JANGAN BESARKAN ANAK DENGAN FASILITAS?

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-143.

 

Kita akan lebih banyak berbagi pandangan.

 

Sebuah status FB dan beberapa komentar membuat saya berpikir (lagi).

Mungkin Bapak Ibu pernah baca pernyataan seperti ini:

 

Anak buruh bangunan jadi dokter, anak tukang parkir jadi pengusaha sukses, anak petani jadi gubernur. Saya sendiri beberapa kali jadi ghostwriter untuk tokoh-tokoh seperti ini.

 

Orang-orang besar itu sukses karena dibesarkan dalam kondisi miskin fasilitas. Kondisi ini memacu mereka untuk lebih kreatif dan punya daya juang ekstra, lebih dari rata-rata temannya.

 

Lantas ada yang berkomentar, ada juga yang agak sinis: kira-kira bagaimana nasib anak-anak yang dibesarkan dengan fasilitas? Apakah mereka nanti akan jadi tukang parkir?

 

Di dalam imajinas liar saya diskusi akan melebar ke arah ini: emangnya jadi tukang parkir itu tidak mulia? Kan itu pekerjaan halal. Apa masalahnya?

 

Trus ada yang nyamber: Memang halal. Semoga anak Anda jadi tukang parkir.

 

Dan terjadilah yang biasa terjadi di media sosial 😀

 

 

Kita kembali ke pertanyaan semula:

Jika kita ingin mendidik anak punya daya juang ekstra, apakah mereka harus dibatasi fasilitasnya? Ekstremnya, apakah mereka harus dimiskinkan?

 

Banyak pemikir besar menghasilkan karya cemerlang saat di penjara. Jadi … kita masuk penjara dulu sajakah?

 

Mari kita diskusi 😊

 

Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

 

Sudah punya bukunya? Sudah share ebook Bincang Pernikahan dan Bincang Pengasuhan? Please share.

 

Salam takzim,

Anna Farida

www.annafarida.com

Everything seems impossible until it’s done – Nelson Mandela

 

 

 

 

HOW TO SAY “I LOVE YOU”

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap yang ke-144, kita akan bahas lebih detail materi yang kita bahas beberapa minggu lalu tentang self esteem.

Btw, ternyata kita pernah bahas di kulwap-11 tentang self esteem—ketika tema ini diusulkan lagi, pertanda apakah itu? Ehehe 😀

 

Salah satu cara meningkatkan self esteem dalam pernikahan adalah saling menyatakan cinta pada pasangan.

Sebenarnya, kata para ahli percintaan—halah—cara yang terbaik untuk menyatakan cinta pada pasangan itu biasanya sederhana. Dalam tindakan sehari-hari, kita bisa menyatakan cinta dalam ucapan dan tindakan sehari-hari.

Sekarang sedang musim hujan dan kita bilang ke pasangan “ingat bawa payung” atau kita siapkan payung dan jas hujan di kendaraannya, itu tanda cinta.

Kadang, kita maknai perbuatan itu sebagai hal biasa. Padahal, jika kita tambahkan sedikit saja aspek “amor” di dalamnya, yang sederhana bisa jadi bermakna. Aspek yang saya maksud adalah bilang I love you, senyum, sentuh.

Ketiganya boleh dipilih salah satu atau dilakukan semua, tapi takar-takar, ya, porsinya. Tar malah batal kerja kan berabe juga ahahah.

Isyarat cinta yang kita peroleh dari pasangan akan membangun self esteem secara signifikan, dan pada gilirannya akan membuat kesehatan pernikahan terjaga.

Isyarat lain yang bisa dipilih dan dicoba sesuai dengan kekhasan pasutri. Ada yang ekspresif dan bisa bilang ai lop yu setiap saat, ada yang nunggu atap bocor dulu baru bisa bilang.

