Apa Adanya atau Ada Apanya?

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini adalah kulwap ke-147. Kita akan membahas tema menerima pasangan apa adanya, eh, atau ada apanya? šŸ˜€

 

Kita pernah membahas dalam materi sebelumnya bahwa salah satu ancaman dalam pernikahan adalah berharap bahwa pasangan kita akan berubah demi membahagiakan kita. Yang tadinya malas jadi rajin, yang tadinya ngorok jadi tidak ngorok, yang tadinya wangi jadi tidak wangi #yanginidusta

 

Alasannya biasanya ini: Jika dia memang cinta aku, dia akan berusaha berubah demi aku, kan, ya?

Ternyata tidak.

Ada yang bilang bahwa berharap pasangan berubah itu seperti berharap ayam menggonggong (aduh, perumpamaannya enggak banget). Ternyata, salah satu perekat pernikahan adalah kesediaan menerima pasangan apa adanya.

 

Bagaimana caranya?

Saya sarikan beberapa nasihat dari buku dan artikel yang pernah saya baca. Seingatnya, ya. Buru-buru ini.

 

+ Hati-hati dengan ekspektasi yang tidak pas. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan pasangan, cek dulu. Pasangan kita yang memang kudu berubah atau ekspektasi kita yang perlu disesuaikan? Tanya pada diri kita, mengapa sih dia harus berubah dan menjalani hidupnya demi memenuhi harapan kita?

 

+ Ā Ā Berpikir positif. Kabarnya bagi sebagian orang, berpikir negatif itu lebih mudah karena tidak perlu usaha selain menyalahkan pihak lain. Padahal, ada yang bisa dilakukan: berpikir positif, melihat kebaikan pasangan, dan melengkapi kekurangannya dengan kebaikan yang kita miliki. Dia tampaknya kurang punya minat berbenah, jadi saya akan menggenjot minat berbenah saya. Dia tampaknya kurang punya minat berbenah, saya juga tidak suka berbenah. Lantas mengapa dia yang harus berubah? Ehehe. Dia kurang punya minta berbenah, dan saya santai saja, karena dia punya minat yang besar dalam mengajak saya jalan-jalan, misalnya.Ā  Artinya, tidak punya minat berbenah tidak lantas membuatnya jadi orang jahat, kan? Nyebelin sih iya, ahahaha. Just kidding.

 

+ Lebih ramah pada diri sendiri. Kadang penilaian kita pada orang lain adalah hasil dari kekecewaan kita pada diri sendiri. Jika kita bisa berdamai untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, ingin segalanya serba sesuai dengan keinginan kita, pandangan dan tuntutan kita pada orang lain pun biasanya akan lebih ramah.

 

+ Fokus pada hari ini. Berkat tahun baru yang saya rayakan bareng keluarga, saya dapat quotes bagus dari Nhat Hanh yang dinyanyikan: Happiness is here and now, Iā€™ve dropped my worries. Nowhere to go nothing to do, and no need a hurry.

Kebahagiaan akan manis jika kita nikmati hari ini. Tidak mengungkit yang lalu dan tidak cemas akan masa yang akan datang. Tak perlu tergesa-gesa, nikmati saja yang ada sekarang.

Dalam satu dan lain hal, saya sepakat. Kebersamaan kita dengan pasangan dan keluarga sudah melewati banyak hal baik dan buruk, dan masih akan mengalami perjuangan yang tidak bisa sepenuhnya diperkirakan. Rasa cemas akan masa lalu dan masa depan ini kadang membuat kita lupa menikmati masa sekarang. Here and now.

 

Sudah, ya.

Jadi pingin nangis siang-siang ahahah.

 

Kulwap ini disponsori oleh buku ā€œParenting with Heartā€ dan ā€œMarriage with Heartā€ karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook ā€œBincang Pengasuhanā€ dan ā€œBincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s