keluarga Umi Lisa bertolak ke Danau Matano. Lepas dari pro dan kontra penambangan nikel yang dikabarkan merusak ekosistem sekitar, dan kabar bahwa danau luas sedalam 600 meter itu jadi tempat pembuangan limbah tambang, Matano itu cantik. Benar-benar cantik.

 

Sebuah perahu ditambatkan.

Ketika menginjak lantainya, goyangan lembut menyambut kaki. Upeng menggenggam tangan saya erat. Takut tenggelam, katanya.

Dia baru tertawa dan mulai berjalan ke sana kemari ketika perahu berjalan, karena posisinya justru stabil ketika melaju.

 

Kami berkeliling.

Danau membentang, airnya bersih kebiruan. Barisan bukit besar menghijau melingkar, membuat mata hanya melihat pemandangan yang menakjubkan.

Berkedip pun rasanya sayang.

Walau tahu bahwa terlempar ke danau bisa berarti hilang selamanya, bagian perahu yang jadi favorit adalah ujungnya.

Semua penumpang bergiliran duduk di sana, berkhayal menjadi raja dunia, atau berpose dengan gaya paling jaim sekaligus paling mainstream, ahaha—maksud saya tuh pose ala candid, memandang ke arah yang jauh, itu, lho.

Saya sudah pasti ikutan juga, lah.

 

Di ujung perahu itu pula saya duduk berlama-lama dengan Umi Lisa, berbincang tentang rahasia-rahasia. Setengah jam di sana ditemani percikan air dan imajinasi liar, saya rela banget diganjar pilek sesudahnya.

Selama ini saya banyak menghabiskan napas untuk menatap layar monitor, berkutat dengan urusan rumah, atau antar jemput anak. Saya lebih banyak beraktivitas di ruang terbatas, baik di rumah atau di jalan. Tahu sendiri, kan, macetnya jalanan di Bandung seperti apa.

 

Karenanya, sama sekali tidak lebay jika saya enggan melepaskan pandangan dari Danau Matano dan bukitnya.

Di salah satu sisi bukit ada gua di bawah air dan ceruk-ceruk kecil–air di sekitarnya dangkal. Kami parkir di sana dulu.

Maka berlompatanlah anak-anak dari perahu, berenang di antara sedikit ikan di sana. Mungkin ikan butini khas danau itu berlarian ke tempat persembunyian. Takut mendengar teriakan orang gunung dari Bandung.

 

Tak mau kalah, masih dengan celana panjangnya, suami saya menceburkan dirinya begitu saja.

Haish! Air danaunya kan dingin. Berenang tanpa pemanasan sebelumnya, bisa membuatnya kram.

Alhamduilllah, atas keberkahan “nenek moyangku orang pelaut”, saat naik kembali dia hanya mengeluh, “Basah, euy!”

Ya iya, lah, Darling.

 

Perjalanan cukup panjang dan menyegarkan. Kami sempat salat Jumat di desa seberang dan mengunjungi mata air yang menjadi sumber air Danau Matano.

Mata air itu tak begitu dalam, tapi debit airnya melimpah, disalurkan dengan pipa besar ke danau. Dari dasarnya muncul banyak titik gelembung air, bergerak tanpa henti, berpindah tempat bergantian.

Ada mitos ketika mata air surut, kehidupan di desa sekitar danau pun surut. Karenanya, kita bisa memanggil gelembung air dengan berseru, “Bura! Bura! Bura!”

Anak-anak menjajalnya, saya juga – sambil bisik-bisik, tentunya.

 

Kembali ke perahu, para penumpang makan (lagi dan lagi).

Hidangan khas Lebaran masih menemani kami. Buras, sokko tumbu, ayam, dan sup—supnya unik, segar, hangat, bersantan.

 

Setelah berperahu, kami dibawa Umi Lisa ke sisi lain Danau Matano.

Sisi ini mendangkal seperti pantai. Airnya bening, dasarnya berkerikil.

Bapak dan anak-anak bertanding memantul-mantulkan batu di permukaan air. Ibu duduk-duduk di rumput tebal, memandang ke danau, lagi-lagi dengan imajinasi liarnya.

Kunjungan ini terlalu singkat untuk dinikmati sehari.

Karenanya, sambil enggan, kami meninggalkan kesenangan itu untuk pulang.

 

Saat melewati perumahan perusahaan tambang, aroma Barat terendus dari nama-nama jalan dan bloknya. Rumah-rumah panggung ditata berdasarkan warna cat, desain, dan ukuran—sesuai dengan jabatan pemiliknya. Sebagian rumah terlihat kosong tak terpakai, tapi kebanyakan terawat rapi.

Pepohonan tertata di sepanjang jalan, ujung-ujung daunnya melengkung membentuk terowongan hijau panjang. Pas buat foto-foto—another halah.

Wilayah ini bak punya kedaulatan sendiri, tapi saya tidak ingin membahasnya di sini. Kita sedang piknik, ini!

 

Saat sore meredup, kami berpamitan dari kehangatan keluarga Sorowako.

Kami lambaikan tangan pada desa pemangku Danau Matano yang benar benar bikin lupa daratan. Salam.

Bersambung ke bagian-6.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s