Sekarang kita dimudahkan oleh media chat dengan berbagai emoticon. Ungkapan cinta bisa diwakili olehnya. Sambil belajar ngomong juga, lho, yaaa. Walau menurut teori komunikasi ungkapan verbal itu porsinya sekian persen lebih sedikit daripada  ungkapan nonverbal dalam menyampaikan pesan, tapi yang sekian persen itu penting.

Intinya adalah, pastikan pasangan mendapatkan isyarat yang nyata bahwa dia dicintai—dari sini self esteem terjaga.

Pilihan lainnya bisa berupa aksi. Lakukan kegiatan bersama, seremeh apa pun. Pilih kegiatan yang bisa membuat Anda bekerja sama dengan pasangan, bukan saling cakar 😀 😀

Misalnya, yang satu senang bongkar-bongkar dan yang satu sangat hobi membereskannya—nah ini khayalan tingkat tinggi saya.

Lakukan hal yang sederhana saja, dalam waktu yang singkat saja. Bikin sambal berdua, misalnya. Waktunya singkat, mengerjakannya relatif mudah—masalah enak atau tidak itu urusan lain. It’s about being together.

Ungkapkan di hadapan anak-anak atau anggota keluarga yang lain.

Bilang sayang, “flirt”, saling goda, saling ekspresikan cinta di hadapan anggota keluarga itu penting untuk self esteem. Anak-anak yang menyaksikan ayah ibunya saling sayang juga akan mendapatkan rasa aman—dan ini penting bagi tumbuh kembang mereka.

Jika Anda punya hobi eksis narsis di media sosial (seperti siapa, yaaa?) sesekali mengungkapkan cinta pada pasangan pada dunia pun sah saja—sudah zamannya. Meski demikian, jika Anda memilih tidak menjadikan ungkapan cinta itu sebagai konsumsi publik, dan menjadikannya milik berdua dan keluarga, itu pun sah adanya.

Masing-masing pasangan kan punya gaya.

Last but not least, doakan dia.

Yang punya cinta itu kan yang Mahacinta. Dalam kondisi tertentu, kita harus berjuang (keras) meraihnya dan mempertahankannya. Saat upaya manusia tak jua sampai, mari minta kepada-Nya, Zat yang Mahakasih.

#ustazahmodeon #kabursajaah  😀

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

 

 

 

 

 

 

 

Rahasia Gelap Pernikahan

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-145, kita akan membahas rahasia gelap pernikahan.

 

Beberapa malam yang lalu saya dan suami saya nonton sebuah film di rumah. Saya sebenarnya tidak terlalu berminat karena filmnya film asing dan di-dub ke dalam bahasa Inggris. Menurut saya, film dubbing yang paling asyik itu hanya Doraemon 😀

 

Karena suami saya tertawa-tawa melulu, saya jadi ikutan nonton.

Tiga pasang suami istri dan seorang lelaki jomblo berkumpul untuk makan bareng di rumah salah satu di antara mereka. Sambil ngemil, mereka main game.

Semua hape dikumpulkan di atas meja. Jika ada hape yang berdering—ada telepon atau pesan—semua harus tahu apa isinya. Telepon diterima pakai speaker. Pesan dibacakan keras-keras oleh teman lain.

 

Sepakat. Toh semua merasa tidak punya rahasia dengan pasangan masing-masing.

 

Mula-mula semua lucu-lucuan. Ada yang salah sambung, ada yang ditelepon sales, atau apa pun itu.

Ketegangan mulai terjadi ketika salah satu suami (sebut saja A) ingat. Ini kan hari apa ya saya lupa, dan jam sekian akan ada kiriman foto nakal di salah satu grupnya, dan dia dikenal sebagai suami yang taat.

Kebetulan hapenya sama dengan si teman yang jomblo. A punya ide untuk tukar hape saja supaya tidak ketahuan istrinya. Si jomblo menolak tapi A memohon-mohon.

Deal! Mereka tukar hape.

 

Dan benar saja. Pada jam yang sudah ditentukan, bermunculanlah gambar-gambar syuuur di hape A tadi. Whuaaa, semua menggoda si jomblo dan bilang nggak sangka.

