Anak Lelaki dan Ibunya

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-146, kita akan membahas relasi anak lelaki dengan ibunya.

Eyang Ralph Waldo Emerson, transendentalis Amerika, bilang “a man is what his mother makes him”.

Para bapak boleh protes, “Kok kami tidak diaku!” 😀

 

Umumnya, para ayah membangun relasi dengan anak lelaki mereka—termasuk dengan anak perempuan—melalui permainan yang “macho” misalnya kejar-kejaran, bersepeda, bikin berantakan rumah, bikin kesel ibu, ahahah.

Bagi ibu dan anak lelaki, ada relasi yang sedikit berbeda. Ketika anak masih bayi, pengasuhan seorang ibu terhadap anak lelaki dan perempuan relatif sama. Begitu anak lelaki mulai tumbuh, ada hal berbeda yang lazim terjadi.

Dari beberapa artikel yang saya baca berkaitan dengan kasus-kasus antara ibu dan anak lelaki, terlihat bahwa hubungan seorang perempuan dengan suaminya berpengaruh besar pada relasinya dengan anak lelakinya.

Disebutkan bahwa jika relasi istri dengan suami dalam situasi kurang nyaman, seorang ibu cenderung sulit bersikap santai dengan anak lelakinya. So, karena ini urusan dua orang dewasa, jika hal ini sedang terjadi (semoga tidak), kita perlu waspadai. Secara tidak disadari, sikap kita bisa membentuk konsep diri anak lelaki tentang “kelelakiannya”.

Saat ibu dan ayah sedang ada masalah, perlu disadari bahwa perjuangan untuk membangun relasi yang sehat dengan anak tentu perlu perjuangan yang lebih kuat.  Pada saat yang sama, ikatan seorang ibu dengan anak lelakinya biasanya sangat dalam dan kuat pengaruhnya pada perkembangan jiwanya.

Karena itu, relasi itu semestinya sehat dan memiliki daya dukung yang optimal—saya jadi ingat iklan oli 😀

Bagaimana caranya?

+ Dengar dan amati. Kadang ibu tidak mengerti atau tidak bisa mengimbangi omongan atau minat mereka. Duduk saja dekat mereka—misalnya saat mereka makan. Temani saja, paling lima menit. No hape, ya 😀

+ Sesekali kepo tentang kesenangan mereka juga boleh. Saat ini anak saya main game, sesekali saya tanya lagi main sama siapa. Kepo kan brbeda dengan interogasi. Umumnya anak lelaki tidak suka menceritakan detail kegiatannya, apalagi jika dia tahu emaknya tukang online. Sejak dua atau tiga tahun lalu dia bilang “Jangan post tentang aku di medsos Ibu” ahahah.

+ Kenali teman-temannya. Mengenal nama teman-temannya membuatnya merasa diperhatikan. Sebenarnya ini pe er saya. Saya tidak segera hafal nama para pemuda yang sering menginap di rumah, para remaja yang sering main di rumah. Lain halnya dengan nama teman-teman anak perempuan saya, saya relatif lebih ingat. Kenapa, coba?

+ Terapkan disiplin dan buat komitmen bersama. Ketika anak lelaki melakukan pelanggaran, kalimat yang sebaiknya tidak terucap adalah “tunggu sampai ayah pulang” yang sebenarnya adalah pesan bahwa ibu tidak berdaya. Saya tidak tahu persisnya, tapi saya menduga kalimat ini jarang diucapkan pada anak perempuan. Biasanya anak perempuan justru nunggu ayah pulang untuk cari pembela 😀

+ Perhatikan privasi. Kadang ada anak lelaki yang sudah tidak mau dipeluk di depan umum. Pelukan itu sehat, kita semua tahu, tapi ada beberapa jenis kontak fisik dari ibu yang membuat anak lelaki tidak nyaman, khususnya ketika mereka mulai tumbuh.

Buat kesepakatan tentang ruang privat masing-masing antara ibu dan anak lelaki, misalnya urusan masuk kamar, urusan kamar mandi, atau hal lain yang masing-masing keluarga berbeda. Misalnya, ada keluarga yang mengizinkan ibu dengan anak lelaki di rumah keluar dari kamar mandi berpakaian seadanya, ada yang tidak.

Itu dulu, kita diskusi lebih detail karena setiap keluarga pasti berbeda.

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s