JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-7: BULUKUMBA

DSC_0598

Setelah menjajal Tator, kami seharusnya menuju Makassar. Setelah waktunya diperhitungkan, masih ada satu lagi lokasi yang bisa dikunjungi. Sebuah ide tercetus: Pinisi!

Kami ingin anak-anak tahu proses pembuatan kapal yang legendaris itu di Bulukumba. Let’s roll.

 

Enrekang kami tinggalkan bakda asar, dan tepat sebelum sunset, kami tiba di depan salah satu sisi pelabuhan di Pare-Pare. Sambil berlarian kami mengejar pantai yang penuh dengan meja kuliner. Beruntung sekali, bola jingga itu tenggelam di depan mata. Lengkap sudah hari ini: sunrise di atas awan, sunset di lautan.

Setelah salat magrib dan isya di Masjid Raya Pare-Pare, kami melanjutkan perjalanan setelah istirahat sebentar di @pisangmiripnugget. Tepat di samping gerai ada Balai Ainun Habibie—tempat dipajangnya berbagai penghargaan yang diperoleh presiden RI yang lahir di kota ini. Berhubung gedung sudah tutup, jadi cukup foto-foto narsis di depannya. Biar bisa ngaku pernah ke sana walau hanya menyentuh papan namanya.

 

Perjalananan kami lanjutkan, berharap bisa sampai di Pantai Tanjung Bira, Bulukumba sebelum subuh—another sunrise hunting, tapi tidak keburu. Beberapa kali istirahat benar-benar kami perlukan—terutama buat our dear driver—setelah perjalanan spektakuler di Toraja. Sesekali mobil diparkir di minimarket, di masjid, di warung kopi, di mana pun asal bisa berbaring sebentar.

 

Saat sarapan, tibalah kami di Tanjung Bira, Bulukumba.

Saya yang biasanya tidak suka basah saat ke pantai pun tergoda bermain ombak hingga menguyup.

Ombaknya besar tapi ramah, pasir putihnya lembut di kaki, airnya bening. Tak peduli panas yang mulai menyengat, anak-anak bermain di sana sampai harus dirayu-rayu untuk berhenti karena kami mau ke bengkel pembuatan kapal.

 

Sambil jalan, mulailah Bapak bercerita. Kemampuan orang Bulukumba membuat kapal diwariskan secara turun temurun dan mematuhi pakem tradisional, banyak di antaranya tidak pakai gambar desain-desainan. Bikin kapal seberat lebih dari 100 ton dan hanya mengandalkan feeling itu bikin #melongo3detik.

Walau teknologi sudah maju, bagian krusial dari proses pembuatannya masih berpegang pada tradisi. Gergaji mesin dan alat-alat listrik lain memang memang digunakan, tapi prosesi ritualnya tetap dijalankan. Outsourcers untuk jadi pekerja hingga pemantau kualitas kapal secara modern bisa berasal dari daerah lain, tapi biasanya, pemimpinnya tetap orang Bulukumba.

Kami akan mengunjungi bengkel mereka dan belajar banyak.

 

Begitu sampai, terlihatlah tiga kapal yang sedang dibuat. Saya dekati salah satunya. Seorang pekerja sedang menyelipkan tali di setiap bilah papan kayu besi di bagian lambung kapal. Agar tak ada air rembes ke dalam, katanya.

Kami berbincang sejenak, dan anak-anak sudah tidak sabar ingin naik dan melihat ke bagian atas.

 

Sebuah tangga darurat mengantarkan kami ke bagian geladak. Para pekerja menoleh kepada kami dan segera sibuk kembali. Saya kembali tanya-tanya, dan mereka menjawab semua pertanyaan lugu kami sambil sesekali tertawa.

Kasihan sekali orang kota, lihat kapal dibuat saja terpesona—mungkin begitu pikir mereka, haha.

 

Bagaimana tidak bikin penasaran.

Kapalnya besar, bilah kayunya tebal, pasaknya pun ukuran jumbo. Masing-masing bagian digosok dan dikaitkan dengan saksama, tangan-tangan legam bekerja di bawah semburan matahari.

Di berbagai ujung, punggung-punggung melengkung penuh khidmat, memastikan kapal ini mengantarkan penumpang dengan selamat.

Semua bekerja dalam diam, yang terdengar hanya gesekan suara ampelas bersahutan dengan ketukan palu.

Entah karena ada kami yang bikin canggung, atau memang seperti itu kebiasaan mereka. Saya jadi sungkan mengganggu lebih lama dan mengajak anak-anak segera turun. Anak-anak digital ini beruntung menyaksikan proses bersahaja namun luar biasa dari para pemangku tradisi bangsa bahari.

 

Tunggu.

Kenapa tiba-tiba tangganya jadi tinggi begini? Tadi ketika saya naik, rasanya tidak bergoyang seperti ini.

Dari atas, saya baru melihat bahwa anak tangganya terbuat dari kayu sisa, ada yang lebar ada yang benar-benar seadanya. Setiap injakan membuatnya berayun perlahan. Saya langsung menyesal, kenapa pakai ikut naik segala.

 

Anak-anak yang sudah di bawah menyemangati. Seruan mereka membuat saya membatalkan niat turun sambil duduk. Malu, atuh!

Sambil cari cara menghibur diri, saya mencoba turun satu anak tangga.

Lah! Di bawah saya, seorang pekerja malah menghidupkan gergaji mesin dan membuat tangga bergetar.

 

Saya membeku. Piye iki?

Bapak tertawa dan berkomentar menyebalkan seperti biasa. Saya mencoba mengamati lagi dinding kapal, tapi segera ketahuan bahwa saya hanya pura-pura.

Syukurlah, setelah sekian menit tersiksa, datanglah bantuan.

Sambil menahan malu, saya turun dituntun Bapak, diiringi sorak sorai anak-anak.

 

Bersambung ke bagian-8

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s