Fyuuuh … selameeet.

 

Berikutnya SMS. Ternyata untuk si jomblo. Tapi karena hapenya ditukar, semua menyangka itu buat A. Ketika dibacakan keras-keras, isinya bilang aku rindu kamu.

Istri A kaget, tapi A bilang itu SMS nyasar. OK, sementara aman.

 

Eeeh, ada lagi pesan masuk, kali ini pesannya makin nakal.

Hape direbut istrinya, ternyata namanya ada di contact – mana mungkin pesan nyasar kalau nama pengirimnya tersimpan – Jenny atau apa saya lupa 😀

So, Anda tahu bahwa sebenarnya SMS itu buat si jomblo.  Adegan pertengkarannya tambah panas ketika lama-lama identitas Jenny ini terkuak, tapi saya tidak akan cerita di sini eheheh. Kepanjangan.

 

Telepon berikutnya dari toko perhiasan ke tuan rumah. Speaker on, semua mendengar, maka berlangsunglah percakapan ini:

Halo … apakah dia suka kalungnya?

Iya. Istri saya suka. Nanti saja ya, teleponnya. Sedang banyak tamu.

Eeeh … tunggu. Apakah dia juga suka giwangnya?

—- suami diam —- istri memandangnya —

Giwang yang mana? Kamu beli giwang buat siapa? Kamu hadiahkan ke siapa?

Dan heboh lah semua. Saya juga tidak akan cerita siapa penerima giwang itu. Tak disangka!

 

Telepon berikutnya berdering.

Sales yang dari tadi menelepon ternyata menelepon lagi. Salah satu di antara mereka berniat menggoda si sales, jadi telepon diangkat.

Ternyataaa … yang ditulis di kontak sebagai sales itu sebenarnya pacar salah satu di antara mereka. Si pacar sedang panik minta segera ketemuan karena merasa “telat”.

 

Dhueng! Istrinya mengamuk.

Pasangan yang semula menyangka diri mereka saling aman ternyata justru paling parah. Heboh lagi, bertengkar lagi.

 

Tambah seru, ketika hape istrinya A bunyi. Ternyata dari teman chat rahasianya. Dan isi chatnya mesra semua. Si A marah besar! Istrinya bilang itu hanya chat di dunia maya, hanya fantasi. Tapi suaminya tetap marah. Namanya saja orang “taat”, kaaan?

 

Dan semakin malam, rahasia mereka di balik hape masing-masing jadi makin terkuak. Semua punya rahasia yang saling tidak disangka.

Pasangan yang tampak mesra ternyata menyimpan rahasia masing-masing. Jomblo yang selama ini disangka cuek saja ternyata punya rahasia besar juga.

 

Mereka semua teman dekat, tapi semua hanya saling kenal di permukaan. Masing-masing punya rahasia gelap.

 

Filmnya simpel, lokasi yang dipakai sepanjang film nyaris semua di ruang makan, dan setiap telepon berdering, saya ikut deg-degan menunggu, rahasia apa lagi yang bakal terungkap, ahaha.

 

Ending-nya kurang greget, tapi pesannya kena banget buat saya dan suami yang sama-sama doyan kelayapan di media online.

 

Dia bilang, “Hayooo, kita tukar hape sehari. Kita lihat siapa yang bakal kontak. Berani?”

Ahaha. Mana saya mau.

 

Kepada suami saya menjawab, “Supaya kita aman-aman saja, tolong Bapak jangan pernah buka hape Ibu.”

Just kidding 😀 😀

 

Dalam buku “Marriage with Heart” ada bahasan khusus tentang hal ini dan pertanyaan yang paling saya sukai adalah, “Apakah Anda biasa menghapus chat tertentu karena takut ketahuan pasangan Anda?” 😀

 

So, itu film yang saya tonton akhir pekan lalu. Judulnya “Nothing to Hide”.

 

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

 

 

Apa Adanya atau Ada Apanya?

