Rahasia Gelap Pernikahan

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-145, kita akan membahas rahasia gelap pernikahan.

 

Beberapa malam yang lalu saya dan suami saya nonton sebuah film di rumah. Saya sebenarnya tidak terlalu berminat karena filmnya film asing dan di-dub ke dalam bahasa Inggris. Menurut saya, film dubbing yang paling asyik itu hanya Doraemon 😀

 

Karena suami saya tertawa-tawa melulu, saya jadi ikutan nonton.

Tiga pasang suami istri dan seorang lelaki jomblo berkumpul untuk makan bareng di rumah salah satu di antara mereka. Sambil ngemil, mereka main game.

Semua hape dikumpulkan di atas meja. Jika ada hape yang berdering—ada telepon atau pesan—semua harus tahu apa isinya. Telepon diterima pakai speaker. Pesan dibacakan keras-keras oleh teman lain.

 

Sepakat. Toh semua merasa tidak punya rahasia dengan pasangan masing-masing.

 

Mula-mula semua lucu-lucuan. Ada yang salah sambung, ada yang ditelepon sales, atau apa pun itu.

Ketegangan mulai terjadi ketika salah satu suami (sebut saja A) ingat. Ini kan hari apa ya saya lupa, dan jam sekian akan ada kiriman foto nakal di salah satu grupnya, dan dia dikenal sebagai suami yang taat.

Kebetulan hapenya sama dengan si teman yang jomblo. A punya ide untuk tukar hape saja supaya tidak ketahuan istrinya. Si jomblo menolak tapi A memohon-mohon.

Deal! Mereka tukar hape.

 

Dan benar saja. Pada jam yang sudah ditentukan, bermunculanlah gambar-gambar syuuur di hape A tadi. Whuaaa, semua menggoda si jomblo dan bilang nggak sangka.

Fyuuuh … selameeet.

 

Berikutnya SMS. Ternyata untuk si jomblo. Tapi karena hapenya ditukar, semua menyangka itu buat A. Ketika dibacakan keras-keras, isinya bilang aku rindu kamu.

Istri A kaget, tapi A bilang itu SMS nyasar. OK, sementara aman.

 

Eeeh, ada lagi pesan masuk, kali ini pesannya makin nakal.

Hape direbut istrinya, ternyata namanya ada di contact – mana mungkin pesan nyasar kalau nama pengirimnya tersimpan – Jenny atau apa saya lupa 😀

So, Anda tahu bahwa sebenarnya SMS itu buat si jomblo.  Adegan pertengkarannya tambah panas ketika lama-lama identitas Jenny ini terkuak, tapi saya tidak akan cerita di sini eheheh. Kepanjangan.

 

Telepon berikutnya dari toko perhiasan ke tuan rumah. Speaker on, semua mendengar, maka berlangsunglah percakapan ini:

Halo … apakah dia suka kalungnya?

Iya. Istri saya suka. Nanti saja ya, teleponnya. Sedang banyak tamu.

Eeeh … tunggu. Apakah dia juga suka giwangnya?

—- suami diam —- istri memandangnya —

Giwang yang mana? Kamu beli giwang buat siapa? Kamu hadiahkan ke siapa?

Dan heboh lah semua. Saya juga tidak akan cerita siapa penerima giwang itu. Tak disangka!

 

Telepon berikutnya berdering.

Sales yang dari tadi menelepon ternyata menelepon lagi. Salah satu di antara mereka berniat menggoda si sales, jadi telepon diangkat.

Ternyataaa … yang ditulis di kontak sebagai sales itu sebenarnya pacar salah satu di antara mereka. Si pacar sedang panik minta segera ketemuan karena merasa “telat”.

 

Dhueng! Istrinya mengamuk.

Pasangan yang semula menyangka diri mereka saling aman ternyata justru paling parah. Heboh lagi, bertengkar lagi.

 

Tambah seru, ketika hape istrinya A bunyi. Ternyata dari teman chat rahasianya. Dan isi chatnya mesra semua. Si A marah besar! Istrinya bilang itu hanya chat di dunia maya, hanya fantasi. Tapi suaminya tetap marah. Namanya saja orang “taat”, kaaan?

 

Dan semakin malam, rahasia mereka di balik hape masing-masing jadi makin terkuak. Semua punya rahasia yang saling tidak disangka.

Pasangan yang tampak mesra ternyata menyimpan rahasia masing-masing. Jomblo yang selama ini disangka cuek saja ternyata punya rahasia besar juga.

 

Mereka semua teman dekat, tapi semua hanya saling kenal di permukaan. Masing-masing punya rahasia gelap.

 

Filmnya simpel, lokasi yang dipakai sepanjang film nyaris semua di ruang makan, dan setiap telepon berdering, saya ikut deg-degan menunggu, rahasia apa lagi yang bakal terungkap, ahaha.

 

Ending-nya kurang greget, tapi pesannya kena banget buat saya dan suami yang sama-sama doyan kelayapan di media online.

 

Dia bilang, “Hayooo, kita tukar hape sehari. Kita lihat siapa yang bakal kontak. Berani?”

Ahaha. Mana saya mau.

 

Kepada suami saya menjawab, “Supaya kita aman-aman saja, tolong Bapak jangan pernah buka hape Ibu.”

Just kidding 😀 😀

 

Dalam buku “Marriage with Heart” ada bahasan khusus tentang hal ini dan pertanyaan yang paling saya sukai adalah, “Apakah Anda biasa menghapus chat tertentu karena takut ketahuan pasangan Anda?” 😀

 

So, itu film yang saya tonton akhir pekan lalu. Judulnya “Nothing to Hide”.

 

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

 

 

Salam takzim,

Anna Farida
www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s