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini adalah kulwap ke-147. Kita akan membahas tema menerima pasangan apa adanya, eh, atau ada apanya? 😀

 

Kita pernah membahas dalam materi sebelumnya bahwa salah satu ancaman dalam pernikahan adalah berharap bahwa pasangan kita akan berubah demi membahagiakan kita. Yang tadinya malas jadi rajin, yang tadinya ngorok jadi tidak ngorok, yang tadinya wangi jadi tidak wangi #yanginidusta

 

Alasannya biasanya ini: Jika dia memang cinta aku, dia akan berusaha berubah demi aku, kan, ya?

Ternyata tidak.

Ada yang bilang bahwa berharap pasangan berubah itu seperti berharap ayam menggonggong (aduh, perumpamaannya enggak banget). Ternyata, salah satu perekat pernikahan adalah kesediaan menerima pasangan apa adanya.

 

Bagaimana caranya?

Saya sarikan beberapa nasihat dari buku dan artikel yang pernah saya baca. Seingatnya, ya. Buru-buru ini.

 

+ Hati-hati dengan ekspektasi yang tidak pas. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan pasangan, cek dulu. Pasangan kita yang memang kudu berubah atau ekspektasi kita yang perlu disesuaikan? Tanya pada diri kita, mengapa sih dia harus berubah dan menjalani hidupnya demi memenuhi harapan kita?

 

+   Berpikir positif. Kabarnya bagi sebagian orang, berpikir negatif itu lebih mudah karena tidak perlu usaha selain menyalahkan pihak lain. Padahal, ada yang bisa dilakukan: berpikir positif, melihat kebaikan pasangan, dan melengkapi kekurangannya dengan kebaikan yang kita miliki. Dia tampaknya kurang punya minat berbenah, jadi saya akan menggenjot minat berbenah saya. Dia tampaknya kurang punya minat berbenah, saya juga tidak suka berbenah. Lantas mengapa dia yang harus berubah? Ehehe. Dia kurang punya minta berbenah, dan saya santai saja, karena dia punya minat yang besar dalam mengajak saya jalan-jalan, misalnya.  Artinya, tidak punya minat berbenah tidak lantas membuatnya jadi orang jahat, kan? Nyebelin sih iya, ahahaha. Just kidding.

 

+ Lebih ramah pada diri sendiri. Kadang penilaian kita pada orang lain adalah hasil dari kekecewaan kita pada diri sendiri. Jika kita bisa berdamai untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, ingin segalanya serba sesuai dengan keinginan kita, pandangan dan tuntutan kita pada orang lain pun biasanya akan lebih ramah.

 

+ Fokus pada hari ini. Berkat tahun baru yang saya rayakan bareng keluarga, saya dapat quotes bagus dari Nhat Hanh yang dinyanyikan: Happiness is here and now, I’ve dropped my worries. Nowhere to go nothing to do, and no need a hurry.

Kebahagiaan akan manis jika kita nikmati hari ini. Tidak mengungkit yang lalu dan tidak cemas akan masa yang akan datang. Tak perlu tergesa-gesa, nikmati saja yang ada sekarang.

Dalam satu dan lain hal, saya sepakat. Kebersamaan kita dengan pasangan dan keluarga sudah melewati banyak hal baik dan buruk, dan masih akan mengalami perjuangan yang tidak bisa sepenuhnya diperkirakan. Rasa cemas akan masa lalu dan masa depan ini kadang membuat kita lupa menikmati masa sekarang. Here and now.

 

Sudah, ya.

Jadi pingin nangis siang-siang ahahah.

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

 

Anak Lelaki dan Ibunya

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-146, kita akan membahas relasi anak lelaki dengan ibunya.

Eyang Ralph Waldo Emerson, transendentalis Amerika, bilang “a man is what his mother makes him”.

Para bapak boleh protes, “Kok kami tidak diaku!” 😀

 

Umumnya, para ayah membangun relasi dengan anak lelaki mereka—termasuk dengan anak perempuan—melalui permainan yang “macho” misalnya kejar-kejaran, bersepeda, bikin berantakan rumah, bikin kesel ibu, ahahah.

Bagi ibu dan anak lelaki, ada relasi yang sedikit berbeda. Ketika anak masih bayi, pengasuhan seorang ibu terhadap anak lelaki dan perempuan relatif sama. Begitu anak lelaki mulai tumbuh, ada hal berbeda yang lazim terjadi.

Dari beberapa artikel yang saya baca berkaitan dengan kasus-kasus antara ibu dan anak lelaki, terlihat bahwa hubungan seorang perempuan dengan suaminya berpengaruh besar pada relasinya dengan anak lelakinya.

Disebutkan bahwa jika relasi istri dengan suami dalam situasi kurang nyaman, seorang ibu cenderung sulit bersikap santai dengan anak lelakinya. So, karena ini urusan dua orang dewasa, jika hal ini sedang terjadi (semoga tidak), kita perlu waspadai. Secara tidak disadari, sikap kita bisa membentuk konsep diri anak lelaki tentang “kelelakiannya”.

Saat ibu dan ayah sedang ada masalah, perlu disadari bahwa perjuangan untuk membangun relasi yang sehat dengan anak tentu perlu perjuangan yang lebih kuat.  Pada saat yang sama, ikatan seorang ibu dengan anak lelakinya biasanya sangat dalam dan kuat pengaruhnya pada perkembangan jiwanya.

Karena itu, relasi itu semestinya sehat dan memiliki daya dukung yang optimal—saya jadi ingat iklan oli 😀

Bagaimana caranya?

+ Dengar dan amati. Kadang ibu tidak mengerti atau tidak bisa mengimbangi omongan atau minat mereka. Duduk saja dekat mereka—misalnya saat mereka makan. Temani saja, paling lima menit. No hape, ya 😀

+ Sesekali kepo tentang kesenangan mereka juga boleh. Saat ini anak saya main game, sesekali saya tanya lagi main sama siapa. Kepo kan brbeda dengan interogasi. Umumnya anak lelaki tidak suka menceritakan detail kegiatannya, apalagi jika dia tahu emaknya tukang online. Sejak dua atau tiga tahun lalu dia bilang “Jangan post tentang aku di medsos Ibu” ahahah.

+ Kenali teman-temannya. Mengenal nama teman-temannya membuatnya merasa diperhatikan. Sebenarnya ini pe er saya. Saya tidak segera hafal nama para pemuda yang sering menginap di rumah, para remaja yang sering main di rumah. Lain halnya dengan nama teman-teman anak perempuan saya, saya relatif lebih ingat. Kenapa, coba?

+ Terapkan disiplin dan buat komitmen bersama. Ketika anak lelaki melakukan pelanggaran, kalimat yang sebaiknya tidak terucap adalah “tunggu sampai ayah pulang” yang sebenarnya adalah pesan bahwa ibu tidak berdaya. Saya tidak tahu persisnya, tapi saya menduga kalimat ini jarang diucapkan pada anak perempuan. Biasanya anak perempuan justru nunggu ayah pulang untuk cari pembela 😀

+ Perhatikan privasi. Kadang ada anak lelaki yang sudah tidak mau dipeluk di depan umum. Pelukan itu sehat, kita semua tahu, tapi ada beberapa jenis kontak fisik dari ibu yang membuat anak lelaki tidak nyaman, khususnya ketika mereka mulai tumbuh.

Buat kesepakatan tentang ruang privat masing-masing antara ibu dan anak lelaki, misalnya urusan masuk kamar, urusan kamar mandi, atau hal lain yang masing-masing keluarga berbeda. Misalnya, ada keluarga yang mengizinkan ibu dengan anak lelaki di rumah keluar dari kamar mandi berpakaian seadanya, ada yang tidak.

Itu dulu, kita diskusi lebih detail karena setiap keluarga pasti berbeda.

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)